Ketika Kecepatan Mengalahkan Kebenaran
Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pengamat Politik, Media, dan Kebijakan Publik
Siang menjelang sore, Selasa, 3 November 2026, grup-grup WhatsApp mulai diramaikan sebuah kabar yang cukup mengejutkan. Beredar rumor mengenai sejumlah petinggi Polri yang konon diperiksa, bahkan diamankan oleh institusinya sendiri, berkaitan dengan dugaan penyadapan di lingkungan Istana Negara. Ada yang menyebut empat orang, ada pula yang menyebut jumlah berbeda. Bahkan, muncul cerita mengenai keterlibatan seorang jenderal bintang empat. Sebuah kabar yang tentu saja memiliki daya kejut luar biasa.
Saya mengamati bagaimana kabar tersebut bergerak dari satu grup ke grup lainnya. Ada yang segera mengirimkan pesan dengan tulisan kapital BREAKING NEWS. Ada yang menambahkan komentar, ada yang mengajukan dugaan, dan ada pula yang seolah-olah sudah mengetahui duduk persoalannya. Padahal, pada saat itu, informasi tersebut masih membutuhkan konfirmasi. Pihak Polri sendiri belum memberikan pembenaran sebagaimana diberitakan CNN Indonesia.
Yang menarik perhatian saya justru bukan semata-mata isi kabar tersebut, melainkan perilaku orang-orang yang menyampaikannya. Seolah-olah terdapat perlombaan tidak resmi untuk menjadi orang pertama yang mengabarkan sesuatu yang dianggap penting dan mengejutkan. Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang berhasil mendahului anggota grup lainnya. Seakan-akan ia baru saja memenangkan kejuaraan dunia dalam cabang olahraga menyampaikan informasi.
Saya kemudian bertanya-tanya, mengapa kita begitu tergesa-gesa? Mengapa kita tidak memiliki cukup kesabaran untuk menunggu kepastian sebelum menyampaikan sesuatu kepada orang lain? Apakah menjadi orang pertama yang mengetahui sebuah peristiwa jauh lebih membanggakan daripada menjadi orang yang benar-benar mengetahui kebenaran peristiwa tersebut? Jangan-jangan, dalam kebudayaan komunikasi kita sekarang, kecepatan telah menjadi semacam prestasi, sementara ketepatan justru sering dianggap tidak terlalu penting.
Saya teringat sebuah pemandangan yang kerap terjadi di grup WhatsApp. Seseorang menerima kabar dari sumber yang tidak jelas, kemudian segera membagikannya dengan tambahan kalimat, “Breaking News, mohon perhatian!” Orang kedua menanggapi dengan asumsi berdasarkan pengetahuannya sendiri. Orang ketiga menambahkan bumbu cerita. Orang keempat mengiyakan. Orang kelima meneruskannya ke grup lain. Orang keenam kemudian menerima kabar tersebut sebagai sesuatu yang seolah-olah sudah dikonfirmasi.
Kalau kita perhatikan, perjalanan informasi itu sebenarnya cukup menggelikan. Orang pertama mungkin hanya membawa seekor anak ayam yang masih berbulu halus. Orang kedua memberinya sedikit asumsi sehingga ayam itu tampak lebih besar. Orang ketiga menambahkan bumbu sampai tumbuh tanduk. Orang keempat mengiyakan bahwa memang demikian adanya. Ketika orang kelima membawanya ke grup lain, anak ayam itu sudah berubah menjadi ayam jago bersayap elang. Orang keenam bahkan mungkin menerima kabar bahwa seekor dinosaurus baru saja ditangkap di halaman Istana.
Itulah yang saya sebut sebagai estafet rumor. Informasi tidak sekadar berpindah dari satu orang ke orang lain, tetapi mengalami penambahan, pengurangan, penafsiran, dan perubahan bentuk. Setiap orang merasa sedang menyampaikan sesuatu yang diketahuinya, padahal sebagian besar hanya sedang mewariskan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Ironisnya, semakin jauh perjalanan kabar tersebut, semakin besar pula kesan bahwa informasi itu telah melalui proses pembuktian.
Dalam komunikasi sosial, terdapat fenomena yang dikenal sebagai social proof. Psikolog sosial Robert Cialdini menjelaskan bahwa manusia kerap menggunakan perilaku orang lain sebagai petunjuk untuk menentukan tindakan atau keyakinannya, terutama ketika menghadapi situasi yang tidak pasti. Dalam konteks rumor, seseorang dapat menganggap suatu kabar benar karena melihat banyak orang membicarakannya. Padahal, banyaknya orang yang percaya belum tentu menunjukkan banyaknya bukti yang tersedia.
Ada pula konsep information cascade, yang antara lain dikembangkan oleh ekonom Sushil Bikhchandani, David Hirshleifer, dan Ivo Welch. Fenomena ini menjelaskan bagaimana seseorang dapat mengikuti keputusan atau keyakinan orang sebelumnya, meskipun informasi yang dimilikinya sendiri tidak cukup untuk mendukung keputusan tersebut. Dalam kehidupan grup WhatsApp, seseorang bisa ikut mengamini sebuah rumor bukan karena mengetahui faktanya, melainkan karena melihat beberapa orang lain sudah lebih dahulu mengamininya.
Lebih menarik lagi adalah fenomena illusory truth effect, atau efek kebenaran semu. Penelitian Gordon Pennycook, Tyrone Cannon, dan David Rand yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: General pada 2018 menunjukkan bahwa paparan sebelumnya terhadap judul berita palsu dapat meningkatkan penilaian seseorang terhadap keakuratan berita tersebut. Bahkan, satu kali paparan sebelumnya saja dapat memberikan pengaruh terhadap persepsi kebenaran, termasuk ketika berita itu pernah diberi label sebagai informasi yang diperselisihkan.
Penjelasan tersebut membantu kita memahami mengapa rumor yang berulang-ulang dibicarakan akhirnya terasa seperti fakta. Otak manusia dapat menganggap informasi yang sudah sering ditemui sebagai sesuatu yang familier. Karena terasa familier, informasi itu menjadi lebih mudah diproses dan kemudian dapat dinilai lebih benar. Padahal, yang bertambah sebenarnya hanya frekuensi perjumpaan kita dengan informasi tersebut, bukan kekuatan bukti yang mendukungnya.
Penelitian yang lebih baru oleh Steeven Ye dan sejumlah peneliti lainnya, berupa tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Nature Communications pada 2026, menggabungkan 182 penelitian dengan 31.184 partisipan. Hasilnya mengonfirmasi bahwa pengulangan informasi memang menghasilkan peningkatan persepsi kebenaran, meskipun besarnya efek bervariasi. Ini memperlihatkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar dugaan atau pengamatan subjektif, melainkan fenomena yang telah memperoleh dukungan empiris cukup luas.
Persoalan lainnya adalah kebiasaan mempercayai tangkapan layar judul berita atau potongan video dari berbagai platform digital. YouTube, TikTok, CapCut, X, Facebook, dan Instagram memang menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh serta menyebarkan informasi. Namun, siapa pun dapat membuat dan mengelola konten di sana. Sebuah gambar bisa dipotong, judul bisa diubah, video bisa diberi narasi baru, sementara konteks aslinya ditinggalkan entah di mana.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua konten media sosial tidak dapat dipercaya. Banyak jurnalis profesional, lembaga resmi, peneliti, dan saksi mata juga menggunakan platform tersebut untuk menyampaikan informasi. Namun, kita harus membedakan antara keberadaan sebuah konten dan keabsahan informasi yang dikandungnya. Tangkapan layar hanya membuktikan bahwa seseorang pernah membuat atau menyebarkan sebuah tampilan. Ia tidak otomatis membuktikan bahwa peristiwa yang diberitakan benar-benar terjadi.
Dalam hal ini, saya melihat pentingnya keberadaan media massa profesional. Perusahaan pers seperti Kompas, CNN Indonesia, Jawa Pos, Tribun, dan Media Indonesia mempunyai struktur redaksi, reporter, editor, pemimpin redaksi, standar jurnalistik, serta mekanisme koreksi. Ada proses kerja dan tanggung jawab institusional yang menyertai pemberitaan. Sebuah berita tidak semestinya hanya bergantung pada keyakinan pribadi seseorang yang kebetulan memiliki telepon genggam dan jaringan internet.
Tentu saja, media besar bukanlah lembaga yang selalu benar. Mereka bisa keliru, memiliki bias, atau melakukan kesalahan dalam pemberitaan. Namun, terdapat perbedaan penting antara kesalahan yang dapat ditelusuri melalui mekanisme redaksi dan konten anonim yang tidak jelas siapa pembuat serta penanggung jawabnya. Kredibilitas tidak semata-mata ditentukan oleh ukuran perusahaan, melainkan oleh profesionalitas, transparansi, verifikasi, independensi, dan kesediaan mempertanggungjawabkan pemberitaan.
Saya kira persoalan yang lebih mendasar dari semua ini adalah krisis kesabaran epistemologis. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan pengetahuan, sumber pengetahuan, dasar pembenaran, dan batas-batas kemampuan manusia untuk mengetahui. Sebagai alumnus Program Studi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung, saya terbiasa memandang bahwa mengetahui sesuatu tidak cukup hanya dengan mendengar atau melihat. Ada proses pemeriksaan, penalaran, dan pembuktian yang seharusnya mendahului sebuah kesimpulan.
Dalam tradisi skeptisisme dikenal konsep epoché, yakni penangguhan penilaian ketika bukti yang tersedia belum memadai. Bagi saya, konsep ini sangat relevan dengan kebiasaan komunikasi masyarakat digital. Kita tidak harus segera mengambil kesimpulan atas setiap kabar yang masuk. Kita juga tidak wajib mempunyai pendapat tentang setiap peristiwa. Terkadang, mengatakan “saya belum tahu” merupakan bentuk kejujuran intelektual yang jauh lebih terhormat daripada mengeluarkan kesimpulan panjang berdasarkan informasi yang masih samar.
Sayangnya, kita hidup dalam kebudayaan serba segera. Makanan ingin cepat tersaji, perjalanan ingin cepat sampai, pesan ingin segera dibalas, dan berita ingin segera diketahui. Bahkan, orang terkadang lebih dahulu membagikan judul berita sebelum sempat membaca isinya. Judul sudah menjadi kesimpulan, sementara isi berita masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah dikerjakan. Jempol sudah lulus ujian kecepatan, tetapi akal sehat masih tertinggal di ruang tunggu.
Ada pula persoalan ekonomi perhatian. Dalam ekosistem digital, perhatian manusia telah menjadi sesuatu yang bernilai. Informasi yang mengejutkan, kontroversial, dan emosional cenderung lebih mudah memperoleh respons. Orang yang membagikan kabar berharap mendapatkan komentar, tanda suka, atau pengakuan dari anggota grup. Informasi kemudian bukan hanya menjadi sarana memperoleh pengetahuan, melainkan juga alat untuk mempertontonkan eksistensi diri. Tidak mengherankan jika kata Breaking News kadang-kadang lebih berfungsi sebagai umpan perhatian daripada penanda urgensi jurnalistik.
Kita juga perlu membicarakan tanggung jawab moral. Sering kali, ketika sebuah informasi ternyata keliru, orang yang menyebarkannya berlindung di balik kalimat, “Saya cuma meneruskan.” Seolah-olah tombol forward mempunyai kekuatan ajaib untuk menghapus tanggung jawab pengirimnya. Padahal, setiap orang yang meneruskan informasi ikut memperluas jangkauan dan kemungkinan dampaknya. Jika informasi itu merusak reputasi seseorang, menimbulkan kecemasan, atau memicu konflik, dampaknya tidak serta-merta hilang hanya karena pengirim mengaku bukan sumber pertama.
Saya membayangkan sebuah peristiwa sederhana. Seseorang mendengar kabar bahwa tetangganya sedang sakit. Ia menyampaikan kabar itu kepada orang lain. Oleh penerima berikutnya, sakitnya bertambah parah. Orang ketiga menyebut bahwa tetangga tersebut sudah masuk rumah sakit. Orang keempat mengabarkan bahwa keadaannya kritis. Orang kelima menyampaikan kabar duka. Ketika kabar itu sampai kepada keluarga, orang yang sebenarnya hanya sedang beristirahat di rumah bisa-bisa sudah dinyatakan meninggal oleh industri rumor kampung. Ini bukan lagi sekadar kesalahan komunikasi, melainkan bentuk kekerasan informasi.
Karena itu, saya merasa perlu menghidupkan kembali kebiasaan sederhana: memeriksa sebelum membagikan. Siapa sumber pertamanya? Apakah media yang memberitakan memiliki kredibilitas? Apakah terdapat konfirmasi dari pihak yang berwenang? Apakah tanggal dan konteksnya sesuai? Apakah video yang beredar merupakan rekaman peristiwa yang sama? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar merepotkan bagi orang yang sedang bersemangat menjadi pembawa kabar. Namun, bukankah sedikit kerepotan jauh lebih baik daripada ikut memproduksi kegaduhan?
Saya tinggal di Kampung Binuangeun, sebuah kampung pesisir di selatan Banten. Di tempat saya, laut mengajarkan sesuatu yang menarik tentang kesabaran. Nelayan tidak bisa memaksa ikan datang hanya karena ia sudah menyiapkan perahu dan jaring. Ia harus membaca cuaca, memperhatikan arah angin, mengenali arus, dan memahami tanda-tanda alam. Ada saatnya melaut, ada saatnya menunggu. Jika semua dipaksakan, bukan ikan yang didapat, melainkan kemungkinan pulang dengan perahu kosong. Begitu pula dengan informasi. Ada saatnya menyampaikan, ada saatnya menunggu.
Saya kadang membayangkan, seandainya para pemburu Breaking News itu bekerja seperti nelayan, mungkin mereka akan lebih berhati-hati. Mereka tidak akan melempar jaring sebelum mengetahui arah arus. Mereka tidak akan menyebut ada ikan paus hanya karena melihat riak air. Namun, rupanya di dunia digital, sebagian orang lebih senang menjadi nelayan rumor. Sekali melempar jaring, apa pun yang tersangkut dianggap tangkapan berharga, termasuk sampah yang kemudian dipamerkan sebagai ikan besar.
Saya tidak sedang mengajak orang berhenti berbagi informasi. Saya juga tidak sedang menganggap semua rumor pasti salah atau semua berita media profesional pasti benar. Yang saya persoalkan adalah kebiasaan memperlakukan sesuatu yang belum diketahui sebagai sesuatu yang sudah pasti. Kita perlu mengembalikan kehormatan proses berpikir, kesabaran memeriksa, dan keberanian mengakui keterbatasan pengetahuan. Sebab, informasi yang belum terverifikasi tidak menjadi benar hanya karena sudah dibicarakan oleh banyak orang.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah kebanggaan kecil di dalam grup WhatsApp. Tidak perlu merasa istimewa karena menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar mengejutkan. Akan jauh lebih terhormat jika kita menjadi orang yang pertama mengingatkan agar kabar tersebut diperiksa terlebih dahulu. Tidak ada salahnya terlambat beberapa menit untuk memperoleh kepastian. Tidak ada kerugian intelektual ketika kita memilih diam karena belum mengetahui kebenaran.
Saya ingin menutup perenungan ini dengan sebuah keyakinan sederhana: manusia tidak diukur dari seberapa cepat ia menyampaikan sesuatu, melainkan dari seberapa bertanggung jawab ia memperlakukan sesuatu yang diketahuinya. Di tengah dunia yang penuh notifikasi, mungkin kita membutuhkan lebih banyak orang yang berani menahan jempolnya. Sebab, tidak semua yang datang sebagai Breaking News layak diteruskan, dan tidak semua yang ramai dibicarakan pantas disebut kebenaran.
Bagi saya, lebih baik menjadi orang terakhir yang menyampaikan kebenaran daripada menjadi orang pertama yang menyebarkan kesalahan. Wallahualam.*





