Oleh:
Endang Yusro
Menyaksikan “Mega Konser Gen Z” Indosiar malam ini, Selasa (14/4/2026) membuat hati merana, sedih karena menyaksikan pasangan-pasangan peserta D’ACADEMY 7 begitu mesra berpegangan tangan, saling menatap mesra layaknya suami istri.
Tindakan berpegangan tangan dan saling tatap dengan pandangan yang menggoda antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram ini, sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama Islam yang menekankan pentingnya menjaga batasan dan kesucian pergaulan.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (QS. An-Nur: 30-31)
Ayat ini jelas memerintahkan umat Islam untuk menjaga pandangan agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat, serta menjaga diri dari perbuatan yang tidak senonoh. Saling menatap dengan pandangan mesra dan berpegangan tangan adalah bentuk perbuatan yang mendekati pada larangan tersebut.
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya, kecuali bersama mahramnya.” (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan hukum haram secara sepakat para ulama, karena pergaulan yang terlalu dekat tanpa batas dapat membuka pintu fitnah dan keburukan. Meskipun dalam acara tersebut ada banyak orang, namun penampilan yang menampilkan kedekatan layaknya pasangan suami istri tetap memberikan contoh yang salah dan merusak pemahaman tentang batasan pergaulan.
Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan wanita.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan bahwa kontak fisik seperti bersalaman saja sudah dilarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, apalagi berpegangan tangan dengan sikap yang mesra.
Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan: “Andaikata kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.”
Potret dunia hiburan kita, yang lebih mengedepankan hiburan semata dan mengejar pendapatan tanpa melihat dampaknya bagi generasi muda.
Mereka sengaja dipasangkan oleh Tim D’ACADEMY seperti Mila dengan Valen, Zahby dengan Ropril, berperan tidak selayaknya di dunia hiburan di Nusantara ini yang berbudaya Ketimuran dan mayoritas muslim.
Sebenarnya penulis tidak biasa melihat tayangan seperti ini, karena mencari siaran sepakbola yang biasa disiarkan di Indosiar namun ternyata yang ada tayangnya yang mencolok mata dan menyakiti hati.
Jika kejadian seperti ini yang perlu dipertanyakan adalah, di mana Badan Sensor kok tidak peka terhadap hal-hal seperti itu? Apa menunggu ada aksi dari Ormas atau masyarakat yang protes baru mau bertindak?
Di era sekarang ini, era digitalisasi yang tontonan bisa dengan mudah diakses oleh siapa saja, termasuk anak-anak dan remaja, PR bagi para ustadz, kiai, dan pendidik ini malah terang-terangan menayangkan aksi yang tidak mendidik dan merusak moral.
Berkaitan dengan ini, Teori Pembelajaran Sosial, Albert Bandura mengatakan:
“Anak-anak dan remaja belajar banyak hal melalui observasi dan peniruan terhadap apa yang mereka lihat di media, termasuk tokoh-tokoh idola mereka di televisi. Jika yang ditampilkan adalah pergaulan bebas dan kedekatan yang tidak pantas, maka secara perlahan mereka akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang normal dan wajar untuk ditiru dalam kehidupan nyata.”
Sementara KH. Miftah Maulana Habiburrahman mengingatkan bahwa jika masyarakat terus membiarkan konten yang merusak moral ditayangkan secara bebas, maka kita sedang menyiapkan “bom waktu” bagi moralitas bangsa. Generasi muda akan tumbuh dengan karakter yang rapuh dan mudah tergoyahkan oleh hawa nafsu.
Kalau begini menurut hemat penulis, apa gunanya diadakan lembaga pendidikan formal, apa manfaatnya didirikan pesantren dan madrasah, jika di rumah melalui layar kaca anak-anak justru diajarkan hal yang bertentangan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah?
Usaha keras para pendidik dan orang tua dalam membentuk karakter mulia bisa jadi sia-sia jika tontonan yang mereka saksikan justru menjadi “tuntunan” yang salah.
Semoga pihak terkait dan lembaga penyiaran lebih bijak dalam menyajikan konten, mengingat tanggung jawab besar terhadap pembentukan akhlak generasi penerus bangsa.





