Oleh:
Endang Yusro
“Jadilah diri sendiri, karena yang orisinal lebih berharga daripada salinan,”
~ Albert Einstein
Sebut saja namanya Sabil, murid kelas 2 di SD Sang Surya Kota Serang. Nama lengkapnya Sabil Syahdan Ma’arif, putra ketiga penulis yang berpakaian seragam sekolah berbeda dengan kebanyakan teman-temannya, meski ada beberapa yang memakai kaos sepertinya.
Perbedaan seragam untuk hari Rabu karena adanya miskomunikasi ini yang menginspirasi penulis untuk membuat catatan kecil saat mentari menyengat Kota Serang dsk.
Awalnya sang anak menyesali mengapa berpakaian berbeda dengan teman-temannya. Sesuatu yang biasa terjadi pada anak-anak ketika beda dengan teman-temannya.
Ada kekhawatiran mendapatkan ejekan, cemoohan, bullying, dsj. dari teman-teman. Mendapati hal seperti itu, penulis langsung menghibur, mengatakan bahwa beda itu baik, tidak usah takut dengan perbedaan.
Jika ada teman yang mengejek, itu artinya dia tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan. Mereka iri dengan keberanian kita untuk berbuat beda. Ingat kata pepatah mengatakan, “Iri tanda tak mampu.”
Ingat, Islam datang ke muka bumi ini sebagai pembeda antara hak dan yang batil. Mengapa kita harus beda? Berikut alasannya.
Pertama, berani beda membuat seseorang menonjol, terutama di dunia kerja atau akademik. Kedua, berani beda adalah kunci menciptakan hasil yang berbeda pula.
Ketiga, menerima dan merangkul karakteristik unik diri sendiri akan meningkatkan rasa percaya diri. Keempat, membentuk Integritas, yaitu berani berdiri sendiri di jalan yang benar lebih baik daripada mengikuti arus yang salah.
Terakhir, kelima, daripada sekadar sama dan biasa, menciptakan diferensiasi (perbedaan) akan menjadi unik.
Dalam pandangan Islam, keunikan dan perbedaan bukanlah hal yang asing, melainkan merupakan sunnatullah atau ketetapan Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Allah berfirman:
قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا
“Katakanlah: “Setiap orang berbuat menurut cara (bentuk, watak, dan gaya) masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra: 84)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan dengan karakter, potensi, dan jalan hidup yang berbeda-beda. Tidak ada satupun manusia yang identik persis dengan yang lain, bahkan kembar sekalipun. Oleh karena itu, menjadi diri sendiri adalah bentuk ketaatan kita terhadap ciptaan-Nya.
Selain itu, Allah juga menegaskan tentang keberagaman yang menjadi tanda kekuasaan-Nya:
وَمِنْ ءَايٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)
Mengenai pentingnya tidak meniru-niru atau menjadi salinan, Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat tegas:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan kita untuk menjaga identitas dan keaslian diri. Meniru orang lain bukan hanya membuat kita kehilangan jati diri, tetapi juga bisa membawa kita pada jalan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang. Sebaliknya, berani tampil beda dalam kebaikan adalah bentuk kemuliaan. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيٓ ءَادَمَ…
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra: 70)
Kemuliaan itu tidak didapat dengan menjadi tiruan orang lain, melainkan dengan mengoptimalkan potensi unik yang telah Allah titipkan pada diri kita masing-masing.
Menumbuhkan kepercayaan diri karena hal-hal yang menuntut berani beda pada anak dapat dilakukan dengan memberikan pujian pada usaha (bukan hasil), mendorong mereka mencoba hal baru, dan memberi tanggung jawab sesuai usia.
Para ahli parenting mengatakan, penting untuk tidak melabeli anak, memvalidasi emosi mereka, serta memberikan kasih sayang dan dukungan tanpa syarat, terutama kepada anak dalam rangka menumbuhkan sikap berani beda.
Menutup catatan ini, sebagaimana kutipan Albert Einstein pada pembuka catatan ini, “Jadilah diri sendiri, karena yang orisinal lebih berharga daripada salinan,” bermakna agar kita bangga dengan keunikan diri dan tidak meniru orang lain.
Menjadi diri sendiri (orisinal) jauh lebih berharga, otentik, dan dihargai daripada sekadar menjadi tiruan (salinan) dari orang lain yang sudah ada. Demikian, wallahu a’lam bish-shawab.

