Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten
Pagi ini, Jumat, 20 Maret 2026, fajar menyingsing dengan warna yang sedikit berbeda di ufuk timur pesisir Binuangeun. Di saat sebagian besar tetangga kita masih terlelap dalam kantuk sisa sahur terakhir, riuh rendah takbir sudah memecah kesunyian dari pengeras suara di beberapa titik. Saudara-saudara kita dari Muhammadiyah telah memantapkan langkah, menjemput kemenangan satu hari lebih awal dari ketetapan pemerintah yang baru akan merayakan Idul Fitri esok hari.
Melihat pemandangan ini, nalar saya sebagai alumni Aqidah Filsafat seringkali merasa kagagas. Ada sebuah tanya yang terus ngulibeng di kepala, menggelitik rasa keadilan dan logika kewarganegaraan kita: Mengapa Istiqlal—sebagai simbol kedaulatan spiritual bangsa—seolah menjadi ruang yang eksklusif bagi ketetapan pemerintah saja? Bukankah Muhammadiyah adalah anak kandung sejarah yang sah, yang ikut berkeringat membangun fondasi republik ini? Mengapa mereka tidak menggunakan Istiqlal walau waktunya berbeda?
Jika kita urai dengan jernih, kenyataan ini adalah persinggungan rumit antara Logika Administrasi Negara dan Fikih Kekuasaan. Secara administratif, Istiqlal dikelola oleh negara. Dalam kacamata birokrasi, negara harus berdiri di atas asas ketunggalan kebijakan. Bayangkan betapa riuhnya secara administratif jika sebuah fasilitas negara memfasilitasi dua perayaan resmi di waktu yang berbeda; ada kerumitan protokoler dan simbol politik yang dianggap bisa memicu ambiguitas legitimasi pemerintah. Di sinilah “Fikih Kekuasaan” bekerja—di mana stabilitas dan keseragaman seringkali dimenangkan di atas ruang bagi keragaman ijtihad.
Namun, di balik sekat birokrasi itu, ada Pijakan Teologis yang sangat mendasar bagi warga Muhammadiyah. Ada semacam kerinduan untuk kembali pada kemurnian sunah: al-khuruj ila al-musalla. Mereka memiliki keyakinan kuat bahwa salat Id lebih utama digelar di tanah lapang, di bawah atap langit yang tak berbatas, ketimbang di dalam kemegahan bangunan. Maka, tak ada rasa dianaktirikan; bagi mereka, bumi Allah yang luas ini adalah sajadah yang suci.
Pagi tadi, saya menyaksikan pemandangan yang sangat kontemplatif. Di depan Gedung Dakwah dan di tanah-tanah lapang yang beralaskan rumput serta terpal, jemaah Muhammadiyah tumpah ruah. Tidak ada kemegahan pualam atau pendingin ruangan seperti di Istiqlal, namun kekhusyukan yang tercipta sungguh ngageterkeun hate. Di bawah langit yang mulai membiru, mereka bersujud dengan khidmat. Perbedaan hari tak membuat mereka merasa asing; justru mereka menunjukkan bahwa ketaatan pada ijtihad adalah bentuk kemerdekaan spiritual yang paling tinggi.
Ulah nepikeun ka urang gontok-gontokan perkara poe, sabab saenyana urang ieu keur leumpang dina jalan anu sarua, ngan ukur lengkahna anu beda. (Jangan sampai kita bertikai soal hari, sebab sejatinya kita sedang berjalan di jalan yang sama, hanya saja langkahnya yang berbeda). Idul Fitri tetaplah titik kembali menuju fitrah, baik ia dirayakan hari ini maupun esok pagi.
Perbedaan dalam penentuan awal Syawal ini, jika kita teropong dengan kacamata yang jernih dan kedewasaan berpikir, sejatinya bukanlah sebuah retakan dalam ukhuwah. Ia adalah simfoni ijtihad yang beralaskan ilmu. Ketika nalar filsafat bertemu dengan keteguhan syariat, kita akan menyadari bahwa keberagaman metode—baik itu presisi hitungan falak maupun kesaksian mata telanjang—adalah kekayaan khazanah intelektual Islam. Ulah dijadikeun pucuk ti girang (jangan dijadikan sumber pertikaian), sebab kebenaran dalam ranah ijtihadiah bersifat nisbi, namun persaudaraan sesama anak bangsa adalah sebuah keniscayaan yang mutlak. Di sinilah rahmat itu bersemi; dalam ruang toleransi yang lapang, di mana kita belajar menghormati keyakinan orang lain tanpa harus kehilangan jati diri sendiri.
Keindahan itu terpancar saat mereka yang berlebaran hari ini tetap menjaga kanyaah dan rasa hormat kepada mereka yang masih menggenapkan puasa, begitupun sebaliknya. Inilah potret kedewasaan spiritual yang sesungguhnya—saat perbedaan tidak lagi disikapi dengan kepalan tangan, melainkan dengan telapak tangan yang terbuka untuk saling memaafkan. Di tengah gema takbir yang bersahutan dari lapangan-lapangan terbuka maupun dari balik menara masjid yang megah, mari kita luruhkan ego dan gengsi. Sebab bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di hari raya, melainkan siapa yang paling bersih hatinya saat fajar kemenangan itu tiba.
Dalam kerendahan hati yang paling dalam, saya memohon maaf lahir dan batin atas segala salah yang terucap, khilaf yang tertulis, serta langkah yang mungkin pernah melukai rasa. Hapunten samudaya kalepatan, lahir tumekan ning batin. Semoga amal ibadah kita semua diterima di sisi Allah SWT. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H bagi yang merayakan hari ini, dan selamat menyongsong hari kemenangan bagi yang merayakan esok hari.
“Kebenaran laksana sebuah cermin yang jatuh dari langit dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut satu kepingannya, lalu melihat ke dalamnya dan mengira mereka telah melihat seluruh kebenaran. Namun di hadapan Tuhan, kepingan-kepingan itu hanyalah satu cahaya yang sama, yang memantulkan rindu hamba pada Sang Pencipta.”
*



