Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 90-93 Bersama K.H. Zaenal Abidin Suja’i, Lc.

Editor: Endang Yusro

SERANG, 27 April 2026 – Dalam rangkaian pengajian rutin malam ini (Senin malam Selasa), bertempat di Masjid Gedong, Kaloran Kota Serang, Banten, diselenggarakan kajian tafsir yang dipimpin langsung oleh K.H. Zaenal Abidin Suja’i, Lc., Pengasuh Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Kota Serang. Beliau yang juga dikenal sebagai Pengurus MUI Pusat dan Provinsi Banten, serta mantan Komisioner BAZNAS periode 2015-2025, mengupas tuntas firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 90-93 dengan merujuk pada kitab klasik Tafsir Al-Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan dilanjutkan muridnya Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

I. Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 90-93

Dalam penjelasannya, Kiai Zaenal menegaskan bahwa ayat-ayat ini memuat kecaman keras (indhar) Allah SWT terhadap sikap Bani Israil yang ingkar, dengki, dan membangkang terhadap kebenaran. Meskipun mereka mengaku memegang teguh Kitab Taurat, namun mereka menolak dan tidak mengakui kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW melalui Al-Qur’an.

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam Tafsir Al-Jalalain menafsirkan sikap mereka sebagai berikut:

“Mereka menukar nikmat Allah dengan kekufuran, karena kedengkian mereka yang mendalam bahwa Allah menurunkan kenikmatan berupa kenabian kepada orang selain mereka.”

Sikap ini jelas bertentangan dengan prinsip iman. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَكَفَرَ بِجَمِيعِ الْكُتُبِ وَالرُّسُلِ، فَقَدْ كَفَرَ

Artinya: “Barangsiapa mengkufuri Allah sebagai Tuhan, dan mengkufuri semua kitab dan rasul, maka dia telah kafir.” (HR. Bukhari & Muslim).

Oleh karena itu, iman tidaklah lengkap kecuali dengan beriman kepada seluruh kitab dan rasul Allah. Namun, setelah datangnya syarat Islam, maka hukum yang berlaku adalah hukum yang dibawa oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.

II. Posisi Al-Qur’an Terhadap Kitab Sebelumnya

Kiai Zaenal Abidin menjelaskan tiga fungsi utama Al-Qur’an dalam hubungannya dengan kitab-kitab terdahulu, khususnya Taurat, berdasarkan dalil Qur’ani dan Tafsiri:

1. Al-Qur’an sebagai Musaddiq (Pembenar)

Al-Qur’an datang untuk membenarkan isi kitab sebelumnya yang masih murni dan sesuai dengan fitrah. Tidak ada pertentangan antara inti ajaran tauhid dalam Taurat dengan Al-Qur’an.

Firman Allah SWT.:

“…وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ…”

Artinya: “…dan sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya…” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Imam Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an mengatakan: “Al-Qur’an membenarkan bahwa kitab-kitab itu benar-benar dari Allah.”

2. Al-Qur’an sebagai Muhaymin (Pengawas dan Pengoreksi)

Al-Qur’an berfungsi menjaga dan mengoreksi bagian-bagian yang telah diubah, ditambah, atau dikurangi oleh tangan manusia.

Firman Allah SWT.:

“…وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ…”

Artinya: “…dan memeliharanya (menjadi saksi dan pengawas atasnya).” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Dalam Lisan Al-Arab, kata Muhaymin diartikan sebagai As-Syahid (yang menyaksikan/membuktikan) dan Al-Hafiz (yang menjaga). Jadi Al-Qur’an menjadi standar kebenaran; apa yang sesuai dengan Al-Qur’an maka itulah Taurat yang asli, dan apa yang bertentangan maka itulah hasil rekayasa manusia.

3. Al-Qur’an sebagai Nasikh (Penyempurna dan Pengganti)

Meskipun membenarkan keberadaan kitab sebelumnya, Al-Qur’an datang untuk menyempurnakan dan menjadi hukum final yang wajib diikuti hingga akhir zaman. Syariat Bani Israil khusus untuk mereka dan masanya, kini telah dicabut dan diganti dengan syariat Nabi Muhammad SAW yang universal dan abadi.

Firman Allah S.W.T.:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ

Artinya: “Wahai Ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami yang menjelaskan kepada kalian banyak hal dari apa yang kalian sembunyikan dari Kitab (Taurat/Injil) dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Ma’idah: 15)

III. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Barangsiapa yang mengaku beriman kepada Taurat, Zabur, atau Injil, maka wajib baginya untuk beriman kepada Al-Qur’an. Karena keduanya bersumber dari Sumber yang Sama, yaitu Allah SWT.

Menolak Al-Qur’an sama artinya dengan menolak kebenaran yang sudah digariskan dalam kitab-kitab sebelumnya yang memprediksi kedatangan Nabi terakhir. Sebagaimana ditegaskan dalam kajian ini, bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab yang menentang kitab sebelumnya, melainkan kitab yang datang untuk meluruskan, memvalidasi, dan menyempurnakan jalan yang lurus.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *