KHUTBAH JUM’AT
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وحدَهُ لا شريكَ لهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَ نَبِيَ وَرَسُولَ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. لِنَعْمَلْ بِمَا أَمَرَ، وَلِنَجْتَنِبْ عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Qadha Allah S.W.T. berfirman dalam Al-Qur’anul Karim:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11)
Dan Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah,
Istilah Mustadh’afin (مُسْتَضْعَفِينَ) berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari mustadh’af. Secara bahasa, kata ini bermakna orang-orang yang dianggap lemah, ditindas, teraniaya, atau dilemahkan secara sistematis. Mereka bukanlah lemah karena sifat aslinya, melainkan karena ada pihak yang berkuasa menindas, menekan, atau tidak memberi kesempatan berkembang. Mereka adalah kelompok yang tidak berdaya akibat diskriminasi, kemiskinan, ketidakadilan, atau dominasi kaum yang angkuh dan sewenang-wenang, yang disebut Mustakbirin. Hal yang mana sering kita jumpai pada praktik penegakan hukum di Negeri ini.
Allah S.W.T. menegaskan perhatian-Nya kepada mereka dalam firman-Nya:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
Artinya: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak, yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.’” (QS. An-Nisa: 75)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim (Jilid 2, hlm. 288) menjelaskan: “Ayat di atas adalah teguran bagi orang yang enggan berjuang membela kaum yang tidak berdaya, yang tertekan, dan tidak bisa berusaha melepaskan diri dari penindasan orang-orang zalim.”
Sementara itu, Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (Jilid 5, hlm. 132) menegaskan: “Membela dan menolong kaum Mustadh’afin adalah kewajiban kolektif bagi umat Islam. Jika sebagian sudah melaksanakannya, gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun jika tidak ada yang melaksanakannya, maka berdosa seluruh penduduk negeri itu.”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Siapakah sebenarnya kaum Mustadh’afin itu?
Menurut pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Jilid 2, hlm. 421), mereka meliputi:
- Mereka yang lemah secara ekonomi, seperti fakir miskin yang tidak memiliki daya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya;
- Mereka yang lemah secara fisik, seperti anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas;
- Mereka yang tertindas haknya, terhalang kebebasannya, atau terhalang menegakkan agama-Nya; dan
- Mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan ketidakadilan.
Allah S.W.T. berjanji akan memberikan kemenangan dan warisan bumi kepada mereka:
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ
Artinya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak Kami jadikan mereka pemimpin dan hendak Kami jadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qasas: 5)
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Rasulullah Saw. mengingatkan kita betapa pentingnya kedudukan kaum yang lemah ini. Beliau bersabda:
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya kalian diberi kemenangan dan rezeki hanyalah karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 2896)
Dalam riwayat lain, beliau bersabda:
أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ
Artinya: “Carilah keridhaanKu dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong karena mereka.” (HR. Abu Daud no. 2594)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hlm. 189) menjelaskan: “Kekuatan dan kemakmuran suatu bangsa tidak terletak pada banyaknya harta atau senjata, melainkan pada keberkahan doa orang-orang yang lemah dan tulus hati. Maka janganlah sekali-kali kalian meremehkan atau menzalimi mereka.”
Ma’asyiral Muslimin,
Menyadari kedudukan kaum Mustadh’afin, maka kewajiban kita meliputi:
Pertama, menjauhi segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikitpun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Yunus: 44)
Kedua, berjuang menegakkan keadilan dan membelanya. Rasulullah Saw. bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
Artinya: “Tolonglah saudaramu, baik ketika dia menzalimi maupun ketika dia dizalimi.” (HR. Al-Bukhari no. 6952)
Membantu yang zalim berarti mencegahnya dari kezaliman, sedangkan membantu yang terzalimi berarti membelanya dan mengembalikan haknya.
Ketiga, mengembalikan hak mereka dan berbagi rezeki. Allah berfirman:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Hadirin yang berbahagia,
Ingatlah, kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat. Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan yang mampu menguasai dirinya saat marah dan berlaku adil kepada yang lemah. Marilah kita perbaiki diri, ubah sikap, dan bangun persaudaraan yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِهِ الَّذِيْ أَخْبَرَ وَأَنْذَرَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَدَى.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
يَا عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ








