Oleh : Adung Abdul Haris
I. Prolog
Penetrasi antara filsafat Yunani kuno dengan afinitas dan substansi ajaran Islam, maka munculah suatu aliran filsafat, yaitu “Filsafat Peripatetik”. Ia merupakan aliran filsafat yang berakar dari pemikiran Aristoteles, yang menekankan pada penggunaan akal, rasio, dan penalaran yang logis untuk mencapai pengetahuan. Sedangkan istilah “peripatetik” itu sendiri berasal dari kata Yunani “peripatein” yang berarti “berjalan-jalan” atau “berkeliling,” karena Aristoteles dan pengikutnya seringkali mengajar sambil berjalan di taman-taman Athena. Aliran ini penting dalam proses perkembangan filsafat, dengan tokoh-tokoh utama termasuk Plato dan Aristoteles di Yunani, serta Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina dalam tradisi Islam.
Sedangkan karakteristik utama filsafat peripatik, yaitu pada penekanan rasionalitas dan logika. Karena, filsafat peripatetik menggunakan akal budi dan penalaran logis sebagai alat utama untuk memahami alam semesta dan untuk mendapatkan pengetahuan. Lebih dari itu, filsafat peripatik juga penggabungan empirisme dan rasionalisme. Karena aliran filsafat peripatetik memang mengintegrasikan pengalaman indrawi (empiris) dengan pemikiran rasional untuk membentuk pengetahuan. Filsafat paripatik bersifat “studi sistematis”, karena pengikut aliran filsafat peripatik mempelajari berbagai disiplin ilmu secara sistematis, termasuk logika, fisika, metafisika, dan etika. Hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh Aristoteles. Sementara pengaruhnya dalam filsafat Islam, karena tokoh-tokoh peripatetik Muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina, mereka akhirnya mengembangkan filsafat tersebut dan kemudian mencoba memadukannya dengan ajaran agama (substansi ajaran Islam), meskipun seringkali ada perbedaan interpretasi dan kritikan, misalnya kritikan keras dari Imam Al-Ghazali, yaitu mengenai keabadian alam dan lain sebagainya.
II. Definisi Peripatetik
Istilah peripatetik muncul sebagai sebutan bagi pengikut Aristoteles. Namun secara historis, Aristotelianisme terbagi ke dalam tiga periode : Pertama, peripatetik masa-masa awal yang dimulai sejak Aristoteles hingga meninggalnya Strato (322 – 270 SM); Kedua, sejak Strato sampai Andronicus (270 – .. SM); Ketiga, periode pasca Andronicus dan generasi berikutnya yang mengedit dan mengomentari karya-karya Aristoteles. Sedangkan secara etimologis, peripatetik berasal dari bahasa Yunani, “peripatein”, yang berarti berkeliling, berjalan-jalan berkeliling. Kata itu menunjuk pada suatu tempat, berada, dan “Peripatos”. Dalam tradisi Yunani, kata itu mengacu pada suatu tempat di serambi Gedung olah raga di Athena, yaitu tempat Aristoteles mengajar sambil berjalan-jalan.
Sementara dalam tradisi filsafat Islam, peripatetik disebut dengan istilah “masysya’iyyah”. Kata itu berasal dari akar kata “masya-yamsy-masyyan wa timsya’an”, yang berarti melangkahkan kaki dari satu tempat ke tempat lain, cepat atau lambat. Dari akar kata itu kemudian tersusun kata “al-masysya’un”, yaitu para pengikut Aristotetels; dinamakan “al-masysya’un”, karena mereka mengajarkan dengan cara berjalan-jalan. Sedangkan “al-masysya’iyyah” mengandung arti falsafah Aristoteles. Sedangkan penggunaan istilah “masysya’iyyah” itu sendiri mengau pada metode mengajar Aristoteles yang dikenal dengan metode peripatetik. Aristoteles menggembleng para mahasiswanya dengan cara berjalan-jalan, baik diserambi gedung maupun di taman-taman yang indah. Melalui metode tersebut, proses belajar mengajar akan disampaikan secara alami, langsung, menarik, hal itu secara psikologis untuk mengusir rasa ngantuk dan beban pikiran yang berat (dilematisasi filosofis). Sebenarnya metode tersebut diadopsi dari Protagoras, namun orang lebih mengenal peripatetik sebagai metode belajar Aristoteles sekaligus semua bentuk pengajaran yang mengembangkan pemikirannya. Aristotelianisme merupakan istilah yang mengacu pada ajaran Aristoteles yang dilestarikan oleh murid-muridnya, seperti oleh Theophrastus.
Di tangan para filsuf Muslim, peripatetisme (masysya’iyyah) mengalami perluasan objek pembahasan, yakni tidak terbatas hanya pada Aristotelianisme. Hossein Nasr mengatakan, pripatetisme (masysya’iyyah) merupakan sintesa antara ajaran-ajaran Islam, Aristotelianisme dan Platonisme, baik Alexandrian maupun Athenian, juga ajaran-ajaran Plotinus dengan perpaduan wahyu Islam. Peran filsuf Muslim akhirnya memasukan warna Islam kedalamnya sehingga selaras dengan ajaran Islam yang berdasar wahyu diturunkan kepada Rasul-Nya. Penetrasi intelektual sebagai hasil dari sikap pro-aktif dari para cendekiawan muslim di zaman keemasan Islam itu, akhirnya terealisir dengan mapan, dan hal itu menunjukan sikap toleransi yang tinggi dari ilmuwan Islam terdahulu. Mereka mau menerima metode untuk mencapai kebenaran dengan sikap positif. Lebih dari itu, harus diakui bahwa tradisi falsafah sudah ada jauh sebelum Islam muncul dan berkembang. Tradisi falsafah yang sudah mapan itu sesuai dengan semangat dan spirit ajaran Islam. Bahkan, istilah falsafah indetik dengan istilah “Hikmah” dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menuntut dan menyebarkan hikmah seluas-luasnya dan kita menyaksikan peran penting para khalifah, sahabat, tabi’in, penguasa, dan mujahid intelektual sebagai pelopor dalam kegiatan itu.
Dari sudut pandang ini, maka pernyataan Hossein Nasr sebagaimana telah dikemukakan diatas, dapat dipahami, bahwa pemikiran falsafah yang masuk dan berkembang di dunia Islam bermuara pada tiga aliran utama, yakni Platonisme, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme. Mengacu pada pendapat Hossein Nasr di atas, maka penulis lebih memusatkan perhatian pada tokoh peripatetik yang mempengaruhi para filsuf Muslim, yaitu Platonisme, Aristotelianisme, dan Neo-Platonisme. Karena, pada dasarnya mayoritas filsuf dan sufi dalam Islam, baik di dunia Islam belahan Barat maupun Timur, berhubungan dengan ketiga filsuf Yunani di atas. Bahkan, Parviz Morewegde menegaskan, bahwa Plato, Aristoteles, dan Plotinus diakui sebagai bagian dari tradisi Islam, seperti halnya pengakuan tradisi Islam terhadap Ibrahim yang disebutnya sebagai Nabi Umat Islam. Bahkan, pesan penting yang terkandung di dalam penegasannya adalah umat Islam tidak perlu ragu mengakui kebenaran yang dibawa oleh para filsuf Yunani, sejauh tidak keluar dari ajaran Islam itu sendiri.
III. Filsafat Peripatetik Islam : Pewaris Ajaran Aristotelianisme Dan Neoplatonisme
Filsafat peripatetik atau peripatetisme merupakan sebuah aliran yang disematkan kepada para pengikut Aristoteles. Sebagaimana telah dikemukakan diatas, kata “peripatetik” berasal dari bahasa Yunani “paripatos” yang berarti berjalan-jalan. Istilah tersebut digunakan berdasarkan kebiasaan Aristoteles yang mengajarkan filsafat sambil berjalan-jalan tidak diam di satu tempat, yakni sambil mengamati segala hal yang ditemuinya dalam perjalanan. Kebiasaan itu kemudian ditiru dan dilanjutkan oleh para pengikut-pengikutnya. Sementara dalam dunia Islam, kata “peripatetik” diadopsi lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “Masysya’iyyah,”. Menurut Hasan Bakti Nasution, peripatetik atau masysya’iyah dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu ontologis dan metodis. Dalam pendekatan ontologi, aliran ini merupakan sintesa dari ajaran-ajaran agama (Islam) dengan ajaran Aristotelianisme dan Neoplatonisme. Dan secara metodis atau sebagai suatu aliran, mazhab masysya’iyyah adalah sebuah metode penelitian kebenaran melalui pendekatan argumentasi rasional (rasionalis) dengan cara demonstratif (burhani). Dalam pergerakannya, logika Aristotelian akhirnya mempengaruhi prosedur dalam memperoleh kesimpulan (silogisme), yang diawali oleh dua premis : premis mayor (umum) dan premis minor (khusus). Contoh “setiap yang berakal adalah manusia.” (premis walikota)/ “Al Farabi berakal.” (premis minor)/ “Al Farabi adalah manusia.” (kesimpulan). Hanya bedanya dalam peripatetik, premis-premis tersebut telah disepakati sebagai suatu kebenaran dan tidak perlu dipersoalkan lagi (kebenaran primer). Dari sini, kebenaran yang didapat, pada belahan akan menjadi premis-premis baru bagi proses silogistik berikutnya, begitu seterusnya. (Haidar Bagir: 2021).
A. Dari Al-Kindi Sampai Ibnu Sina
Sang Iranshahri, ia merupakan tokoh yang dianggap sebagai filsuf yang muncul pertama di dunia Islam. Tetapi karena keterbatasan artefak yang masih tersisa, sulit untuk menyebutkan bahwa ia merupakan pendiri filsafat Islam. Maka munculah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq as Sabbah al-Kindi (w. 257 H/870 M) yang berdasar pada jejak peninggalan karya-karyanya. Karena, al-Kindi memulai secara sistematis dan mengenalkan filsafat Yunani ke dalam dunia Islam. Menurut al-Kindi, pengetahuan tentang Tuhan dikenal dengan filsafat pertama; filsafat yang membahas “al-haq” sebagai telos yang mengakhiri keseluruhan cara kerja filsafat. maka ia menulis sebuah buku yang berjudul “al falsafah al ula”, yaitu membahas tentang letak filsafat Islam dalam pemikiran Islam secara universal. Bagi al-Kindi, terdapat dua jenis pengetahuan yang mungkin (diperoleh manusia) : pengetahuan ilahi (al-ilm ilahi) dan pengetahuan manusiawi (al Ilm al Insani). Pengetahuan pertama lebih tinggi dari pengetahuan kedua, karena ia bisa mencapai pengetahun yang tidak bisa dicapai oleh pengetahuan manusia.
Maka, kebenaran yang bersumber dari wahyu harus diterima meski tidak dapat dibuktikan. Dari sana kita dapat melihat bahwa pemikiran al-Kindi masih dipengaruhi oleh pemikiran Islam (ilmu kalam), selain itu memang dia adalah penganut paham rasionalistik (mu’tazilah). Setelah itu, ada Al-Farabi (w. 340 H/950 M) yang meneruskan tradisi keilmuwan al-Kindi, namun dengan kompetensi, kreativitas dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi. Karena, bila al-Kindi dianggap sebagai peletak pertama filsafat Islam, maka al-Farabi dikenal sebagai peletak dasar piramida sesungguhnya filsafat dalam Islam. Al-Farabi adalah komentator utama sekaligus pengikut Aristoteles (Nasr, 2014). Tidak salah, di dunia Islam ia dijuluki sebagai “guru kedua” (al Muallim al Tsani), dan Aristoteles dikenal sebagai “guru pertama” (al Muallim al Awwal).
Aristoteles memang mempengaruhi al-Farabi dalam hal logika dan fisika. Tetapi selain itu, Plato juga mempengaruhinya dalam pemikiran akhlak dan politik, sementara metafisika dipengaruhi oleh pemikiran Plotinus. Kepercayaannya terhadap berbagai aliran filsafat yang berbeda diyakini memiliki satu tujuan, yakni kebenaran. Berbeda dengan al-Kindi dan al-Farabi, Ibnu Sina (w. 428 H/1037 M) atau Avicenna, di dunia barat lebih dikenal sebagai “pangeran para dokter”. Namun, di masa al-Farabi dan Ibnu Sina-lah filsafat peripatetik (masysya’iyyah) berkembang (980-1037 M). Bahkan, pada kurun waktu tersebut, berbagai filsafat Yunani mendapat kesempatan yang lebih luas untuk dikembangkan dalam lingkungan pemikiran Islam.
Tidak hanya membahas masalah lama yang mendapat perkembangan baru, tetapi juga menemukan masalah masalah baru yang belum pernah diulas sebelumnya oleh keduanya. Sebut saja masalah baru yang belum pernah dikembangkan sebelumnya adalah filsafat kenabian, pembagian wujud menjadi yang mungkin (contigent) dan niscaya (nicessery), pesoalan eksistensi (wujud atau being) apakah mendahului esensi (quiddity) atau sebaliknya, dan juga kosmologi termasuk emanasi terdapat pengembangan dengan unsur teologi Islam bahkan tasawuf. Dan menurut Nasr, Ibnu Sina berupaya melihat dari kacamata berbeda, bukan dari dimensi rasionalistik kaum aristotelian akan tetapi dari sudut katerdal kosmik tempat simbolik yang secara nyata hadir memainkan perannya dalam realisasi spiritual. Dari sini pemikiran Ibnu Sina lebih mengarah kepada “teosofi kaum illuminasi” yang akan didirikan oleh Suhrawardi satu setengah abad setelahnya.
B. Serangan Imam Al-Ghazali Terhadap Filsafat
Filsafat Peripatetik mencapai puncak kegemilangannya tidak lepas dari peran Ibnu Sina yang selanjutnya disebarluaskan oleh para murid-muridnya. Meski pada awal kemunculannya mendapat kritikan yang sangat tajam dari ahli hukum (fikih) dan kaum sufi. Mereka menentang rasionalisme inhern yang menjadi salah satu ciri khas mazhab ini. Tetapi kritikan yang sangat berpengaruh datang dari tokoh dari Thus yang bernama Imam al-Ghazali (w. 505 H/ 1111 M). Dalam salah satu karya polemiknya yang berjudul “Tahafut al Falasifah” (kekacauan para Failusuf) ia mengkritik terhadap ajaran neoplatonis yang dibawa oleh al-Farabi dan Ibnu Sina. Dalam buku tersebut, yang disusun terdapat 20 problem yang dilanggar oleh Filsuf: 16 bidang metafisika dan 4 bidang fisika, 17 digolongkan sebagai “ahlul bid’ah” dan 3 hal lainya dinyatakan sebagai kafir. Tetapi yang perlu diketahui, bahwa Imam al-Ghazali pernah mengenyam filsafat sebelum ia berlabuh ke dunia tasawuf, sebagaimana penjelasannya yang terdapat dalam karya yang berjudul “al Munqiz min al Dalal”. Jadi tidak mengherankan bahwa di satu sisi ia telah mengembalikan pemikiran Islam kepada relnya dan di sisi lain berdampak terhadap pemenjaraan kreativitas intelektual Islam sampai sekarang ini.
Setelah serangan Iman al-Ghazali, filsafat bergerak mulai redup di kawasan timur dunia Islam dan berpindah ke Barat, Andalusia (Sepanyol), tempat fiksi terkenal lahir seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd melawan serangan dari Imam al-Ghazali dengan sebuah karya yang berjudul “Tahafut al Tahafut” (kekacauan dibalik kekacauan). Posisinya sebagai “fanatik Aristotelian”, dan Ibnu Rusy berperan ganda, selain pembelaan filsafat yang diserang oleh al-Ghazali, ia juga mengkritisi terhadap aliran peripatetik yang ada sebelumnya. Baginya, ajaran yang bergerak telah terdistorsi oleh ajaran neoplatonisme yang nampaknya bercorak illuminatik. Akan tetapi upaya Ibnu Rusyd untuk mengembalikan posisi filsafat dalam dunia Islam, menurut Nasr, kurang cukup berhasil, karena ia kurang begitu berpangaruh di dunia Islam, justru di baratlah ia didengar.
IV. Mengapa Khalifah Al-Ma’mun (Dinasti Abasiyah) Begitu Konsen Terhadap Filsafat Yunani Kuno
Abed Al-Jabiri dalam bukunya berjudul “Formasi Nalar Arab bagian III” yang membahas tentang nalar burhani menceritakan bahwa Al-Ma’mun, khalifah Abbasiyah ke-7, bermimpi seseorang yang duduk di tempat tidurnya. Lalu dia berdialog dengan orang itu. Sosok itu ternyata mengaku Aristoteles, dengan perawakan bijak dan konon, kepalanya botak, matanya biru, dan keningnya agak lebar. Al-Ma’mun bertanya dalam mimpi itu, apakah yang disebut kebaikan? Aristoteles menjawab: kebaikan adalah apa yang dipandang baik oleh akal. Apa lagi kata Al Ma’mun? Aristoteles menjawab: apa yang dikategorikan baik oleh syara’ (tuntunan kitab suci). Apa lagi kata Al-Ma’mun? Aristoteles menjawab : apa yang dipandang baik oleh jumhur (ijtiad). Mimpi itulah menurut Al-Jabiri (walaupun masih diragukan kepastiannya) yang membuat Khalifah Al Ma’mun minta izin pada Kaisar Romawi untuk menggali buku-buku pra Islam, termasuk karya filsuf Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan itu merupakan awal yang penting bagi lahirnya “Islamic Peripatetic Thinkers”.
A. Masuknya Pemikiran Aristoteles
Sebagaimana telah dikemukakan di sub judul bagian atas, bahwa secara etimologis peripatetik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “peripatetikos” (verb: peripatein) berjalan berputar-putar. Konon, itu adalah cara Aristoteles saat mengajar para muridnya di sekitaran gunung Olimpus. Dari situ orang-orang yang mempelajari dan mengikuti pemikiran Aristoteles disebut kaum peripatetik. Setelah masuk dalam bahasa Arab menjadi “Masyaiyyah” atau “Masyaiyyun” (kaum peripatetik). Masyaiyyah dari kata “masya-yamsyi-masyan” yang berarti berjalan. Peripatetik sebelum Islam muncul di sekitar Syria pada abad ke 4 dan 5 M, ada dua sekolah teologi di situ, yaitu : Edesse dan Nisibi. Para pembelajarnya saat itu adalah umat Nasrani. Banyak karya-karya Yunani saat itu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Syria. Karya logika Aristoteles juga dipelajari, salah satu yang terkenal adalah kajiannya “Porphyry” atas logika Aristoteles yang bejudul “Isagoge”. Buku tersebut dalam tradisi filsafat Islam merupakan awal jadi pengantar menuju buku-buku logika Aristoteles. Berikut daftar buku-bukunya : Isagoge (al Isaghuji), Categoriae (al maqulat), De Interpretation (al ‘ibarah), Analytica Priora (al qiyas), Analytica Posteriora (al burhan), Topica (al jadal), Sophistici Elenchi (al mugalitah), Rhetoric (al khitabah), dan Poetica (al shi’r). Tentu masih banyak lagi buku-buku Aristoteles yang lain, termasuk buku Metafisika, yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Ada kisah menarik di sini, terutama di dalam auto biografinya Ibn Sina, ternyata ia mengakui kesulitan untuk memahami buku Metafisika Aristoteles. Dia membacanya hingga 40 kali, bahkan hampir hafal tetapi tidak paham. Ibnu Sina pun menyerah. Lalu dia datang ke suatu bazar buku, ada pelapak yang melelang buku tentang metafisika. Pelapak itu memaksanya untuk membeli buku itu. Dibelilah buku itu seharga 3 dirham. Buku tersebut berjudul “Objek-Objek Metafisika” yang ditulis oleh
Al-Farabi. Di buku itulah Ibn Sina menemukan jawaban soal-soal metafisika yang dipelajarinya saat itu.
Pada abad ke 6 M ekspansi Arab di bawah kekhalifahan Bani Umayyah (661-750 M) ke Damaskus dan ke seluruh Syria. Umat Kristiani hidup dibawah kekhalifahan Umayyah dan masih mempelajari pemikiran Aristoteles dan Neoplatonis. Itulah mungkin mengapa penerjemah di era awal Abbasiyah berasal dari kalangan umat Nasrani, misalnya Hunain bin Ishaq. Di era Umayyah sebetulnya sudah ditemukan penerjemahan teks Aristoteles yaitu atas karya yang disebut karya “Semu Aristoteles”, yaitu berupa surat-suratnya pada Iskandar Agung (Alexander The Great), murid Aristoteles. Buku itu dikenal dengan judul “Sirr Al-Asrar” atau “Secretum Secretorum” (Rahasia dari Rahasia). Lalu di era Abbasiyah pada Khalifah Al Mansur (754-775 M), khalifah kedua Abbasiyah, secara bertahap saat itu melakukan penerjemahan walaupun tidak masif. Barulah memuncak proses penerjemahannya ketika dimasa Khalifah Al Ma’mun (813-833 M), yakni Khalifah Abbasiyah ke-7. Yang berlangsung selama kurang lebih 150 tahun. Era itu bdisebut oleh Philip K Hitti sebagai era sangat penting dalam tradisi pemikiran Islam.
Terjemahan-terjemahn itu disimpan dalam perpustakaan bernama “Baitul Hikmah” yang dikepalai oleh Hunain bin Ishaq yang beragama Nasrani. Dia sekaligus yang paling banyak menerjemahkan karya-karya Aristoteles ke dalam bahasa Arab, termasuk karya Galen dan Hippokrates (dua tokoh kedokteran Yunani), Euclid dan Ptolomy (matematikawan dan astronom). Tak lama kemudian, tokoh-tokoh besar dari disiplin matematika, astronomi, hingga kedokteran lahir di peradaban Islam. Salah satu karya ilmu kedokteran terbesar yang lahir saat itu adalah “Qanun fi Tibb” yang ditulis oleh Ibn Sina.
Penerjemahan menjadi satu hal istimewa saat itu. Menurut Philip K Hitti, para penerjemah yang berhasil memperoleh imbalan emas, yaitu seberat dari hasil terjemahannya. Al-Farabi bercerita dalam bukunya berjuful “Fi Zuhur Al Falsafah” (On The Apperance of Philosophy), bahwa buku-buku Aristoteles setelah disistematisasi oleh Andronikos dari Rhodos atas prakarsa kaisar Romawi maka dilakukan pengkopian. Satu hasil kopian dibawa ke Romawi dan hasil kopian lainnya dibiarkan di Aleksandria lalu dipindahkan ke Antioch. Di situ ada dua orang yang berasal dari timur tengah yaitu dari Harran atau Turki dan Marwa atau Turkmenistan yang belajar filsafat, belajar logika. Dari daerah Marwa bernama Abu Yahya Al Marwazi. Dia memiliki dua murid Ibrahim Al Marwazi dan Yuhana Ibn Hailan. Ibrahim Al-Marzawi memiliki murid bernama Abu Bishr Mata Ibn Yunus. Yuhana Ibn Hailand dan Abu Bishr Mata mengajar logika di Bagdad. Pada dua orang itulah Al-Farabi belajar logika. Dari konteks sejarah demikianlah, para pemikir peripatetik Islam lahir, seperti Al Khindi, Al Farabi, Ibn Sina, Al Ghazali, Ibn Rusd, Ibn Bajah Ibn Thufail, dan seterusnya. Pada para pemikir peripatetik ini filsafat Aristoteles dan neoplatonisme berpengaruh cukup besar, yakni mulai dari soal logika, politik, metafisika, jiwa (psikologi), hingga fisika. Walaupun ada juga sebagian yang mengembangkannya, misalnya dalam bidang politik.
Sementara dalam tradisi Yunani, politik lebih kepada merumuskan konsep negara, tetapi oleh para pemikir Islam dipadukan dengan nasihat-nasihat pada raja (Nasihah Al Mulk). Dalam metafisika misalnya, Ibn Sina dalam argumen ontologisnya memasukkan “Wajibul Wujud” (Necessary Being), “Mungkinul Wujud” (Possible Being), “Mamnu’al Wujud” (Impossible Being). Yang mana tiga wujud itu tidak terlalu jelas dalam tradisi pemikiran Yunani klasik. Menariknya, para pemikir Islam saat itu cukup selektif untuk mengadospi tradisi pemikiran Yunani. Misalnya, soal politeisme Yunani sama sekali tidak dipakai dalam pemikiran Islam. Demikianlah selayang pandang (ringkasan dan penetrasi), yakni bagaimana pemikiran Aristoteles dan Neoplatonisme masuk dan mempengaruhi para filsuf Islam awal.
V. Kesimpulan
Filsafat peripatetik, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai Falsafah Al-Mashsha’iyyah, adalah salah satu aliran penting dalam sejarah filsafat. Aliran ini merupakan interpretasi dan pengembangan dari pemikiran Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno. Dalam konteks Islam, aliran ini memiliki pengaruh yang sangat signifikan pada pemikiran para cendekiawan dan filosof Muslim, terutama pada periode keemasan peradaban Islam. Di dunia Islam, filsafat peripatetik, juga dikenal sebagai Falsafah Al-Mashsha’iyyah dalam. Hal itu merujuk pada aliran filsafat yang berakar dari ajaran-ajaran Aristoteles, seorang filsuf Yunani kuno. Secara etimologis, istilah “peripatetik” itu sendiri berasal dari kata Yunani “peripatetikos”, yang berarti “mengelilingi” atau “berjalan-jalan”, hal itu mengacu pada kebiasaan Aristoteles yang mengajar sambil berjalan di sekitar kolam di Lyceum di Athena. Filsafat peripatetik menekankan pada penggunaan logika, rasionalitas, dan observasi empiris sebagai sarana utama untuk memahami alam semesta dan fenomena alam. Aliran ini menganggap bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh melalui proses rasional dan pengamatan yang sistematis terhadap dunia fisik.
Dalam konteks Islam, filsafat peripatetik berkembang pada periode keemasan peradaban Islam, terutama selama masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasitah di Baghdad. Bahkan, terjemahan karya-karya filsafat klasik, khususnya karya Aristoteles, ke dalam bahasa Arab, pada akhirnya memainkan peran penting dalam pengenalan pemikiran peripatetik ke dunia Muslim. Para pemikir Muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), dan Ibnu Rusyd (Averroes) adalah beberapa tokoh yang terlibat dalam penyelidikan dan pengembangan filsafat peripatetik dalam konteks Islam. Mereka menyintesis pemikiran Aristoteles dengan prinsip-prinsip Islam, kemudian menciptakan warisan intelektual yang kaya dan beragam.
Secara substantif, filsafat peripatetik di dunia Islam membantu memperkuat hubungan antara filsafat dan agama, memperkenalkan metode ilmiah yang sistematis, dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, dan pemikiran keagamaan dalam peradaban Islam. Bahkan secara perspektif, filsafat peripatetik menyoroti betapa pentingnya rasionalitas, logika, dan pengamatan dalam memperoleh pengetahuan, serta memperkuat hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dalam konteks sejarah dan perkembangan pemikiran manusia. Secara historis, filsafat peripatetik muncul pada zaman Kekhalifahan Abbasiyah di dunia Islam, di mana karya-karya Aristoteles dan filsuf Yunani lainnya saat itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Sementara salah satu tokoh penting dalam pengenalan filsafat Yunani ke dunia Islam adalah al-Kindi (801–873 M), yang dikenal sebagai “Philosopher of the Arabs”. Dia melakukan upaya awal untuk menyintesis ajaran-ajaran Aristoteles dengan Islam.




