Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah Pengurus ICMI Orwil Banten
Setiap kali kalender masehi menyentuh akhir bulan Maret, atmosfer di sekitar sekolah menengah mendadak berubah menjadi panggung drama yang penuh riuh rendah. Pintu gerbang sekolah yang biasanya tampak bersahaja, seketika disulap menjadi dinding etalase raksasa yang memajang barisan spanduk dan baliho kelulusan siswa. Di atas kain digital yang megah itu, terpampang deretan foto wajah para siswa yang berhasil menembus ketatnya seleksi perguruan tinggi negeri. Selebrasi visual ini seolah menjelma menjadi ritus tahunan yang wajib dirayakan, sebuah selebrasi kolektif yang diklaim sebagai puncak dari segala bentuk keberhasilan proses pembelajaran. Namun, jika kita bersedia sejenak menepi dari gemuruh tepuk tangan tersebut, ada sebuah tanya yang mengusik kesadaran kita yang paling dalam.
Di balik kemegahan warna-warni baliho tersebut, sesungguhnya sedang bekerja sebuah mekanisme penyaringan yang sangat halus sekaligus mematikan karakter peserta didik secara perlahan. Institusi pendidikan tanpa sadar telah mengubah fungsi ekologisnya, dari ruang penyemai mimpi menjadi pabrik stempel legitimasi sosiologis yang sangat eksklusif. Format perayaan tunggal ini secara tidak langsung telah mereduksi hakikat keberhasilan manusia menjadi selembar kertas pengumuman kelulusan berbasis birokrasi negara. Di sinilah letak ironi terbesar dari dunia pendidikan kita hari ini, di mana sebuah proses memanusiakan manusia justru diukur dengan alat ukur yang sangat transaksional. Kita kerap lupa bahwa di luar lingkaran foto yang dipajang itu, ada ratusan jiwa lain yang sedang menatap dengan tatapan kosong dan penuh tanda tanya.
Dalam lembar-lembar pemikiran sosiologi Pierre Bourdieu, fenomena baliho kelulusan ini adalah manifestasi paling nyata dari apa yang disebut sebagai kekerasan simbolik. Kekerasan ini tidak menumpahkan darah ataupun meninggalkan lebam fisik pada tubuh, namun ia bekerja menggerogoti rasa percaya diri anak-anak kita dari dalam sanubari. Melalui dominasi makna yang dikonstruksikan oleh otoritas sekolah, para siswa dipaksa untuk menginternalisasi sebuah pemahaman bahwa diri mereka berada di kasta kedua. Ketika sekolah hanya memilih untuk merayakan satu jalur pencapaian tunggal, maka secara semiotik, sekolah sedang mengumumkan kegagalan bagi jalur-jalur kehidupan lainnya. Proses penundukan mental ini terjadi begitu rapi, santun, dan bahkan dirayakan secara sukarela oleh lingkungan masyarakat yang sudah telanjur silau oleh status sosial.
Sebagai seorang alumni yang pernah mendalami samudra pemikiran Aqidah dan Filsafat, hati saya kerap merasa gundah melihat realitas pendidikan yang semakin menjauh dari akar ontologisnya. Esensi terdalam dari aktivitas pendidikan sejatinya adalah memantik nyala api kesadaran di dalam jiwa setiap manusia, agar mereka mampu mengenali potensi unik dirinya masing-masing. Ketika institusi persekolahan menyeragamkan definisi kesuksesan hanya pada satu titik koordinat bernama PTN, mereka sesungguhnya sedang melakukan reduksi massal terhadap kekayaan bakat manusia. Kacida jasa, sebuah sistem yang didirikan untuk membebaskan manusia dari kebodohan, justru berubah menjadi jeruji baru yang mengurung kemerdekaan berpikir anak-anak kita sendiri. Kita seolah sedang memaksa seluruh ikan di lautan untuk memiliki keahlian memanjat pohon, lalu menghukum mereka yang gagal dengan keheningan.
Mari kita teuleuman atau selami lebih dalam lagi realitas sosiologis yang terjadi di sepanjang pesisir wilayah pantai selatan yang sarat akan kearifan lokal. Di tanah Banten ini, kita sering menyaksikan anak-anak muda yang memiliki ketangguhan luar biasa dalam membaca arah mata angin atau mengelola hasil bumi secara mandiri. Kecerdasan praktis yang mereka miliki untuk bertahan hidup dan menggerakkan roda ekonomi lokal adalah sebuah bentuk kejeniusan otentik yang tidak bisa dinilai dengan angka. Namun, dalam ruang ukur institusi pendidikan yang kaku dan berorientasi pusat, keahlian lokal yang sangat berharga ini seolah dianggap tidak memiliki nilai tawar akademik. Standar tunggal yang diberlakukan dari atas telah memposisikan kearifan lokal kita sebagai sebuah entitas pinggiran yang tidak layak masuk dalam ruang selebrasi.
Ketimpangan cara pandang ini semakin terasa menggelisahkan ketika kita melihat respon masyarakat terhadap pilihan anak-anak yang memutuskan untuk melangkah ke perguruan tinggi swasta. Ada sebuah stigma purba yang masih melekat kuat di benak kolektif kita, seolah-olah mengkuliahkan anak di lembaga swasta adalah sebuah bentuk kekalahan akademik. Padahal, jika kita mau menilik secara objektif dan jujur, banyak perguruan tinggi swasta bermutu tinggi yang memiliki kurikulum jauh lebih lincah dibanding kampus negeri. Contoh nyata adalah Universitas Katolik Parahyangan Bandung, sebuah ruang akademik legendaris yang telah banyak melahirkan para pemikir srikandi dan jawara intelektual bangsa. Memilih kampus swasta berkualitas seperti Unpar bukanlah sebuah langkah mundur, melainkan sebuah keputusan eksistensial yang sangat rasional, merdeka, dan bermartabat tinggi.
Penerimaan putra kedua saya di Unpar setelah sempat melewati fase kecewa karena gagal di jalur negeri, menjadi sebuah ruang kontemplasi yang sangat berharga bagi saya. Sebagai seorang ayah yang kebetulan bergerak di dunia pendidikan, saya diuji untuk mempraktikkan apa yang selama ini saya suarakan di ruang-ruang kelas wacana. Di hadapan kekecewaan anak laki-laki saya, saya memilih untuk meruntuhkan berhala gengsi sosial yang sering kali menyandera kewarasan berpikir para orang tua mapan. Saya sampaikan kepadanya bahwa esensi hidup bukan tentang warna jaket almamater, melainkan tentang bagaimana ia mampu bertumbuh secara produktif dan menemukan kebahagiaannya. Pernyataan ini memang sempat membuat orang-orang di sekitar kami merasa kaget, karena mereka mengira status ekonomi saya akan memaksa anak untuk berburu gengsi akademik.
Sikap yang saya ambil tersebut sesungguhnya berakar dari sebuah kesadaran spiritual yang mendalam mengenai konsep penting dari apa yang disebut pola parenting eksistensial. Dalam ruang pengasuhan ini, tugas utama seorang orang tua bukanlah mendiktekan peta masa depan anak berdasarkan ambisi pribadi atau ketakutan akan omongan tetangga. Tugas kita yang paling mulia adalah menyediakan dermaga yang aman dan kokoh, tempat anak-anak kita bisa pulang mengadu tanpa takut dihakimi oleh kegagalan. Ketika kita berani berkata bahwa tidak kuliah pun tidak apa-apa asalkan mereka mandiri, kita sedang mencabut duri inferioritas dari dalam dada mereka. Karena kebahagiaan sejati seorang anak adalah sebuah prestasi tertinggi yang nilainya jauh melampaui deretan gelar akademis yang kelak terpahat di atas batu nisan.
Di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap keluhuran jalan hidup yang dipilih oleh para lulusan SMA maupun SMK yang langsung bekerja. Mereka yang langsung terjun ke dalam riuhnya dunia usaha, sejatinya adalah para ksatria ekonomi yang langsung mempraktikkan ilmu kehidupan di medan yang sesungguhnya. Mereka belajar tentang kedisiplinan, etika profesi, dan ketahanan mental menghadapi tekanan realitas sosial yang tidak pernah diajarkan di dalam ruang kuliah formal. Dalam perspektif filsafat aksiologi, keringat yang mereka teteskan demi membantu tegaknya ekonomi keluarga adalah sebuah ibadah kebudayaan yang nilainya sangat agung. Sangatlah tidak adil jika sekolah mengabaikan perjuangan nyata mereka ini, hanya karena mereka memilih jalan berdikari yang tidak menghasilkan angka statistik bagi akreditasi.
Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya merasa ada tanggung jawab kultural untuk menghidupkan kembali kosakata lokal kita dalam memaknai hakekat sebuah kesuksesan. Kita harus berani mendefinisikan ulang istilah jawara agar tidak lagi identik dengan kekerasan fisik atau dominasi kekuasaan politik yang sifatnya menindas sesama. Seorang pemuda yang lulus sekolah lalu bekerja dengan penuh semangat (getol) serta merawat kemandiriannya dengan sungguh-sungguh (soson-soson), dialah jawara kehidupan yang sejati. Kosakata lokal ini memiliki daya magis yang kuat untuk memulihkan rasa percaya diri anak-anak kita yang selama ini terpinggirkan oleh narasi modernitas. Sudah saatnya kita mengembalikan harga diri kultural masyarakat kita, agar tidak selalu tunduk pada standarisasi nilai yang diciptakan oleh kaum elitis kota.
Untuk mengakhiri lingkaran kekerasan simbolik yang sudah kronis ini, institusi sekolah harus memiliki keberanian moral untuk melakukan dekonstruksi terhadap budaya selebrasi mereka. Pihak manajemen sekolah wajib merombak struktur papan pengumuman kelulusan mereka agar mampu merepresentasikan seluruh spektrum keberhasilan siswa secara adil dan merata. Kita perlu membangun sebuah etalase penghargaan baru yang menjajarkan foto siswa yang masuk PTN, PTS, yang langsung bekerja, maupun yang merintis usaha. Perlakuan yang setara ini akan mengirimkan pesan psikologis yang sangat kuat kepada seluruh siswa bahwa tidak ada perjuangan hidup yang sia-sia di mata sekolah. Sekolah harus kembali menjadi rumah bagi semua anak manusia, tempat di mana setiap keunikan talenta dihormati dan dirayakan dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan merawat masa depan anak-anak kita di tanah Banten ini memang memerlukan sebuah jangkar filosofis yang kokoh agar kita tidak mudah terhanyut arus transaksional. Kita harus selalu ingat bahwa lembar ijazah atau nama besar universitas hanyalah sebuah alat transportasi, bukan tujuan akhir dari perjalanan eksistensi kemanusiaan itu sendiri. Muara sejati dari seluruh proses pendidikan yang kita perjuangkan dengan penuh peluh ini adalah lahirnya pribadi yang merdeka, berkarakter, dan membawa maslahat. Semoga kita semua, baik sebagai pendidik maupun sebagai orang tua, senantiasa dikaruniai kekuatan batin untuk selalu ngajaga batin anak-anak kita dari kerasnya dunia. Mari kita rayakan setiap langkah kecil anak-anak kita dengan senyuman tulus, karena di dalam kebahagiaan merekalah sesungguhnya kejayaan peradaban kita sedang dipertaruhkan. Wallahualam.***





