Lukman Hakim, S.Pd., M.I.Kom;
Formatang Banten, tinggal di Tigaraksa Kab. Tangerang
Dua puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Sejak berdiri sebagai provinsi pada 4 Oktober 2000, Banten telah melewati perjalanan panjang dengan berbagai dinamika. Ada capaian yang patut diapresiasi, tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Momentum Hari Ulang Tahun ke-26 Provinsi Banten seyogianya tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Lebih dari itu, HUT Banten harus menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana cita-cita pembentukan provinsi ini telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Banten lahir dengan harapan besar. Pemekaran dari Jawa Barat kala itu bukan sekadar persoalan perubahan administrasi pemerintahan. Di baliknya terdapat cita-cita untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mempercepat pembangunan, mengembangkan potensi daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten.
Kini, setelah 26 tahun, pertanyaan pentingnya adalah: sudah sejauh mana cita-cita tersebut terwujud?
Capaian yang Patut Diapresiasi
Selama lebih dari dua dekade, pembangunan Banten tentu telah menghasilkan berbagai kemajuan. Infrastruktur berkembang, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi bermunculan, konektivitas antarwilayah semakin baik, dan aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak.
Banten juga memiliki posisi strategis secara geografis. Berada di ujung barat Pulau Jawa dan berdekatan dengan Jakarta menjadikan Banten sebagai salah satu wilayah penting dalam perekonomian nasional.
Kawasan industri, perdagangan, jasa, pariwisata, pertanian, hingga ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan.
Di sisi lain, keberadaan Pelabuhan Merak, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kawasan industri di Cilegon dan Serang, serta pertumbuhan kawasan perkotaan di Tangerang Raya merupakan modal besar bagi Banten untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, pembangunan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak jalan dibangun, gedung berdiri, atau investasi masuk. Ukuran paling penting adalah seberapa besar pembangunan tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi harus berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Ketimpangan Masih Menjadi Tantangan
Banten memiliki wajah pembangunan yang cukup beragam. Di satu sisi terdapat kawasan industri dan perkotaan yang berkembang sangat pesat. Di sisi lain, masih terdapat wilayah yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, infrastruktur, lapangan pekerjaan, dan pelayanan publik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan Banten bukan hanya bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara merata dan inklusif.
Jangan sampai pembangunan hanya terkonsentrasi di kawasan tertentu, sementara masyarakat di wilayah lain merasa tertinggal.
Pemerataan pembangunan antara Tangerang Raya, Serang, Cilegon, Lebak, dan Pandeglang harus menjadi perhatian serius. Setiap daerah memiliki karakter dan potensi yang berbeda, sehingga kebijakan pembangunan pun harus disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Banten membutuhkan pembangunan yang tidak hanya *besar, tetapi juga adil
Pendidikan dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas sumber daya manusia.
Banten memiliki jumlah penduduk yang besar dan mayoritas berada pada usia produktif. Kondisi ini seharusnya menjadi bonus demografi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila masyarakat memiliki pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan kesempatan kerja yang memadai.
Karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Pemerintah perlu memastikan anak-anak Banten mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas, bukan sekadar akses untuk bersekolah.
Keterampilan vokasi juga harus diperkuat agar lulusan sekolah dan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Banten tidak boleh hanya menjadi tempat berdirinya industri. Masyarakat Banten harus menjadi bagian utama dari rantai ekonomi yang tumbuh di daerahnya sendiri.
Menjaga Identitas Banten
Kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik juga harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Banten memiliki sejarah panjang, tradisi yang kuat, serta kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. Sebut saja warisan Kesultanan Banten, tradisi masyarakat adat, seni budaya, kuliner, hingga berbagai destinasi wisata alam dan sejarah.
Modernisasi jangan sampai membuat masyarakat Banten kehilangan jati dirinya.
Justru, budaya lokal harus menjadi kekuatan untuk membangun ekonomi baru melalui pariwisata berbasis budaya, ekonomi kreatif, produk UMKM, dan industri kreatif.
Banten yang maju bukan berarti Banten yang meninggalkan masa lalunya. Banten yang maju adalah Banten yang mampu membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan.
Pemerintahan yang Bersih dan Melayani
Harapan masyarakat terhadap pemerintah juga semakin tinggi. Masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pemerintahan yang transparan, responsif, profesional, dan bersih.
Kemajuan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pelayanan administrasi, kesehatan, pendidikan, perizinan, hingga pengaduan masyarakat harus semakin mudah, cepat, dan transparan.
Di era keterbukaan informasi, masyarakat juga semakin kritis terhadap kebijakan pemerintah. Karena itu, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat harus dibangun secara terbuka.
Pemerintah tidak boleh hanya hadir ketika momentum politik atau seremoni berlangsung. Pemerintah harus hadir setiap hari melalui pelayanan yang dirasakan masyarakat.
Lingkungan Hidup Jangan Dikorbankan
Pertumbuhan industri dan pembangunan infrastruktur membawa manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Banten membutuhkan investasi, tetapi investasi harus berjalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Kerusakan lingkungan, pencemaran, persoalan sampah, banjir, degradasi kawasan pesisir, serta tekanan terhadap sumber daya alam tidak boleh dianggap sebagai persoalan sampingan.
Pembangunan yang mengorbankan lingkungan pada akhirnya akan membebani generasi berikutnya.
Karena itu, pembangunan Banten ke depan harus memiliki keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologis.
Saatnya Melangkah Lebih Jauh
HUT ke-26 Provinsi Banten harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara jujur.
Apa yang sudah berhasil harus dipertahankan dan ditingkatkan. Apa yang masih kurang harus diperbaiki. Dan apa yang belum berjalan harus segera dicari jalan keluarnya.
Banten tidak kekurangan potensi. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola secara efektif, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Kita membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan rasa keadilan.
Kita membutuhkan kebijakan yang tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Kita membutuhkan pemimpin dan aparatur pemerintahan yang tidak sekadar bekerja berdasarkan rutinitas, tetapi memiliki keberanian melakukan inovasi dan terobosan.
#Harapan untuk Banten
Pada usia 26 tahun, Banten seharusnya semakin dewasa dalam menentukan arah pembangunan.
Harapan kita sederhana, tetapi fundamental: pendidikan semakin baik, pelayanan kesehatan semakin mudah, lapangan pekerjaan semakin luas, kemiskinan semakin berkurang, infrastruktur semakin merata, ekonomi masyarakat semakin kuat, lingkungan semakin terjaga, serta pemerintahan semakin bersih dan terpercaya.
Banten juga harus mampu membangun identitasnya sebagai provinsi yang maju tanpa kehilangan akar budaya dan karakter masyarakatnya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya terlihat dari gedung-gedung tinggi, jalan yang lebar, atau besarnya investasi yang masuk.
Keberhasilan pembangunan akan terasa ketika seorang anak di pelosok Banten dapat memperoleh pendidikan yang layak, ketika seorang ibu mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, ketika anak muda memperoleh pekerjaan yang bermartabat, ketika pelaku UMKM mampu mengembangkan usahanya, dan ketika masyarakat merasa aman serta memiliki masa depan di tanah kelahirannya sendiri.
26 tahun Provinsi Banten adalah perjalanan yang patut disyukuri, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan masih panjang.
Banten membutuhkan keberanian untuk berbenah, kebersamaan untuk bergerak, dan visi yang jauh ke depan.
Mari menjadikan HUT ke-26 bukan sekadar perayaan, tetapi titik tolak untuk membangun Banten yang lebih adil, lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Selamat HUT ke-26 Provinsi Banten.
Banten hari ini adalah hasil dari perjalanan masa lalu. Banten masa depan adalah tanggung jawab kita bersama.






