Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung

Rencana kementerian untuk menutup program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri laksana mendung yang menggelayut di langit pendidikan kita. Kebijakan ini muncul dari rahim pragmatisme yang akut, di mana keberhasilan sebuah proses belajar hanya diukur dari seberapa cepat lulusannya terserap oleh mesin-mesin produksi korporasi. Pendidikan, yang sejatinya adalah proses memanusiakan manusia, kini direduksi menjadi sekadar pabrik penyedia sekrup-sekrup mekanis demi putaran roda ekonomi. Fenomena ini memicu kegelisahan mendalam bagi siapa saja yang masih meyakini bahwa hakikat keilmuan tidaklah selalu berbanding lurus dengan deretan angka di atas lembar slip gaji bulanan.

Pandangan yang memuja aspek instan ini jelas sangat mencederai martabat ilmu-ilmu murni, terutama disiplin ilmu seperti Akidah dan Filsafat yang sering dianggap tidak “prospektif”. Memang benar, jika kita menggunakan kacamata sempit bursa kerja, hampir tidak ada institusi yang secara spesifik membuka lowongan bagi mereka yang ahli dalam membedah ontologi atau logika. Berbeda dengan jurusan Tarbiyah yang memiliki sekolah, atau Syariah yang memiliki lembaga peradilan, mahasiswa Ushuluddin seolah dipaksa berjalan di lorong sunyi tanpa jaminan pelabuhan karier yang pasti. Namun, di balik kesunyian itulah tersimpan kemewahan intelektual yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh jabatan mentereng mana pun di dunia ini.

Mengingat masa kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dahulu, jurusan Akidah dan Filsafat memang selalu menjadi pojok yang paling sepi peminat dibandingkan prodi lainnya. Pilihan untuk menceburkan diri ke dalam disiplin ilmu ini bukanlah sebuah keputusan yang berorientasi pada pekerjaan, melainkan murni sebuah gairah untuk belajar dan memahami hakikat eksistensi. Kami menyadari sepenuhnya bahwa setelah lulus nanti, dunia mungkin tidak menyiapkan karpet merah, namun kami percaya bahwa ilmu adalah bekal hidup yang paling hakiki. Kepercayaan ini menjadi fondasi kuat agar kami tidak sekadar menjadi beban bagi lingkungan, melainkan mampu berkontribusi nyata melalui kekuatan pemikiran yang jernih dan tajam.

Dalam perjalanan hidup, paradigma “Islam Rasional” yang digagas oleh tokoh seperti Harun Nasution menjadi kompas yang sangat krusial dalam menavigasi kehidupan beragama dan sosial. Paradigma ini mengajarkan bahwa akal dan wahyu tidak seharusnya dibenturkan, melainkan harus bersinergi untuk menciptakan pemahaman keagamaan yang moderat dan progresif. Dengan bekal pola pikir inilah, seorang sarjana filsafat mampu mengekspresikan diri di berbagai ruang publik, mulai dari majelis diskusi hingga dunia tulis-menulis yang menuntut kedalaman analisis. Secara tidak langsung, kompetensi yang terbangun dari proses belajar yang panjang ini akhirnya mendatangkan apresiasi materiil sebagai bonus dari dedikasi intelektual tersebut.

Meskipun saat ini tren dunia sedang bergeser ke arah yang serba praktis dan emosional, harus tetap ada segelintir orang yang berani mengambil peran di “jalan sunyi” sebagai penjaga moral. Generasi memang telah berubah, dan pola pikir pragmatis mungkin kini mendominasi hampir di seluruh lini kehidupan masyarakat modern yang serba cepat ini. Namun, peran para penjaga nalar ini laksana mercusuar di tengah badai, yang memastikan bahwa kapal peradaban manusia tidak kehilangan arah dan hancur menabrak karang kedangkalan berpikir. Tanpa mereka yang mau berpikir kritis dan kontemplatif, masyarakat akan mudah terjebak dalam arus taklid buta yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah dipertanyakan lagi kebenarannya.

Strategi terbaik untuk mengajak generasi muda kembali mencintai dunia pemikiran adalah dengan menampilkan kompetensi diri secara nyata dalam setiap gerak dan langkah di masyarakat. Ketika orang lain melihat kita mampu mengurai benang kusut persoalan dengan perspektif yang unik dan berani melawan arus mainstream, di situlah rasa penasaran mereka akan tumbuh. Banyak orang yang kemudian terkagum-kagum dan bertanya tentang latar belakang pendidikan kita, seolah terkejut bahwa kekuatan nalar sehebat itu lahir dari jurusan yang dianggap tidak produktif. Ini adalah bukti bahwa filsafat bukanlah sekadar teori di atas kertas, melainkan mesin penggerak kualitas pribadi yang mampu menembus batas-batas administratif yang sempit.

Dunia filsafat mungkin masih terasa asing dan sulit dipahami oleh masyarakat umum yang terbiasa berpikir linier antara sekolah, kerja, dan mendapatkan uang secara cepat. Namun, sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa perubahan-perubahan besar di dunia ini selalu digerakkan oleh tokoh-tokoh besar yang memiliki kedalaman pemikiran filosofis yang luar biasa. Filsafat menemukan elan vital-nya justru ketika ia mampu menggugat kemapanan dan memberikan alternatif solusi atas kebuntuan sistem sosial yang ada di hadapan kita semua. Sarjana filsafat memang tidak disiapkan untuk menjadi operator teknis, melainkan sebagai arsitek peradaban yang mampu meletakkan fondasi berpikir yang kokoh bagi kemajuan sebuah bangsa.

Kepuasan batin yang paling tinggi bukanlah saat mendapatkan bayaran materiil, melainkan ketika melihat orang lain mulai termenung dan merenungkan kembali pemahaman lama mereka yang usah. Ada getaran kebahagiaan tersendiri saat mendengar ungkapan “iya juga ya” dari audiens yang selama ini menerima informasi secara mentah tanpa adanya proses kritik dan filter yang memadai. Pada celah itulah, melalui sudut pandang rekonstruksi, kita berhasil membuka mata mereka untuk melihat sebuah persoalan dari sisi yang selama ini tersembunyi dari pandangan orang kebanyakan. Menjadi seorang pendidik atau pemikir di wilayah seperti Banten memerlukan kesabaran ekstra agar nilai-nilai rasionalitas ini bisa diterima dengan baik tanpa menyinggung tatanan tradisional.

Kita harus tetap optimis bahwa jalan sunyi yang kita tempuh akan selalu memiliki tempat dan relevansi yang abadi dalam sejarah kemanusiaan. Penutupan prodi-prodi tertentu mungkin bisa dilakukan secara administratif, namun gairah untuk mencari kebenaran dan hakikat hidup tidak akan pernah bisa dibungkam oleh kebijakan apa pun. Selama masih ada manusia yang rindu akan kejernihan nalar, selama itu pula filsafat akan terus bernapas dan memberikan warna pada kanvas kehidupan yang semakin hari semakin monokrom ini. Mari terus menulis, terus berbicara, dan terus menjadi suluh di tengah kegelapan, karena di balik setiap huruf yang kita goreskan, tersimpan harapan bagi masa depan yang lebih waras. Wallahualam. *

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *