Oleh: Rohman, M.A.
(Sekretaris ICMI Banten)
Dalam sambutan pada kegiatan Ramadhan Leadership Camp ICMI Orwil Banten di Auditorium Poltekkes Banten, Wakil Gubernur Banten tidak hanya berbicara mengenai pentingnya intelektualitas, komunikasi, dan gerakan perubahan. Ia juga menekankan fondasi nilai yang menurutnya harus menjadi karakter dasar bagi para cendekiawan Muslim, khususnya kader ICMI. Nilai tersebut ia rangkum dalam konsep “5K”, yakni Keilmuan, Kesabaran, Keimanan dan Ketakwaan, Kekeluargaan (silaturahmi), serta Kepedulian. Konsep ini menarik karena menempatkan intelektualisme bukan hanya pada kemampuan berpikir, tetapi pada integritas moral dan tanggung jawab sosial.
Pertama adalah keilmuan. Wagub menegaskan bahwa organisasi seperti ICMI harus menjadi rumah bagi orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual yang kuat. Ia mengingatkan kembali prinsip klasik dalam tradisi Islam: thalabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi—menuntut ilmu dari lahir hingga akhir hayat. Pesan ini penting karena dalam dunia yang terus berubah, ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk memahami kompleksitas persoalan masyarakat. Dalam konteks pembangunan daerah seperti Banten, peran kaum intelektual tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan untuk merumuskan kebijakan berbasis pengetahuan (evidence-based policy). Tanpa fondasi ilmu yang kuat, gagasan pembangunan akan mudah terjebak pada slogan tanpa arah yang jelas.
Namun, keilmuan saja tidak cukup. Nilai kedua yang ditekankan adalah kesabaran. Dalam sambutannya, Wagub mengingatkan ayat Inna Allaha ma‘a as-shabirin, Allah bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran dalam konteks ini bukanlah sikap pasif, melainkan kemampuan untuk tetap konsisten memperjuangkan perubahan meskipun menghadapi berbagai hambatan. Proses pembangunan daerah sering kali tidak berjalan cepat. Reformasi birokrasi, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemberantasan korupsi memerlukan waktu panjang. Tanpa kesabaran, para pemimpin maupun kaum intelektual mudah kehilangan arah dan akhirnya memilih jalan pintas yang justru merusak sistem.
Nilai ketiga adalah keimanan dan ketakwaan. Wagub menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus ditopang oleh landasan spiritual yang kuat. Ia mengutip ayat Inna akramakum ‘indallahi atqakum, yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Dalam perspektif ini, intelektualitas tidak boleh dilepaskan dari moralitas. Banyak krisis kepemimpinan yang terjadi bukan karena kurangnya orang pintar, melainkan karena kurangnya integritas. Tanpa iman dan takwa, ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk kepentingan yang justru merugikan masyarakat. Karena itu, spiritualitas menjadi pengingat bahwa ilmu dan kekuasaan harus dijalankan sebagai amanah.
Nilai keempat adalah kekeluargaan atau silaturahmi. Wagub menilai bahwa pertemuan seperti Leadership Camp memiliki arti penting karena menjadi ruang untuk memperkuat jaringan sosial dan kebersamaan. Dalam budaya Indonesia, terutama dalam tradisi Islam, silaturahmi bukan sekadar hubungan personal, tetapi juga sarana membangun kepercayaan sosial (social trust). Tanpa jaringan sosial yang kuat, gagasan-gagasan intelektual akan sulit diterjemahkan menjadi gerakan kolektif. Silaturahmi juga mencegah terjadinya kesalahpahaman dan konflik yang sering muncul akibat kurangnya komunikasi antar kelompok.
Dalam konteks organisasi seperti ICMI, kekeluargaan ini menjadi sangat penting karena anggotanya berasal dari berbagai disiplin ilmu, profesi, dan latar belakang sosial. Justru dari keberagaman tersebut dapat lahir sinergi yang kuat untuk memecahkan berbagai persoalan masyarakat. Silaturahmi bukan hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil.
Nilai kelima adalah kepedulian. Wagub mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ia menyinggung pentingnya membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan seperti fakir miskin, kaum dhuafa, dan penyandang disabilitas. Kepedulian sosial ini menunjukkan bahwa intelektualitas tidak boleh terjebak dalam elitisme akademik yang jauh dari realitas masyarakat.
Seorang intelektual sejati bukan hanya mereka yang mampu berbicara di ruang seminar, tetapi juga mereka yang memiliki keberpihakan pada kepentingan publik. Dalam konteks Banten, kepedulian ini bisa diwujudkan melalui berbagai bentuk kontribusi nyata: penguatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga advokasi kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan.
Jika dirangkai secara utuh, konsep 5K yang disampaikan Wagub sebenarnya menggambarkan model kepemimpinan yang cukup komprehensif. Keilmuan memberikan arah rasional, kesabaran menjaga konsistensi perjuangan, keimanan dan ketakwaan menjadi fondasi moral, kekeluargaan memperkuat jaringan sosial, sementara kepedulian memastikan bahwa seluruh upaya tersebut berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Bagi ICMI, pesan ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa organisasi cendekiawan tidak boleh hanya menjadi ruang diskusi intelektual. Ia harus menjadi kekuatan moral dan sosial yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Apalagi Banten sebagai provinsi yang memiliki potensi besar masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang memerlukan peran aktif para intelektual.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kombinasi antara kecerdasan, integritas moral, dan kepedulian sosial menjadi semakin penting. Pesan Wagub melalui konsep 5K itu pada akhirnya dapat dibaca sebagai ajakan kepada kaum intelektual Muslim untuk tidak hanya menjadi orang yang berilmu, tetapi juga menjadi pemimpin yang berkarakter dan peduli pada masyarakat.
Jika nilai-nilai tersebut benar-benar dihidupkan dalam praktik organisasi, maka ICMI tidak hanya akan menjadi kumpulan cendekiawan, tetapi juga menjadi motor gerakan intelektual yang mampu mendorong Banten menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan berkeadaban.





