Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pengurus ICMI Orwil Banten

Hari ini Senin, 14 September 2026, sebuah berita kembali mengingatkan saya pada tulisan yang pernah saya buat sekitar dua bulan lalu. Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan dan menggantinya dengan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Suahasil pun telah dilantik di Istana Negara. Pergantian ini menjadi perubahan ketiga pada posisi Menteri Keuangan dalam waktu kurang dari dua tahun pemerintahan Prabowo.

Saya tidak sedang menulis untuk merayakan pencopotan Purbaya. Saya juga tidak hendak mengatakan, “Nah, terbukti saya benar.” Bagi saya, cara berpikir semacam itu justru terlalu sederhana. Sebuah jabatan yang berakhir tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seseorang gagal, sebagaimana sebuah jabatan yang diperoleh tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang berhasil. Kita perlu memberi ruang kepada fakta, konteks, dan waktu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi berita hari ini memang membuat saya teringat pada tulisan tanggal 5 Juli 2026 yang saya beri judul “Jejak Nalar di Tengah Arus Euforia.” Saat itu saya menulis tentang fenomena puja-puji terhadap Purbaya yang menurut saya mulai bergerak terlalu jauh. Saya mengingatkan agar apresiasi kepada seseorang tidak berubah menjadi euforia, apalagi menjadi semacam pengkultusan terhadap figur yang baru saja memperoleh jabatan. Kekhawatiran saya sederhana: manusia tetaplah manusia, sedangkan jabatan hanyalah persinggahan.

Kini, sekitar dua bulan setelah tulisan itu dibuat, roda kekuasaan kembali berputar. Purbaya yang dahulu dielu-elukan sebagai sosok pembawa perubahan harus meninggalkan kursi Menteri Keuangan. Kita belum mengetahui seluruh alasan politik dan kebijakan di balik keputusan Presiden tersebut, dan karena itu saya tidak ingin berspekulasi. Yang sudah terang adalah satu hal: jabatan memang tidak pernah berhenti bergerak. Hari ini berada di tangan seseorang, besok berpindah kepada orang lain.

Saya teringat pada jarum jam. Ia tidak pernah berdebat dengan angka yang baru saja ditinggalkannya. Jarum menit tidak mengatakan bahwa angka sebelas lebih mulia daripada angka dua belas. Ia hanya bergerak. Dari satu titik menuju titik berikutnya, kemudian kembali lagi ke tempat yang pernah dilaluinya. Tidak ada angka yang abadi menjadi tempat persinggahan. Begitu pula jabatan. Ia seperti jarum jam: berputar, berpindah, singgah, kemudian meninggalkan tempatnya.

Filosofi yang sama terdapat pada roda kehidupan. Roda memiliki bagian yang berada di atas dan bagian yang berada di bawah. Tetapi roda tidak pernah berhenti pada satu posisi. Bagian yang berada di atas suatu ketika akan bergerak ke bawah, sementara bagian yang berada di bawah perlahan bergerak naik. Karena itulah kehidupan mengenal pergantian, silih berganti, datang dan pergi. Tidak ada manusia yang selamanya berada di puncak, sebagaimana tidak ada manusia yang selamanya berada di dasar.

Karena itu, ketika seseorang sedang berada di atas, menurut saya kita tidak perlu terlalu berlebihan mengangkatnya. Kita boleh memberikan penghargaan. Kita boleh mengatakan bahwa kebijakannya bagus. Kita boleh mengapresiasi keberaniannya. Tetapi cukup sampai di sana. Jangan karena seorang pejabat melakukan beberapa gebrakan kemudian kita menjadikannya seolah-olah manusia yang ditunggu-tunggu untuk menyelamatkan bangsa dari segala persoalan.

Purbaya memang datang dengan gaya yang berbeda. Pada awal masa jabatannya, sejumlah langkah dan pernyataannya memperoleh perhatian luas. Inspeksi, kunjungan, kritik terhadap berbagai persoalan di lingkungan Kementerian Keuangan dan lembaga di bawahnya, termasuk Direktorat Jenderal Pajak, ditampilkan sebagai tanda bahwa ada keberanian untuk membongkar kebiasaan lama. Bagi sebagian masyarakat, penampilan semacam itu terasa menyegarkan. Dari sinilah simpati kemudian tumbuh menjadi kekaguman.

Tidak ada yang salah dengan kekaguman. Yang menjadi masalah adalah ketika kekaguman kehilangan ukuran. Seorang pejabat yang seharusnya dinilai berdasarkan kebijakan, kinerja, konsistensi, dan dampaknya terhadap masyarakat mulai dinilai berdasarkan citra personal. Cara berbicara dianggap sebagai bukti keberanian. Gestur dianggap sebagai bukti kepemimpinan. Kunjungan ke suatu tempat dianggap sebagai pertanda revolusi. Bahkan hal-hal yang sangat personal ikut diproduksi menjadi bahan pemujaan.

Kita pernah melihat bagaimana kemampuan Purbaya dan istrinya dalam bernyanyi ikut menjadi bahan percakapan publik, bahkan muncul konten-konten yang direkayasa dengan teknologi kecerdasan buatan. Di titik itu saya merasa ada sesuatu yang perlu kita renungkan. Mengapa seorang Menteri Keuangan harus dibuktikan kehebatannya melalui kemampuan bernyanyi? Mengapa kehidupan personal perlu dijadikan bagian dari legitimasi politik? Bukankah kompetensi seorang Menteri Keuangan seharusnya diuji melalui kebijakan fiskal dan pengelolaan keuangan negara?

Di sinilah teknologi digital mempunyai wajah ganda. Pada satu sisi, teknologi dapat digunakan untuk memperbesar citra seseorang secara berlebihan. Pada sisi lain, teknologi juga dapat digunakan untuk merusak seseorang melalui informasi palsu. Kita pernah mengalami contoh yang sangat serius ketika beredar video yang seolah-olah memperlihatkan Sri Mulyani mengatakan bahwa “guru itu beban negara”. Kementerian Keuangan kemudian menyatakan video tersebut merupakan deepfake dan Sri Mulyani sendiri membantah pernah mengatakan kalimat itu.

Peristiwa tersebut bukan perkara kecil. Rumah pribadi Sri Mulyani di kawasan Bintaro bahkan dijarah massa pada 31 Agustus 2025, dalam rangkaian kerusuhan dan demonstrasi yang lebih luas. Karena konteks kerusuhan memiliki banyak sebab, kita tidak bisa menyederhanakan penjarahan itu sebagai akibat tunggal dari sebuah video palsu. Namun kasus tersebut tetap menjadi pelajaran penting mengenai betapa berbahayanya informasi yang belum diverifikasi ketika bertemu dengan kemarahan publik.

Setelah Sri Mulyani pergi, Purbaya datang. Pergantian itu sendiri merupakan keputusan politik Presiden dan tentu memiliki konteks pemerintahan yang lebih luas. Tetapi masyarakat kemudian menciptakan narasi yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian pejabat. Purbaya tidak hanya dipandang sebagai Menteri Keuangan baru. Dalam sebagian percakapan publik, ia seperti diposisikan sebagai figur yang akan membenahi berbagai ketidakberesan sekaligus, seolah-olah persoalan negara dapat diselesaikan dengan ketegasan satu orang.

Pada titik tertentu, euforia bahkan bergerak lebih jauh. Ada yang mulai memasangkan nama Purbaya dengan sejumlah tokoh sebagai bakal calon Wakil Presiden. Ini menarik karena menunjukkan betapa cepat masyarakat dapat memproduksi masa depan seseorang sebelum masa kininya selesai diuji. Seorang pejabat baru saja bekerja, tetapi imajinasi publik sudah melompat ke kursi kekuasaan berikutnya. Belum selesai membuktikan kinerja, sudah dibuatkan panggung untuk kontestasi yang lebih tinggi.

Di sinilah saya kira kita perlu berhenti sejenak. Apakah kita sedang menilai seorang pejabat, atau sedang menciptakan tokoh dalam imajinasi kita sendiri? Sebab ketika seorang manusia sudah diperlakukan sebagai simbol, fakta tentang dirinya menjadi kurang penting dibandingkan cerita yang kita bangun tentang dirinya. Kita tidak lagi melihat Purbaya sebagai manusia yang bisa benar dan salah. Kita melihat “Purbaya” sebagai simbol harapan.

Masalahnya, harapan yang terlalu tinggi biasanya membawa beban yang terlalu berat. Ketika realitas tidak seindah ekspektasi, kekaguman mudah berubah menjadi kekecewaan. Dan kekecewaan yang tidak terkelola sering kali berubah menjadi kemarahan. Orang yang kemarin dipuji setinggi langit dapat dengan cepat diturunkan ke tanah, bahkan dijadikan sasaran hujatan. Begitulah pendulum emosi publik bekerja: bergerak dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain.

Hari ini, ketika Purbaya dicopot, saya justru teringat kepada para pemujanya. Saya membayangkan mungkin ada yang gamang. Mereka yang dahulu melihat Purbaya sebagai figur luar biasa tentu membutuhkan waktu untuk menyesuaikan antara citra yang mereka bangun dengan kenyataan politik hari ini. Tetapi sesungguhnya kegamangan itu tidak perlu terjadi apabila sejak awal apresiasi diberikan secara proporsional.

Mengapresiasi seseorang secukupnya adalah bentuk penghormatan kepada orang itu sendiri. Sebab ketika kita memuji seseorang secara berlebihan, kita sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang tidak selalu menguntungkan dirinya. Kita menempatkannya pada standar yang tidak manusiawi. Kita menuntutnya selalu benar, selalu hebat, selalu berani, selalu mampu menyelesaikan persoalan. Padahal ia hanya seorang manusia yang sedang menjalankan amanah jabatan.

Begitu pula ketika seseorang turun dari jabatan. Kita tidak perlu ikut merayakan kejatuhannya. Jika kemarin kita memberikan apresiasi atas sesuatu yang baik, apresiasi itu tidak harus ditarik kembali hanya karena orang tersebut sudah tidak lagi memegang jabatan. Begitu pula jika kita pernah mengkritik kebijakannya, kita tidak perlu mengubah kritik menjadi kebencian personal. Kebijakan dapat dinilai, tetapi martabat manusia tetap harus dijaga.

Karena jabatan bukan identitas permanen seseorang. Menteri adalah jabatan, bukan hakikat manusia. Hari ini Purbaya adalah mantan Menteri Keuangan. Besok Suahasil menjalankan amanah tersebut. Kelak mungkin akan ada nama lain lagi. Begitulah pemerintahan bekerja. Negara tidak boleh berhenti hanya karena satu orang datang dan satu orang pergi. Yang seharusnya berkesinambungan adalah institusi, bukan kultus terhadap figur.

Suahasil kini datang membawa tugas yang tidak ringan. Ia menyatakan setelah dilantik bahwa prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel dan menjaga defisit tetap berada dalam batas yang ditetapkan. Kita tentu boleh berharap ia bekerja dengan baik. Kita boleh mengapresiasi kapasitas dan pengalamannya. Tetapi sekali lagi, cukup secukupnya. Jangan baru dilantik hari ini lalu besok kita nobatkan sebagai penyelamat ekonomi Indonesia.

Saya kira inilah pelajaran paling sederhana dari jarum jam. Ketika jarum menunjuk ke angka tertentu, jangan mengira ia akan menetap di sana. Ia akan bergerak. Ketika seseorang berada di atas roda, jangan mengira ia akan selamanya berada di atas. Ia akan bergerak mengikuti putaran. Demikian pula ketika seseorang berada di bawah, jangan buru-buru menganggap hidupnya selesai. Roda masih berputar.

Barangkali yang perlu kita latih bukan kemampuan memilih siapa yang harus dipuji dan siapa yang harus dicela. Yang lebih penting adalah kemampuan menjaga jarak dari keduanya. Kita perlu belajar mengatakan, “Ini baik, saya apresiasi.” Kalau ada kekurangan, katakan pula, “Ini perlu dikritik.” Tidak perlu mengubah apresiasi menjadi pemujaan dan tidak perlu mengubah kritik menjadi penghukuman.

Saya membaca kembali tulisan saya tanggal 5 Juli bukan sebagai bukti bahwa saya pernah mengetahui masa depan. Saya membacanya sebagai pengingat bahwa manusia memang sering lupa pada sifat sementara dari segala sesuatu. Waktu itu saya hanya mengingatkan agar kita tidak larut dalam euforia. Hari ini peristiwa politik memberi kita kesempatan untuk kembali melihat pesan sederhana tersebut dari sisi yang berbeda.

Purbaya telah turun dari kursi Menteri Keuangan. Itu bagian dari perjalanan kekuasaan. Kita tidak tahu bagaimana sejarah kelak menilai masa jabatannya secara utuh. Kita juga tidak tahu bagaimana masyarakat akan menilai Suahasil setelah menjalankan tugasnya. Karena itu, biarlah waktu bekerja. Biarlah kebijakan diuji. Biarlah data berbicara. Dan biarlah sejarah kelak memberikan penilaian dengan jaraknya sendiri.

Manusia sering kali terlalu cepat membuat kesimpulan, sementara waktu membutuhkan kesabaran. Kita memuji sebelum mengetahui seluruh cerita. Kita mencela sebelum memahami seluruh konteks. Kita mengangkat seseorang karena beberapa adegan yang kita lihat di layar, lalu menjatuhkannya karena beberapa potongan informasi berikutnya. Padahal kehidupan manusia jauh lebih panjang daripada potongan video yang beredar di media sosial.

Maka, ketika roda kehidupan kembali berputar dan jarum jam kembali bergerak, saya ingin tetap berada di tempat yang sama: tidak terlalu silau ketika seseorang berada di atas, dan tidak terlalu gembira ketika seseorang berada di bawah. Kagum secukupnya, apresiasi sewajarnya, kritik seperlunya, dan hormat kepada manusia sepanjang waktunya.

Menteri datang dan pergi. Presiden berganti. Kebijakan berubah. Kekuasaan berpindah. Pujian datang dan menghilang. Hujatan pun akhirnya berlalu. Tetapi satu hal yang semestinya tidak ikut berganti adalah kemampuan kita untuk berpikir jernih. Jabatan boleh berputar seperti jarum jam. Kekuasaan boleh bergerak seperti roda kehidupan. Tetapi nalar jangan ikut berputar mengikuti euforia. Wallahualam.*

Tangerang, Senin, 14 September 2026

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *