Oleh : Uung Ibnu Shobari (UIS)
✓ Presiden Forum KEREN (Komunitas Pecinta Pesantren)
✓ Sekjen FSPP Kabupaten Pandeglang
✓ Mudeerul ‘Amm Ponpes Model Noor El-Madeenah
✓ Pengurus ICMI ORWIL BANTEN Bidang Kepesantrenan
Pesantren Festival Provinsi Banten 2026 bukan sekadar perayaan, melainkan forum strategis. Salah satu agenda utamanya adalah Saresehan Para Pimpinan Pondok Pesantren se-Banten yang menegaskan komitmen kolektif membangun ekosistem pesantren yang modern tanpa kehilangan akar tradisi.
Dalam tataran teknis, bahwa memahami modernitas bukan berarti tanpa peneguhan kearifan lokal dan penguatan budaya, melainkan juga sarat dengan peran nilai-nilai sosial yang telah menjadi ajegnya Pondok Pesantren di tanah air tercinta Negara Kesatuan Republik Indonesia. ” Banten adalah bumi perjuangan, kawasan religius, daerah pentas politik dan seabreg catatan histrori kebangsaan yang mengagumkan dunia Internasional, ” tukas Kyai Odih (Ketua Dewan Pembina IKPDQ, red.).
Berikut kupasan singkat kolumnis UIS di saat juga menjadi salah satu peserta PesanTren Festival 2026, sejatinya kolumnis telah kecambuk dengan tidak boleh berdiam diri dan wajib membuka diri dengan pikiran yang tidak unsich bicara personal dan parsial, melainkan langkah-langkah strategis yang bersifat komunal kudu terpatri kuat di semua entitas Pondok Pesantren manapun yang saling menautkan program dan sinergitas yang berkelanjutan.
Sambutan-sambutan hangat para pimpinan pesantren dan para tokoh lainnya saat jadwal saresehan tiba di penghujung PesanTren FEST 2026 ini yang dihadiri oleh Kadis Pariwisata Provinsi Banten, telah menorehkan jejak rekam sejarah bahwa Pesantren telah membutikannya memiliki peran dan kontribusi terhadap daya minat tumbuhkembangnya ” Tourism Environment ” yang semakin mengakar di Kota Serambi Madinah – Banten.
- Pesantren Berdaya Saing: Dari Sarung ke Ruang Global
Era disrupsi menuntut pesantren naik kelas. Saresehan ini menjadi ruang konsolidasi para kyai dan pimpinan pondok untuk merumuskan peta jalan pesantren yang unggul secara keilmuan, mandiri secara ekonomi, dan adaptif secara teknologi. Daya saing bukan berarti meninggalkan turats, tetapi membumikan khazanah klasik dengan manajemen modern. Pesantren harus mampu melahirkan santri yang alim, terampil, dan berjiwa entrepreneur. - Menjalankan Amanah UU No. 18 Tahun 2019
Kehadiran UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren adalah pengakuan negara terhadap peran historis pesantren. Saresehan ini menegaskan bahwa pesantren di Banten siap menjalankan amanah undang-undang tersebut. Rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi dari pemerintah harus dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan, tata kelola, dan akuntabilitas dari internal pesantren sendiri. Sinergi ini kunci kemajuan. - Festival sebagai Etalase Tata Kelola Profesional
Pesantren Festival 2026 diposisikan sebagai ajang ekshibisi nilai-nilai tata kelola pondok pesantren di Banten yang profesional. Melalui stand pameran, business matching, dan presentasi capaian, publik bisa menyaksikan langsung bahwa pesantren kini dikelola secara transparan, akuntabel, dan terukur. Dari kurikulum, manajemen SDM, hingga unit usaha pesantren, semua ditampilkan sebagai bukti transformasi. - Karya Santri: Bukti Nyata Regenerasi Ulama
Kreasi, inovasi, dan produktivitas para santri adalah parameter utama keberhasilan pesantren. Karya tulis, produk UMKM, teknologi tepat guna, hingga konten dakwah digital yang dipamerkan di festival ini adalah bukti sahih bahwa generasi penerus para kyai telah lahir. Mereka adalah santri yang melek kitab kuning sekaligus melek zaman, siap melanjutkan estafet perjuangan keulamaan. - Diamini Seluruh Elemen Kepesantrenan Banten
Gerakan bersama ini mendapat dukungan penuh dari berbagai elemen. Pesantren Festival 2026 diamini dan dikawal oleh Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Banten, Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Banten, Wadah Silaturahim Pesantren Kawasan Banten Lama, serta lembaga-lembaga pegiat pesantren lainnya. Kebersamaan ini menegaskan bahwa khidmat untuk pesantren adalah kerja kolektif, bukan kerja satu kelompok. - Kolaborasi IKPDQ & DISPAR Banten: Bukti Santri Bisa
Sebagai induk penyelenggara, Ikatan Keluarga Pondok Daar El-Qolam (IKPDQ) bersama Dinas Pariwisata Provinsi Banten telah membuktikan bahwa santri, kyai, dan entitas pesantren mampu bersaing secara profesional dan proporsional. Kolaborasi ini menjadi model kemitraan ideal antara komunitas pesantren dengan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan event berskala provinsi yang bermartabat dan berdampak ekonomi. - Petuah Kyai: Dari Mimbar ke Aksi Nyata
Seluruh ikhtiar ini berpijak pada petuah dan wasiat para kyai dan ulama sepuh. Nasihat mereka bukan sekadar kalimat di mimbar, melainkan telah menjadi bukti hidup. Sejarah mencatat, para tokoh kepesantrenan Banten telah nyata melahirkan ribuan santri yang kini mengabdi untuk agama, bangsa, dan negara. Di birokrasi, di medan dakwah, di dunia usaha, hingga di kancah internasional. Saresehan ini adalah ikhtiar untuk melanjutkan sanad pengabdian tersebut.
Tujuh catatan di atas yang termaktub baru saja meneguhkan kita semua, bahwa tidak ada yang ” bim salabim ” melainkan basis keilmuan yang mendorong kita untuk mau melibatkan diri dan berlabuh mengelola pondok pesantren tiada lain untuk memastikan bahwa entitas pesantren bukan kaleng-kaleng, Doktor Fadlullah (Ketua Dewan Presidium FSPP Provinsi Banten, red.) menyampaikan dalam notis sambutan singkatnya mengatakan ” kita telah dianugerahi memiliki Ditjen Pesantren di Kementrian Agama, pastinya akan semakin menguat dan diperhitungkan. Sejatinya bahwa model pembelajaran yang digagas Presiden RI lahirnya Sekolah Garuda maupun Sekolah Rakyat, justru Pesantren telah memiliki model yang paten dan telah melakukannya alhamdulillah “.
Saresehan Pimpinan Pondok Pesantren pada Pesantren Festival 2026 ini adalah deklarasi bahwa pesantren di Banten siap menjadi lokomotif peradaban. Mandiri, berdaya saing, dan tetap berpegang teguh pada jati diri tafaqquh fiddeen.
Dengan hangat dan atas rahmat Allah Ta’ala, di penghujung penutupan acara Festival Pesantren 2026, Kadis Pariwisata Eli Susiyanti merasa telah banyak mendapatkan anugerah Illahi dengan gemuruh ribuan santri dan puluhan tokoh Kyai dan Ulama yang hadir walau guyuran hujan tetiba turun tidak mem





