Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pengurus ICMI Orwil Banten
Mari kita ngariung sejenak di beranda, menyeduh kopi hitam, kopi dengan merk Hijau Hitam, produk kader KAHMI Kabupaten Tangerang, sembari memandang ombak Binuangeun yang bergulung konstan. Siang ini, isi kepala saya mendadak penuh setelah membongkar celengan ironi tentang rukun Islam kelima: ibadah haji. Sebagai orang yang pernah menyesap manis-getirnya dialektika di bangku Akidah dan Filsafat, saya merasa ada yang perlu kita gergaji dari cara manusia modern beribadah.
Kita tahu, haji itu puncak spiritualitas, sebuah lompatan eksistensial yang luar biasa. Namun, coba perhatikan dengan jernih, mengapa hari ini rukun yang paling menguras air mata dan dompet ini perlahan terasa bergeser menjadi mirip festival tamasya komunal? Hehe… Jangan tersinggung dulu, ini justru sebuah gugatan teologis yang renyah untuk kita obrolkan santai.
Coba kita bandingkan secara titi resik dengan empat rukun Islam sebelumnya. Syahadat, salat, zakat, dan puasa itu dari zaman Kanjeng Nabi, para sahabat, tabi’in, sampai era kita sekarang nyaris tidak bergeser satu sentimeter pun. Formatnya ajeg, kaku, dan ta’abbudi murni. Sejak dulu sampai sekarang, yang namanya salat ya gerakannya begitu, tidak ada inovasi salat menggunakan kecerdasan buatan atau robot asisten.
Keajegan inilah yang merawat sakralitas organiknya tetap utuh. Siapapun yang bersujud hari ini, kaya atau miskin, masuk ke dalam dimensi waktu yang sama dengan masa silam. Tapi begitu kita menengok haji, waduh, jalurnya beralih rupa menjadi sirkuit peradaban yang dipaksa berkompromi dengan deru modernitas dan teknologi.
Dulu, ketika para sepuh kita di Banten hendak berangkat haji, suasananya mencekam laksana melepas orang yang mau pindah ke alam barzakh. Rumah-rumah panggung di pesisir dilepaskan dengan isak tangis yang pecah, karena bertaruh nyawa menembus ombak samudra berbulan-bulan di atas kapal laut adalah sebuah kepastian riyadhah batin. Jarak yang jauh dikompensasi oleh waktu yang luas untuk menata hati. Begitu kaki menginjak tanah suci, ego keduniawian mereka sudah luruh, sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Nah, sekarang? Teknologi melipat jarak belasan ribu kilometer menjadi sekadar penerbangan sembilan jam saja. Begitu instan! Saking cepatnya, kadang batin kita belum siap secara spiritual ketika tubuh mendadak sudah berdiri di depan Ka’bah. Kemarin masih sibuk mikirin panen padi atau rapat di sekolah, tahu-tahu hari ini sudah harus pakai kain ihram di bawah terik Makkah. Tidakkah akselerasi mekanis ini sering kali melahirkan kegagapan jiwa?
Sekarang mari kita masuk ke teater Arafah, tempat yang secara ontologis merupakan miniatur Padang Mahsyar. Di zaman nabi dan sahabat, wukuf di sana adalah ruang isolasi total yang menggetarkan. Bayangkan padang pasir gersang, manusia berdiri telanjang dari segala atribut duniawi, meratapi dosa di bawah sengatan matahari yang membakar. Sakralitasnya lahir dari ketelanjangan eksistensial itu.
Tapi kalau kita menengok Arafah hari ini, suasananya persis seperti kegiatan kemping akbar pramuka atau piknik keluarga usai lebaran, hehe… Tenda-tenda raksasa berdiri megah, lengkap dengan embusan AC yang dingin, kasur busa yang empuk, dan prasmanan all-you-can-eat menu Nusantara yang melimpah.
Pertanyaannya kemudian muncul dalam benak kita yang paling dalam: Apakah tiupan AC yang sejuk di dalam tenda itu tidak sedang membekukan kehangatan air mata taubat kita? Ketika rasa lapar dan lelah dieliminasi oleh manajemen kenyamanan, di manakah kita meletakkan rasa fana dan remuknya jiwa sebagai hamba yang papa? Suasana berkumpul dengan sesama orang Sunda Banten dalam satu tenda besar malah sering kali memancing memori kolektif untuk ngariung kasual, mengobrolkan urusan domestik tanah air, atau sibuk mencari stopkontak demi mengisi daya baterai gawai.
Sungguh sebuah ujian baru bagi manusia modern: jika dulu para sahabat diuji oleh keganasan alam untuk menemukan kekhusyukan, kita hari ini justru diuji oleh kenyamanan yang melenakan untuk bisa tetap ingat pada kematian.
Setali tiga uang dengan suasana mabit di Mina. Lembah yang seharusnya menjadi medan pertempuran batin tempat Ibrahim AS menyembelih egonya, kini menjelma menjadi ruang istirahat yang kasual. Di sela riuh rendah obrolan profan di dalam tenda, sering kali esensi bermalam itu luruh menjadi sekadar malam rekreasi religius.
Mestinya ada momen di mana seorang jemaah ngajedog (berdiam diri) dalam kesunyian batinnya sendiri, menyadari bahwa ia sedang merebahkan tubuh di atas tanah suci yang sama tempat para nabi menangis menuntut ketauhidan. Jika kesadaran itu tidak dibangun secara mandiri, maka Mina hanya akan diingat sebagai tempat menginap massal yang sedikit berdesakan, namun dengan fasilitas katering yang lumayan enak.
Lalu, bagaimana dengan ritual melempar jumrah? Wah, ini yang paling unik sekaligus miris. Secara hakekat, melempar batu di Jamarat adalah deklarasi perang radikal melawan berhala-berhala internal di dalam dada kita. Tapi kalau kita lihat di lapangan sekarang, jembatan jumrah yang megah, ber-AC, dan memiliki jalur searah yang super aman itu sering kali membuat jemaah kehilangan orientasi makna.
Ritus suci ini persis seperti arena “perang subuh” anak-anak muda di kampung setelah makan sahur, hehe… Ada yang melempar sambil berteriak histeris seolah memaki musuh bebuyutan, ada yang melempar pakai sandal, atau bahkan batu sebesar kepalan tangan seolah sedang tawuran antar-sekolah. Beberapa melakukannya dengan cara guyon dan konyol, kehilangan arah berkah lantaran menganggap pilar beton itu sebagai setan fisik yang nyata.
Belum lagi intervensi narsisme digital yang merusak fokus batin. Tangan kanan mengayunkan batu kecil, sementara tangan kiri sibuk memegang tongkat swafoto (selfie stick) demi merekam video konten untuk diunggah ke media sosial. Bayangkan, ibadah yang begitu sakral diturunkan kastanya menjadi sekadar bahan pameran digital demi meraup tombol suka dan pengakuan dari pengikut di dunia maya!
Apakah setan yang asli tidak sedang tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kelakuan konyol kita yang merasa sedang memusnahkannya, padahal batin kita sendiri sedang didekte oleh ego kepalsuan?
Mari kita bergeser ke ritual thawaf, putaran kosmis yang mengitari Baitullah sebanyak tujuh kali. Secara filosofis, tawaf adalah penyelarasan detak jantung kita dengan rotasi makrokosmos yang bertasbih dalam sunyi. Dulu, sakralitas thawaf dirajut dari keintiman gesekan kulit, peluh yang mengalir, dan kaki telanjang yang melepuh menyentuh marmer.
Ada rasa setara sebagai debu di hadapan Sang Pencipta. Namun sekarang, atas nama penyesuaian zaman dan manajemen massa, lantai atas Masjidil Haram disulap menjadi sirkuit mekanis untuk skuter listrik dan barisan kursi roda.
Tentu kita sepakat secara fikih bahwa teknologi ini adalah rukhshah (keringanan) yang luar biasa bagi para lansia atau jemaah yang fisiknya tidak lagi jagjag (sehat dan kuat). Islam tidak pernah menghendaki kesulitan. Tapi yang terasa menggelikan adalah ketika fasilitas skuter elektrik ini disewa oleh mereka yang sehat walafiat hanya karena malas berjalan dan ingin merasakan sensasi pragmatisme modern.
Sungguh paradoks yang nyata: di lantai bawah orang-orang bersimbah air mata merayap mendekati Ka’bah, sementara di lantai atas, manusia modern berputar-putar sembari duduk santai di atas jok empuk kendaraan listrik, sesekali memeriksa notifikasi pesan masuk, seolah sedang menikmati wahana bermain bertema religi. Bunyi dengung dinamo mesin skuter elektrik perlahan membubarkan keheningan mistis yang seharusnya kita pelihara.
Pemandangan serupa juga kita dapati di jalur sa’i. Koridor sejarah tempat Siti Hajar berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah demi menyambung nyawa bayinya, kini telah dikurung dalam benteng marmer putih yang sejuk dan terang benderang. Efeknya? Ritme kepedihan dan keputusasaan seorang ibu yang mengetuk pintu arsy Tuhan itu perlahan menguap.
Berlari kecil di antara lampu hijau sekarang terasa mekanis, serupa dengan aktivitas olahraga kebugaran jasmani atau jogging tamasya di hari Minggu pagi ketika car free day. Jika tidak dibarengi dengan kemampuan tajrid (menolak larut dalam sekitar), jemaah hanya akan merasakan kesegaran fisik setelah sa’i, bukan kesegaran ruhani yang bersumber dari mata air zamzam metafisik.
Bahkan ketika ritual ini hampir selesai pada prosesi tahallul, getaran sakralitas itu kembali ditantang oleh modernitas. Dulu jemaah saling mencukur rambut dengan penuh takzim di sudut Marwah menggunakan gunting kecil bersahaja, memaknai jatuhnya helai rambut sebagai rontoknya kesombongan pangkat dan status duniawi.
Sekarang, tugas itu beralih ke gerai barbershop modern yang cepat dan efisien. Desau mesin cukur listrik (clipper) bergetar cepat memotong rambut demi estetika penampilan luar dan perputaran riyal yang instan. Tanpa penghayatan batin yang kuat, kursi barbershop di Makkah tidak akan ada bedanya dengan tempat potong rambut biasa di pojokan pasar Kota Serang; kering, hambar, dan kehilangan dimensi transisinya sebagai ritus kelahiran kembali jiwa yang fitrah.
Ketika seluruh ritual haji selesai, sisa waktu berhari-hari menjelang jadwal pesawat pulang kampung digunakan untuk apa? Ya itu dia, selebihnya adalah wisata sejarah sambil belanja oleh-oleh besar-besaran, hehe… Toko-toko suvenir dan pusat perbelanjaan emas yang mengepung tanah suci mendadak menjadi kiblat baru yang tidak kalah ramai.
Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk iktikaf perpisahan atau merenungi bekal spiritual yang didapat, habis terjual dalam urusan tawar-menawar harga kurma atau kalkulasi muatan bagasi pesawat agar tidak terkena denda.
Lantas, setelah merenungkan rentetan fenomena di atas, apakah kita harus menolak teknologi dan kembali ke era unta? Tentu saja tidak. Itu pemikiran primitif namanya. Yang esensial bagi kita sekarang—sebagai komunitas yang dididik untuk selalu rumawat terhadap kemurnian niat—adalah membangun rekonstruksi kesadaran subjektif yang radikal di dalam dada masing-masing jemaah. Fasilitas boleh modern, tenda boleh ber-AC, dan perjalanan boleh menggunakan pesawat terbang cepat, tetapi jiwa kita harus tetap mampu menyendiri di tengah keramaian, menolak dijinakkan oleh nyamannya fasilitas duniawi.
Haji yang mabrur bukanlah haji yang bebas dari teknologi, melainkan haji di mana hamba mampu menggunakan teknologi tanpa membiarkan teknologi itu mengikis ketajaman air mata taubatnya di hadapan Sang Maha Kuasa.
Setelah Anda membaca tulisan bernada celoteh dan agak nakal ini, apakah kopi kita siang ini sudah cukup pahit untuk melunturkan kemunafikan cara beragama kita? Silakan seruput dulu kopinya. Wallahualam.***



