Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus Prodi Akidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung

Sinar matahari pagi ini terasa begitu menyengat di pelataran masjid kampung, menyusup di antara sela-sela genting dan memantul di atas hamparan sajadah yang berjejer rapi. Gema takbir yang bersahut-sahutan sejak malam tadi kini telah berganti dengan keheningan khusyuk ribuan jemaah yang bersila, merayakan hari raya Iduladha dengan pakaian terbaik mereka.

Namun, di sudut barisan tengah, kelopak mata saya terasa teramat berat, bergelut hebat dengan sisa-sisa kantuk yang menggelayut akibat prosesi takbiran di musala samping rumah yang baru menyentuh kata usai persis menjelang fajar menyingsing. Di atas mimbar kayu yang berukir rumit, sang khatib mulai menaikkan nada suaranya, membelah kesunyian pagi dengan narasi klasik tentang kepatuhan mutlak seorang ayah di atas altar batu purba.

Suara khatib yang bertenaga itu perlahan menjelma menjadi semacam latar suara bagi pergulatan batin yang berkecamuk di dalam kepala saya sendiri. Beliau mulai menceritakan bagaimana Malaikat Jibril turun dari langit dengan kecepatan cahaya, menenteng seekor domba jantan yang besar untuk menggantikan posisi Ismail di ujung bilah pisau Ibrahim yang tajam.

Narasi itu disampaikan dengan begitu teatrikal, lengkap dengan bumbu-bumbu keajaiban yang dramatis, seolah-olah seluruh peristiwa tersebut terjadi dalam skenario bim salabim yang instan dan tanpa celah kemanusiaan. Di tengah kepungan kantuk yang merubung, nalar filsafat saya yang kerap mendaras teks-teks epistemologi seketika terjaga, memicu sebuah gugatan sunyi tentang bagaimana sejarah suci ini dikemas dan disajikan kepada umat manusia.

Penyajian kisah kurban yang dikemas bak dongeng fabel di atas mimbar tadi membawa ingatan saya terbang pada lembaran-lembaran kitab kuning yang berjajar di ruang-ruang santri dan kiai. Ada sebuah fenomena unik di mana pendapat para ulama terdahulu yang tertuang dalam kitab-kitab gundul tersebut sering kali diposisikan pada derajat yang teramat sakral, bahkan seolah-olah berada di atas Al-Qur’an dan hadis itu sendiri.

Umat hari ini kerap kali begitu silau oleh kebesaran masa lalu, sehingga apa pun yang dikutip dari lembaran usang dianggap sebagai kebenaran final yang haram untuk diperdebatkan atau diselisih. Kita seolah lupa bahwa para mufasir agung itu pun adalah manusia sejarah yang pengetahuannya tidak berdiri di ruang hampa, melainkan dibentuk oleh guru, buku, dan budaya tempat mereka bertumbuh.

Sikap mental yang menelan mentah-mentah tanpa gairah untuk menguji kembali landasan berpikir inilah yang dalam tradisi ilmiah Islam kita kenal dengan istilah taklid. Fenomena ini menciptakan sebuah ironi epistemologis yang sangat telanjang di dalam kehidupan beragama masyarakat modern saat ini.

Lembar Al-Qur’an masih bisa ditafsirkan melalui perangkat ilmu bahasa, dan untaian hadis masih bisa diperdebatkan tingkat kesahihannya melalui kritik sanad yang ketat. Namun, anehnya, ketika seorang penceramah sudah mengutip satu qaul dari kitab fikih klasik, seketika itu pula pintu dialog tertutup rapat dan nalar kritis umat dipaksa untuk bertekuk lutut.

Jika kita berani melangkah lebih jauh ke hulu sejarah tanpa kepalsuan dogma, kita akan menyadari bahwa batas antara wahyu murni dan kultur lokal sesungguhnya sangat karib. Jangankan pendapat para ulama di dalam kitab kuno, bahkan lisan suci Nabi Muhammad SAW ketika menyampaikan fatwanya pun tidak pernah benar-benar terlepas dari lingkaran tradisi di sekitarnya.

Beliau adalah seorang manusia agung yang hidup dalam bentang sosiologis Arab abad ketujuh, yang bahasanya, metaforanya, dan beberapa keputusan hukumnya berdialog langsung dengan memori kolektif masyarakat komunal saat itu. Memahami dimensi historis kenabian ini sama sekali tidak menurunkan derajat kesucian tugas beliau, melainkan justru mendudukkan sosok para utusan sebagai reformis nyata yang membumi.

Ketika para nabi Ulul ‘Azmi yang memiliki kecerdasan luar biasa itu bersentuhan langsung dengan dimensi metafisika melalui perantara Jibril, mereka sedang mengalirkan kebenaran langit ke dalam wadah bumi. Namun, ketika kisah-kisah agung tersebut turun kepada generasi setelahnya, terjadilah proses domestikasi dan dramatisasi yang berlebihan demi pemenuhan syiar emosional.

Dialog spiritual yang sejatinya berlangsung minimalis dan sarat dengan ketegangan eksistensial, bertransformasi menjadi panggung sandiwara yang penuh dengan bumbu mistisisme magis. Akibatnya, fokus perhatian umat hari ini sering kali terdistorsi; kita lebih asyik mengagumi keajaiban instan tentang domba yang melayang daripada merenungkan esensi radikal dari makna pengorbanan itu sendiri.

Di sinilah letak benturan terdahsyat yang memicu kecemasan intelektual manakala teks suci tersebut dihadapkan secara frontal pada laboratorium sains modern. Jika ditinjau dari perspektif sains positivistik dan metodologi ilmu sejarah murni, kisah penggantian anak manusia dengan seekor domba secara mendadak jelas merupakan perkara yang absurd.

Sains bekerja di atas altar materialisme yang menuntut adanya kausalitas yang dapat diukur, diamati secara indrawi, serta direplikasi di bawah kendali instrumen laboratorium. Keberadaan sosok Jibril sebagai agen transenden yang mengintervensi ruang dan waktu bumi tidak meninggalkan sidik jari biologis atau jejak karbon yang bisa diolah oleh para sejarawan empiris.

Ilmu sejarah modern akan langsung mengategorikan intervensi ilahi semacam itu ke dalam wilayah mitos atau folklor, karena ketiadaan bukti primer yang bersifat netral secara ideologis. Di hadapan kepakan sayap Jibril yang melintasi dimensi, pisau analisis para ilmuwan murni seketika mengalami kelumpuhan total dan kehilangan daya guna.

Fakta ini menunjukkan adanya sebuah dinding demarkasi ontologis yang sangat kokoh, yang memisahkan antara yang fisik-temporal dan yang metafisik-abadi. Memaksakan mukjizat untuk tunduk pada hukum alam yang partikular adalah sebuah kesalahan metodologis, sebagaimana menilai keindahan sebuah lukisan abstrak dengan menggunakan timbangan berat komoditas.

Dari sudut pandang yang lebih luas, kisah kurban Ibrahim sesungguhnya merupakan sebuah memori kolektif umat manusia yang telah lulus melewati ujian waktu yang teramat panjang. Jejak tradisinya tidak hanya diakui oleh tiga agama besar rumpun Abrahamik, melainkan juga terekam dalam berbagai transformasi kebudayaan dan tradisi lisan lintas bangsa di dunia.

Secara antropologis, narasi ini merupakan proklamasi kemanusiaan yang sangat revolusioner pada zamannya, yang menandai berakhirnya era barbar pengorbanan nyawa manusia kepada para dewa. Melalui simbolisme seekor domba jantan, peradaban digeser ke arah yang lebih luhur, di mana yang dituntut untuk disembelih bukan lagi raga manusia, melainkan sifat-sifat kebinatangan yang bersemayam di dalam dada.

Saat merenungkan pergulatan ini di bawah bayang-bayang pesisir Binuangeun yang riuh oleh deburan ombak, sembari menyantap uli bakar dipadu semur daging buatan ibu, saya menyadari pentingnya kedewasaan dalam beragama. Sudah saatnya para khatib di atas mimbar mulai menyajikan sejarah keagamaan secara lebih proporsional, tanpa perlu melenakan umat dengan dongeng-dongeng yang menjauhkan mereka dari realitas.

Pendekatan khotbah yang lebih rasional dan berfokus pada penggalian hikmah sosiologis akan jauh lebih bermakna dan menyelamatkan generasi muda dari penyakit skeptisisme akut. Umat harus diajak untuk memahami bahwa “domba” yang harus disembelih hari ini bisa berwujud ketamakan, egoisme pribadi, atau keserakahan kelompok yang sering kali merusak tatanan kedamaian sosial.

Mungkin di sinilah iman, filsafat, ilmu pengetahuan, dan panca indera manusia menemukan titik temu yang adil sebagai instrumen untuk menakar ragam tingkat kebenaran. Panca indera memetakan yang lahiriah, sains mengurai keteraturan alam, dan filsafat menguliti kedalaman makna serta memberikan kritik yang tajam terhadap kebekuan berpikir.

Namun, ketika semua instrumen bumi itu telah tiba di batas terjauh dari kemampuan jangkauannya, iman datang sebagai lentera transendensi yang menyempurnakan seluruh perjalanan pencarian. Iman tidak hadir untuk menghancurkan akal sehat, melainkan sebagai sebuah lompatan sadar menuju pelukan Yang Maha Mutlak yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Kisah agung kurban Nabi Ibrahim tidak akan pernah bisa diringkas ke dalam rumus matematika atau diverifikasi secara tuntas di atas lembaran dokumen sejarah positif. Peristiwa baheula tersebut hanya akan mendapatkan kebenarannya yang paling benderang dan murni manakala didekati dengan menggunakan kacamata keimanan yang tulus.

Menjadi manusia yang beragama berarti memiliki keberanian untuk menggunakan akal secara maksimal sekaligus memiliki kerendahan hati untuk bersujud ketika berhadapan dengan misteri Ilahi. Di bawah langit pagi yang semakin meninggi, kantuk saya perlahan menguap, meninggalkan sebuah keyakinan yang panceg di dalam dada bahwa berilmu membuat kita bijak, dan beriman membuat kita ikhlas. Wallahualam.*

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *