Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pagi itu, udara di sekitar Gedung Serbaguna Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, terasa begitu pekat oleh semangat yang membuncah. Ribuan langkah kaki berderap serempak, memecah keheningan fajar dalam sebuah agenda besar yang mempertemukan raga dan pemikiran. Acara jalan sehat Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) hari ini bukan sekadar ritual olahraga biasa, melainkan sebuah panggung besar tempat bertemunya para perawat peradaban. Di antara lambaian tangan Bupati Kabupaten Tangerang Bapak Maesyal Rasyid, Wakil Bupati Ibu Intan Nurul Hikmah, serta tokoh-tokoh daerah, gelombang manusia berbaju olahraga bergerak laksana aliran sungai yang tenang namun menghanyutkan. Di tengah riuhnya tawa keluarga besar KAHMI, sebuah dialog sunyi namun mendalam justru mulai meretas jalannya sendiri di atas aspal jalanan Tigaraksa.
Saya berjalan beriringan dengan seorang kawan lama yang kini mengemban amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan, Sahabat Rifaudin. Di sela-sela derap langkah kaki kami, perbincangan mengalir begitu saja, bermula dari basa-basi hangat hingga mengerucut pada sebuah kegelisahan akademik yang tengah ia tekuni dalam studi doktoralnya. Ia bercerita dengan binar mata yang khas tentang rencana disertasinya yang akan membedah anatomi kepemimpinan dan pendidikan profetik. Istilah “profetik” yang meluncur dari bibirnya seketika mengubah ritme jalan santai kami menjadi sebuah ruang kontemplasi yang melintasi batas-batas ruang kelas tradisional. Kami tidak lagi sekadar menghitung jarak tempuh langkah kaki, melainkan sedang menakar sejauh mana jarak moral yang telah memisahkan dunia pendidikan kita dari akar spiritualnya.
Konsep profetik dalam pendidikan bukanlah sebuah dogma mati, melainkan sebuah elan vital yang diadopsi dari pilar-pilar gerakan kenabian itu sendiri. Sembari melintasi rimbunnya pepohonan di kawasan Tigaraksa, kawan saya itu menjabarkan bagaimana gagasan besar Kuntowijoyo mengenai Ilmu Sosial Profetik harus diturunkan ke dalam ruang-ruang kelas modern. Pendidikan profetik menuntut adanya integrasi tiga pilar utama secara utuh, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi, ke dalam jiwa setiap pendidik. Humanisasi berarti memanusiakan manusia di tengah gempuran zaman yang semakin mekanistik, sementara liberasi adalah upaya membebaskan anak didik dari segala belenggu kebodohan dan penindasan mental. Di atas segalanya, transendensi menjadi sauh spiritual yang mengaitkan setiap jengkal ilmu pengetahuan di bumi dengan kesadaran vertikal kepada Sang Pencipta.
Perbincangan kami semakin menukik tajam ketika ingatan kolektif kami ditarik kembali pada memori masa lalu, khususnya romantisme dunia pendidikan era 80-an dan 90-an. Ada sebuah kesepakatan tanpa kata di antara kami bahwa sosok guru pada dekade tersebut memiliki aura dan wibawa yang melampaui sekat-sekat dinding sekolah. Guru pada masa itu dipandang masyarakat sebagai pengejawantahan sejati dari falsafah Jawa kuno yang luhur, yakni sosok yang layak untuk digugu lan ditiru. Mereka adalah lentera moral yang cahayanya tidak pernah padam, menuntun jalannya kompas etika di tengah-tengah pemukiman warga secara alami. Kehadiran mereka di ruang publik selalu membawa rasa segan yang bersumber dari ketulusan, sebuah fenomena sosiologis yang kini mulai langka kita temukan.
Kawan saya, sang calon doktor itu, kemudian melayangkan sebuah kritik reflektif yang sangat menghunjam jantung realitas pendidikan kontemporer saat ini. Menurut pencermatannya, guru-guru modern saat ini mengalami pergeseran nilai yang sangat drastis akibat benturan budaya baru dan pragmatisme sistemik. Sosok pendidik masa kini seolah-olah hanya mengenakan “jubah keguruannya” selama delapan jam kerja, persis seperti buruh pabrik yang terikat oleh jam operasional mesin. Begitu lonceng sekolah berbunyi dan mesin pencatat kehadiran digital diisi, identitas sakral sebagai seorang pendidik itu langsung dicopot dan digantung di gerbang sekolah. Mereka kembali menjadi manusia biasa yang melepaskan seluruh tanggung jawab moralnya, mengaburkan batas antara seorang pembimbing jiwa dan seorang pekerja transaksional.
Saya mencoba memberikan sebuah pandangan tandingan yang realistis untuk menguji ketahanan argumentasinya di sepanjang sisa rute jalan sehat tersebut. Saya mengingatkan beliau bahwa guru-guru hari ini adalah produk dari zamannya, manusia-manusia modern yang tidak bisa diisolasi dari arus deras perkembangan teknologi informasi. Mereka memiliki naluri alamiah untuk bersosialisasi, melepaskan penat, dan mengekspresikan diri di panggung megah yang bernama media sosial seperti Facebook, X, atau TikTok. Sangat manusiawi jika dalam ruang-ruang digital itu, mereka kadang kala larut dalam gerakan-gerakan konyol atau sekadar berceloteh tanpa beban layaknya masyarakat umum. Bukankah menuntut mereka untuk selalu tampil kaku dan sempurna selama dua puluh empat jam penuh adalah sebuah utopia yang tidak adil bagi kemanusiaan mereka?
Mendengar pancingan argumen saya, Kepala Kemenag Tangsel itu tersenyum tenang, sebuah ketenangan yang mencerminkan kedalaman pemahaman seorang praktisi sekaligus akademisi. Beliau menegaskan bahwa poin krusial dari pemikiran profetiknya bukanlah untuk melahirkan guru-guru pertapa yang anti terhadap kemajuan teknologi dan media sosial. Baginya, teknologi adalah sebuah keniscayaan zaman yang sangat penting dan harus dikuasai oleh setiap pendidik agar tidak tergilas oleh peradaban digital. Namun, substansi dasarnya adalah bagaimana kesadaran profetik itu mampu mengarahkan penggunaan teknologi tersebut ke dalam kanal-kanal yang sifatnya positif dan edukatif. Guru tidak boleh membiarkan dirinya terseret arus algoritma yang merusak, melainkan harus berdiri tegak sebagai nahkoda yang mengendalikan arah arus digital tersebut.
Diskusi kami kemudian menyoroti fenomena konkret di mana banyak oknum guru hari ini yang justru mendegradasi kehormatan dirinya sendiri demi mengejar validasi semu di dunia maya. Ketika seorang pendidik ikut larut dalam tren konyol yang menepikan adab, atau menggunakan jemarinya untuk menebar keluh kesah destruktif di ruang publik, wibawa mereka runtuh seketika. Anak didik yang mendamba keteladanan kini dapat dengan mudah menyaksikan kerapuhan moral gurunya hanya dalam satu kali klik di layar gawai mereka. Ketika batas-batas privasi telah runtuh oleh transparansi digital, guru tidak bisa lagi bersembunyi di balik dalih kebebasan individu di luar jam sekolah. Di sinilah konsep pendidikan profetik hadir untuk mengingatkan bahwa setiap jejak digital seorang guru adalah lembar-lembar kurikulum berjalan bagi muridnya.
Kami berdua kemudian sepakat menguliti salah satu program andalan pemerintah yang selama ini dianggap sebagai solusi mutlak peningkatan mutu pendidik, yaitu Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam pandangan reflektif kawan saya, program PPG yang berlangsung singkat itu sering kali salah kaprah dalam menerjemahkan esensi sejati dari seorang guru utuh. Program tersebut terbukti sangat mekanistis, hanya mampu mengkarbit aspek kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional melalui tumpukan modul dan ujian administratif. Namun, PPG terbukti gagap dan tidak maksimal ketika harus menyentuh dua dimensi esensial lainnya yang diamanatkan undang-undang, yaitu dimensi sosial dan dimensi kepribadian. Kedua kompetensi terakhir ini adalah wilayah rasa dan watak, sebuah domain spiritual yang mustahil untuk diakselerasi dalam hitungan hari.
Dimensi kepribadian dan dimensi sosial seorang pendidik memerlukan ruang inkubasi yang panjang, melalui proses habituasi dan refleksi batin yang berkesinambungan. Sifat siddiq yang berarti integritas radikal, serta amanah yang bermakna akuntabilitas moral di hadapan Tuhan, tidak akan pernah bisa dilahirkan dari ujian pilihan ganda. Begitu pula dengan sifat tabligh yang menuntut kemampuan komunikasi humanis, serta fathonah yang menuntut kecerdasan adaptif dalam membaca tanda-tanda zaman di era modern. Ketika program PPG hanya dijadikan batu loncatan pragmatis untuk mengejar selembar sertifikat demi tunjangan finansial, maka roh pendidikan itu sendiri telah mati. Kita mungkin berhasil mencetak ribuan pengajar yang mahir secara teknis, namun kita sedang mengalami kebangkrutan massal dalam mencetak sosok pendidik profetik.
Seorang pendidik profetik, dalam cetak biru pemikiran kawan saya, adalah mereka yang menyadari bahwa tugas mengajar adalah sebuah baiat spiritual yang suci. Mereka adalah manusia-manusia yang tidak pernah mengenal tombol padam dalam memancarkan keteladanan, baik saat berdiri di depan papan tulis maupun saat membaur di tengah masyarakat. Karakter kenabian yang melekat pada diri mereka menuntut adanya konsistensi mutlak antara kata dan perbuatan, antara ruang kelas yang steril dan ruang publik yang bising. Di era di mana kecerdasan buatan dapat menjawab segala pertanyaan ilmiah, eksistensi guru hanya akan tetap dihargai jika mereka memiliki otoritas moral. Otoritas moral inilah benteng terakhir yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode pemrograman secanggih apa pun.
Langkah kaki kami akhirnya kembali mendekati titik akhir di kawasan Gedung Serbaguna Tigaraksa, seiring dengan matahari yang mulai beranjak tinggi membakar aspal. Rombongan jalan sehat KAHMI mulai memasuki ruang GSG dalam sukacita, namun kepala saya justru dipenuhi oleh kilatan-kilatan pemikiran yang baru saja ditanamkan oleh kawan saya. Dialog sepanjang rute jalan sehat tadi telah membuka mata batin saya tentang betapa daruratnya kondisi fondasi moral pendidikan nasional kita. Pemikiran doktor yang sedang disusun oleh Sahabat Rifaudin bukan sekadar pemenuhan syarat akademis yang elitis, melainkan sebuah seruan darurat untuk menyelamatkan jiwa generasi masa depan. Kita membutuhkan reorientasi radikal untuk mengembalikan marwah guru sebagai pemegang mandat risalah kenabian di muka bumi.
Secara kontemplatif, saya menyimpulkan bahwa teknologi dan modernitas bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan realitas baru yang harus diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan. Pendidikan profetik adalah jembatan emas yang menghubungkan kecanggihan masa depan dengan keluhuran masa lalu yang mulai ditinggalkan oleh peradaban modern. Kita tidak sedang mengajak para guru untuk mundur ke masa lalu, melainkan menantang mereka untuk membawa obor spiritualitas itu ke masa depan yang serba digital. Tugas berat ini kini berada di pundak para pengambil kebijakan, institusi keagamaan, serta para pendidik itu sendiri untuk membongkar sistem yang kaku. Hanya dengan cara itulah, institusi pendidikan kita dapat kembali melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga merdeka jiwanya.
Pagi yang melelahkan secara fisik itu justru menjadi pagi yang sangat menyegarkan bagi pengembaraan intelektual dan spiritual saya secara pribadi. Pertemuan tak sengaja dalam sebuah acara jalan sehat KAHMI telah berubah menjadi sebuah majelis ilmu yang penuh dengan keberkahan refleksi. Saya menatap sosok Sahabat Rifaudin dengan rasa hormat yang mendalam, mendoakan agar disertasinya mampu menjadi cetak biru perubahan yang nyata. Langkah kaki kami boleh saja berhenti di garis akhir rute Tigaraksa hari ini, namun langkah perjuangan untuk membumikan nilai-nilai profetik baru saja dimulai. Di atas tanah Kabupaten Tangerang ini, sebuah benih pemikiran telah ditanam, dan tugas kita bersama adalah merawatnya hingga tumbuh menjadi pohon peradaban yang rimbun. Wallahualam.***
Pasir Gintung, Ahad, 24 Mei 2026



