Ditulis: Robi Sugara (Kepala Sekolah Filsafat Averroes & Pengajar di Pondok Pesantren Al-Mubarok)

Di tengah kehidupan masyarakat, ada satu kalimat yang hampir selalu terdengar ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan: “Tunggu saja rahmat Tuhan.” Kalimat ini lahir dari keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun, dalam praktiknya, pemahaman tersebut sering melahirkan dua sikap yang bertolak belakang. Sebagian orang menjadikan rahmat Tuhan sebagai alasan untuk terus berharap tanpa disertai usaha yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, ada pula yang terlalu mengandalkan kerja keras hingga merasa keberhasilannya sepenuhnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Kedua cara pandang ini sesungguhnya sama-sama berangkat dari pemahaman yang belum utuh mengenai hakikat rahmat. Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: apakah rahmat Tuhan memang hanya cukup ditunggu, atau justru harus dijemput?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan praktis, melainkan persoalan filosofis tentang bagaimana manusia memahami hubungan dirinya dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam, rahmat tidak pernah diposisikan sebagai hadiah yang datang tanpa makna. Rahmat merupakan salah satu sifat Allah yang menjadi dasar keberlangsungan seluruh kehidupan. Karena itu, memahami rahmat tidak cukup hanya dengan melihat hasil yang diterima manusia, tetapi juga harus memahami bagaimana Allah menghadirkan dan mengatur kehidupan itu sendiri. Ketika seseorang memahami hakikat rahmat, ia tidak lagi melihat hidup sebagai rangkaian kebetulan, melainkan sebagai rangkaian karunia yang terus mengalir, baik disadari maupun tidak.

Para ulama mendefinisikan rahmat sebagai sesuatu yang jauh lebih luas daripada sekadar belas kasih. Rahmat mencakup karunia (tafaḍḍul), pemberian nikmat (in’ām), dan segala bentuk kebaikan (iḥsān). Bahkan, definisi yang paling komprehensif menjelaskan bahwa rahmat adalah pembebasan makhluk dari berbagai macam bencana dan kesulitan sekaligus mengalirkan berbagai bentuk kebaikan kepada mereka yang membutuhkannya. Definisi ini mengubah cara pandang manusia terhadap rahmat. Rahmat bukan hanya apa yang membuat seseorang bahagia, tetapi juga segala sesuatu yang menjaga keberlangsungan hidupnya. Karena itu, rahmat bukan sekadar peristiwa yang sesekali hadir, melainkan keadaan yang terus-menerus melingkupi seluruh eksistensi manusia.

Pemahaman tersebut diperkuat oleh makna kebahasaan kata raḥmah. Dalam bahasa Arab, kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan raḥim (rahim), yaitu tempat seorang janin memperoleh perlindungan, makanan, dan kasih sayang sebelum lahir ke dunia. Analogi ini mengandung makna filosofis yang sangat mendalam. Janin tidak pernah mengetahui bagaimana ia memperoleh kehidupan, tetapi seluruh kebutuhannya dipenuhi. Ia tidak pernah meminta makanan, namun makanan terus mengalir kepadanya. Ia tidak pernah meminta perlindungan, namun perlindungan telah tersedia bahkan sebelum ia mampu menyadarinya. Demikian pula manusia di hadapan Tuhan. Sebelum manusia mampu memohon, bahkan sebelum ia mengenal Tuhannya, rahmat Allah telah lebih dahulu menopang kehidupannya. Dari sini tampak bahwa rahmat bukanlah respons Tuhan terhadap permintaan manusia semata, melainkan sifat kasih sayang-Nya yang telah mendahului segala sesuatu.
Al-Qur’an menegaskan keluasan rahmat tersebut melalui firman Allah, “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”Pernyataan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang berada di luar cakupan rahmat Allah. Keberadaan langit, bumi, tumbuhan, hewan, hingga manusia merupakan manifestasi dari rahmat-Nya. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa keberadaan setiap makhluk itu sendiri merupakan bentuk rezeki yang paling mendasar. Dengan kata lain, eksistensi adalah rahmat sebelum hadirnya nikmat-nikmat lainnya. Seseorang mungkin kehilangan harta, jabatan, bahkan kesehatan, tetapi selama ia masih diberi kesempatan hidup, sesungguhnya ia masih berada dalam pelukan rahmat Allah. Pandangan ini mengajarkan bahwa rahmat tidak boleh dipersempit hanya pada ukuran-ukuran material yang sering dijadikan standar keberhasilan oleh manusia.

Akan tetapi, ayat tersebut tidak berhenti pada pernyataan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Allah kemudian berfirman, “Maka Aku akan menetapkannya bagi orang-orang yang bertakwa.” Para ulama memahami ayat ini sebagai penjelasan tentang adanya dua tingkatan rahmat. Pertama, rahmat yang bersifat umum (raḥmāniyyah), yaitu rahmat yang meliputi seluruh makhluk tanpa membedakan keimanan maupun kekufuran. Kedua, rahmat yang bersifat khusus, yaitu rahmat yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang bertakwa sebagai bentuk kemuliaan dan kedekatan mereka kepada-Nya. Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Allah tidak pernah menutup pintu rahmat-Nya bagi siapa pun, tetapi ada bentuk rahmat yang hanya dapat diraih oleh mereka yang bersedia menempuh jalan ketakwaan.

Pandangan ini sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan sebagian masyarakat yang memahami rahmat hanya sebagai alasan untuk berharap tanpa bergerak. Dalam kitab-kitab akhlak dijelaskan bahwa harapan (rajā’) kepada Allah adalah sesuatu yang terpuji selama berada dalam batasnya. Namun, apabila harapan berubah menjadi perasaan aman dari ketentuan Allah, maka harapan itu justru menjadi kerugian. Perbedaan antara harapan dan angan-angan terletak pada kesungguhan. Harapan melahirkan usaha, sedangkan angan-angan hanya melahirkan penantian. Seseorang yang berharap lulus ujian akan belajar, seseorang yang berharap sembuh akan berobat, dan seseorang yang berharap memperoleh rahmat Tuhan akan memperbaiki dirinya. Karena itu, rahmat tidak pernah menjadi alasan untuk bermalas-malasan, tetapi menjadi alasan untuk terus berbenah.
Di sinilah doa menemukan makna terdalamnya. Banyak orang menganggap doa sebagai sarana meminta sesuatu kepada Allah. Padahal, doa lebih dahulu merupakan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah benar-benar mampu berdiri sendiri. Ketika seseorang mengucapkan “Allāhumma”, ia sedang menempatkan dirinya sebagai hamba yang menyadari keterbatasannya di hadapan Tuhan Yang Mahasempurna. Secara filosofis, doa bukanlah upaya mengubah kehendak Tuhan, melainkan proses mengubah kesadaran manusia. Doa membebaskan manusia dari ilusi bahwa dirinya adalah pusat kehidupan. Semakin dalam seseorang berdoa, semakin ia memahami bahwa setiap keberhasilan adalah karunia, bukan sekadar hasil kecerdasannya sendiri.
Pembahasan mengenai rezeki dalam khazanah keilmuan Islam semakin memperluas makna rahmat. Rezeki tidak hanya dipahami sebagai harta atau makanan, tetapi juga kemampuan berimajinasi (khayāl), kemampuan memahami makna-makna partikular (wahm), kemampuan berpikir universal (‘aql), serta pengetahuan yang benar tentang hakikat kehidupan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, akal sehat, bahkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah merupakan bentuk-bentuk rahmat yang sering luput dari perhatian manusia. Ironisnya, manusia sering merasa tidak memperoleh rahmat hanya karena ukuran materi belum terpenuhi, padahal setiap hari ia menikmati berbagai bentuk rezeki intelektual dan spiritual yang nilainya jauh lebih tinggi daripada kekayaan yang bersifat sementara.

Pada akhirnya, pertanyaan “Rahmat Tuhan: Ditunggu atau Dijemput?” menemukan jawabannya sendiri. Rahmat Tuhan memang tidak dapat dipaksa oleh usaha manusia, sebab ia sepenuhnya merupakan anugerah Allah. Namun, rahmat juga bukan sesuatu yang layak ditunggu dengan sikap pasif. Ia dijemput melalui doa yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, ilmu yang terus dicari, dan ketakwaan yang senantiasa dipelihara. Menunggu rahmat berarti percaya kepada kasih sayang Tuhan, sedangkan menjemput rahmat berarti membuktikan kepercayaan itu dalam tindakan. Ketika keduanya dipadukan, manusia tidak hanya menjadi pribadi yang pandai berharap, tetapi juga menjadi pribadi yang siap menerima setiap bentuk rahmat Allah, apa pun wujudnya. Di situlah letak kebijaksanaan hidup seorang mukmin: tidak pernah putus berharap kepada rahmat Tuhan, tetapi juga tidak pernah berhenti berjalan menuju rahmat itu.

Referensi: Buku karya Ja’far bin Muhammad Naqdī, Asrār al-‘Ārifīn fī Syarḥ Kalām Amīr al-Mu’minīn: Syarḥ Du’ā’ Kumayl, tahqīq Farīd Ḥusūnah

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *