Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah Ketua Bidang Kaderisasi dan SDM PB. Mathlaul Anwar
Di langit Binuangeun, bulan malam ke-15 menggantung seperti sebuah koma dalam sebuah kalimat panjang yang belum usai. Bagi sebagian kita, Ramadhan bukan sekadar perlombaan menahan lapar, melainkan sebuah ritus perlintasan yang ditandai dengan perubahan bunyi dan rasa. Sebagai penekun Aqidah Filsafat, saya seringkali terjebak dalam permenungan: mengapa iman harus dirayakan dengan sebungkus nasi yang diikat janur, atau mengapa doa harus disisipkan di sela-sela rakaat yang hampir habis?
Ramadhan di paruh pertama adalah sebuah pembersihan. Kita berdiri di belakang imam, mendengarkan deretan surat dari At-Takatsur hingga Al-Lahab. Secara psikologis, ini adalah “GPS spiritual” yang sangat jujur. Ada rasa lega yang manusiawi saat Al-Lahab berkumandang—sebuah penanda bahwa keletihan fisik akan segera usai. Namun, di balik pragmatisme itu, ada kritik eksistensial: kita sedang meruntuhkan berhala tumpukan harta dan api kesombongan sebelum memasuki gerbang paruh kedua.
Lalu hadir seuntai doa bernama Qunut. Di kalangan Nahdhiyyin, Qunut malam ke-15 adalah sebuah interupsi ilahi. Di saat saudara kita yang lain mungkin telah bersalam, kita memilih untuk tetap berdiri, menengadahkan tangan dalam hening yang pekat. Qunut adalah pengakuan akan keterbatasan rasio manusia. Ia adalah momen di mana kita berhenti sejenak di “Dermaga Pertengahan” untuk meminta kompas hidayah, sadar bahwa separuh lagi malam terakhir yang penuh rahasia tak mungkin ditempuh hanya dengan mengandalkan kekuatan kaki sendiri.
Kesakralan itu kemudian meluruh ke dalam hangatnya ruang sosial melalui Leupeut atau Ketupat. Di Banten, tradisi Ngupat atau Ngaleupeut adalah sebentuk fenomenologi syukur yang sangat membumi. Secara etimologis, Ngaleupeut berkelindan dengan kata lepat atau salah. Memakan leupeut adalah sebuah tindakan simbolis: kita sedang membungkus segala kesalahan masa lalu dalam “janur” pertobatan.
Beras yang tercerai-berai—ibarat pikiran dan nafsu kita yang liar—disatukan, dipadatkan, dan direbus dalam kawah kesabaran hingga menjadi satu kesatuan yang kokoh. Leupeut adalah “iman yang membungkus diri”. Ia mengajarkan bahwa putihnya hati (isi) harus dijaga oleh balutan syariat yang kuat (bungkus), agar ia tidak hancur saat diuji oleh panasnya dunia.
Namun, di atas segala keriuhan tradisi dan hidangan, puncaknya tetaplah berada pada satu rakaat terakhir dalam Witir. Setelah dua rakaat selesai sebagai bentuk harmonisasi diri dengan semesta, satu rakaat sisa adalah sebuah kemutlakan. Ia adalah tauhid yang tegak lurus. Di rakaat yang ganjil itu, segalanya menjadi sunyi. Tak ada lagi urusan perut, tak ada lagi perdebatan mazhab, tak ada lagi hitungan rakaat. Hanya ada “Aku” yang fakir dan “Engkau” yang Maha Ada.
Satu rakaat terakhir adalah titik temu antara yang fana dan yang abadi. Ia adalah penutup dari segala dialektika malam itu; sebuah janji bahwa meski Ramadhan akan habis, keesaan Tuhan tetaplah pelabuhan terakhir bagi jiwa-jiwa yang letih. Di sela aroma daun pisang dan gema doa yang melangit, kita menyadari bahwa beragama adalah tentang menjadi “padat” seperti leupeut: teguh dalam prinsip, lembut dalam rasa, dan selalu terikat erat pada Sang Pencipta. Wallahualam.





