Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Hari raya Idul Fitri pertama kali pada tahun kedua Hijriah, atau pada tahun 624 Masehi, yaitu setelah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar. Rasulullah SAW menetapkannya sebagai pengganti dua hari raya kaum sebelum Islam (kaum jahiliyah), menjadikannya perayaan kemenangan Iman atas hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan. Berikut ini adalah poin-poin penting sejarah Idul Fitri:

A. Asal-Usul :
Idul Fitri dimulai di Madinah, yaitu saat Nabi Muhammad SAW mengganti tradisi hari raya lama (tradisi sebelum Ialam) dengan Idul Fitri dan Idul Adha.

(1). Kemenangan Perang Badar. Idul Fitri pertama kali bertepatan dengan kemenangan besar pasukan Muslimin yang berjumlah sedikit melawan kaum kafir Quraisy. (2). Makna Fitrah vs Fitr. Meskipun sering diartikan “kembali ke fitrah” (suci), namu secara etimologis (bahasa) fitr berasal dari kata fathara yang berarti berbuka atau makan pagi, hal itu menandakan kembalinya umat Muslim untuk makan pada siang hari setelah sebulan berpuasa. (3). Tradisi Perayaan. Pada masa khalifah Abbasiyah, perayaan Idul Fitri berlangsung tiga hari. Di Mesir (di era kerajaan Mamluk), Sultan Mamluk membagikan hadiah, sementara di Turki ada tradisi meriam. (4). Sementara di Indonesia, perayaan hari raya Idul Fitri sering disebut “Lebaran”, istilah lokal yang berakar dari budaya Jawa/Betawi yang berarti selesai (berpuasa) atau lapang (hati) atau jiwa yang lapang/lebar.

II. Syi’ar Lebaran Idul Fitri

Datangnya lebaran Idul Fitri, hal itu menandai tentang momen kegembiraan dan refleksi mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Lebaran Idul Fitri, yang juga dikenal sebagai Hari Raya, merupakan salah satu momen paling bersejarah dalam kalender Islam. Karena lebaran Idul Fitri tidak sekadar sebuah perayaan, tetapi juga sebuah penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan sejarah yang kaya di dalam agama Islam. Dalam suasana kegembiraan dan rasa syukur, umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangan spiritual yang diraih setelah menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan, yakni bulan yang penuh berkah, dengan puasa dan ibadah yang mendalam. Berikut ini penjelasan mengenai keutamaan dan sejarah Idul Fitri :

A. Keutamaan Lebaran Idul Fitri

Hari raya Idul Fitri tidak hanya sebuah momentum atas kemenangan menahan diri dari makan dan minum serta menjauhi dari berbagai pekerjaan yang bisa mencederai pahala puasa. Tapi, lebih dari itu, hari raya Idul Fitri merupakan suatu hari yang harus dibanggakan, karena pada hari tersebut Allah menjanjikan ampunan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah shalat di hari raya Idul Fitri. Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ ابنِ مَسْعُوْد عَنِ النَّبِي ﷺ أَنَّهُ قَالَ اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِيْ كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ أَجْرَهُ وَعِبَادِيْ اللَّذِيْنَ صَامُوْا شَهْرَهُمْ وَخَرَجُوْا اِلَى عِيْدِهِمْ يَطْلُبُوْنَ أُجُوْرَهُمْ أَشْهِدُوْا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. فَيُنَادِي مُنَادٍ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْا اِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ. فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِيْ صُمْتُمْ لِيْ وَأَفْطَرْتُمْ لِيْ فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ.

Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Muhammad Saw. bahwa Nabi bersabda : ketika umat Nabi melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dan mereka keluar untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, maka Allah berfirman: wahai Malaikatku, setiap yang telah bekerja akan mendapatkan upahnya. Dan hamba-hambaku yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan keluar rumah untuk melakukan shalat Idul Fitri, serta memohon upah (dari ibadah) mereka, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah memaafkan mereka. Kemudian ada yang berseru, ‘wahai umat Muhammad, kembalilah ke rumah-rumah kalian, aku telah menggantikan keburukan kalian dengan kebaikan’. Maka Allah Swt berfirman : wahai hamba-hamba-Ku, kalian berpuasa untukku dan berbuka untukku, maka tegaklah kalian dengan mendapatkan ampunan-Ku terhadap kalian.

B. Sejarah Hari Raya Idul Fitri

Secara histori, hari raya Idul Fitri tidak bisa lepas dari dua peristiwa, yaitu peristiwa perang badar dan hari raya masyarakat jahiliyah. Pertama, awal mula dilaksanakannya hari raya Idul Fitri pada tahun ke-2 Hijriah. Saat itu bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam perang badar. Kemenangan itu menjadi sejarah bahwa di balik perayaan Idul Fitri, memang ada histeria dan perjuangan para sahabat untuk meraih kemenangan dan menjayakan Islam. Oleh karenanya, setelah kemenangan diraih umat Islam, secara tidak langsung mereka merayakan dua kemenangan, yaitu kemenangan atas dirinya yang telah berhasil berpuasa selama satu bulan penuh, dan kemenangan dalam perang badar. Kedua, sebelum Islam datang, kaum Arab jahiliyah mempunyai dua hari raya yang dirayakan dengan sangat meriah. Dalam sebuah hadits Nabi dijelaskan bahwa asal-usul disyari’atkannya hari raya Idul Fitri tidak terlepas dari tradisi orang jahiliyah yang mempunyai kebiasaan khusus untuk bermain dalam dua hari, yang kemudian dua hari itu oleh Rasulullah Saw digantinya menjadi hari yang lebih baik, dan perayaan yang lebih baik pula, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Artinya : Dari Anas bin Malik, Rasululla Saw bersabda ; kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain, ketika Nabi Muhammad Saw. datang ke Madinah, Rasulullah bersabda : kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Lebih dari itu, hadratussyekh Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dalam kitabnya berjudul “Risalah fil Aqaid” beliau menjelaskan bahwa dua hari yang setiap tahunnya digunakan untuk pesta pora oleh kaum jahiliyah zaman dulu itu, yaitu disebut dengan “hari Nairuz” dan “Marjaan”. Dalam setiap tahunnya, dua hari itu digunakan untuk pesta pora, dan di isi dengan mabuk-mabukan dan menari. Dikatakan, bahwa Nairuz dan Marjaan merupakan hari raya orang Arab/Persia zaman kuno. Setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan, maka Rasulullah Saw mengganti “Nairuz” dan “Marjaan” dengan hari Idul Fitri dan Idul Adha. Tujuannya agar umat Islam mempunyai tradisi yang lebih baik dan sejalan dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah Swt (Risalah fil Aqaid, juz 3, h. 68). Begitupun Imam al-Baihaqi dalam kitabnya berjudul “As-Sunanul Kubra”, beliau menampilkan bunyi haditsnya secara jelas. Rasulullah Saw bersabda :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : مَنْ بَنَى فِى بِلاَدِ الأَعَاجِمِ فَصَنَعَ نَوْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Saw bersabda : barang siapa membangun negeri kaum ajam (selain Arab), kemudian meramaikan hari-hari “Nairuz” dan m
“Nihrajan” mereka, serta meniru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, maka ia akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat (Imam al-Baihaqi, as-Sunanul Kubra, juz 9, h. 234). Demikianlah penjelasan mengenai keutamaan dan sejarah hari raya Idul Fitri, mudah-mudah bisa menginsfirasi kita semua terutama dalam konteks kesejarahannya. Dan mudah-mudahan juga dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amin.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *