Ocit Abdurrosyid Siddiq
Mahasiswa Program Magister Studi Islam Interdisipliner UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Pekan ini jagat perbincangan publik kembali dihangatkan oleh dua karya yang sama-sama menempatkan nama agung Kanjeng Nabi pada sampul depannya. Kehadiran keduanya seolah melempar riak gelombang ke kolam kesadaran masyarakat dengan intensitas guncangan yang berlainan rupa. Judul-judul tersebut hadir membawa daya getar masing-masing ke hadapan mata pembaca di tanah air.

Buku pertama, bertajuk Memburu Muhammad karya sastrawan Feby Indirani, meledak menjadi polemik luas di ruang digital hingga memicu pembatalan acara bedah buku dan tudingan penistaan agama. Gelombang protes membuncah seketika di kalangan khalayak ramai, sebagian besar terpicu oleh ketersinggungan membaca rangkaian kata pada sampulnya. Nama agung junjungan semesta yang disandingkan dengan kata “memburu” langsung memancing tuduhan tanpa melewati pembacaan isi lembar demi lembar.

Karya kedua, bertajuk Mencari Muhammad Historis yang diperkenalkan oleh akademisi Prof. Mun’im Sirry, menghadirkan daya guncang yang sama sekali berbeda karakternya. Buku ini tidak memantik kegaduhan jalanan atau amuk massa di linimasa, melainkan mengguncang secara sunyi dan terbatas di ruang-ruang diskusi para sarjana serta intelektual kampus. Pendekatan historiografi kritis yang membedakan sosok keimanan dengan rekaman manuskrip sejarah sering kali luput dari radar publik awam, namun menggelisahkan nalar akademis.

Perbedaan respon terhadap kedua bacaan itu memperlihatkan cermin terang mengenai watak literasi kita hari ini. Satu karya diadili secara gegabah karena judulnya menyenggol sensitivitas emosional khalayak, sedangkan karya lainnya nyaris tak tersentuh penghakiman massal semata-mata karena perdebatan metodologisnya luput dari jangkauan jempol netizen. Keduanya sama-sama menuntut daya tahan berpikir yang panjang, tetapi publik kerap terhenti pada kulit luar yang kasatmata.

Pagi di Kampung Binuangeun selalu memiliki irama hening yang sanggup menuntun pikiran menyelami perkara semacam itu secara jernih. Dari pesisir Banten selatan tempat saya berdiam, debur ombak Samudra Hindia bergulung menghantam karang bagai rentetan pertanyaan yang tak kunjung menemukan titik henti. Udara membawa aroma garam yang basah, sementara perahu-perahu nelayan perlahan menjauh meninggalkan dermaga tua menyongsong luasnya samudra.

Duduk di beranda rumah beralas kayu ditemani secangkir kopi hitam dan penganan gogodoh (pisang goreng tepung khas pesisir Banten) yang mengepul hangat menghadirkan jeda batin tersendiri. Saya membaca ulasan sahabat saya, Nadirsyah Hosen, yang mencoba mengurai benang kusut kontroversi buku Feby Indirani. Di sela suara embusan angin pantai, muncul kesadaran getir bahwa problem terberat zaman ini bukanlah kelangkaan teks, melainkan semakin surutnya kesabaran manusia untuk membaca secara tuntas.

Sebuah buku belum sempat dibuka bab pertamanya, namun vonisnya sudah melayang ke mana-mana dengan nada dakwaan yang teramat garang. Begitu pula warta kabar daring yang baru melintas kalimat judulnya, tafsir atas isinya sudah menyebar luas di aneka grup percakapan tanpa proses verifikasi. Manusia modern tampak teramat bernafsu untuk lekas menyimpulkan, cepat mencela, bahkan buru-buru menyalakan api amarah daripada meluangkan sedikit waktu demi memahami duduk persoalan.

Saya tentu memaklumi getaran batin orang-orang beriman saat menjumpai kata “Memburu Muhammad” bertengger di etalase toko buku. Sosok Nabi adalah puncak kecintaan, kerinduan, dan kehormatan tertinggi yang hidup dalam degup jantung serta lantunan salawat harian umat. Wajar bila kata kerja memburu menghadirkan keterkejutan nurani, sebab bagi publik awam, frasa itu terkesan ganjil dan menikam rasa takzim yang telah terpatri berabad-abad.

Reaksi kaget sesungguhnya fitrah kemanusiaan yang wajar, bukan aib intelektual yang layak ditertawakan apalagi diremehkan. Permasalahan mendasar baru timbul tatkala keterkejutan awal itu ditahbiskan menjadi kesimpulan akhir, lalu dijadikan bahan bakar penghakiman moral. Judul semata-mata adalah kusen pintu depan, bukan gambaran utuh dari rancang bangun rumah beserta segala perabot yang tersimpan di dalam ruangannya.

Tulisan pengantar Kang Nadir menerangkan bahwa tokoh pemburu dalam karya sastra tersebut sesungguhnya adalah watak Abu Jahal yang terlempar ke panggung modernitas. Sosok legendaris tokoh antagonis itu berkelana melintasi abad demi memburu orang-orang bernama Muhammad demi menuntaskan dendam permusuhan lamanya. Begitu kita memahami peta penokohan dan bangunan alegorinya, makna judul itu bergeser total dari sangkaan penistaan menjadi eksplorasi fiksi yang penuh sindiran.

Karya sastra bekerja dengan logika estetika yang tidak pernah bisa diukur memakai kaca mata literal yang kaku. Pengarang novel memiliki kebebasan menenun tokoh lalim, pembohong, maupun pembenci tanpa pernah dirinya sendiri menjelma menjadi penjahat yang dibencinya. Tokoh jahat dihidupkan dalam narasi fiksi justru demi memantulkan cahaya kebaikan agar tampak benderang di hadapan kegelapan cerita.

Lebah dinya (pada titik atau bagian itulah), fiksi fungsional bekerja secara sublim melampaui kehebohan kulit luarnya. Ketika Abu Jahal digambarkan mencari Nabi di tengah riuh kota modern, cerita sastra itu sejatinya menampar kesadaran batin setiap orang yang mengaku sebagai pengikutnya. Di mana gerangan akhlak luhur, welas asih, dan kejujuran Kanjeng Nabi bersemayam dalam diri orang-orang yang hari ini dengan mudah mengobral kemarahan atas nama pembelaan iman?

Menyebut nama junjungan di bibir begitu ringan, merapal puja-puji dalam bait salawat teramat fasih kita lagukan bersama. Ujian pembuktian yang sesungguhnya baru dimulai saat cinta tersebut harus diwujudkan menjadi keadilan, kerendahan hati, dan kemampuan menahan diri dari menyebarkan prasangka buruk. Kita tampak gagah membela kehormatan simbol, tetapi sering kali gagap meneladani laku kelembutan beliau saat berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan.

Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam itu terasa sangat akrab bagi saya yang pernah menempuh studi di bangku Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ruang kuliah filsafat menempa kami untuk tidak mudah silau oleh kalimat permukaan, melainkan tekun menelusuri premis, konteks, dan bangunan epistemologis di baliknya. Setiap argumen diuji dari akarnya, asumsi dibedah dengan teliti, dan setiap klaim kebenaran ditantang oleh kesediaan untuk menguji kemungkinan salah pada diri sendiri.

Ketergesaan membaca judul lalu berlagak tuntas memahami hakikat isi tentu akan menjadi bahan tertawaan akademis di ruang telaah pemikiran. Membaca bukan pekerjaan mekanis memindahkan jajaran huruf dari kertas ke tempurung kepala, melainkan laku rohani menjalin dialog antara teks dan nurani pembaca. Filsafat mendidik kita bersikap waspada terhadap dugaan pertama, menunda penghakiman dini, serta melatih daya kritis agar terhindar dari kesesatan berpikir.

Sebagai Penggiat Budaya Sunda Banten yang mengamati dinamika bahasa di tengah masyarakat, saya menyaksikan betapa kata-kata selalu memikul napas kultural yang berlapis. Bahasa tradisional tatar Sunda kaya akan ragam siloka, paribasa, dan babasan yang mengutamakan kedalaman kiasan ketimbang hantaman verbal yang vulgar. Menilai sepenggal ungkapan tanpa mengenali rasa bahasa dan konstelasi budayanya niscaya membawa siapa pun tergelincir pada kesalahpahaman yang dangkal.

Masyarakat adat dan tradisi lampau mengajarkan etika bertutur yang penuh kehati-hatian dalam menimbang maksud sebelum melempar tuduhan. Kearifan lokal menuntut kesabaran mencerna pesan, mendengarkan hingga ujung kalimat, dan menolak sikap gegabah yang tergesa-gesa memukul rata maksud penutur. Kehilangan kepekaan rasa bahasa ini membikin peradaban modern kerap terseret dalam histeria pertengkaran semu yang melelahkan jiwa.

Fenomena keengganan membaca teks secara mendalam nyatanya hadir pula dalam peristiwa kecil yang saban waktu saya saksikan di lingkungan terdekat. Sebagai orang yang gemar menuangkan pemikiran ke dalam tulisan panjang lima hingga tujuh halaman lalu membagikannya ke jejaring maya, keluhan yang mampir kerap berbunyi seragam: “Panjang amat, cape bacanya!”. Kalimat ringkas itu meluncur spontan bahkan sebelum tautan berkas disentuh untuk sekadar dibaca lembar pertamanya.

Menghadapi komentar semacam itu, saya kerap membalasnya dengan sentilan jenaka khas warga pesisir: “Uwatu komo kula mah nya maca, nya nulis, nya mikir”. Sindiran ringan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyombongkan kebiasaan menulis panjang, melainkan pengingat jenaka bahwa di balik rajutan kalimat tersimpan proses perenungan yang butuh ketahanan mental. Sangat disayangkan bila ikhtiar menata pikiran itu ditolak mentah-mentah hanya karena dipandang memakan waktu.

Kelakar lain yang sering terlintas di benak saya adalah jangan-jangan orang-orang yang gemar memvonis isi buku hanya dari sampulnya telah dianugerahi ilmu laduni atau maqam linuwih layaknya cerita Gus Dur. Tanpa perlu membuka lembar teks, wahyu pengetahuan seakan langsung merasuk ke dada mereka begitu memandang judul berita atau sampul muka. Andai mukjizat itu nyata dimiliki khalayak umum, perpustakaan dunia tentu tinggal mencetak daftar judul dan universitas tak perlu lagi menyusun diktat tebal.

Ironi tersebut menyuarakan kecemasan nyata tentang kesombongan intelektual semu yang kian menjangkiti masyarakat digital. Merasa sudah mengetahui padahal belum memeriksa adalah tirani kebodohan baru yang jauh lebih berbahaya ketimbang sekadar rasa malas. Kepalsuan rasa tahu itu menutup rapat pintu belajar, memupuk prasangka buta, dan membiarkan diri diseret oleh narasi sesat yang dibangun di atas potongan kalimat lepas.

Muhasabah batin tentu menuntut penulis untuk tidak serta-merta cuci tangan dan menimpakan seluruh kesalahan kepada pembaca. Tulisan yang tebal berlembar-lembar bukanlah jaminan mutu bila hanya dipenuhi buih pengulangan tanpa substansi yang berbobot. Penulis memikul amanah moral untuk menghormati waktu pembaca dengan menyajikan gagasan yang jernih, bernas, dan sanggup menembus esensi persoalan secara benderang.

Gagasan yang mengendap dalam ranah kebudayaan dan keyakinan sering kali memang menuntut ruang bernapas yang leluasa untuk terurai sempurna. Tidak semua pergulatan batin manusia dan sejarah peradaban dapat dimampatkan ke dalam satu tangkapan layar media sosial yang bergulir cepat. Upaya memangkas seluruh kedalaman renungan menjadi serpihan instan demi mengejar selera pasar justru mengebiri daya jelajah nalar kita sendiri.

Pembaca tetap memegang kedaulatan mutlak untuk tidak menyetujui, mengkritik keras, ataupun menampik argumen yang dihadirkan dalam buku fiksi maupun kajian kritis sejarah. Penolakan rasional yang lahir dari pembacaan utuh dan pemahaman metodologis merupakan bagian mulia dari denyut dialektika keilmuan. Sebaliknya, murka yang meletup semata karena tersengat judul adalah bentuk kemunduran adab yang mencederai akal sehat bersama.

Kisah-kisah agung dalam peradaban manusia senantiasa menuntut kesabaran menempuh alur untuk memetik buah kebijaksanaan. Tradisi hikmah dalam kitab suci menuturkan peristiwa kehidupan para nabi melalui rentetan cobaan, perjalanan panjang, dan jeda kesabaran sebelum menyingkap makna sejati di ujung cerita. Nilai luhur kehidupan tak pernah diobral pada kalimat pembuka, melainkan menanti di balik kesetiaan kita menyusuri lorong peristiwa.

Literasi pada tingkatan tertingginya bukanlah kemahiran teknis merangkai kata atau kelancaran mengeja baris kalimat semata. Mutu literasi tercermin dari kesanggupan menahan diri dari hasrat menghakimi secara tergesa-gesa di tengah riuhnya arus informasi. Keberanian paling langka di abad ini justru terangkum dalam ungkapan sederhana yang penuh adab: saya belum membaca tuntas, maka saya belum berhak menjatuhkan vonis.

Matahari di langit Binuangeun kian merangkak naik memancarkan kilau keemasan di atas hamparan permadani biru samudra selatan. Gelombang pasang datang berdebur tiada henti, memecah hening pantai lalu surut kembali ke palung terdalam tanpa pernah memamerkan seluruh rahasia di dasarnya. Alam pesisir menyuguhkan tamsil abadi bahwa riak di permukaan tidak pernah mewakili keluasan dan misteri yang terhampar di bawahnya.

Dua karya yang membawa nama “Muhammad” di pekan ini—baik lewat imajinasi sastrawi Feby Indirani maupun telaah historis Prof. Mun’im Sirry—telah meletakkan cermin besar di hadapan kita semua. Keduanya menguji sejauh mana kedewasaan akal budi kita dalam menerima tantangan intelektual tanpa harus terbakar oleh histeria judul. Kita diuji untuk membuktikan apakah cinta kepada Rasulullah diwujudkan lewat keluhuran budi membaca, ataukah sekadar kepanikan mempertahankan gengsi kulit luar.

Mari menyudahi kebiasaan berhenti pada ambang judul dan melangkahlah masuk membedah isi bacaan dengan nurani yang lapang. Jangan biarkan keterkejutan mematikan daya nalar, dan jangan biarkan keengganan membaca menuntun kita menjadi hakim bagi gagasan yang belum kita kenal. Di balik lembar-lembar halaman yang kita buka dengan sabar, pemahaman sejati senantiasa menanti untuk ditemukan. Wallahualam.*

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *