Ocit Abdurrosyid Siddiq
๐๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐ธ๐ท๐๐ฏ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฎ๐น๐ฎ๐
Pagi di pesisir kampung kami di Binuangeun selatan Banten, selalu menawarkan kejujuran. Air laut pasang karena tarikan gravitasi bulan, bukan karena ia sedang marah. Namun, di tengah masyarakat kita, kejujuran alam sering kali ditutup oleh selapis kabut yang kita sebut sebagai โlatah teologisโ.
Sebagai alumnus Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung, saya sering memperhatikan betapa cepatnya telunjuk kita mengarah ke langit saat melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah pohon pisang yang berbuah di tengah batang, atau sebuah gedung yang tetap tegak saat gempa meratakan sekelilingnya, langsung disambar dengan pekik takbir sebagai โbukti kuasa Tuhanโ.
Ada yang mengusik batin ini: Mengapa kekaguman kita selalu berhenti pada stigma, dan enggan berlanjut pada riset?
Fenomena ini adalah apa yang sering disebut sebagai God of the GapsโTuhan yang dihadirkan hanya untuk mengisi celah ketidaktahuan manusia. Ketika nalar buntu menjelaskan sebuah fenomena, kita memanggil nama Tuhan sebagai โtombol daruratโ untuk menghentikan proses berpikir.
Padahal, akal adalah cahaya pertama yang ditiupkan Tuhan ke dalam jiwa manusia. Membiarkan akal mati suri di hadapan fenomena alam adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah intelektual tersebut.
๐ ๐ฎ๐๐ท๐ถ๐ฑ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ต ๐ฃ๐๐ถ๐ป๐ด
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana sebuah masjid atau pesantren tetap kokoh saat rumah-rumah di sekitarnya luluh lantak tersapu bencana. Bagi masyarakat, ini adalah โintervensi tangan Tuhanโ. Namun, mari kita bicara jujur sebagai manusia yang berakal.
Secara arsitektural, masjid sering kali adalah bangunan dengan kualitas material terbaik dan memiliki struktur pilar serta ruang terbuka yang luas. Ketika air bah datang, ia tidak membentur dinding massif, melainkan mengalir melewati pintu dan jendela yang terbuka, sehingga tekanan hidrodinamika berkurang drastis.
Mengatakan bahwa masjid selamat karena konstruksinya yang baik tidaklah mengurangi kemuliaan Tuhan. Justru, di sanalah kita menemukan Tuhan yang konsisten dalam hukum fisika-Nya.
Tuhan tidak sedang melakukan โpilih kasihโ secara magis, melainkan Dia sedang menunjukkan bahwa siapa pun yang mengikuti hukum-Nya dalam urusan materiโyakni membangun dengan perhitungan yang benarโmaka ia akan menuai hasilnya.
๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ท๐ฎ ๐๐๐ฎ๐ป ๐ง๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐ธ๐ต๐ฎ๐๐๐น
Kita sering melihat video viral tentang gumpalan awan yang menyerupai lafaz suci. Masyarakat bersorak, seolah-olah Tuhan baru saja mengirimkan teka-teki visual di langit. Dalam psikologi dan sains, kita mengenalnya sebagai Pareidoliaโkecenderungan otak mencari pola akrab di tengah data acak.
Awan adalah akumulasi uap air yang patuh pada dinamika fluida dan arah angin. Secara statistik, dalam hamparan langit yang tak terbatas, pembentukan pola tertentu adalah sebuah keniscayaan matematis. Tuhan yang kita pelajari adalah Sang Geometer Agung.
Dia tidak butuh โsihirโ visual untuk membuktikan keberadaan-Nya. Iman yang dewasa adalah iman yang mampu melihat Tuhan dalam keteraturan orbit planet, bukan dalam bentuk awan yang akan buyar dalam hitungan menit.
๐ฆ๐ฎ๐ฎ๐ ๐ฃ๐ผ๐ต๐ผ๐ป โ๐๐ถ๐ฐ๐ฎ๐ฟ๐ฎโ ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ ๐๐ถ๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ
Ketika sebuah pohon pisang berbuah di tengah batang, kain kuning melilit dan spekulasi mistis pun bertebaran. Padahal, dunia botani tidak mengenal sihir. Fenomena ini bisa dijelaskan lewat mutasi genetik atau stres lingkungan yang memicu ledakan hormon seperti Giberelin.
Tuhan menciptakan tumbuhan dengan sistem pertahanan yang luar biasa. Apa yang kita anggap โberkah ajaibโ sering kali adalah upaya terakhir tanaman untuk bertahan hidup sebelum kematian menjemput. Menemukan Tuhan dalam biologi berarti mengagumi Sang Arsitek di balik setiap sel, bukan menyembah kelainan pertumbuhannya.
๐ ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐๐๐น๐ฎ๐บ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ป๐๐ถ๐ณ๐ถ๐ธ ๐ฑ๐ถ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐๐ฒ๐ป
Menuliskan kegelisahan ini adalah upaya memengembalikan akal ke singgasananya. Banten tidak boleh berhenti pada narasi magis yang melumpuhkan nalar. Kita butuh sebuah renaisans pemikiran: sebuah Islam yang saintifik.
Mempelajari hukum alamโmulai dari struktur bangunan hingga pembelahan selโadalah bentuk ibadah yang setara dengan zikir. Memahami sunnatullah adalah cara kita mencintai Sang Pencipta dengan cara yang lebih bermartabat.
Islam yang kita dambakan adalah Islam yang tidak takut pada data, Islam yang menyambut mikroskop sebagai alat untuk semakin mendekatkan diri pada keagungan Allah. Apakah dengan menyoal perkara ini lantas bermakna bahwa saya kurang beriman? Mari kita cacahan! Wallahualam.
*
Tangerang, Selasa, 27 Januari 2026
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten, Ketua Bidang Kaderisasi dan SDM Pengurus Besar Mathlaul Anwar, Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (LIBAS)





