Oleh : Adung Abdul Haris

I. Pendahuluan

Judul tulisan kali ini, terilhami dari sebuah perjalanan hidup penulis sendiri, yakni ketika dulu (zaman kuliyah). Mengingat saat itu ada dua mata kuliyah yang penulis minati (gandrungi) betul, yaitu mata kuliyah filsafat dan tasawuf. Terutama ketika di semester-semester awal kuliyah dulu. Saat itu ada yang disebut Mata Kuliyah Dasar Umum (MKDU), Mata Kuliyah Dasar Khusus (MKDK) dan lain sebagainya. Sementara ilmu fisafat dan tasawuf, penulis pelajarinya ketika di Mata Kuliyah Dasar Umum itu (MKDU). Sementara Dosen ilmu filsafat saat itu, dan sekaligus penulis timba ilmunya, yaitu Dr. Zaenul Kamal (asal Aceh) beliau menggandrungi pemikiran filsafat dari Imam Al-Ghazali. Demikian juga Dosen ilmu tasawuf, yaitu Dr. Mujib Rahmat (asal Jombang, Jawa-Timur), beliau juga menggandrungi tasawuf dari Imam Al-Ghazali. Dengan kata lain, kedua Dosen dari dua mata kuliyah yang berbeda itu (filsafat dan tasawuf) ternyata proses “peng-ajaran” dari kedua Dosen itu, seolah-olah hingga saat ini terus menginsfirasi, mengilhami, dan lain sebagainya, sekalipun kuran waktu zaman kuliyah dulu sudah lama (di era tahun 1997-an), namun saat itu memang sedang semangat-semangatnya untuk menimba ilmu dari kedua Dosen itu (Dosen ilmu filsafat dan tasawuf) ketika ngajar kedua Dosen itu terasa meng-abstraksi konseptual idealis dan mengedukatif.

Dengan kata lain, bahwa perjalanan spiritual dan intelektual, yang hingga saat ini masih membekas di benak penulis, memang hasil infiltrasi dari kedua Dosen sebagaimana tersebut diatas. Lebih dari itu, perjalanan spiritual dan intelektual adalah dua aspek penting dalam kehidupan manusia (termasuk yang dirasakan oleh penulis), dan realitanya saling berkaitan dan membentuk pengalaman manusia secara keseluruhan. Sementara perjalanan spiritual melibatkan pencarian makna hidup, pengembangan diri, dan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, hal itu seringkali melibatkan nilai-nilai agama, kepercayaan, atau keyakinan pribadi. Di sisi lain, perjalanan intelektual, memang berfokuskan diri pada pengembangan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan berpikir kritis. Tapi keduanya saling melengkapi, dimana pemahaman spiritual dapat memperkaya pemikiran intelektual, dan sebaliknya, pemikiran intelektual juga dapat memperdalam pemahaman spiritual.

Perjalanan spirituan diantaranya menuju pada proses “pencarian makna hidup”. Karena, perjalanan spiritual adalah proses eksplorasi diri dan pencarian makna hidup yang bersifat sublimatik-sakralistik, yang seringkali melibatkan pertanyaan tentang tujuan hidup, nilai-nilai transendental, dan identitas diri. Lebih dari itu, dalam proses spiritual juga akan melewati pase “pengembangan diri”. Karena, melalui perjalanan spiritual, maka setiap individu berusaha untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi, mengatasi tantangan, dan mencapai potensi diri yang lebih tinggi. Sementara dalam konteks untuk menemukan potensi diri dan keyakinan diri itu, kita juga harus melewati hubungan dengan yang bersifat transenden. Bahkan, banyak orang mencari hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, baik itu Tuhan, alam semesta, atau kekuatan spiritual lainnya yang sekiranya bisa menuntunnya kepada nilai-nilai yang bersifat ilahiyah. Sedangkan berbagai bentuk spiritual seperti kekhusu’an dalam beribadah, berdo’a secara kotemplatif, (bermeditasi), membaca kitab suci (tadarus dan tadabur al-qur’an), berinteraksi dengan alam, atau terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan lainnya, yang sekiranya akan melahirkan kecerdasan moral-sosial dan moral-spiritual.

Sedangkan perjalanan intelektual diantaranya : Pertama, mengembangkan pengetahuan. Dala perjalanan atau petualangan intelektual, kita kerapkali melibatkan upaya-upaya untuk terus belajar, memahami dunia di sekitar kita, dan memperluas pengetahuan kita. Kedua, pemikiran kritis. Dalam proses petualangan intelektual, maka kemampuan untuk berpikir kritis, ketajaman menganalisis informasi, dan membentuk pendapat sendiri adalah bagian yang sakralistik dan sangat penting, dan sekaligus bagian dari kawah candra-dimuka dunia intelektual. Ketiga, penerapan pengetahuan. Petualangan intelektual juga melibatkan penerapan pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan berkontribusi pada masyarakat. Keempat, keterbukaan pikiran. Seorang yang melakukan proses petualangan intelektual, ia harus memiliki keterbukaan pikiran untuk menerima ide-ide baru dan perspektif yang berbeda, atau berjiwa inklusif bukan berjiwa eksklusif.

Sedangkan hubungan antara dimensi spiritual dan intelektual, pada hakikatnya saling melengkapi. Karena, pemahaman spiritual dapat memberikan kedalaman dan makna pada pemikiran intelektual, sementara pemikiran intelektual juga dapat memperkaya pengalaman spiritual. Bahkan, dalam proses petualangan intelektual juga harus melakukan proses keseimbangan, dan itu harus terus dilakukan, yakni keseimbangan antara hal-hal yang bersifat esoteris dan eksoteris. Lebih dari itu, dalam proses petualangan intelektual butuh dinamisme dan pertumbuhan yang bersifat holistik-liguistik. Karena, dengan menggabungkan kedua petualangan itu (spritual dan intelektual), maka setiap kita besarkemungkinan akan mencapai pertumbuhan holistik, yaitu perkembangan diri yang bersifat menyeluruh, yakni punya kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, dan sosial.

Contoh perjalanan spiritual dan intelektual yang saling terkait dapat ditemukan dalam kisah sosok besar, seperti Imam Al-Ghazali, yang tidak hanya seorang ulama dan filsuf, tetapi ia juga seorang sufi yang mendalami perjalanan spiritualnya. Kisahnya telah menunjukkan bagaimana pemikiran intelektual yang mendalam dapat memperkaya pemahaman spiritualnya, dan sebaliknya, perjalanan spiritual dapat memberikan kedalaman makna pada pemikirannya. Dalam konteks pendidikan misalnya, maka hal itu amat sangt penting, yakni untuk menyadari betapa pentingnya menggabungkan aspek spiritual dan intelektual dalam pengembangan diri. Sementara pendidikan yang hanya berfokus pada pengembangan intelektual semata, dan tanpa memperhatikan aspek spiritual, hal itu dapat menghasilkan para individu yang cerdas secara kognitif, tetapi kurang memiliki nilai-nilai moral dan spiritual. Oleh karena itu, pendidikan yang holistik harus mengintegrasikan kedua aspek itu, yakni demi untuk menghasilkan individu-individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berakhlak mulia (akhlakul karimah dan bukan akhlakul mahmudah).

II. Perjalanan Intelektual Dan Spiritual Imam Al-Ghazali (Ulama, Filosof Dan Sufi Agung)

Kekaguman penulis kepada tokoh seperti Imam Al-Ghazali bukan hanya karena keluasan ilmunya, tapi karena kedalaman jiwanya. Dan lebih-lebih ketika di zaman kuliyah dulu, terutama di dua (mata kuliyah), yaitu mata kuliyah ilmu tasawuf (sufistik), bahwa sosok Imam Al-Ghazsli, memang menjadi fokus bahasan di materi kuliyah tasawuf yang pernah penulis alami. Demikian juga dimateri kuliyah ilmu filsafat, sosok Imam Ghazali juga menjadi titik sentral pembahasan pada mata kuliayah ilmu filsafat tersebut, terutama ketika terjadi polemis dengan para filsuf lainnya (termasuk dengan filsuf Ibnu Rust) sehingga Imam Ghazali dijuluki atau mendapatkan julukan sang Hujjatul Islam, karema kedalam ilmu filsafatnya. Dengan kata lain, Imam Ghazali, bukan sekadar ulama yang menguasai logika dan dalil, tetapi seorang pencari kebenaran sejati yang menjelajahi lorong-lorong gelap hati manusia untuk menemukan cahaya Ilahiyah. Itulah kisah perjalanan intelektual dan spiritual seorang ulama besar yang tidak hanya berfikir, tapi juga merasa; tidak hanya berbicara, tapi juga terus bersyukur dan bertafakur.

A. Awal Perjalanan : Intelektual Jenius di Dunia Islam

Imam Abu Hamid Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H di kota Tus (Persia). Sejak muda, ia telah menunjukkan bakat serta kecerdasannya yang luar biasa. Ia menuntut ilmu dari para ulama besar di zamannya, termasuk menimba ilmu kepada Imam Al-Juwaini, sang “Imam al-Haramain.” Di usianya yang relatif muda, Imam Al-Ghazali telah menguasai ilmu fikih, ilmu kalam (teologi), ilmu mantiq (logika), dan ilmu filsafat. Dan akhirnya, ia diangkat menjadi Guru Besar di Universitas Nizamiyah Baghdad, yang nota bene saat itu menjadi pusat ilmu terbesar. Namun di tengah puncak karier dan ketenarannya, malah terus muncul kegelisahan yang mendalam. Saat itu Imam Al-Ghazali mulai meragukan hakikat ilmunya sendiri. Ia menyadari bahwa ilmu tanpa kedekatan kepada sang Kholik (Allah) hanya akan menambah kesombongan. “Hatiku tersentuh ketika membaca bagaimana untuk meninggalkan jabatan, murid, dunia akademis dan lain sebagainya, hal itu demi mencari makna lebih sejati dalam konteks hidup dan kehidupan”. Demikian ia tulis di dalam kitabnya berjudul “al-Muqidz min al-Dalal”.

B. Titik Balik : Dari Filsafat Ke Tasawuf

Perjalanan batin Imam Al-Ghazali membawanya kepada titik balik (krisis eksistensial). Bahkan, di dalam autobiografinya, yakni di dalam kitab berjudul “al-Munqidz min al-Dalal” (penyelamat dari kesesatan), ia menulis tentang keraguan, pertanyaan, dan kebimbangan yang membawanya pada proses pencerahan. Ia menyadari bahwa hanya dalam tasawuf prosrs penyucian jiwa dan pendekatan langsung kepada Sang Kholik (Allah Swt). Ia menemukan ketenangan yang selama ini hilang. Ia pun mengasingkan diri (uzlah) selama 10 tahun, dan hidup dalam ritualitas zikir, ibadah malam, dan tafakur (taqorrub ilallah). Dan di tempat sunyi itulah, akhirnya ia menemukan nilai-nilai Ke-Tuhanan (kebenaran yang hakiki), bukan lewat silogisme logika, tapi lewat rasa yang murni. “Bagiku, itulah momen cinta sejati saat tunduk bukan kepada logika, tetapi kepada Nur Ilahi”. Tutur Imam Ghazali di dalam kitab “al-Munqidz min al-Dalal”.

C. Sang Penyatu (Filsuf Yang Sufi, Dan Sufi Yang Rasional)

Lebih dari itu, yang membuat penulis sangat mengagumi Imam Al-Ghazali adalah proses keseimbangannya. Karena, realitanya ia tidak menolak filsafat secara membabi buta, tetapi mengkritik dengan argumentasi yang tajam. Hal itu sebagaimana tergambar dengan jelas di dalam kitab “Tahafut al-Falasifah” (Kerancuan Para Filosof). Ia juga bukan sufi yang terbang tinggi di awan makna, tapi ia tetap berpijak pada hukum syariat yang kokoh. Ia adalah model ulama paripurna, dan akademisi yang spiritual, rasional yang lembut, dan sufi yang berpikir. Sementara di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ia memadukan ilmu syariat, etika, dan tasawuf menjadi satu kesatuan. Kitab itu adalah potret cintanya pada Islam yang hidup, bukan Islam yang kaku dalam teks semata.

D. Cintaku : Untuk Seorang Pencari

Kekaguman penulis kepada Imam Al-Ghazali adalah cinta pada pencarian makna, cinta pada kejujuran intelektual, cinta pada keberanian spiritual. Ia telah menunjukkan bahwa ulama sejati bukan yang banyak bicara, tapi yang banyak menyepi dan menemukan solusi. Bukan orang yang merasa paling pintar, tapi ia yang paling pintar merasa. Dan ia sungguh-sungguh untuk melakukan riyadhoh, mujahadah, muroqobah, mukasyafah, dan terus melakukan taqorrub (merasa perlu dekat dengan Tuhan-Nya). Bahkan, di dunia yang serba gaduh dan bising saat ini, sudah barang tentu kita merindukan lebih banyak tipologi Al-Ghazali, Al-Ghazali dalam komteks kekinian, yaitu orang-orang yang berani berpikir lebih dalam dan mencintai sesama umat lebih jauh lagi. Yakni, tidak puas hanya dengan kebenaran di buku, tapi mencarinya di dalam dada dan nurani diri.

E. Imam al-Ghazali : Kisah Perjalanan Intelektual Dan Spiritualnya

Kalau kita coba lacak akar sejarahnya, yakni mengapa Imam Ghazali, ia begitu mendunia karya dan kapasits pemikirannya, dan sekaligus dijuluki sebagai sang Hujjatul Islam? Ternyata, setelah wafatnya Radulullah SAW, saat itu bibit-bibit perpecahan memang sudah mulai nampak. Saling berebut kursi kekhalifahan pun terjadi diantara golongan muhajirin dan ansar. Selepas diangkatnya Abu Bakar Ash-Shidiq, maka konflik-konflik tersebut mulai mereda. Namun, seiring berjalannya pemerintahan yang dipimpin oleh Abu Bakar, banyak pertentangan dari sekelompok masyarakat yang tidak setuju dengan pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah. Akhirnya mereka enggan membayar zakat, dan lain sebagainya. Konflik-konflik itu terus terjadi. Terlebih lagi ketika masa kepemimpinan Khalifah Usman bin Affan. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan khususnya untuk meredam konflik politik, tapi kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk tindakan yang berbau kolusi dan nepotisme. Begitu juga dengan masa kepemimpinan khalifah Ali bin Thalib, ternyata pemberontakan-pun terjadi di mana-mana, terutama dari kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan, yang mencapai puncak pemberontakannya, yaitu ketika pada peristiwa “Perang Shiffin”.

Sementara peristiwa “Perang Shiffin” itulah yang menjadi awal dari lahirnya berbagai aliran-aliran dalam Islam. Sedangkan aliran yang muncul pertama kali adalah aliran Khawarij, ia lahir sebagai kelompok yang menolak terhadap para pendukung Ali. Pada masa itu, keadaan umat Islam sangat kacau dan saling menegasi. Banyak aliran yang tidak menunjukan diri sebagai sebuah perkumpulan atau wadah untuk mengembangkan Islam sacara wajar. Bahkan, antar aliran yang satu dengan yang lainnya saling menjustifikasi satu sama lain. Yakni, masing-masing golongan terkesan saling mengklaim sebagai golongan atau kelompok yang paling benar dan mengalahkan golongan-golongan lain. Disamping terjadinya pertentangan antargolongan, banyak juga proses pertentangan antardisiplin ilmu, seperti ilmu fikih, yang menampakkan pertentangannya dengan ilmu kalam dan filsafat. Kondisi tersebut terjadi akumulatif dan bertahun-tahun, sehingga pada suatu saat muncullah seseorang, yakni dengan kecerdasan intelektual dan kemurnian rohaninya, yang akhirnya ia mampu menyelesaikan pertentangan-pertentangan tersebut. Seseorang itu ialah Imam al-Ghazali, sang Hujjatul Islam dan sufi yang Agung.

  1. Perjalanan Imam al-Ghazali

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. Ia dilahirkan di wilayah Khurasan, Persia. Sejak kecil, ia dikenal dengan kepribadian yang suka mencari kebenaran, dan memiliki bakat sebagai seorang pemikir. Dalam menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, al-Ghazali tidak kenal lelah dalam belajar dan sangat serius dalam memperdalam ilmu pengetahuan. Setelah gurunya wafat, al-Ghazali langsung meninggalkan tempat ia belajar. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan intelektualnya ke daerah kekuasaan Nidzam al-Mulk, akhirnya ia sempat juga menjabat sebagai menteri pada Kerajaan Saljuk. Di tempat itulah, al-Ghazali mencapai kesuksesan besar. Sementara pertama kali ia menginjakkan kakinya di tempat tersebut, ia langsung mencoba untuk mengikuti perdebatan dengan sekumpulan ulama. Dengan kecerdasan yang dimiliki, akhirnya ia memenangkan perdebatan tersebut. Sejak itu nama Imam al-Ghazali menjadi sorotan masyarakat dan publik akademisi. Sebagai orang baru, ia pun sangat dikagumi banyak orang. Karena kejadian itu, Menteri Nidzam al-Mulk mengakui kecerdasan yang dimiliki al-Ghazali. Bahkan, ia juga memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi pengajar di perguruan tinggi bergengsi di kota Baghdad itu. Pada saat menjadi guru besar, ia pun meluangkan waktunya untuk menulis. Sementara beberapa karya besarnya, seperti “al-Basith, al-Wasith, al-Wajiz”, dan lain sebagainya. Akhirnya, hari demi hari, bahwa kesuksesan besar telah ia genggamnya. Bahkan, reputasinya kian hari, kian harum di kalangan masyarakat.

  1. Benarah Kesuksesan Menyebabkannya Bingung Dan Terserang Penyakit?

Di mata orang lain, kesuksesan besar yang telah dicapai oleh Imam al-Ghazali adalah tahap terakhir dalam perjalanannya menuntut ilmu. Bahkan, dalam segi materi pun saat itu ia selalu berada dalam kecukupan. Namun, tidak dengan Imam al-Ghazali. Ia merasa bahwa kesuksesan dan kehormatan yang telah dicapainya itu, justru menjadikannya semakin terjerumus ke dalam kebingungan yang terus menyelimuti alam pikirannya. Karena hal itulah, ia merasa kehidupannya menjadi terkurung dan tersiksa dalam lingkaran kebingungan demi kebingungan, alias terjebak pada “Festival Kebingungan”. Saat itu, Imam al-Ghazali konon katanya mendadak terserang penyakit aneh. Sementara dokter di berbagai wilayah sudah angkat tangan karena tidak dapat mengobatinya. Imam Al-Ghazali pun mengakui bahwa penyakitnya itu tidak bisa disembuhkan dengan berbagai jenis obat-obatan. Namun, hanya dirinya sendirilah yang mampu menyembuhkan penyakit tersebut.

  1. Mengasingkan Diri Dan Mempelajari Banyak Ilmu

Singkat cerita, akhirnya Imam al-Ghazali meninggalkan seluruh kemegahan hidup dan kesuksesan besar yang ia telah diperolehnya di Baghdad. Ia mengasingkan diri (ujlah) untuk menemukan jawaban-jawaban dari pikiran yang selalu menyelimutinya. Ia selalu bertanya, cara apa yang bisa ditempuh untuk mencapai pengetahuan sejati? Ia menjadi lebih tekun lagi mempelajari ilmu-ilmu yang lain, hal itu demi mendapatkan kebenaran-kebenaran yang lebih sejati. Beralihlah al-Ghazali, dari ketekunan awalnya, yaitu dari dimensi ilmu kalam (teologi) menjadi ilmu filsafat. Dengan menonjolkan pada aspek rasional dalam ilmu filsafat, ia mendapatkan sedikit titik pencerahan dari pertanyaan yang selama itu mengacaukannya. Al-Ghazali mengakui bahwa berbagai ilmu yang telah dipelajari selama ini belumlah menjadi obat dari penyakitnya. Pada akhirnya, ia memilih jalan untuk menekuni ilmu tasawuf. Ia melihat bahwa ilmu tasawuf itu terdiri dari unsur perasaan yang lebih banyak daripada unsur pengetahuan.

Di situlah ia mendapatkan suatu kepercayaan bahwa dengan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi yang selama ini ia jalani, dan lari (ujlah dan kemudian terus taqorrub) menuju jalan Allah saja, itulah yang bisa mengobati kerisauannya. Lalu, Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa tasawuf adalah jalan para sufi untuk menempuh jalan kepada Allah SWT, dan perjalanan hidup merekalah yang paling salik dan baik. Jalan merekalah yang paling benar, dan moral merekalah yang paling bersih. Hal itu disebabkan ajaran-ajaran pada tasawuf bukan hanya sekadar teori dan rumus-rumus belaka, melainkan praktik dan pengamalannya. Menurut Imam al-Ghazali, langkah utama untuk menyelami ajaran tasawuf adalah dengan cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, seperti kesombongan, keterikatan pada masalah dunia, dan sekumpulan kebiasaan tercela, serta senantiasa mengingat Tuhan (taworrub ilallah) secara terus-menerus. Dengan pendekstan itulah, kebenaran hakiki akan terus tersingkap dengan sebenarnya.

III. Dalam Konteks Saat Ini, Pentingnya Menyeimbangkan Tiga Kecerdasan Diri (Intellegent, Emotional, dan Spiritual Quotient)

Di sub judul bagian atas, penulis telah mengungkapka protototif dari sosok Imam Al-Ghazi, yakni sang sufi agung dan sekaligus sang Hujjatul Islam. Namun dalam sub judul bagian ini, penulis juga akan mencoba mengungkapkan kerinduan dan sekaligus juga memerlukan tipologi Al-Ghazali, Al-Ghazali “kekinian” dan “kemodernan” terutama bagi pembelajar dan bagi kalangan generasi muda kita saat ini. Tapi bagainapun konflikitit dan hedonistiknya zaman yang terjadi saat ini, bahwa secara kudroti manusia saat ini juga dianggap sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Dengan karunia Tuhan, maka manusia (di era milenial saat ini juga) tetap diberikan kemampuan untuk memperoleh pengetahuan yang sangat berguna bagi kemaslahatan mereka di dunia, dan mudah-mudahan muncul kembali al-Ghazali, al-Ghazali di era milenial saat ini. Dalam pandangan tersebut, manusia (termasuk generasi milenial saat ini) tetap saja di dalam terminologi al-qur’an, adalah memiliki predikat “sebaik-baik ciptaan” yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Keistimewaan itu disebabkan oleh kehadiran akal, yaitu sebuah aspek penting yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Kemampuan berpikir rasional yang dimiliki manusia memungkinkan mereka untuk memahami, merenung, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan. Ini memungkinkan manusia untuk merencanakan, memecahkan masalah, dan berkembang dalam berbagai bidang. Sebagai hasil dari potensi otak yang ada di internal individu setiap manusia, maka manusia memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkannya secara maksimal.

Sementara mengoptimalkan potensi otak dan akal merupakan suatu kewajiban bagi manusia. Dengan mengembangkan pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis, manusia dapat menghadapi berbagai tantangan dan peluang dalam hidup. Hal itu memungkinkan mereka untuk mencapai tingkat kesempurnaan yang diharapkan sebagai hamba Tuhan. Prestasi dan pencapaian manusia dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, seni, teknologi, dan moral, adalah manifestasi dari upaya mereka untuk mengaktualisasikan potensi yang diberikan oleh Allah. Dengan menghargai dan memanfaatkan akal yang diberikan, maka manusia dapat mengarahkan diri mereka menuju pencapaian yang lebih tinggi dan kemajuan bagi diri mereka sendiri dan masyarakat. Oleh karena itu, mengenali dan menghargai keistimewaan akal adalah salah satu cara untuk mewujudkan potensi manusia sebagai makhluk yang diutus di dunia ini (khalifah fil ard). Tak hanya itu saja, ternyata Allah SWT juga telah mengkaruniakan kepada manusia tiga bentuk kecerdasan baku yaitu Intelligent Quotient (IQ), Emosional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Tapi tahukah kita apa itu yang dimaksud dengan IQ, EQ, dan SQ?

Sedangkan IQ atau intelligence quotient merujuk pada kecerdasan intelektual atau yang biasa disebut dengan kecerdasan otak. Individu dengan IQ yang tinggi umumnya memiliki kemampuan berpikir logis yang baik, mampu mengolah informasi visual dan spasial dengan efektif, dan memiliki daya ingat yang kuat. Selama hampir satu abad, pandangan global telah menganggap bahwa IQ adalah faktor penentu utama kesuksesan seseorang. Sebagai akibatnya, berbagai ujian masuk ke institusi pendidikan, universitas, dan dunia kerja selalu melibatkan pengukuran IQ. Bahkan, berdasarkan beberapa penelitian, IQ hanya memiliki peran sekitar 5%-20% dalam membantu seseorang mencapai kesuksesan. Bahkan, menurut Institut Teknologi Carnegie di Amerika Serikat, dari 10 ribu individu yang sukses, hanya 15% yang berhasil berkat kemampuan intelektual (IQ), sedangkan 85% berhasil karena faktor kepribadian (EQ). Jadi, apakah kita yakin hanya mengandalkan IQ saja? Dan Eits, EQ Apaan Lagi? EQ atau kecerdasan emosional adalah kemampuan individu dalam mengenali, mengatur, dan menilai emosinya sendiri. Lebih dari sekadar mengenali emosi diri, individu yang memiliki EQ yang tinggi juga memiliki kemampuan untuk memahami perasaan orang lain. Selain itu, mereka mampu mengantisipasi dampak emosi yang mereka miliki pada orang di sekitar mereka.

Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, bahwa IQ hanya berperan 20% saja dalam menentukan kesuksesan seseorang. Berarti sisanya ditentukan oleh kecerdasan lainnya ya salah satu nya kecerdasan EQ ini. Bagaimana karakteristik individu dengan kecerdasan emosional yang baik? Orang-orang dengan kecerdasan emosional yang berkembang memiliki ciri-ciri seperti mampu memotivasi diri sendiri dan orang lain. Kemudian memiliki kemampuan dalam menghadapi situasi frustrasi. Mampu mengendalikan impuls emosional.

Tidak mudah terjebak dalam stres yang dapat menghambat kemampuan berpikir, dan memiliki keterampilan sosial yang baik seperti kemampuan bergaul dan memiliki keterampilan sosial yang baik seperti kemampuan bergaul dan empati terhadap orang lain. Apakah cukup hanya dengan IQ dan EQ saja? Tentu tidak. Ada kecerdasan yang diberi nama SQ, “so what is SQ”?
SQ atau spiritual quotient merujuk pada kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini melibatkan pemanfaatan wawasan spiritual dalam menghadapi tantangan sehari-hari dan meraih tujuan hidup. Individu dengan SQ yang tinggi memiliki pemahaman yang mendalam mengenai nilai-nilai, makna, dan tujuan hidup mereka. Elemen ketiga ini digunakan sebagai landasan untuk menggali potensi diri dan meraih pertumbuhan spiritual. Saat individu berhasil mencapai kesuksesan melalui kombinasi IQ dan EQ, terkadang mereka merasakan kekosongan walaupun tujuan-tujuan mereka telah terpenuhi. Inilah mengapa SQ (Spiritual Quotient) menjadi penting sebagai pelengkap IQ dan EQ. Kecerdasan spiritual menjadi dasar yang esensial untuk memungkinkan IQ dan EQ berfungsi dengan optimal. SQ juga dianggap penting untuk merubah IQ dan EQ menjadi kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih dalam. Setelah kita mengetahui terkait tiga kecerdasan diatas, sekarang pertanyaannya adalah apakah kita harus menyeimbangkan ketiga kecerdasan tersebut? Ketika berbicara mengenai EQ, IQ, dan SQ, tidaklah tepat untuk hanya menekankan pentingnya salah satu jenis kecerdasan. Ketiga aspek kecerdasan tersebut memiliki nilai yang sama pentingnya. Keberadaan satu jenis kecerdasan tidak bisa menggantikan yang lainnya. Sebaliknya, keseimbangan antara ketiganya sangatlah penting.

Bayangkan saja jika seseorang hanya terfokus pada kecerdasan IQ tanpa memperdulikan kecerdasan EQ dan SQ. Mungkin ia dapat dikatakan sebagai orang yang cerdas otaknya, segala bentuk kejuaraan ia raih mulai dari juara kelas, olimpiade, bahkan berbagai macam perlombaan lainnya. Tetapi percuma saja jika perkataan ataupun perbuatannya masih sering menyakiti perasaan orang lain. Mungkin dia dapat dikatakan cerdas secara intelligent tetapi tidak emosionalnya. Lalu bagaimana dengan mereka yang dari sisi intelligent dan emosionalnya sudah baik, namun lemah secara spiritualnya. IQ nya diatas rata-rata orang pada umumnya, ia pun mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Memiliki sikap empati dan suka menolong serta mampu merasakan perasaan yang dialami orang disekitarnya. Namun, ia tidak merasakan kebahagian. Mereka tidak tahu siapa jati diri dan tujuan hidup mereka. Jabatan, kekayaan, popularitas semuanya mereka dapatkan namun mereka tidak juga merasakan kebahagian. Mereka sibuk kesana kemari mencari kebahagian, bahkan hingga sebagian dari mereka melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Itulah alasan mengapa sangat penting bagi kita untuk menyeimbangkan Ketika kecerdasan yang telah Allah SWT anugrahi kepada masing-masing dari kita. Baik itu kecerdasan intelligent, kecerdasan emosional, atapun kecerdasan spiritual. Yang mana tujuannya adalah agar kita mampu menjadi manusia yang bahagia secara hakiki.

Ingat! Kebahagian itu bukan ketika mimpi kita didunia tercapai, bukan tentang kekayaan, jabatan, ataupun hal-hal yang bersifat duniawi lainnya. Melainkan kebahagian itu ialah Ketika kita mampu menggapai bintang yang ada didalam hati kita sendiri. Bahagia itu adalah ketika kita mengenal siapa diri kita, siapa tuhan kita, dan tahu hendak kemana kita akan menuju. Bahagia itu adalah ketika kita sudah merasa cukup dengan kehadiran Allah di hati kita. Walau demikian, memang ada individu yang cenderung memiliki keunggulan dalam satu jenis kecerdasan dibandingkan yang lain. Hal itu adalah hal yang normal dan tidak perlu dirasa sebagai sesuatu yang mengecewakan. Namun, yang terpenting adalah tetap mengakui nilai dari jenis kecerdasan lain yang mungkin kurang dikuasai. Janganlah mengabaikan aspek kecerdasan lain yang masih perlu dikembangkan. Kita sebagai manusia tetap harus mengasah dan mengoptimalkan kecerdasan-kecerdasan yang telah diberikan oleh Allah SWT tersebut. Teruslah berlatih dan berdoa kepada Allah SWT, dan minta agar dimudahkan dalam proses memaksimalkan kecerdasan tersebut. Mari kita sama-sama untuk menjadi manusia yang cerdas secara intelligent, emosional, dan spiritual.

IV. Islam : Spiritual, Intelektual, Dan Profesional

Bagi kita umat Islam, ada kalimat yang terkesan sangat sakral dan seringkali pula suka mengejutkan, yakni ketika kita mendengar berita kematian, atau mendengar informasi ada orang yang wafat (mati). Dan kita kerapkali suka refleks untuk mengucapkan, “Innalillahi, wainna ilaihi roji’un”. Oleh karena itu, sebagai bagian dari refleksi diri, bahwa sepintar apa-pun kita, sedigjaya apa-pun kita di dunia ini, maka nila-nilai keimanan (spiritual) sangat penting. Bahkan, dalam terminologi ajaran dan prinsip Islam, yaitu sebelum kita bicara soal ilmu (intelektual) dan amal (profesional), maka kualitas keimanan yang harus tetap didahulukan. Itulah sebabanya Imam al-Ghazali mewanti-wanti kepada kita semua, bahwa ilmu tanpa iman bagaikan batang tanpa akar dan ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Oleh karena itu, sebuah pohon tidak bisa berbatang dan berbuah kalau dia tak berakar, dari mana sebuah pohon bisa tumbuh dan berkembang. Islam meletakkan landasan nilai-nilai hakikinya melalui konsep spiritual, intelektual, dan profesional dalam satu tarikan nafas, satu kenyataan tak terpisahkan. Maka tidak heran ketika Islam hadir sebagai agama, ia amat menghargai prinsip ilmu dan amal, tetapi iman diletakkan sebagai fondasi ilmu dan amal. Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban agama yang harus ditunaikan oleh setiap umatnya, lelaki maupun perempuan. Ilmu Pengetahuan merupakan prasyarat utama untuk dapat melaksanakan ajaran agama dengan baik dan sempurna. Bahkan ilmu pengetahuan merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

A. Prinsip Spiritualisme

Nabi Saw dalam sebuah peringatannya menegaskan bahwa ilmu itu tidak akan mendekatkan seseorang pada takwa, malah acapkali ilmu menjauhkan orang itu dari takwa, karena perasaan sombong, besar kepala, dan tinggi hati. Di sinilah mengapa al- Qur’an pun menyebut sikap lainnya, yakni sikap keberhasilan (profesionalisme) yang dicapai oleh manusia, tanpa dilandasi sikap spiritual, malah paling sering membawa manusia jatuh ke dalam sikap kufur kepada Allah. Sebab, orang itu merasa bahwa apa yang dicapainya dalam hidup tidak lebih dari hasil kepandaiannya (profesionalisme pribadinya) bukan karena izin dan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa. Maka, apa pun yang kita lakukan dalam hidup, sejak dari bangun tidur sampai tidur lagi, haruslah dimaknai sebagai berkat izin dan berkenan Allah, bukan karena semata-mata kemampuan pribadi manusia itu sendiri. Ilmu yang kita miliki dan amal yang kita sampaikan, semua itu adalah nikmat pemberian Allah, bukan semata atas usaha dan kerja keras manusia. Dengan mengatakan ini maka sejatinya seseorang sedang menyandarkan diri kepada Allah, percaya dan meyakini bahwa hanya Allah yang mampu menuangkan kemampuan intelektual maupun profesional kepada diri manusia. Setinggi apa pun pencapaian manusia, Allah mengatakan kamu tidak akan sampai setinggi gunung, dan sehebat apa pun keahlianmu merekayasa bumi, kamu pun tidak akan sanggup menembus bumi.

Ungkapan itu, tentunya mengisyaratkan kita bahwa manusia sejatinya lemah tiada berdaya, Allah-lah yang menganugerahkan kepadanya kemampuan dan keahlian itu. Maka hanya kepada Allah sajalah kemampuan itu diabdikan. Melalui sikap spiritual yang tinggi seperti itulah manusia menemukan dirinya sebagai insan akal budi yang tahu menghargai anugerah-Nya. Pencapaian kualitas spiritual setiap insan sudah pasti berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Perbedaan itu disebabkan oleh banyak faktor, tetapi faktor terpenting adalah seperti diisyaratkan dalam sebuah hadits latar belakang keluarga, pendidikan, dan masyarakat yang membesarkannya. Ketiga faktor itulah paling pertama dan utama dalam membentuk perilaku spiritual seseorang. Penghayatan terhadap aspek spiritual yang kokoh akan membentuk perilaku intelektual dan profesional yang kokoh pula. Selanjutnya, setiap capaian dibidang intelektual maupun profesional, selalu dimakna sebagai upaya untuk mencari dan menemukan Tuhan dalam visi spiritualnya.

Tuhan dalam visi spiritual adalah yang tak terjangkau oleh nalar manusia tetapi selalu ada bersamanya, selalu hadir dalam karya-karya intelektual dan kerja-kerja profesionalnya. Tuhan dalam konteks inilah memberikan jaminan moral bahwa seseorang selalu dalam bimbingan Tuhan di saat orang itu berkarya dan berprestasi, apapun karya dan prestasinya. Dalam banyak kegagalan manusia, ketika seseorang itu mencapai satu saja keberhasilannya, bukankah menjadi kebiasaan manusia, melupakan seluruh kegagalannya sambil mengenang dengan penuh kagum satu keberhasilan yang dicapainya? Apakah maknanya itu bagi kita? Ternyata, secara spiritual, alam bawa sadar kita lebih suka menghargai satu keberuntungan besar yang kita peroleh tetapi lupa dengan keberuntungan kecil yang lebih sering kita dapatkan, malah kita tidak menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan melainkan sebagai sesuatu yang harus ada, kalau bukan kegagalan. Kita mengabaikannya tanpa sikap syukur. Contoh kecil misalnya, tak urung juga masih ada (oknum) para santri saat ini yang kebetulan sedang berada di pondok gratis: makan, asrama, uang sekolah, uang gedung, dan seragam, dll, toh lebih suka menghargai seorang penyumbang besar tetapi hanya sekali daripada menghargai kyai yang saban hari (memberi ilmu, merawat, dan memberi makan dia sehari-hari).

B. Prinsip Intelektualisme

Di dalam salah satu hadisnya, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan hidup di dunia, maka hendaklah ia mempelajari ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan hidup di akhirat, maka hendaklah ia mempelajari ilmu. Dan barang siapa yang mengingikan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat secara bersamaan, maka hendaklah ia mempelajari ilmu.” Hadis tersebut menggambarkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam hidup dan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pulalah, maka dalam hadis lain, Nabi bersabda, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat.” Menuntut ilmu pengetahuan, harus dilakukan sepanjang masa, sepanjang hayat di kandung badan. Menuntut ilmu, selain tidak mengenal waktu, juga tidak mengenal tempat, sampai-sampai Nabi Saw menegaskan, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Konsep Islam tentang menuntut ilmu ini, jauh melampaui konsepsi masyarakat modern tentang “long life education” (belajar seumur hidup). Sementara tekanan hadist Nabi Saw, yakni untuk menuntut ilmu ke negeri Cina saat itu, agar umat Islam ketika itu bisa menguasain dibidang sains dan teknologi. Karena, teknologi di negeri Cina dan Jerman saat itu, sudah jauh lebih maju ketimbang teknologi di internal umat Islam, yakni di priode awal Islam itu (zaman Rasulullah Saw). Bahkan, di dalam al-Qur’an Allah Swt menjanjikan, akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat dari orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan.

Hal itu dibuktikan dari kisah penciptaan Adam as, yang akan menjadikannya sebagai Khalifah Allah di muka bumi (khalifah fil ard). Para Malaikat protes, kenapa Adam yang dijadikan khalifah? Lalu Allah swt menguji Malaikat dengan Adam tentang ilmu pengetahuan, akhirnya Adam as yang menang dan Malaikat mengaku kalah. Hal itu menunjukkan, bahwa kehebatan dan kelebihan antara Adam (manusia) dibandingkan dengan Malaikat adalah pada penguasaan akan ilmu pengetahuan. Ayat pertama dalam al-qur’an mengandung perintah membaca untuk mencerdaskan diri dengan membaca. Membaca dengan mata, membaca dengan pikiran, membaca dengan hati. Perintah untuk mencerdaskan diri melalui iman, ilmu dan amal. Iqra (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca? Ma Aqraa? Tanya Nabi, dalam suatu riwayat, Setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh Malaikat Jibril. Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut didahului dengan sikap bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu). Suatu hal yang sangat menarik adalah penggunaan ungkapan semantik ayat itu pada kata “iqra” (bacalah!). Perintah membaca itu terulang beberapa kali dalam ayat yang sama.

Hal itu memberikan isyarat kepada kita bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali dengan mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal, tetapi sekaligus juga mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbika (dengan menyebut nama Allah sebagai Tuhan kamu) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun teks yang dibaca hanyalah itu-itu juga. Mengulang-ulang membaca alam raya, akan mambuka tabir rahasia alam semesta, menambah perkembangan ilmu pengetahuan dan bahkan menambah kesejahteraan umat manusia. Membaca alam raya yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu kala dengan yang dilakukan oleh orang-orang zaman modern, yang dibaca tetaplah alam raya yang itu-itu juga, tetapi hasil dari pembacaan itu mengalami perubahan dan perkem- bangan yang luar biasa dahsyat sebagaimana yang kita saksikan di zaman modern ini.

Untuk mengaplikasikan perintah membaca itu dalam hidup dan kehidupan sehari-hari umat Islam, Rasulullah SAW mengambil langkah-langkah taktis dan strategis dengan memerintahkan para pengikutnya belajar baca tulis. Aisyah, istri Rasulullah sendiri, ikut belajar baca tulis. Zaid bin Tsabit, anak angkat Muhammad saw, dikursuskan untuk belajar tulisan Ibrani dan Suryani. Budak belian yang berhasil mengajari baca tulis 10 orang Muslim, dimerdekakan secara otomatis. Bahkan, tawanan perang yang berhasil mengajari umat Islam akan baca tulis, dibebaskan dari tawanan. Revolusi besar-besaran yang dilakukan oleh Rasulullah saw ini, diikuti secara sistemik pula oleh para sahabat dan generasi sesudahnya. Pada akhirnya, dunia imu pengetahuan menjadi tradisi dan budaya bagi setiap umat Islam. Tidak heran, jika ilmu pengetahuan Yunani Kuno, dapat ditransformasikan umat Islam ke dalam ilmu pengetahuan Islam, yang kemudian menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan internasional, ketika dunia Barat dan Eropa masih berada dalam abad kegelapan.

C. Prinsip Profesionalisme

Suatu ketika, Imam Syafii sakit, dan diperiksa oleh seorang dokter. Setelah ia didiagnosis, sang dokter memberinya obat untuk diminum. Tak lama setelah Imam Syafii meminum obat, kondisi badannya terasa segar dan kesehatannya mulai pulih. Sang Imam terkagum-kagum pada dokter. Lalu ia bertanya, “Wahai dokter, apakah Anda seorang Muslim?”
“Bukan, saya non-Muslim,” jawab sang dokter dengan santun dan tenang. Mendengar jawaban dokter itu, Imam Syafii menangis, air matanya meleleh. Maka, ia pun mengeluarkan fatwa, “Belajar ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat untuk umat manusia hukumnya adalah fardhu kifayah, sedangkan belajar ilmu agama hukumnya fardhu ain.” Al-Quran adalah sumber energi luar biasa. Al-Quran, apabila dapat dimanfaatkan oleh umat Islam, maka akan sanggup menghasilkan energi luar biasa yang bisa mengubah peradaban umat manusia. Al-Quran yang selalu dibaca umat Islam tidak pernah mengalami perubahan, tetapi sebaliknya dunia mengalami perubahan akibat al-Quran. Zaman Jahiliyah (di Jazirah Arab) berubah menjadi zaman modern, memberi pengaruh luar biasa kepada Turki dan Spanyol di belahan Barat maupun India dan China di belahan Timur.

Oleh karena itulah sangat tepat pernyataan yang menyatakan bahwa sesungguhnya kemajuan yang dicapai oleh Dunia Barat saat ini tidak terlepas dari andil Dunia Islam yang bersumber dari al-Quran. Sebab para pemikir Dunia Barat sebelumnya banyak belajar dari Dunia Islam, bahkan mengangkut buku-buku yang ada di Dunia Islam untuk dipelajari di Dunia Barat. Sejarah mencatat, dengan berpedoman pada al-Qur’an, para ilmuwan Muslim, bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan agama an sich, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan umum. Sebahagian di antara mereka adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Iran, 252 H/866 M-321 H/932 M), ahli kedokteran. Abu Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina yang popular dengan nama Ibnu Sina atau Abessaina (Uzbekistan, 370 H/980 M-428 H/1037 M), ahli kedokteran, filsafat, logika, dan pshikologi. Abdurrahman bin Muhammad yang populer dengan nama Ibnu Khaldun (Tunisia, 732 H/1332 M-808 H/1406 M), ahli sosiologi. Muhammad bin Ahmad al-Biruni (Uzbekistan, 362 H/ 973 M-440 H/1048 M), ahli matematika, kimia, astronomi, geografi, dan lain-lain.

Seperti telah disinggung di bagian atas, tradisi menuntut ilmu pengetahuan adalah tradisi tua bagi umat Islam, sesua risalah islamiyah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Namun demikian, bagi umat Islam ilmu pengetahuan tidak boleh bergerak bebas sesuai dengan keinginan pemiliknya, tetapi harus dikontrol oleh keimanan. Menuntut ilmu boleh setinggi langit, bahkan Nabi menyuruhnya sampai ke negeri China dan menuntut ilmu semenjak buaian sampai dengan liang lahat. Akan tetapi, iman mesti tetap dijaga, sebab iman adalah kontrol atas ketinggian ilmu dan kemampuan profesional seseorang.

Karena, kemajuan ilmu tanpa adanya kontrol iman, maka akan menyebabkan ilmu pengetahuan bebas bergerak, dan bahkan bisa menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Dengan adanya iman (spiritualisme) yang kuat, maka ilmu pengetahuan (intelektualisme) yang tinggi, dan amal saleh (profesionalisme) yang terkontrol, hal itu mendekatkan manusia pada derajat takwa. Melalui keteguhan spiritual, kemudian diperkokoh oleh kekuatan intelektual, akan melahirkan sikap profesional yang tinggi. Sikap terakhir inilah akan mendorong seseorang untuk melakukan amal saleh (`amilu al-shalihat) untuk kemanusiaan dengan ikhlas, yakni semata-mata mencari ridla Allah.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *