Lukman Hakim
Pendidik dan Pemerhati Sosial Budaya tinggal di Tigaraksa.
Tahun baru selalu datang dengan dua hal: angka yang bertambah dan harapan yang diperbarui. 1 Muharram 1448 H bukan sekadar pergantian kalender. Ia mengajak kita mengingat peristiwa besar yang jadi tonggak sejarah Islam: hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah.
Hijrah bukan pelarian. Hijrah adalah strategi, keberanian, dan kepatuhan total kepada Allah. Dari peristiwa itulah kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
1. Hijrah Niat: Dari Lelah Jadi Lillah
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” HR Bukhari Muslim.
Tahun boleh baru, tapi jika niat masih lama, hasilnya akan sama. 1448 H adalah waktu yang tepat untuk bertanya: untuk siapa aku bekerja, untuk siapa aku belajar, untuk siapa aku bertahan? Mengubah “lelah” menjadi “lillah” membuat semua aktivitas bernilai ibadah.
2. Hijrah Kebiasaan: Dari Menunda Jadi Bergerak
Hijrah Rasulullah direncanakan matang: memilih waktu, menyiapkan kendaraan, mengatur jalur, menunjuk pengganti di tempat tidur. Tidak ada yang serba tiba-tiba.
Kita pun bisa meniru. Mau lebih dekat dengan Al-Qur’an? Mulai dari satu halaman per hari. Mau sedekah rutin? Mulai dari seribu sehari. Mau memperbaiki shalat? Mulai dari tepat waktu. Perubahan besar tidak butuh revolusi, cukup istiqamah.
3. Hijrah Lingkungan: Dari Sendiri Jadi Bersama
Di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Ia membangun masyarakat yang saling menguatkan.
Tahun ini, hijrahlah ke lingkungan yang baik. Cari teman yang mengingatkan shalat, ikut komunitas yang produktif, jauhi circle yang hanya mengajak ghibah dan scroll tanpa henti. Kita adalah rata-rata dari 5 orang terdekat kita.
4. Hijrah Orientasi: Dari Dunia ke Akhirat
Kaum Muhajirin meninggalkan harta, rumah, dan kota kelahiran demi iman. Mereka yakin Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Dan Allah buktikan.
Di 1448 H ini, mari jujur menimbang: seberapa banyak waktu kita untuk dunia, seberapa banyak untuk akhirat? Target dunia boleh tinggi, tapi jangan sampai menutup jalan pulang ke Allah.
Resolusi 1448 H yang Membumi
- Muhasabah: Tulis 3 kebiasaan buruk tahun 1447 H yang mau ditinggalkan.
- Target Ibadah: Pilih satu amalan ringan yang dijaga setahun penuh. Misal: shalat Dhuha 2 rakaat atau baca Al-Mulk sebelum tidur.
- Sedekah Rutin: Sisihkan khusus di tanggal 1 setiap bulan. Kecil tapi konsisten.
- Silaturahim: Perbaiki satu hubungan yang renggang. Minta maaf, atau memaafkan.
- Ilmu: Kaji minimal 1 buku atau ikut 1 kajian rutin sampai khatam.
Penutup
Tahun baru Hijriah bukan tentang pesta kembang api. Ia tentang nyala semangat yang baru. Allah tidak melihat kita sudah sampai mana, tapi Allah melihat kita sedang berjalan ke arah mana.
Semoga 1448 H menjadi tahun kita berhijrah: dari ragu menjadi yakin, dari lalai menjadi ingat, dari sendiri menjadi bermanfaat untuk umat.
_Kullu ‘aam wa antum bikhair. Sanah Hijriyyah mubarakah 1448 H.





