Oleh : Adung Abdul Haris

I. Prolog

Mencegah keretakan piring kebangsaan di tengah arus politik global yang kian hari kian memanas saat ini, memang memerlukan kombinasi antara ketahanan dalam negeri yang kokoh dan diplomasi luar negeri yang cerdik. Sementara prinsip utamanya adalah bagaimana agar kita semua (seluruh elemen bangsa ini) bisa menjadikan nilai-nilai persatuan nasional sebagai fondasi utama di tengah ketidakpastian global yang terjadi saat ini. Berikut ini adalah strategi untuk menjaga persatuan bangsa berdasarkan situasi geopolitik saat ini :

A. Penguatan Konsolidasi Nasional (Jangkar Dalam Negeri)

(1). Meneguhkan Kembali Nilai-Nilai Persatuan Dan Kesatuan Bangsa. Para pemangku kepentingan di negeri ini (Pemerintah) beserta seluruh elemen masyarakat di internal bangsa ini untuk bisa menempatkan persatuan di atas kepentingan golongannya masing-masing, hal itu demi untuk menjaga stabilitas sosial. (2). Dialog Lintas Generasi Dan Politik. Membangun ruang diskusi nasional untuk menyamakan sikap dan kesiapsiagaan nasional, seperti pertemuan pemimpin partai dan tokoh bangsa. (3). Penguatan Empat Pilar Kebangsaan. Menjadikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi utama untuk menghadapi dinamika geopolitik global yang terjadi saat ini. (4). Mengatasi Polarisasi. Yaitu, upaya untuk meredam ketegangan akibat isu sensitif global melalui sikap tenang dan respons yang tidak berlebihan dari para elite politik di negeri ini.

B. Politik Luar Negeri Bebas Aktif (Strategi Global)

(1). Konsistensi Politik Bebas Aktif. Indonesia terus teguh pada prinsip tidak memihak blok kekuatan tertentu, melainkan aktif berkontribusi pada perdamaian dunia. (2). Diplomasi “Hedging” (Lindung Nilai). (3). Menjalin kerja sama dengan berbagai kekuatan besar (seperti Rusia, Prancis, AS, Tiongkok, Iran serta negara-negara yang ada di kawasan Timur Tengah lainnya saat ini sangat penting), hal itu demi untuk menjaga keseimbangan dan kepentingan nasional. (4). Suara Moral Perdamaian. Menggunakan posisi strategis untuk mendorong pendekatan dialogis dan kemanusiaan dalam konflik internasional.

C. Ketahanan Nasional Berlapis (Antisipasi Dampak)

(1). Swasembada Pangan Dan Energi. Yaitu, harus mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global agar tidak terdampak drastis oleh krisis energi atau kris pangan dunia. (2). Kedaulatan Ekonomi Dan Keamanan. Yaitu, terus memperkuat ekonomi domestik dan kemampuan militer (anti-access/area denial) untuk menjaga wilayah ekonomi eksklusif. (3). Antisipasi Ancaman Siber Dan Teknologi. Yaitu, menggunakan teknologi AI dan riset strategis (BRIN) untuk deteksi dini bahaya dan keamanan nasional.

D. Peran Aktif Masyarakat
Waspada Isu Global

(1). Memahami geopolitik global yang terjadi saat ini, dan upaya kita untuk bela negara dan agar seluruh elemen bangsa tidak mudah terprovokasi narasi-narasi yang negatif yang memang bertujuan untuk memecah anak bangsa. (2). Menjaga Stabilitas Sosial. Yaitu, seluruh elemen masyarakat diharapkan agar terus menjaga ketenangan dan tidak terpolarisasi oleh konflik di Timur Tengah atau kawasan lain. Mudah-mudahan, dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia tetap damai dan kondusif secara internal, meskipun situasi geopolitik global yang terjadi saat ini terus semaki bergejolak.

II. Fakta Yang Terjadi (Indonesia di Pusaran Konflik Global)

Kita sama-sama menyaksikan dan sekaligus merasakan, bahwa konflik global yang terjadi saat ini sudah sangat seporadis, maka ketahanan nasional bangsa kita juga diuji bukan oleh perang, tetapi oleh kesiapan kita untuk membaca dampaknya. Karena, konflik global yang terjadi saat ini (perang antara Iran dan Israel-AS) yang akhirnya mempengaruhi ekonomi global (pinterest). Bahkan konflik yang terjadi saat ini bukan sekadar konflik regional yang jauh dari Indonesia. Ia telah berkembang menjadi pusaran geopolitik global yang dampaknya nyata hingga ke dalam negeri kita.

Kalau penulis mencoba mencermati apa yang terjadi dengan konflik global yang kian hari kian memanas, bahwa konflik global yang terjadi saat ini, memang menunjukkan konflik tersebut tidak hanya menyangkut militer, tetapi juga ekonomi, ideologi, hingga stabilitas sosial. Indonesia, yang nota bene sebagai negara dengan prinsip politik luar negeri bebas-aktif, memang berada dalam posisi yang tidak sederhana. Karena, di satu sisi, ada komitmen moral terhadap isu kemanusiaan, khususnya dukungan terhadap Palestina. Namun di sisi lain, ada kepentingan pragmatis yang tidak bisa diabaikan, seperti stabilitas ekonomi dan ketahanan energi.

Oleh karena itu, maka dilema tersebut menjadi semakin kompleks, karena konflik (Iran dan Israel-AS) bukan konflik biasa. Ia telah melibatkan banyak aktor, yakni mulai dari negara besar hingga kelompok non-negara (proksi-proksi Iran maupun proksi AS-Israel). Bahkan, pendekatan perang yang digunakan pun tidak konvensional. Iran misalnya, ia memanfaatkan aktor non-negara untuk mengimbangi kekuatan militer Israel. Hal itu menunjukkan bahwa konflik global yang terjadi saat ini, memang tidak lagi hanya soal kekuatan senjata, tetapi juga strategi jaringan. Dampaknya terhadap Indonesia sangat nyata, terutama dalam sektor ekonomi. Realitasnta, bahwa ietergantungan Indonesia terhadap impor energi dari kawasan Timur Tengah menjadi titik lemah yang serius.

Data menunjukkan bahwa subsidi energi Indonesia mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Ketika konflik yang terjadi saat ini terus berkepanjangan, maka hal itu akan memicu kenaikan harga minyak global, beban fiskal negara ikut meningkat. Jika jalur strategis seperti Selata Hormuz terus terganggu, dampaknya bisa langsung terasa oleh bangsa kita juga. Harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan daya beli masyarakat menurun. Ini bukan ancaman hipotetis. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi global telah menunjukkan betapa rentannya ekonomi terhadap konflik geopolitik.

Selain ekonomi, aspek keamanan juga tidak bisa diabaikan. Bahkan, konflik global sering kali memicu efek domino, termasuk potensi intersinisme (gontok-gontokan) di dalam negeri. Bahkan, Indonesia sebagai negara dengan populasi besar dan keragaman tinggi harus menghadapi risiko tersebut dengan serius. Maka kesiapan aparat keamanan dan koordinasi lintas lembaga akhirnta menjadi kunci utama. Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Dalam konteks politik luar negeri, Indonesia menghadapi tekanan untuk mengambil posisi. Sebagai “middle power”, Indonesia diharapkan berperan aktif dalam menjaga perdamaian global.

Tetapi setiap langkah diplomasi harus mempertimbangkan kepentingan nasional, dan itulah yang membuat kebijakan luar negeri kita menjadi sangat kompleks. Tidak cukup hanya idealisme, tetapi juga membutuhkan strategi yang adaptif. Menariknya, apa yang telah penulis deskripsikan diatas, secara historis dan spirit, memang ada kaitanya dengab situasi dan kondisi dalam kontekstualitas sejarah Indonesia sendiri, yaitu peristiwa Perang Diponegoro, karena perang tersebut bukan hanya konflik militer, tetapi juga konflik ideologi, sosial, dan ekonomi. Maka strategi asimetris yang digunakan dan sekaligus untuk menunjukkan bahwa kekuatan bangsavkita, seyogyanya tidak selalu ditentukan oleh teknologi canggih dan senjata mutakhir semata, tapi oleh strategi asimetris juga harus dibangun kuta. Oleh karena itu, kesamaan ini (peristiwa Perang Diponegoro dan situasi geopolitik global yang terjadi saat ini), memberikan pelajaran penting bahwa dalam konteks menghadapi konflik besar, maka ketahanan nasional harus dibangun dari dalam, bukan hanya mengandalkan faktor eksternal.

Lebih dari itu, peristiwa Perang Diponegoro juga telah menunjukkan dampak panjang konflik terhadap masyarakat, karena saat itu juga ekonomi melemah, struktur sosial terganggu, dan ketidakstabilan berlangsung lama. Lagi-lagi, kondisi tersebut memanf paralel dengan potensi dampak konflik (Iran dan Israel-AS) terhadap dunia saat ini. Karena, jalur perdagangan terganggu, harga energi naik, dan ketidakpastian meningkat. Bagi Indonesia, ini adalah peringatan, dan oleh karena itu soal ketahanan nasional tidak boleh hanya reaktif, tetapi harus proaktif. Dan salah satu langkah penting adalah diversifikasi energi, yakni jetergantungan pada satu kawasan harus dikurangi. Kemudian investasi pada energi terbarukan menjadi solusi jangka panjang yang tidak bisa ditunda.

II. Hindari “Retakan Piring Kebangsaan” di Tengah Geopolitik Global Yang Kian Memanas

Metapor judul diatas, hal itu dimaksudkan oleh penulis, yaitu untuk mengantifisir agar “Retakan Piring Kebangsaan” kita jangan sampai terjadi. Lebih dari itu, metapor pada sub judul diatas, yaitu untuk menggambaran tentang sebuah risiko apabila fragmentasi politik yang terlalu berlebihan di internal bangsa ini. Oleh karena itu, manakala “Keretakan Piring Kebangsaan Kita” betul-betul terjadi, maka dinamika kebangsaan kita juga akan terus terjadi intersinisme (centang perenang), bermonolog-monolog, dan bahkan sangat menghawatirkan akibatnya. Fenomena tersebut dalam konteks ilmu politik, seringkali disebut sebagai “Polarisasi Pluralistik”, dimana keberagaman yang seharusnya menjadi kekayaan justru berubah menjadi beban ketika tidak dikelola dengan satu perekat visi yang sama. Berikut ini adalah uraian mengenai dinamika kompleksitas partai dan intelektual dalam struktur kebangsaan kita:

A. Fragmentasi Intelektual : Terseraknya “Otak” Bangsa

Ketika jumlah partai politik di negeri ini terlalu banyak, maka para intelektual cenderung “terkotak-kotak” ke dalam kepentingan sempit (masuk ke ranah politik praktis-pragmatis) dan kecenderungannya sukan berdiri di posisi egonya masing-masing serta di kelompoknya masing-masing, bahkan keraplali akan :
(1). Kehilangan Fokus Nasional. Yaitu, para intelektual yang seharusnya menjadi “think-tank” untuk kemajuan bangsa, justru sering terjebak menjadi juru bicara (spokesperson) yang bertugas melegitimasi kepentingan partai.

(2). Retorika daripada Solusi.
Kerapkali juga energi intelektual anak bangsa ini suka habis digunakan untuk berdebat antar kubu demi memenangkan persepsi publik, sementara masalah fundamental birokrasi dan ekonomi sering terabaikan.

B. Kompleksitas Retakan : Sulitnya Menemukan Titik Temu

Semakin banyak kubu, semakin sulit membangun konsensus. Karena setiap “retakan” pada piring kebangsaan mewakili ego kelompok, perbedaan ideologi yang tajam, dan kompetisi yang sering kali tidak sehat, yang eksesnya :

(1). Biaya Politik yang Mahal.
Banyaknya partai menuntut biaya koordinasi yang sangat besar dalam pemerintahan. Proses pengambilan keputusan menjadi lambat karena harus mengakomodasi terlalu banyak kepentingan (kompromi yang berlebihan).

(2). Masyarakat yang Bingung.
Karena, keanekaragaman pemikiran yang tidak bermuara pada persatuan hanya akan menyisakan kebingungan di tingkat akar rumput, yang pada akhirnya memicu ketidakpercayaan kepada seluruh sistem demokrasi.

C. Perekat di Tengah Keretakan : Visi Besar dan Moralitas

Untuk mencegah piring kebangsaan itu pecah menjadi kepingan yang tak bisa disatukan kembali, dibutuhkan dua hal utama, diantaranya :
(1). Pemimpin Yang Melampaui Sekat Partai. Yakni, dibutuhkan sosok yang mampu berdiri di atas semua golongan, yang visi besarnya bertindak sebagai “lem” yang menyatukan retakan-retakan tersebut.

(2). Intelektual Berkompas Moral. Yakni, para intelektual harus memiliki keberanian untuk berkata “benar dan proporsional” meskipun itu bertentangan dengan garis partai mereka. Mereka harus kembali menjadi penjaga nurani, bukan sekadar tukang stempel kebijakan kelompok.

D. Kesabaran Dalam Demokrasi Yang Berproses

Kita harus menyadari bahwa kebinekaan partai adalah keniscayaan dalam demokrasi yang sedang tumbuh. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengubah “keragaman yang meretakkan” menjadi “simfoni yang bisa menguatkan”. Caranya adalah dengan membatasi egoisme kelompok dan mengutamakan stabilitas nasional di atas segalanya.

Dengan kata lain, “piring kebangsaan kita” memang terlihat indah karena motifnya yang beragam, namun keindahan itu akan sirna jika ia pecah karena tekanan internal maupun eksternal. Tugas kita (seluruh elemen anak bangsa ini) bukan untuk menghilangkan warna-warni pemikiran tersebut, melainkan untuk memastikan bahwa piring itu memiliki struktur yang kuat untuk menopang beban berat di tengah badai geopolitik global yang kian memanas saat ini.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *