Oleh: Jaka Wijaya Kusuma
Pernahkah kita merindukan matematika?
Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh. Bukankah selama ini matematika justru menjadi mata pelajaran yang dihindari, ditakuti, bahkan “diterima dengan terpaksa”? Di banyak ruang kelas, ia hadir sebagai deretan angka tanpa wajah, rumus tanpa cerita, dan ujian tanpa makna.
Namun, bayangkan sejenak jika matematika bukan tentang ketakutan, melainkan tentang rasa ingin tahu. Bukan tentang salah dan benar semata, tetapi tentang petualangan menemukan pola. Bukan tentang menghafal, melainkan tentang memahami kehidupan.
Di sinilah kita mulai berbicara tentang matematika yang dirindukan.
Suatu pagi, seorang anak bertanya,
“Pa, kenapa pelangi bentuknya melengkung?”
Pertanyaan itu sederhana. Tetapi di dalamnya tersembunyi geometri cahaya, sudut pembiasan, dan hukum alam yang teratur. Matematika sesungguhnya hidup di sana di lengkungan pelangi, pada simetri bunga matahari, pada pola ubin masjid, pada irama batik yang tersusun berulang.
Di Indonesia, konsep seperti ini mulai digaungkan melalui pendekatan etnomatematika sebuah gagasan yang dipopulerkan oleh Ubiratan D’Ambrosio. Ia mengingatkan kita bahwa matematika tidak lahir di ruang hampa; ia tumbuh dari budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat.
Matematika yang dirindukan adalah matematika yang menyapa dari keseharian. Ia tidak berdiri dingin di papan tulis, melainkan berjalan bersama anak-anak ke pasar, ke sawah, ke pantai menghitung, mengukur, menaksir, dan memahami.
Banyak siswa tidak takut pada angka. Mereka takut pada rasa gagal. Mereka takut ketika jawaban salah dianggap akhir dari segalanya.
Padahal, matematika adalah ruang aman untuk mencoba.
Di dalamnya, kesalahan bukan aib, melainkan jejak proses berpikir. Ketika seorang siswa salah menyelesaikan soal, sebenarnya ia sedang membangun jembatan logika. Tugas pendidik bukan mematahkan jembatan itu, tetapi membantu menguatkannya.
Matematika yang dirindukan adalah matematika yang memberi ruang dialog.
“Bagaimana kamu mendapatkan jawaban itu?”
“Apa yang kamu pikirkan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar “berapa hasilnya?”.
Kita hidup di era kecerdasan buatan, big data, dan algoritma. Dunia digerakkan oleh pola dan probabilitas. Bahkan keputusan-keputusan besar—dari ekonomi hingga kesehatan—ditopang oleh model matematika.
Namun ironisnya, banyak generasi muda menjauh dari bahasa ini sebelum sempat memahaminya. Mereka mengenalnya sebagai kumpulan simbol, bukan sebagai alat membaca dunia.
Matematika yang dirindukan harus menjadi jembatan, bukan tembok. Ia harus membumi, kontekstual, dan bermakna. Teknologi pembelajaran dapat membantu, tetapi yang paling utama adalah sentuhan manusia—guru yang sabar, yang melihat potensi di balik kebingungan.
Coba perhatikan langit malam. Pola orbit planet mengikuti hukum yang pernah dirumuskan oleh Johannes Kepler. Deret angka yang tampak sederhana pernah mengantar Isaac Newton memahami gravitasi. Bahkan teka-teki angka yang memikat dunia pernah ditelusuri oleh Leonhard Euler dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.
Apa yang membuat mereka jatuh cinta pada matematika?
Bukan karena kewajiban ujian.
Melainkan karena rasa takjub.
Matematika yang dirindukan adalah matematika yang menghidupkan kembali rasa takjub itu di ruang kelas sederhana sekalipun.
Barangkali, yang perlu kita ubah bukanlah matematikanya, tetapi cara kita menghadirkannya.
Jika matematika diajarkan sebagai cerita, sebagai dialog, sebagai eksplorasi maka ia akan dirindukan. Anak-anak tidak lagi bertanya, “Untuk apa belajar ini?” tetapi akan berkata, “Ternyata dunia ini punya pola yang indah.”
Dan ketika suatu hari mereka dewasa, menghadapi persoalan hidup yang kompleks, mereka akan tersenyum kecil dan berkata,
“Saya pernah belajar cara berpikir ini.”
Itulah matematika yang dirindukan.
Bukan sekadar pelajaran di Kelas,
melainkan cara memahami kehidupan.





