NASKAH KHUTBAH JUM’AT
(6 Rabiulakhir 1448 H./18 September 2026 M.)
Oleh:
Endang Yusro
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang kita lakukan, tetapi juga tentang bagaimana ibadah itu menghadirkan kelembutan hati dan manfaat bagi sesama.
Hari ini kita hidup di zaman ketika kecerdasan manusia bertemu dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi dapat membantu kita menulis, mencari informasi, membuat gambar, mengolah data, bahkan menghasilkan berbagai bentuk konten dalam waktu yang sangat cepat. Namun ada satu pertanyaan penting, semakin canggih teknologi kita, apakah semakin mulia pula akhlak kita?
Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah seberapa cepat ia menghasilkan sesuatu, tetapi seberapa besar kebaikan yang lahir dari dirinya. Allah SWT. berfirman:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang-orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan,” (QS. Al-Hasyr: 9)
Inilah yang dalam khazanah Islam disebut “itsar”, yakni mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan diri sendiri dalam kebaikan. Itsar bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Itsar adalah keluasan jiwa untuk tidak menjadikan diri sebagai pusat dari segala sesuatu.
Seorang yang memiliki itsar tidak selalu bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?” tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan?” Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan ukuran sederhana tentang kualitas iman: bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kita tentu senang mendapatkan informasi yang benar. Maka jangan menyebarkan informasi yang belum kita pastikan kebenarannya. Kita senang dihormati. Maka hormatilah orang lain.
Kita tidak ingin dipermalukan. Maka jangan mempermalukan orang lain. Kita ingin dibantu ketika mengalami kesulitan. Maka bantulah orang lain ketika mereka membutuhkan. Inilah akhlak yang semestinya tetap hidup, bahkan ketika teknologi semakin berkembang.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
AI dapat membantu manusia menghasilkan konten dengan sangat cepat. Tetapi AI tidak boleh menggantikan hati nurani. Kita bisa membuat tulisan dalam hitungan detik. Kita bisa membuat gambar dengan mudah. Kita bisa menyebarkan pesan kepada ribuan orang hanya dengan satu sentuhan. Tetapi pertanyaan terpenting bukanlah: “Seberapa cepat konten ini dibuat?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: 1) Apakah konten ini bermanfaat?; 2) Apakah ia mencerahkan atau menyesatkan?; 3) Apakah ia menyatukan atau memecah belah?”; Dan, 4) Apakah ia mendekatkan manusia kepada kebaikan atau justru melukai sesama?”
Di sinilah nilai tasawuf menjadi penting. Tasawuf mengajarkan manusia untuk membersihkan hati. Ada “ikhlas”, agar kebaikan tidak semata-mata mencari pujian. Ada “muraqabah”, kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Ada “Tazkiyatun nafs”, yaitu usaha terus-menerus membersihkan jiwa dari kesombongan, riya, dengki, dan cinta berlebihan kepada diri sendiri. Karena itu, di era AI kita tidak hanya membutuhkan manusia yang “cerdas secara digital”, tetapi juga manusia yang “matang secara spiritual”.
Sebab teknologi yang canggih di tangan hati yang tidak terdidik dapat menjadi alat untuk memperbesar kesombongan, fitnah, manipulasi, bahkan permusuhan. Sebaliknya, teknologi di tangan manusia yang bertakwa dapat menjadi sarana memperluas manfaat.
Allah SWT. mengingatkan:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini terasa semakin relevan di zaman digital. Satu tulisan yang kita bagikan mungkin hanya beberapa detik pekerjaan kita, tetapi dampaknya dapat berlangsung bertahun-tahun.
Satu kalimat yang kita tulis mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menguatkan hati seseorang. Sebaliknya, satu berita palsu, satu penghinaan, atau satu tuduhan yang kita sebarkan dapat melukai banyak manusia. Karena itu, jari-jari kita di atas layar juga harus tunduk kepada ketakwaan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Khatib teringat sebuah kisah sederhana tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan dari Jombang menuju Serang. Di tengah perjalanan ia bertemu seseorang yang membutuhkan pertolongan. Ia kemudian membantu orang tersebut, meskipun sebenarnya ia sendiri memiliki urusan dan kepentingan yang harus dipikirkan.
Kebaikan semacam itu sering kali tidak masuk berita. Tidak selalu mendapat penghargaan. Tidak selalu diketahui banyak orang. Tetapi boleh jadi, justru kebaikan yang tidak diketahui manusia itulah yang paling dekat dengan keikhlasan. Allah SWT. tidak hanya melihat apa yang tampak oleh manusia. Allah melihat hati di balik perbuatan.
Itulah sebabnya seorang sufi tidak terlalu sibuk menghitung berapa banyak orang yang memujinya karena kebaikan yang ia lakukan. Ia lebih sibuk bertanya kepada dirinya: “Apakah Allah menerima kebaikanku?”
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Namun Islam juga tidak mengajarkan kita untuk berbuat baik dengan cara mengabaikan diri sendiri. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya bagi dirimu ada hak yang harus kamu tunaikan,” (HR. Bukhari)
Karena itu, altruisme dalam Islam bukan tindakan tanpa batas yang membuat seseorang merusak dirinya sendiri. Kita tetap memiliki kewajiban terhadap diri, keluarga, dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita. Dalam hal ini Allah SWT. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Maka keseimbangan adalah bagian dari ketakwaan, yang meliputi: Pertama, kita bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan. Kedua, kita menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi.
Ketiga, kita berbagi, tetapi tidak mencari pujian. Keempat, kita membantu orang lain, tetapi tidak mengabaikan kewajiban terhadap diri dan keluarga. Dan kelima, kita menghasilkan konten, tetapi selalu bertanya apakah konten tersebut menghadirkan kemaslahatan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada akhirnya, AI hanyalah alat. Yang menentukan apakah teknologi menjadi rahmat atau mudarat adalah manusia yang menggunakannya. Karena itu, marilah kita menjadikan setiap teknologi sebagai jalan untuk memperluas manfaat.
Jika kita memiliki ilmu, bagikanlah ilmu. Jika kita memiliki kemampuan, gunakanlah untuk membantu. Jika kita memiliki kesempatan, bukalah jalan bagi orang lain. Jika kita memiliki media sosial, jadikanlah ia ruang untuk menyebarkan kebaikan.
Dan jika kita menggunakan AI, gunakanlah dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap karya kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya,” (HR. Muslim)
Semoga kita menjadi manusia yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana menggunakannya; tidak hanya produktif menghasilkan karya, tetapi juga ikhlas menghadirkan manfaat; tidak hanya dikenal manusia, tetapi juga diridhai Allah.
بارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali menguatkan ketakwaan kepada Allah. Di zaman ketika kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan manusia, jangan sampai kecerdasan teknologi membuat kita kehilangan kecerdasan hati.
Mari kita rawat ikhlas, agar kebaikan tidak berubah menjadi pencitraan. Mari kita rawat itsar, agar kemajuan tidak membuat kita semakin egois.
Mari kita rawat muraqabah, agar setiap kata, gambar, tulisan, dan konten yang kita sebarkan tetap berada dalam pengawasan iman.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan, memberikan bantuan kepada kerabat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan,” (QS. An-Nahl: 90)
Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermanfaat, keluarga yang sakinah, masyarakat yang saling menolong, dan umat yang menghadirkan rahmat bagi kehidupan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا مُخْلِصِيْنَ، مُتَوَاضِعِيْنَ، نَافِعِيْنَ لِلنَّاسِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ
اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْ عِلْمِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَبَارِكْ فِيْ أَوْقَاتِنَا، وَاجْعَلْ مَا نَقُوْلُ وَمَا نَكْتُبُ وَمَا نَنْشُرُ سَبَبًا لِلْهُدَى وَالنَّفْعِ وَالصَّلَاحِ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيْسِيَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَفِّقْ قَادَتَنَا وَعُلَمَاءَنَا وَلِمَا فِيْهِ خَيْرُ الدِّيْنِ وَالْوَطَنِ وَالْأُمَّةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
أَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ









