(Membaca Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari)

Oleh:

Endang Yusro

“Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.”

(Tema HSN 2026)

Penulis menyadari catatan ini merupakan kenaifan (baca, kedangkalan) untuk sebuah analisis pernyataan membaca pemikiran seorang tokoh Umat dan Bangsa.

Untuk menguraikan pemikiran seseorang (terlebih seorang tokoh), maka diperlukan beberapa halaman, minimal satu judul, dan beberapa sub judul.

Namun, demi kepentingan medsos hanya menyampaikan garis besarnya saja berdasarkan referensi yang penulis peroleh.

***

Santri hari ini hidup di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. Dunia digital membuka pintu ilmu pengetahuan seluas-luasnya, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa hoaks, ujaran kebencian, krisis adab, dan dangkalnya pemahaman keagamaan. Karena itu, tantangan santri bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan menjaga agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.

Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya pembaruan pendidikan, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, dan keberanian menjawab persoalan umat. Sementara itu, K.H. Hasyim Asy’ari menegaskan pentingnya adab, ilmu, dan penghormatan terhadap tradisi keilmuan. Keduanya memberikan pelajaran bahwa kemajuan tidak harus tercerabut dari akar nilai, dan kesetiaan terhadap tradisi tidak boleh menjadi penghalang bagi kemajuan.

Dalam konteks digital, semangat pembaruan K.H. Ahmad Dahlan mendorong santri untuk adaptif, kreatif, dan produktif memanfaatkan teknologi. Adapun keteladanan K.H. Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa kecakapan digital harus disertai kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan tanggung jawab moral. Santri harus mampu membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan, serta menjadikan media sosial sebagai ruang dakwah yang mencerahkan, bukan tempat menyebarkan kebencian.

Santri masa kini tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi penebar ilmu, penjaga moral, dan penggerak perubahan. Kecerdasan digital tanpa adab berisiko melahirkan kesombongan, sedangkan kesalehan tanpa kepedulian terhadap perkembangan zaman dapat membatasi kontribusi bagi masyarakat.

Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas,” menegaskan bahwa masa depan bangsa membutuhkan generasi yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam iman, luhur dalam akhlak, dan cakap menghadapi perubahan. Santri harus hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa, baik melalui pendidikan, dakwah, kewirausahaan, maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada akhirnya, membaca pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa kemajuan dan adab bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Sebab, Indonesia Emas tidak cukup dibangun oleh generasi yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi membutuhkan generasi yang mampu menuntun teknologi dengan ilmu, iman, dan akhlak.

Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri menguatkan negeri, merawat akhlak, mengembangkan ilmu, dan menjemput masa depan Indonesia.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *