Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Peradaban dan keadaban masyarakat Banten sangat dipengaruhi oleh sejarahnya, yakni sebagai pusat perdagangan maritim yang strategis (terutama ketika di abad ke 16 -17 M), dan pusat penyebaran agama Islam di Nusantara. Hal itu menciptakan asimilasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam yang kuat, serta adanya masyarakat adat (Baduy) yang masih teguh untuk memegang tradisi leluhur mereka. Masyarakat Banten juga secara “tipologi” memang punya karakteristik dalam soal religiusitas yang tinggi. Bahkan hingga saat ini mayoritas masyarakat Banten dikenal sangat religius dengan corak keislaman yang kental dan moderat. Lebih dari itu, banyak aspek seni dan budaya Banten yang dipadukan atau diwarnai dengan ajaran agama Islam, seperti arsitektur Masjid dan berbagai tradisi keagamaan lainnya.

Sedangkan dalam konteks keberagaman dan toleransi kultural, meskipun didominasi oleh budaya Islam, tapi Banten juga memiliki masyarakat adat seperti Suku Baduy yang hidup berdampingan dengan alam dan menjaga tradisi Sunda Wiwitan mereka. Dengan kata lain, keberagaman dan inklusifitas yang terjadi di Banten, pada akhirnya menciptakan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi kultural dan persatuan. Lebih dari itu, masyarakat Banten juga punya karakter kuat dan dinamis. Karena, masyarakat Banten dikenal memiliki karakter yang kuat, singer (cerdas), mudah bergaul, dan dalam beberapa stereotip, cenderung agresif atau pemberontak (seperti terlihat dalam sejarah perjuangan ketika melawan kaum penjajah). Mereka juga responsif terhadap perubahan zaman, namun tetap berupaya untuk menjaga keberlanjutan budaya mereka. Sedangkan warisan budaya dan keadaban (warisan budaya Banten) mencakup peninggalan sejarah dari masa Kesultanan Banten dan tradisi lisan yang masih dilestarikan hingga saat ini, diantaranya :

(1). Situs Sejarah Islam.
Peninggalan fisik seperti Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Benteng Speelwijk menjadi saksi bisu kejayaan peradaban Banten di masa lalu sebagai kerajaan Islam yang kuat. (2). Seni Tradisional. Keberadaan seni teadisional seperti keberadasn kesenian Debus, yang erat kaitannya dengan penyebaran Islam dan menunjukkan kekebalan terhadap benda tajam, merupakan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang Banten. Tarian tradisional seperti Tari Topeng Klana dan Tari Jaipongan juga merupakan bagian dari kekayaan budaya Banten.

(3). Adat Istiadat. Keberadaan masyarakat Baduy (Badui Dalam dan Badui Luar) di Pegunungan Kendeng, hingga saat ini masih mempertahankan pola hidup berdasarkan adat dan tradisi leluhur, menolak banyak aspek modernitas untuk menjaga kelestarian lingkungan dan budaya mereka. Sementara tradisi lain yang masih lestari termasuk upacara pasca panen Seren Taun, terutama yang ada di Banten Selatan. (4). Kearifan Lokal. Yaitu, berbagai tradisi unik dan kearifan lokal terus dilestarikan dan dikembangkan dalam beragam kreasi dan inovasi untuk kepentingan pendidikan, sosial, dan ekonomi masyarakat, serta untuk memupuk rasa bangga terhadap warisan budaya. Secara keseluruhan, peradaban dan keadaban masyarakat Banten adalah hasil dari proses perpaduan harmonis antara nilai-nilai luhur budaya lokal, pengaruh kuat ajaran agama Islam, dan semangat untuk menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi yang semakin masif dan permisif saat ini.

II. Sejarah Dan Kebudayaan Banten Dari Masa ke Masa

Secara historis Banten dikenal karena di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan Islam. Namun sebetulnya jauh sebelum berdiri kerajaan Islam, Banten sudah memiliki kebudayaan yang cukup melimpah. Investarisasi dan penelitian peninggalan purbakala yang dimulai sejak abad ke-19 M, di daerah Banten, telah membuktikan akan hal tersebut. J.W.G.J Prive misalnya, yakni seorang kontrolir Belanda pada tahun 1896, ia telah melaporkan adanya temuan bangunan kuno di dekat Desa Citorek, Bayah, yang kemudian dikenal sebagai bangunan punden berundak “Lebak Sibedug”.(Van Der Hoop, 1932 : 63 – 64). Kemudian dalam bukunya “Rapporten van der Oudheikundingen Dienst in Nederlansch Indie” tahun 1914 M, menyatakan bahwa di seputar Kabupaten Pandeglang ada peninggalan arkeologi berupa arca nenek moyang, beberapa kapak batu dari hasil penggalian arkeolog di pamarayan (Kolelet) dan patung tipe Polinesia di Tenjo “Sanghyang Dengdek”. (Djanenuderadjat, 2001 : 2). Pendirian monumen-monumen Megalitikum dengan beragam bentuknya seperti Punden Berundak, arca, menhir, dolmen, dan batu bergores turut memperkaya budaya dan tradisi masyarakat Banten pada masa lalu. Tradisi megalitik itu mulai ada di sekitar 4500 Tahun, yakni ketika manusia mulai hidup menetap dengan mata pencaharian bercocok tanam dan beternak. Sampai hari ini tradisi megalitik tersebut oleh sebagian masyarakat adat masih ditaati dan dipatuhi secara konsisten dan berkesinambungan. Kebudayaan Banten kemudian semakin berkembang setelah bersentuhan dengan kebudayaan luar. Sementara pengaruh budaya luar itu datang dari India yang membawa agama Hindu dan Budha.

Disamping membawa pengaruh agama Hindu dan Budha, bahwa masuknya pengaruh India juga berdampak pada sistem sosial dan pemerintahan di Nusantara, hal itu ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buda. Misalnya, kerajaan Salakanagara (berdiri di sekitar abad 3 M, kemudian disusul oleh kerajaan Tarumanegara, kemudian disusul oleh kerajaan Pajajaran), dan endingnya muncu-lah kesultanan Banten, yang berdiri di akhir abad ke 15 M dan di awal abad ke 16 M. Sementara masuknya pengaruh Islam, yakni melalui infiltrasi kesultanan Islam Banten, akhirnya berdampak pada mundurnya pengaruh Hindu-Budha di Banten. Kerajaan Banten Girang berada dibawah penguasa Islam yang kemudian mendirikan kerajaan di sekitar Teluk Banten. Sedangkan pusat kotanya dikenal dengan nama Surosowan, yang kini disebut Banten Lama. Dengan kata lain, kerajaan Islam Banten ada (berdiri) sejak awal abad ke-16 M sampai abad ke-19 M. Kemudian secara historis, kota Banten Lama yang terletak 10 Kilo Meter dari Kota Serang, sejak zaman dulu sudah sangat ramai dikunjungi oleh kapal dan pedagang asing (masyarakat dunia) seperti dari Arab, Portugis, Cina, Persia, Suriah, India, Turki, Jepang, Filipina, Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, serta Demark. Selain pedagang asing, para pedagang Nusantara seperti dari Maluku, Solor, Makassar, Sumbawa, Gresik, Juwana, dan Sumatera ikut berdagang di Banten Lama (terutama terkosentrasi di Pelabuhan Karangantu Banten).

Kini masa lalu kesultanan Banten, tinggal menyisakan bukti-bukti peninggalan berbentuk fisik atau fakta-fakta arkeologis. Bukti peninggalan itu antara lain berupa bekas kompleks Keraton Surosowan yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hassanudin, Mesjid Agung Banten, Kompleks makam Raja-raja Banten dan keluarganya, Mesjid Pecinan Tinggi, Kompleks Keraton Kaibon, Mesjid Koja, Benteng Speelwijk, Kelenteng Cina, Watu Gilang, Danau Tasikardi, dan Makam Sultan Kenari, Jembatan Rante serta banyak lagi yang lainnya.

Selain peninggalan berbentuk bangunan, peninggalan dari Banten Lama juga berupa keramik dari Cina, Jepang, Thailand, dan Eropa, serta berupa mata uang dan tembikar. Namun pada akhirnya, kerajaan Islam Banten yang berbentuk kesultanan juga mengalami kemunduran, yakni setelah masuknya pengaruh VOC (Vereniging Oost-Indie Compagnie) yaitu perkumpulan dagang Belanda di Indonesia (tahun 1602-1799) dan penjajahan kolonial Belanda. Belanda kemudian menghancurkan pusat kota kesultanan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Serang. Namun, kekuasaan Belanda-pun di Banten berakhir, yakni setelah mengalami kekalahan dari Jepang pada tahun 1942.

Dengan kata lain, Banten telah mengalami proses perjalanan sejarah dan budaya paling panjang, kini merupakan salah satu wilayah Provinsi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama dalam perjalanannya, Banten telah mewariskan berbagai peninggalan yang tak ternilai harganya. Yaitu, berupa kekayaan dari beragam pusaka budaya Banten yang tinggi nilainya itu, tentunya saat ini perlu dijunjung tinggi sebagai bukti perjalanan sejarah dan budaya yang dapat memberi sumbangan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah dan kebudayaan melalui penggalian nilai-nilai luhur yang tercermin di dalamnya. Disamping itu pula pusaka budaya tersebut dapat menjadi dasar dalam upaya memupuk kepribadian dan jati diri bangsa, terutama bagi warga masyarakat Banten.

III. Banten Antara Peninggalan Kerajaan Dan Keberadaan Masyarakat Adat

Sejarah budaya lokal Banten, menjadi salah satu topik menarik yang menggambarkan kekayaan tradisi dan nilai kehidupan masyarakat di wilayah paling Barat Pulau Jawa ini. Banten dikenal bukan hanya sebagai Provinsi dengan sejarah panjang, tetapi juga sebagai pusat budaya yang memadukan unsur Islam, tradisi Sunda, serta pengaruh kolonial. Dari masa kejayaan kesultanan Banten hingga era modern saat ini, budaya lokal terus hidup, berkembang, dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya. Sementara membahas Sejarah Budaya Lokal Banten, berarti kita mencoba menelusuri perjalanan panjang yang melibatkan nilai-nilai spiritual, adat istiadat, dan seni budaya Banten yang masih lestari hingga saat ini. Mengingat sampai saat ini, Banten memiliki tradisi yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti upacara adat, kesenian rakyat, serta filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun. Tak heran, Banten menjadi contoh nyata bagaimana budaya lokal mampu bertahan di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Bahkan, warisan budaya di Banten telah memperlihatkan betapa pentingnya hubungan antara manusia dan alam, hal itu sebagaimana ajaran atau pepakeum yang dipegang teguh oleh masyarakat Baduy (khususnya Baduy dalam). Lebih dari itu, banyak tradisi di Banten yang menekankan tentang keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual, seperti ritual adat dan bentuk kesenian tradisional. Keunikan itu menjadikan Banten bukan hanya daerah bersejarah, tetapi juga destinasi wisata budaya yang menarik bagi para peneliti dan para wisatawan.

A. Awal Mula Sejarah Dan Kebangkitan Budaya Banten

Dalam konteks sejarahnya, sebelum berdiri sebagai Provinsi di zaman modern (mulai tahun 2001), Banten merupakan wilayah dengan peradaban yang maju. Berdasarkan catatan sejarah, daerah ini pernah menjadi bagian dari kerajaan Salakanagara, Tarumanegara dan kerajaan Pajajaran, yakni sebelum akhirnya muncul Kesultanan Islam Banten pada awal abad ke-16 M. Kesultanan Banten menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara, dengan pelabuhan penting seperti Banten Lama (pelabuhan Karangantu-Banten) yang ramai dikunjungi pedagang dari Asia hingga Timur Tengah. Sedangkan kebangkitan budaya dimasa kesultanan Banten, hal itu ditandai oleh berkembangnya seni arsitektur Islam, seperti Masjid Agung Banten dengan menara mirip mercusuar. Selain itu, tradisi debus Banten menjadi simbol kekuatan spiritual dan ketahanan tubuh yang unik. Seni bela diri ini awalnya digunakan untuk melatih mental para prajurit agar memiliki keberanian luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, budaya Banten (termasuk seni debus) terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Nilai-nilai kesopanan, gotong royong, serta penghormatan terhadap leluhur masih tetap dijaga dan diajarkan kepada generasi muda.

B. Kesenian Tradisional Dan Nilai Filosofisnya

Kesenian merupakan bagian tak terpisahkan dari Sejarah Budaya Lokal Banten, karena hingga saat ini beragam kesenian tradisional seperti debus, pencak silat, terbang gede, dan rudat, memang merefleksikan perpaduan antara seni bela diri, musik, dan spiritualitas. Debus misalnya, bukan hanya atraksi fisik semata, tetapi juga ritual keagamaan yang menunjukkan kekuatan Iman seseorang. Di sisi lain, rudat adalah seni tari dan musik yang mengandung nilai dakwah Islam. Selain itu, terdapat pula angklung buhun, alat musik bambu khas Banten yang seringkali dimainkan dalam upacara adat. Kesenian tersebut menjadi simbol harmoni masyarakat dalam bekerja sama dan hidup berdampingan. Nilai-nilai seperti kesabaran, ketekunan, dan kerja sama, hal itu tercermin dalam cara memainkan musik tradisional tersebut. Tidak hanya itu, berbagai tradisi budaya Banten juga memiliki pesan moral yang mendalam. Misalnya dalam upacara seren taun, masyarakat mengucap syukur atas hasil panen dan berdoa agar kehidupan tahun berikutnya agar jauh lebih baik lagi. Semua bentuk kesenian dan ritual itu menggambarkan hubungan yang erat antara budaya dan kehidupan spiritual masyarakat Banten.

C. Warisan Adat Dan Tradisi Yang Masih Terjaga

Hingga saat ini, Banten masih mempertahankan berbagai warisan adat tradisional. Salah satunya adalah masyarakat adat Baduy di pedalaman Lebak, yang hidup dengan prinsip kesederhanaan dan menjaga keseimbangan alam. Mereka menolak teknologi modern dan hidup berdasarkan aturan adat yang ketat, menjadikan mereka simbol kelestarian budaya asli Nusantara. Selain masyarakat Baduy, ada pula berbagai tradisi lokal Banten seperti upacara Seba Baduy, dimana masyarakat adat berjalan kaki ke pusat pemerintahan, hal itu sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin. Tradisi itu tidak hanya menunjukkan loyalitas, tetapi juga menjadi pengingat, yakni betapa pentingnya hubungan antara rakyat dan pemerintah dalam konteks untuk menjaga keharmonisan. Sementara di daerah pesisir, terdapat tradisi Pesta Laut yang dilakukan nelayan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan ikan. Tradisi itu dipenuhi unsur budaya dan spiritual, diiringi dengan doa serta pertunjukan seni lokal seperti kuda lumping dan topeng Banten.

D. Pengaruh Agama Dan Akulturasi Budaya

Salah satu aspek penting dalam Sejarah Budaya Lokal Banten adalah pengaruh Islam yang kuat. Sementara proses penyebaran Islam di Banten dilakukan dengan cara yang damai melalui pendekatan budaya (proses akulturatif dan asimilatif). Para ulama dan para wali saat itu, mereka menyebarkan ajaran agama lewat seni, musik, dan cerita rakyat. Inilah yang membuat masyarakat Banten memiliki karakter religius sekaligus terbuka terhadap kebudayaan lain. Bentuk akulturasi budaya terlihat jelas pada arsitektur bangunan bersejarah seperti Masjid Agung Banten, yang memadukan unsur lokal, Hindu-Buddha, gaya Eropa dan Islam. Bahkan, pengaruh Tionghoa juga tampak dalam desain menara dan ukiran bangunan lama di Banten Lama. Proses percampuran itu menunjukkan bahwa budaya Banten tumbuh dalam lingkungan multikultural yang harmonis.

E. Banten di Era Modern Dan Proses Pelestarian Budaya Leluhur

Di era modern saat ini, tantangan pelestarian budaya semakin besar. Karena pada faktanya, budaya globalisasi membawa dampak positif sekaligus ancaman terhadap kelestarian nilai-nilai lokal. Namun, pemerintah dan masyarakat Banten seyogyanya saat ini untuk terus berupaya menjaga agar budaya lokal Banten tetap hidup. Oleh karena itu, berbagai festival budaya, seperti Festival Debus Banten dan Seba Baduy, seyogyanya harus menjadi cara efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada dunia. Bahkan, persekian persen, di kalangan generasi muda Banten saat ini juga mulai menunjukkan minat besar terhadap sejarah dan kebudayaan Banten. Banyak komunitas budaya bermunculan dengan tujuan untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan kembali warisan leluhur, yaitu melalui media digital. Dengan memanfaatkan teknologi, pelestarian budaya kini bisa menjangkau audiens yang lebih luas tanpa mengurangi nilai aslinya, dan termasuk artikel yang penulis unggah di medaos saat ini (fb-pro ini) merupakan ikhtiyar penulis untuk menjelaskan tentang karakteristik masyarakat Banten, bersama sejumlah warisan budaya dari nenek moyang Banten yang telah mewariskannya. Selain itu, pendidikan berbasis budaya, nampaknya saat ini juga mulai diterapkan di sekolah-sekolah di wilayah Banten, terutama melalui kurikulum lokal (Mulok), yakni siswa diajak untuk memahami sejarah daerahnya sendiri, termasuk nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi.

F. Berbagai Pertanyaan Tentang Sejarah Budaya Lokal Banten

Pertanyaan pertama, apa yang membuat budaya Banten ini unik dibanding daerah lain?
Budaya Banten menurut analisia penulis, memang memiliki perpaduan kuat antara nilai Islam, adat Sunda, dan pengaruh kolonial, menjadikannya unik dan beragam. Lalu, apakah tradisi masyarakat Baduy masih dipertahankan hingga kini? Ya, masyarakat Baduy hingga saat ini masih menjaga adat istiadat leluhur mereka dengan ketat dan menolak modernisasi untuk melindungi keseimbangan alam.

Lalu, apa kesenian khas Banten yang terkenal? Menurut tinjauan penulis adalah seni “debus” dan “rudat” adalah dua kesenian yang paling dikenal karena menggabungkan unsur spiritual, fisik, dan musik. Sementara seni bela diri (pencak silat) yang paling tertua di Banten adalah Pencak Silat Terumbu Banten, karena menurut hasil riset penulis, bahwa eksistensi aliran Pencak Silat Terumbu Banten, pada fakta perjalanan sejarahnya sudah ada di sekitar akhir abad ke 15 M. Sementara aliran pencak silat tersebut didirikan oleh salah seorang ulama dan sekaligus waliyullah yang datang dari Timur Tengah (Bagdad-Irak) bernama Syaikh Datul Khofi Al-Khofiyah bin Yunus, alias Syaikh Terumbu.

Oleh karena itu, nama perguruan Pencak Silat Terumbu Banten pada akhirnya disematkan atau dilakobkan kepada sang pencipta aliran pencak silat tersebut, yaitu kepada Syaikh Terumbu, yang nota bene nama alsinya adalah Syaikh Datul Khofi Al-Khofiayah bin Yunus. Bahkan menurut catatan sejarah, bahwa Syaikh Datul Khofi Al-Khofi’ah bin Yunus, alias Syaikh Terumbu, ia salah seorang ulama dan sekaligua waliyulloh yang datang dari Bagdad-Irak, dan ketika dimasa hidupnya, ia se-zaman dengan Syaikh Sunan Gunung Jati Cirebon (Syaikh Syarif Hidayatullah). Bahkan, Syaikh Terumbu menjadi patner utama dalam perjuangan dakwah dengan Syaikh Sunan Gunung Jati Cirebon. Mengingat, tujuan utama Syaikh Terumbu atau Syaikh Datul Khofi Sl-Khofiyah bin Yunus, ketia ia datang ke Banten, yaitu untuk melakukan dakwah, dan akhirnya dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Terumbu adalah dakwah yang bersifat bil-hal, yaitu pertama ia melakukan ijtihad diri, dan lalu menciptakan salah satu aliran pencak silat (Terumbu Banten), dan kemudian terus mengajarkan ilmu kanoragan atau ilmu belajar bela dirinya itu, atau ilmu silatnya itu kepada komunitas masyarakat pucuk umun, khususnya yang ada di sekitar wilayah Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, dan di sekitar wilayah Kampung Terumbu Banten saat ini. Dan akhirnya Syaikh Terumbu juga membungkus orientasi dakwahnya itu dengan sebutan melakukan “Silat dan Shalat”. Makanya sangat terkenal, khusnya di internal keluarga besar Pencak Silat Terumbu Banten, ada istilah atau ada sebutan “ia silat, ia shalat”.

Lalu, bagaimana cara masyarakat Banten-modern untuk melestarikan budaya nenek moyangnya, yakni budaya Banten? Tentunya secara masif dan regulatif, proses pelestarian budaya Banten, salah satu alternatifnya adalah melalui festival budaya, pendidikan berbasis tradisi, dan pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal. Lalu, apa pesan moral yang bisa diambil dari sejarah budaya Lokal Banten? Secara substantif, bahwa kehidupan yang harmonis dan seimbang hanya bisa tercapai dengan menghormati alam, memegang amanat leluhur, dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral-spiritual.

Dengan kata lain, sejarah budaya kokal Banten, bukan hanya catatan masa lalu, tetapi merupakan cermin kehidupan masyarakat yang kaya akan nilai-nilai moral dan spiritual. Bahkan, dari masa kesultanan hingga saat ini, budaya Banten terus hidup dan menyesuaikan diri dengan konteks zaman, namun tanpa kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu, menurut pandangan penulis, saat ini sudah barang tentu perlu dukungan semua pihak, hal itu demi melestarikan budaya leluhur Banten, baik kini mapun dimasa yang akan datang.

IV. Riset Secara Serius Dalam Upaya Inkubasi Berbagai Artefak Sejarah Banten

Rasanya tiap tahun juga penulis ikut berziarah ke makam keramat yang ada di kompleks Kesultanan Banten. Namun, di pertengahan tahun 2025 yang lalu, penulis menyempatkan diri untuk jalan-jalan, berziarah dan sekaligus melakukan riset di berbagai tempat yang diindikasin adanya fakta-fakta arkeologis tentang bukti peninggalan sejarah Banten, terutama di sekitar kawasan Banten Lama, dan wabil khusus di salah satu “Tentative List of UNESCO World Heritage Site” yang diajukan Indonesia sejak tahun 1995. Ketika penulis sampai dan berada di kawasan tersebut, penulis masih mengalami ketidak-puasan untuk terus melakukan riset dan riset, yakni di kawasan yang nota bene pernah menjadi destinasi para pengarung samudera dan penjelajah dunia di beberapa abad yang lalu itu.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana dunia akan mengetahui tentang mercusuarnya Banten saat ini, jika kita sendiri tidak merawat dan memelihara bukti-bukti peninggalan sejarah Banten yang adiluhung itu, dan bahkan tekesan kita (terutama bagi orang yang tidak open pada sejarah) cenderung untuk mengabaikan (tidak mau menata secara apik). Sementara berbagai destinasi wisata sejarah yang diindikasikan merupakan bagian dari fakta arkeologis (bukti peninggalan jarah berbentuk fisik). Sementara fakta arkeologis sejarah Banten tidak bisa ditutupi, karena pada abad 16 M, Banten Lama ketika itu telah terukir sebagai kawasan yang riuh dengan kehidupan internasional di bumi Nusantara. Bahkan, telah berabad-abad lamanya ada berbagai tinggalan kcatatan-catatan penting) pengelana China, para budayawan dan pengaruh dari syiar Islam yang datang dari jazirah Arab. Sedangkan peninggalan hasil usaha pedagang-pedagang Persia, kerajaan Goa (Sulawesi), negeri-negeri Eropa, berbagai ragam arsitektur bangunan, implementasi pengelolaan sumber daya air, hal itu terekan dalam babad sejarah Banten. Bahkan, dari hasil temuan (proses riset) dan kegiatan eskapasi pada tahun 1984, terutama di sekitar situs (eks Kraton Surusowan), telah ditemukan berbagai keramik kuno, uang koin, perhiasan dan lain-lain, yang berasal dari berbagai negara di dunia pada saat itu, dan kesemuanya telah memberikan bukti yang kuat tentang masa kegemilangan Banten. Bahkan ada nama Belanda yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah Indonesia, Cornelis de Hautman, yang memimpin pendaratan Belanda di kawasan Banten di tahun 1596?

Bahkan, siapa sangka, ternyata pertempuran hebat di Sunda Kelapa yang akhirnya dimenangkan oleh Fatahillah itu memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Banten Lama. Bahkan jika dirunut ke belakang, maka Sunan Gunung Jati di Cirebon, Kerajaan Demak, hingga Sunan Ampel di Jawa Timur, memiliki keterkaitan yang lekat dengan Banten. Dengan kata lain, bagi penulis ketika melakukan riset kecil-kecilan di pertengahan tahun 2025 yang lalu, merupakan sesuatu yang amat berharga, dan sekaligus membuka wajah sejarah Banten secara singkronik pada khususnya, dan membuka sejarah Indonesia scara diakronik pada umumnya, dan endinya, bahwa realitas Banten memang pernah mengalami masa kejayaan, terutama yang sangat mercusuar di abad ke 16 – 17 M.

Sementara untuk berbagai peninggalan kejayaan masa lalu Banten, ada baiknya kita untuk satu per satu (melakukan proses riset) dan tidak mungkin sejarah Banten yang begitu panjang episodenya itu untuk bisa kita diselesaikan dalam satu hari, karena terseraknya obyek sejarah, terutama yang ada di kawasan Banten Lama. Apalagi bila ditambah niat melakukan ziarah syiar Islam di Banten, hal itu tentu saja akan memakan waktu lebih lama lagi. Namun, dipertengahan tahun 2025 yang lalu, penulis dapat mengunjungi, menelusuri dan sekaligus menseriusi sebagian besar dari peninggalan sejarah Banten yang maha luar biasa itu, diantaranya bisa menelusuri :

  1. Museum Dan Situs.
    Ketika berada di lokasi Kepurbakalaan (Banten Lama) penulis mencoba mengawali dengan terus menela’ah dan menelusuri museum yang menjadi gerbang utama atau menjadi pentilasi untuk menelusuri jejak kejayaan masa lalu Banten. Ketika kita berada di ruang musium tersebut, kita bisa mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan Banten pada zaman dulu. Bahkan di lokasi Banten lama, memang kaya dengan berbagai koleksi artefak yang ditemukan (di situs-situs sekitar Banten Lama), karena terdapat koleksi perhiasan, senjata, keramik kuno, saluran pengelolaan air, bahkan patung Nandi sebagai kendaraan Dewa Syiwa dan lain-lain. Di depan Museum juga diperagakan pula Ki Amuk, yaitu meriam besar yang dipergunakan ketika terjadi pertempuran melawan kolonial. Selain itu diperagakan pula peralatan penggilingan tebu, batu-batu hiasan Kraton Surosowan dan nisan-nisan makam Cina beserta ornamen dan inkripsinya.
  2. Jembatan Rante.
    Jembatan yang telah kehilangan rantai, tiang besi dan kayu yang dapat diangkat ini, pada zaman dulu merupakan tempat pemeriksaan pajak terhadap barang dagangan di perahu-perahu yang akan masuk ke Banten. Lolos urusan perpajakan, petugas akan menarik rantai yang mengikat papan kayu sebagai landasan penyeberangan jembatan sehingga perahu bisa lewat melanjutkan perjalanan. Jembatan Rante ini dapat dicapai dengan berjalan kaki karena lokasinya sekitar 300 meter dari Kraton Surosowan menuju Mesjid Agung Banten dan berada di belakang kios-kios penjual cinderamata. Namun sayang sekali, air yang berada di sekitar kanal tersebut kerapkali tidak jernih dan tak jarang juga suka tumbuhan enceng gondok, yang akhirnya membat jembatan Rante seakan kehilangan nilai historisnya.
  3. Masjid Agung Banten.
    Mesjid yang dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama, yakni pada pertengahan abad 16 M, merupakan salah satu mesjid yang bercirikan arsitektur Jawa Kuno dan memiliki Menara setinggi 24 m yang berdiri anggun di halaman Mesjid, yang dari pintu pertama atau kedua Menara pemandangannya begitu indah, terutama sekitar pantai Laut Jawa dapat terlihat jelaa. Selain dikunjungi oleh orang-orang yang beribadah, mesjid Agung Banten juga didatangi oleh pengunjung yang menziarahi makam-makam para ahli syiar Islam yang terdapat pada kompleks mesjid dan seantero Banten.
  4. Kraton Surosowan.
    Tepat di seberang Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terdapat Kraton Surosowan yang kini tinggal reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi yang terbuat dari bata merah. Apa yang tertinggal dapat menggambarkan betapa megah kraton pada masanya, yang merupakan pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya dan seluruh sendi kehidupan dalam masyarakat Banten. Kraton yang luasnya tiga kali lapangan sepak bola itu merupakan tempat tinggal para Sultan Banten sekaligus tempat berinteraksi dengan rakyatnya. Di bagian tengah reruntuhan Kraton Surosowan terdapat kolam pemandian Ratu Dhenok dan Pancuran Emas yang sering dijadikan tempat melakukan ritual kungkum bagi sebagian orang yang percaya akan mendapatkan kekuatan dari para leluhur (walaupun airnya tak lagi bening/penuh lumut agak kehijauan). Lebih dari itu, di sudut-sudut Kraton Surosowan juga berbentuk seperti relung gua, dan konon katanya sering dijadikan tempat bersemedi mencari wangsit. Bahkan, ketika kita sedang berada dalam lingkungan Kraton Surosowan yang penuh sejarah itu, sepertinya kita sedang dibawa ke dunia lain sambil menerka-nerka bagaimana bentuk Kraton pada masanya.
  5. Watu Gilang.
    Merupakan lempeng batu persegi panjang yang menjadi tempat pentahbisan atau simbolisasi naik tahta raja, terutama ketika di zaman kerajaan Pajajaran. Naumun, ketika kerajaan Pajajaran itu runtuh atau diruntuhkan oleh Kesultanan Banten, akhirnya “Watu Gilang” itu diboyong oleh Sultan Maulana Yusuf dari Istana kerajaan Pajajaran (dari Bogor) dan hingga saat ini menjadi salah satu fakta arkeologis yang sudah berada di lingkungan kesultanan Banten. Sementara ketika zaman kerajaan Pajajaran, Watu Gilang itu ketika sang putera mahkita mau diangkat jadi raja, secara tradisi dan keyakinan, maka sang calon raja itu (putra mahkota), ia harus duduk atau didudukan di Watu Gilang itu. Lebih dari itu, ketika di zaman kerajaan Pajajaran, Watu Gilang itu juga sebagai tempat memberikan pengumuman dari kerajaan. Namun saat ini, Watu Gilang telah berada (kompleks eks kusultanan Banten) dan dalam naungan sebuah pergola berpagar setelah lama sebelumnya tergeletak terabaikan begitu saja di lapangan terbuka yang akhirnya terkena panas dan hujan. Kondisi Watu Gilang saat ini sudah lebih baik walau tetap menyedihkan, karena lingkungan sekitarnya tidak tertata rapi dan terkesan kurang reusik, sehingga obyek (lokasi tata letak Watu Gilang) seperti kehilangan aura sakralistik dan penuh karismatik dari apa yang pernah terjadi di atas batu itu, terutama ketika di zaman dulu. Dan apabila Watu Gilang disejajarkan tingkatnya dengan sebuah Tahta Kerajaan atau Kesultanan, sepertinya kita kurang begitu open terhadap fakta-fakta artkeologis atau fakta sejarah yang berbentuk fisik, dan seolah-olah “cuektisme” terhadap akar budaya sendiri, yakni ketika benda bersejarah itu (Watu Gilanf) terserak diantara himpitan kios-kios para pedagang kaki lima saat ini.
  6. Kraton Kaibon.
    Kraton Kaibon merupakan Istana Ratu Aisyah, yang kini tinggal tersisa gapura, reruntuhan dinding dan batu-batu fondasi karena dihancurkan Belanda pada masa kolonial sehingga menyimpan imajinasi akan kehebatan dan keindahan Kraton pada zaman dahulu. Sayangnya, rerumputan yang tertata cukup baik, tak ayal juga suka mengundang kambing-kambing berkeliaran. Bahkan, ketika hujan lebat turun, tak jarang Kraton Kaibon ini suka ada genangan air, dan dikhawatirkan alam akan menunjukkan dayanya untuk merusak secara perlahan tapi pasti, yakni pada struktur bangunan yang menjadi salah satu icon peradaban empat abad silam.
  7. Pelabuhan Nelayan Karangantu.
    Pelabuhan tradisional sejak abad 16 itu, hingga saat ini masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang dijunjungnya dengan memelihara perahu-perahu nelayan yang dimiliki secara turun temurun. Walaupun tak bisa menandingi metropolis-nya Banten ketika di zaman dulu dan cakupannya yang lebih kecil daripada pelabuhan Sunda Kelapa, perahu-perahu yang ada cukup membawa kenangan akan hebatnya kehidupan komunitas maritim di wilayah Banten Lama (terutama mercusuarnya ketika berada di abad 16 – 17 M).
  8. Kerkhof.
    Bekas pemakaman Belanda yang berada di sisi Benteng Speelwijk ini meninggalkan satu atau dua bangunan makam yang cukup menarik. Jika didekati, reflika dan inkripsi (tulisan indah) berukir zaman Belanda itu, hingga saat ini masih terlihat di salah satu bangunan makam, namun sayangnya tempat tersebut, tak jarang juga suka ditumbuhi rumput ilalang yang lumayan tinggi. Ketika penulis berada di lokasi itu, penulis juga bisa menyaksikan betapa bagusnya kualitas besi orisinal yang digunakan untuk pagar asli yang masih tersisa. Bahkan, konon dulu sebelum hilang, memang ada juga pintu jeruji dengan kualitas besi yang sangat bagus terutama dibangunan kecil dekat gerbang. Namun saat ini menurut sang penjaga makam Belanda itu, bahwa puntu jeruji yang besinya berkualitas itu konon katanya sudah hilang.
  9. Benteng Speelwijk.
    Benteng yang tadinya berada di dekat pantai dan sekarang sudah menjorok ke tengah daratan karena pendangkalan laut, hanya tinggal tembok keliling yang masih terlihat kokoh dan sebagian bastion. Ketika penulis berada di dalam Benteng itu, memang merasa terperangah, karena tempat terbuka di bagian tengah seolah-olah telah berubah menjadi area tempat bermain (sepak bola). Begitu-pun ketika masuk ke dalam ruang bekas gudang senjata, penulis kembali merasa memasuki sebuah benteng militer yang selalu bercirikan tembok kokoh, lorong-lorong gelap, disana-sini terkena bom. Udara langsung terasa lembab sepanjang lorong gelap menuju gudang senjata tersebut. Sesekali terdengar suara burung walet yang sengaja mencari kegelapan. Dan tentu saja, jangan lupa bawa senter untuk memasuki ruang dalam benteng ini.
  10. Vihara Avalokitesvara.
    Vihara yang namanya diambil dari seorang Boddhisatva yang dikenal sebagai Dewi Welas Asih (Kwan Im), konon katanya dibangun atas perintah Syaikh Syarif Hidayatullah sebagai bentuk nyata atas kehidupan beragama yang harmonis pada masa itu dan kini menjadi salah satu vihara tertua di Indonesia. Patung Avalokitesvara yang konon berasal dari Dinasti Ming, terdapat di altar utama yang ada di depan, yang di sisi kiri kanannya terdapat ruang-ruang yang lebih kecil untuk ibadah. Di bagian belakang terdapat dharmasala yang dihubungkan oleh koridor cantik berhiaskan kissah legenda ular putih. Legenda Mbah Banten yang sakti penjaga sumber mata air yang dipercaya membawa kemujaraban menjadi legenda lokal yang ada di vihara ini. Banyak yang meminta air mujarab ini, tidak hanya dari golongan orang yang beribadah di vihara tersebut melainkan juga yang datang dari jauh dengan latar belakang yang berbeda.
  11. Rumah Pecinan Kuno.
    Tidak jauh arah selatan dari Vihara, terdapat sebuah rumah kuno yang tinggal satu-satunya masih berdiri kokoh dan lengkap, yang dikenal sebagai Rumah Pecinan Kuno. Pada masa keemasannya, rumah-rumah dengan arsitektur China berdiri di sepanjang jalan dengan gaya yang sama. Daerah itu memang dikenal dengan daerah Pecinan yang dikhususkan bagi para keturunan China untuk berdagang. Saya membayangkan indahnya lampion-lampion berwarna merah tergantung di langit-langit sepanjang selasar seakan tak peduli dengan kesibukan orang-orang berpakaian khas China yang lalu lalang menawarkan dagangan.
  12. Danau Tasikardi an Pengindelan Abang.
    Dalam perjalanan menuju ke arah Barat dari komplek kesultanan Banten, yakni setelah terus melakukan riset kecil-kecilan, dan sekaligus menyaksikan pemandangan hamparan sawah yang menghijau yang menenangkan jiwa, di pinggir jalan penulis melihat Pengindelan Abang, sebuah bangunan rumah penyaringan air yang berasal dari Danau Tasikardi, danau buatan berjarak 200 meter. Namun, penulis agak risi ketika melihat coret-coret yang menghiasi seluruh bangunan Pengindelan Abang itu. Sungguh perbuatan yang mungkin kurang begitu menghargai kehebatan pengelolaan sumber daya air empat abad silam di Banten.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *