Ocit Abdurrosyid Siddiq
Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten

Matahari perlahan condong ke barat saat saya menatap lurus ke arah cakrawala pesisir Binuangeun. Desau angin laut yang membawa aroma garam khas seolah berbisik, mengantarkan gelombang perenungan yang mendalam ke relung kesadaran saya sebagai seorang alumnus Prodi Aqidah Filsafat. Di hadapan hamparan samudra yang luas ini, pikiran saya mendadak melompat jauh ke bentangan aula Pesantren Modern Daarul Qolam, Gintung, tempat para maestro dan ulama berkumpul dalam kebersamaan kultural. Dalam acara Maestro Summit 2026 yang akan digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026 ini, ada sebuah resonansi kuat yang mengetuk dinding batin saya ketika membaca tajuk pembekalan yang akan dihantarkan oleh guru bangsa kita, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Beliau mengetengahkan tema yang amat krusial bagi masa depan peradaban kita: “Arah Baru Seni Budaya Islam Indonesia: Reorientasi Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah di Era Post Truth.”

Tema tersebut bukanlah sekadar deretan diksi akademis yang mentereng, melainkan sebuah alarm sosiologis yang sedang berdering keras di tengah riuh rendahnya zaman modern. Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya melihat pergulatan ini melalui kacamata yang lebih intim—sebuah sudut pandang lokal tempat bahasa daerah bertindak sebagai benteng terakhir dari pertahanan moral umat manusia. Era post-truth atau pasca-kebenaran telah mengubah lanskap kesadaran kita, di mana emosi dan keyakinan personal lebih dihargai ketimbang fakta objektif yang sahih. Di ruang digital yang mahaluas, narasi diproduksi secara massal untuk memanipulasi persepsi, mengaburkan batasan antara yang hak dan yang batil, hingga membuat kita kerap kali terasing dari kebenaran yang sejati.

Merenungkan fenomena pasca-kebenaran ini dari sudut pandang filsafat kebudayaan membawa saya pada satu kesimpulan filosofis yang mendasar: bahwa krisis terbesar manusia modern adalah amnesia linguistik dan kultural. Ketika masyarakat perlahan-lahan mulai eureun menggunakan bahasa ibunya, mereka sebenarnya sedang merobohkan tiang-tiang penyangga cara mereka berpikir dan memandang dunia. Dialek Sunda Banten yang kami rawat di dalam komunitas, dengan segala kelugasan dan kejujurannya, bukan sekadar urusan paranti bercakap-cakap di pasar atau di surau. Lebih dari itu, ia adalah struktur logos—sebuah wadah epistemologis tempat nilai-nilai luhur akidah Islam bersenyawa secara harmonis dengan kosmologi lokal yang bersahaja.

Masyarakat Banten sejak dahulu kala dibentuk oleh sebuah ekosistem sosial yang memiliki watak ketegasan yang luar biasa. Karakter pengkuh pada prinsip hidup dan kareueus terhadap identitas diri tecermin secara gamblang dalam dialek Sunda Banten yang egaliter dan apa adanya. Bahasa kami tidak mengenal stratifikasi hierarkis yang kaku, melainkan mengedepankan keterbukaan dan kejujuran komunal yang tulus. Di era post-truth, di mana kebohongan dikemas dengan retorika yang manis dan manipulatif, watak bahasa Banten yang lugas dan blak-blakan ini justru menjadi instrumen penawar yang sangat mujarab untuk menelanjangi kepalsuan digital.

Jika kita membedah trajektori sejarah, kekuatan dakwah Islam Nusantara di tanah Jawara ini tidak pernah bisa dilepaskan dari peran vital kemandirian pesantren. Pesantren-pesantren salafi yang tersebar di pelosok Banten bertindak sebagai laboratorium hidup tempat kebudayaan Islam dirawat tanpa harus kehilangan jangkar lokalnya. Melalui tradisi mengaji bandungan dan sorogan, para kiai dan santri menerjemahkan teks-teks Arab gundul yang sarat kedalaman ilmu ke dalam rasa bahasa Sunda Banten sehari-hari. Kemandirian pesantren inilah yang menjaga marwah umat agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan politik kekuasaan maupun arus industrialisasi yang masif menggempur kawasan kita.

Namun, realitas kontemporer saat ini memperlihatkan kecenderungan sosiologis yang sangat mencemaskan di kalangan generasi muda kita. Anak-anak muda Banten hari ini, yang tumbuh dalam kepungan algoritma media sosial, perlahan-lahan mulai merasa asing dengan diksi-diksi warisan leluhurnya sendiri. Mereka lebih fasih menirukan slang urban yang artifisial ketimbang meresapi kedalaman makna filosofis yang terkandung di dalam khazanah bahasa daerahnya. Gejala pendangkalan makna linguistik ini adalah awal dari kehancuran karakter, sebuah lampu kuning yang menandakan bahwa benteng pertahanan moral kita sedang mengalami keretakan yang serius.

Oleh karena itu, reorientasi budaya Islam yang digaungkan oleh Kiai Ma’ruf Amin harus kita maknai sebagai sebuah panggilan jihad kebudayaan yang nyata. Seni budaya Islam tidak boleh lagi sekadar diposisikan sebagai tontonan hiburan yang instrumental atau pelengkap seremoni formal semata. Ia harus ditransformasikan menjadi wasilah dakwah yang hidup, sebuah media profetik paranti memurnikan kembali akal sehat umat dari polusi informasi pasca-kebenaran. Gerakan penyusunan kamus lokal yang kami lakukan di komunitas adalah salah satu bata kecil untuk membangun kembali menara peradaban Islam yang kokoh dan berakar pada bumi tempatnya berpijak.

Kita tidak boleh membiarkan langkah kebudayaan ini berjalan sendiri tanpa adanya sinergi yang kuat dengan institusi keagamaan dan pendidikan Islam. LSBPI MUI memiliki tanggung jawab sejarah untuk mengonsolidasikan para maestro, seniman, dan pegiat bahasa di seluruh Nusantara agar bergerak dalam satu irama yang padu. Mengintegrasikan khazanah dialek lokal dan sastra Islam daerah ke dalam muatan lokal pesantren dan madrasah adalah langkah taktis yang mendesak. Kita harus memastikan bahwa generasi engke—anak cucu yang akan mewarisi negeri ini—tetap memiliki kompas transendental yang jelas di tengah belantara disrupsi global.

Dari tepi pantai Binuangeun yang damai, kontemplasi ini membawa sebuah keyakinan baru bahwa fajar kebangkitan kultural itu akan terbit dari rahim Gintung. Pertemuan para maestro nasional esok hari harus mampu melahirkan manifesto kebudayaan yang tegas, yang menempatkan kearifan lokal sebagai pilar utama dakwah Islam Nusantara. Kita harus membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang ramah terhadap tradisi, yang mampu menyerap keindahan lokal untuk memancarkan cahaya kebenaran yang universal. Tugas kita adalah menjaga agar api peradaban ini tetap menyala di dalam dada setiap insan muslim di Nusantara.

Sebagai penutup dari refleksi siang ini, saya meneguhkan niat untuk terus melangkah bersama seluruh pengurus Komunitas Kamus Sunda Banten. Perjuangan mendokumentasikan dan menghidupkan kembali kata demi kata adalah ibadah kebudayaan yang tidak boleh eureun di tengah jalan, terlepas dari seberapa berat tantangan zaman yang menghadang. Menjaga kata berarti menjaga cara kita berpikir, dan menjaga cara kita berpikir adalah prasyarat mutlak paranti mempertahankan kebenaran di era yang penuh kepalsuan ini. Mari kita songsong Maestro Summit 2026 dengan optimisme yang membubung tinggi, demi lestarinya budaya Islam yang agung di bumi Nusantara. Wallahualam.***

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *