Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah pengurus ICMI Orwil Banten
Di bawah langit Binuangeun yang meremang, ketika garis cakrawala seolah menyatukan luasnya laut dengan misteri angkasa dalam satu tarikan napas, saya sering terduduk merenung. Deburan ombak di depan saya adalah fakta yang tak terbantahkan—ia basah, ia asin, dan ia konsisten.
Namun, di genggaman kita hari ini, dunia digital menawarkan konsistensi yang berbeda: kilatan piksel yang sering kali menipu nurani demi sebuah sentimen sesaat.
Belakangan, hiruk-pikuk konflik Iran-Israel menyeret kita ke dalam pusaran emosi yang meluap. Di tengah dukungan yang membara, saya tersentak melihat betapa mudahnya kita terjebak dalam “kerapuhan digital”.
Seorang kawan dengan penuh semangat membagikan video ledakan hebat yang belakangan diketahui hanyalah potongan animasi dari video game. Baginya, itu adalah jihad kecil; tapi bagi saya, itu adalah sebuah krisis epistemologis.
Lain waktu, seorang kawan lainnya membagikan potongan video yang menggambarkan 1.800 tentara Israel bergelimpangan tewas, dan ratusan tentara terluka. Secara kasat mata pun kita bisa menilai bahwa itu merupakan produk kecerdasan buatan.
Namun seolah ingin menghindar, disertakan caption bahwa “Terlepas dari benar dan salah, AI atau bukan, minimal semangatnya sebagai pelipur lara. Bagi saya, semoga ini bagian dari doa untuk kemenangan bangsa Iran yang sedang diserang duluan oleh Israel dan Amerika”.
Di sinilah letak bahayanya: ketika semangat keberagamaan kehilangan jangkar pada realitas, ia berisiko terjatuh ke dalam simulakra—sebuah kondisi di mana kenyataan buatan dipuja melebihi hakikat yang ada di lapangan.
Sebagai alumni Aqidah Filsafat, saya melihat fenomena ini melalui pisau bedah logika. Terjadi sebuah logical fallacy yang sistematis. Pertama, Appeal to Emotion—memanipulasi iba dan amarah untuk mematikan fungsi kritis. Kedua, False Dilemma—sebuah dikotomi palsu yang memaksa kita memilih: “Dukung fiksi ini atau engkau dianggap tidak punya empati.”
Padahal, ada jalan ketiga yang jauh lebih terhormat, yakni mendukung dengan fakta yang tervalidasi. Menyajikan yang fiktif seolah nyata, apalagi jika dilakukan oleh kalangan intelektual, bukan lagi sekadar kekhilafan, melainkan sebuah pembodohan umat.
Intelektual -di dalamnya ada guru, ustadz, kiai, dosen, sarjana, alumni madrasah, cendekiawan- seharusnya menjadi nahkoda yang jujur pada kompas, bukan penghibur yang menyesatkan penumpang demi sorak-sorai sesaat.
Mungkin akan ada yang berbisik, menuduh bahwa perspektif objektif ini adalah bentuk kontaminasi pengaruh luar atau skeptisisme yang dilemahkan oleh narasi tertentu. Namun, mari kita dudukkan perkara ini di atas hamparan nalar yang jernih. Ajakan untuk berpikir realistis dan objektif ini bukanlah cerminan dari pengaruh Yahudi atau sentimen pro-lawan.
Sebaliknya, ini adalah pengejawantahan dari prinsip luhur qulil haq walau kaana murran—katakanlah yang benar walaupun itu terasa pahit. Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Tuhan, maka mencari fakta adalah bagian dari ibadah, sementara memoles dusta demi kemenangan semu adalah pengkhianatan terhadap nalar yang dianugerahkan-Nya.
Di sinilah tabayyun digital menemukan urgensinya. Ia bukan sekadar tips teknologi, melainkan sebuah laku spiritual untuk membasuh wajah realitas dari debu-debu simulasi. Mendukung dengan fakta adalah satu-satunya dukungan yang bermartabat. Jika kita membela sebuah bangsa dengan hoaks, kita sebenarnya sedang memberi amunisi bagi lawan untuk meruntuhkan seluruh narasi kebenaran yang kita bangun.
Muliakanlah perjuangan saudara-saudara kita dengan kejujuran, karena kebenaran tak pernah membutuhkan polesan Computer Generated Imagery atau CGI untuk menunjukkan kemuliaannya di hadapan semesta. Wallahualam.
Binuangeun, Selasa, 13 Ramadhan 1447 H





