Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus Prodi Filsafat IAIN SGD Bandung

Setiap Rabiul Awal datang, kampung seperti mendapat komando. Panitia mulai sibuk. Tenda mulai berdiri. Panggung mulai dirakit. Kabel berseliweran seperti ular habis rapat. Kursi mulai disusun. Karpet digelar. Spanduk dipasang. Nama penceramah kondang dicetak besar-besar. Warga pun mulai berhitung. Bukan menghitung dosa. Bukan pula menghitung amal. Mereka menghitung kebutuhan biaya. Setiap sungsuhunan mendapat bagian. Sungsuhunan berarti satu rumah. Satu kepala keluarga. Iuran pun dikumpulkan. Muludan harus sukses. Kalau bisa meriah. Kalau perlu sampai kampung sebelah ikut tahu.

Dua bulan sebelumnya, persiapan sudah berjalan. Warga mulai mencari sumber dana. Drum dipasang di tengah jalan. Kendaraan diperlambat. Pengendara pun disapa. Bukan ditanya mau ke mana. Tetapi ditanya punya uang berapa. Hehe. Tangan kemudian terulur. Ada yang memberi seribu. Ada yang memberi lima ribu. Ada yang memberi sepuluh ribu. Semuanya masuk ke kas Muludan. Jalan raya berubah menjadi meja amal. Drum menjadi bendahara dadakan. Warga pun bersemangat. Mereka rela berdiri berjam-jam. Panas tidak masalah. Debu bukan persoalan. Yang penting target terkumpul. Penceramah kondang harus datang.

Di kampung, suasana makin semarak. Panitia rapat berkali-kali. Ada yang mengurus panggung. Ada yang mengurus sound system. Ada yang mengurus konsumsi. Ada yang mencari kursi. Ada yang menghitung besek. Ada yang mengatur parkir. Ada pula yang paling sibuk mengatur orang lain. Itu jabatan yang biasanya tidak tercantum dalam struktur panitia. Menjelang acara, semua mulai tegang. Kursi harus lurus. Karpet harus rapi. Posisi jamaah harus teratur. Bagian depan untuk tokoh. Bagian tengah untuk jamaah. Bagian belakang biasanya paling demokratis. Siapa datang duluan, dia dapat tempat.

Lalu tibalah hari yang ditunggu. Jalan menuju masjid mulai ramai. Anak-anak berlarian. Ibu-ibu membawa makanan. Bapak-bapak memakai peci terbaik. Panitia mengenakan seragam. Sebagian tampak seperti petugas konferensi internasional. Bedanya, konferensinya di halaman masjid. Panggung sudah berdiri megah. Lampu menyala. Mikrofon dites berkali-kali. “Tes satu, dua, tiga.” Kadang sampai tesnya lebih panjang daripada ceramahnya. Jamaah mulai duduk. Panitia mulai mengatur. “Geser sedikit.” “Jangan di situ.” “Bagian depan kosong.” Semua harus tertib. Sebab acara besar memang membutuhkan ketertiban. Termasuk ketertiban dalam berebut posisi nyaman.

Kemudian penceramah naik panggung. Suasana berubah. Mikrofon berbunyi. Selawat dilantunkan. Nama Nabi Muhammad SAW disebut. Jamaah bersahut-sahutan. Suasana menjadi khidmat. Beberapa menit kemudian, penceramah mulai bercerita. Cerita pertama membuat jamaah tersenyum. Cerita kedua membuat jamaah tertawa. Cerita ketiga membuat satu kampung ger-geran. Penceramah makin bersemangat. Jamaah makin responsif. Setiap punchline disambut tawa. Ada yang sampai memukul paha. Ada yang menepuk bahu temannya. Ada yang tertawa sambil berkata, “Aduh, bener jasa!” Penceramah pun tampak bahagia. Panitia lebih bahagia. Berarti acaranya sukses.

Kalau jamaah tertawa, panitia lega. Kalau jamaah diam, panitia mulai gelisah. “Kurang seru, kali.” Begitulah kadang ukuran kesuksesan dibuat. Ceramah yang membuat orang terbahak dianggap hidup. Ceramah yang membuat orang berpikir dianggap terlalu serius. Mubalig yang lucu lebih cepat terkenal. Mubalig yang membuat jamaah merenung kadang dianggap kurang menghibur. Akhirnya penceramah pun memahami pasar. Humor dikeluarkan. Cerita lucu disiapkan. Mimic wajah diperbanyak. Suara dibuat naik turun. Jamaah tertawa lagi. Semua senang. Semua puas. Semua pulang membawa kesan. “Wah, seru jasa Muludannya!”

Tetapi ada satu pertanyaan kecil. Sangat kecil. Sampai kadang kalah oleh suara pengeras suara. Setelah tertawa itu, apa yang kita bawa pulang? Kita sudah mendengar kisah Nabi. Kita sudah berselawat. Kita sudah menyebut namanya berkali-kali. Kita sudah tertawa karena cerita tentang beliau. Tetapi apakah kita menjadi lebih jujur? Apakah kita menjadi lebih sabar? Apakah kita lebih mudah memaafkan? Apakah kita lebih peduli kepada tetangga? Apakah kita lebih lembut kepada keluarga? Atau kita hanya membawa pulang besek? Besek tentu penting. Isinya juga penting. Tetapi teladan Nabi jauh lebih penting.

Di sinilah Muludan kadang menghadapi paradoks. Semangat warganya luar biasa. Iurannya luar biasa. Gotong royongnya luar biasa. Panitianya bekerja siang malam. Panggung berdiri. Tenda berdiri. Besek tersusun. Jamaah tertib. Penceramah datang. Ceramah berlangsung. Tawa pecah. Foto bersama. Acara selesai. Panitia kemudian bersalaman. “Alhamdulillah, sukses.” Kalimat itu tentu layak disyukuri. Tetapi sukses menggelar acara belum tentu sukses menangkap makna. Kita bisa sangat berhasil membuat acara. Tetapi belum tentu berhasil membuat perubahan. Kita bisa sangat kompak merayakan Nabi. Tetapi belum tentu kompak meneladani Nabi.

Bahkan menariknya, tidak semua yang paling aktif dalam Muludan adalah orang yang paling rajin ke masjid. Ada warga yang sehari-hari jarang terlihat di musala. Ada yang ibadahnya biasa-biasa saja. Ada yang kesalehannya tidak terlalu kelihatan. Tetapi ketika Muludan datang, semangatnya berubah. Ia ikut iuran. Ia ikut rapat. Ia membantu memasang tenda. Ia ikut mengangkat kursi. Ia membantu mencari dana. Ia ikut membagikan besek. Jangan buru-buru menyebutnya artificial. Bisa jadi Muludan adalah pintu masuk bagi kesalehan sosialnya. Bisa jadi ia sedang belajar mencintai agama melalui cara yang paling ia pahami. Justru semangat itu harus dihargai.

Namun tetap ada yang perlu direnungkan. Mengapa energi besar itu kadang berhenti pada acara? Mengapa kita sanggup mengumpulkan uang dua bulan untuk mendatangkan penceramah? Mengapa kita sanggup berdiri di tengah jalan demi mengumpulkan sumbangan? Mengapa kita sanggup menyiapkan ratusan besek? Tetapi setelah Muludan selesai, semangat itu ikut selesai? Inilah yang saya sebut sebagai kemungkinan gejala kesalehan artificial. Bukan berarti palsu. Bukan berarti semua orang berpura-pura. Artificial di sini berarti kesalehan lebih kuat pada simbol dan seremoni. Sementara perubahan perilaku belum menjadi prioritas utama.

Sebagai alumnus Prodi Filsafat, saya justru tertarik pada pertanyaan yang sederhana. Apa sebenarnya yang kita rayakan? Kelahiran seorang manusia bernama Muhammad? Tentu. Tetapi Muhammad bukan sekadar manusia yang dilahirkan untuk dikenang. Ia adalah manusia yang diutus untuk diteladani. Karena itu, ukuran paling jujur dari Muludan mungkin bukan ketika panggung masih berdiri. Ukurannya justru setelah panggung dibongkar. Ketika mikrofon dimatikan. Ketika penceramah pulang. Ketika besek sudah habis. Ketika jamaah kembali ke rumah. Pada saat itulah kita bisa bertanya. Apakah Nabi ikut pulang bersama kita?

Kalau Nabi ikut pulang, Muludan menemukan maknanya. Jika kejujuran ikut pulang, itu Muludan. Jika kasih sayang ikut pulang, itu Muludan. Jika kesabaran ikut pulang, itu Muludan. Jika kepedulian ikut pulang, itu Muludan. Jika kebiasaan memaafkan ikut pulang, itu Muludan. Kalau yang pulang hanya besek, foto, dan cerita tentang lucunya penceramah, mungkin ada yang perlu kita renungkan. Kita tidak perlu membubarkan Muludan. Kita tidak perlu melarang orang tertawa. Kita tidak perlu memusuhi penceramah kondang. Kita hanya perlu mengembalikan pusat perhatian kepada teladan Nabi. Sebab acara boleh selesai. Tetapi akhlak Nabi seharusnya tidak pernah selesai kita pelajari. Wallahualam.*

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *