Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung
Tak terasa, waktu seakan berlari seperti kijang yang dikejar bayang-bayangnya sendiri. Kini, kita sudah berada di penghujung kalender, menatap ufuk pergantian tahun Hijriyah yang sebentar lagi menyapa, 1 Muharram 1448 H. Peristiwa yang bertepatan dengan 16 Juni 2026 Masehi ini selalu menyisakan ruang kosong dalam batin, sebuah ruang untuk merenung di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Sebagai seorang yang menghabiskan masa muda berkutat dengan diktat Aqidah Filsafat, saya sering melihat realitas ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan sebuah dialektika yang penuh dengan komedi tragis.
Seringkali kita terjebak dalam labirin logika yang kita bangun sendiri, sebuah standar ganda yang membuat kita tampak seperti pemain sulap amatir yang gagal menyembunyikan kelinci di dalam topi. Lihatlah bagaimana kita menyikapi pergantian tahun Masehi dengan kacamata kuda yang tebalnya minta ampun.
Begitu masuk bulan Desember, sebagian dari kita mendadak menjadi hakim agung yang siap mengetuk palu penghakiman, mencap kembang api sebagai tradisi Majusi, petasan sebagai warisan Yahudi, dan terompet sebagai simbol Nashrani. Kita begitu sibuk menghitung dosa orang lain sampai lupa bahwa kita pun sedang berdiri di atas panggung yang sama.
Namun, mari kita tengok ke arah lain, ke arah kebun kita sendiri. Ketika tiba giliran pergantian tahun Hijriyah, suasana berubah menjadi lebih “adem” dan senyap, seperti orang yang sedang berpura-pura tidur agar tidak disuruh mencuci piring. Kita merayakan pergantian tahun dengan pawai obor, menyalakan api yang menjilat-jilat di kegelapan malam.
Apakah kita lantas berteriak, “Wah, ini tradisi Majusi!”? Tentu saja tidak. Kita justru menyebutnya sebagai syiar Islam, sebuah bentuk kegembiraan yang suci dan murni. Bukankah ini sebuah kontradiksi yang lucu, sebuah dagelan teologis yang sangat nyata?
Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya seringkali terpaku melihat fenomena ini. Ada pepatah yang sangat relevan untuk menggambarkan kelakuan kita: kedek ngalakonan tapi endung dingaranan. Kita asyik melakukannya, kita menikmatinya sampai ke tulang sumsum, tetapi begitu diberi nama atau dikaitkan dengan akar sejarah, kita mendadak alergi.
Kita merasa tradisi obor itu adalah milik kita seutuhnya, sebuah identitas Nusantara yang kental, tanpa mau menyadari bahwa setiap bentuk perayaan di muka bumi ini sejatinya adalah hasil dari persilangan budaya yang panjang dan rumit.
Mari kita berandai-andai sejenak dengan metafora yang sederhana. Kita ini seperti orang yang sedang menjahit baju. Kita begitu bawel mengomentari jahitan baju orang lain, menudingnya miring, salah pola, atau tidak sesuai dengan pakem yang kita pelajari di buku teks. Kita teriak bahwa jahitan mereka akan membuat mereka celaka, padahal baju yang kita kenakan sendiri pun sebenarnya penuh tambalan.
Kita asyik menunjuk-nunjuk baju tetangga dengan jari telunjuk yang kotor, tanpa sadar bahwa tiga jari lainnya sedang menunjuk ke arah dada kita sendiri yang penuh dengan noda inkonsistensi.
Bukankah ini puncak dari perilaku yang tidak konsisten? Kita ingin menjadi penentu standar kebenaran bagi orang lain, padahal kita belum mampu menjahit baju kita sendiri agar pas di badan. Kita cenderung memaksakan persepsi kita kepada orang lain, menganggap bahwa apa yang menurut kita benar harus menjadi kebenaran tunggal yang tidak terbantahkan.
Padahal, dunia ini terlalu luas untuk diukur hanya dengan satu penggaris besi yang sudah karatan karena jarang digunakan untuk mengukur kedalaman hati sendiri.
Inilah saatnya kita berhenti menjadi “polisi moral” dadakan yang kerjanya hanya mengukur baju orang dengan badan sendiri. Dalam bahasa Sunda Banten yang sangat tajam dan filosofis, kita harus mulai menyadari prinsip ulah ngukur jamang batur ku awak sorangan. Jangan sekali-kali memaksakan ukuran tubuh kita—dengan segala keterbatasan dan ego kita—kepada orang lain.
Mungkin baju itu tidak cocok untuk mereka, mungkin mereka memiliki pola tubuh yang berbeda, atau mungkin mereka memang lebih nyaman dengan model pakaian yang jauh dari apa yang kita bayangkan.
Bayangkan jika setiap orang di negeri ini berhenti sibuk dengan urusan orang lain. Bayangkan jika energi yang kita habiskan untuk menghujat tradisi tetangga kita alihkan untuk menata diri sendiri, memperbaiki akhlak, dan memperdalam pemahaman agama. Bukankah akan lebih indah jika kita bisa saling menghargai perbedaan ekspresi kegembiraan?
Perayaan hanyalah sebuah wadah, sementara isinya adalah rasa syukur kepada Sang Pencipta. Jika wadahnya berbeda, apakah lantas syukurnya menjadi haram atau tidak sah?
Sebagai alumni filsafat, saya mengajak kita semua untuk menarik napas dalam-dalam. Mari kita gunakan rasionalitas kita untuk melihat bahwa tidak ada manusia yang memiliki hak monopoli atas kebenaran Tuhan. Perbedaan tradisi adalah kekayaan, bukan celah untuk saling mencaci.
Jika kawan-kawan nahdhiyyin sudah mampu menerapkan indigenisasi—sebuah seni mengolah norma menjadi budaya—maka mengapa kita tidak belajar dari kearifan tersebut? Mengapa kita tidak belajar untuk lebih luwes dalam melihat dunia?
Pawai obor malam nanti bukanlah sekadar membakar sumbu dan bambu. Itu adalah simbol, sebuah cahaya kecil di tengah gelapnya ego manusia yang suka mengotak-ngotakkan surga dan neraka. Mari kita bawa obor itu dengan kesadaran bahwa api ini bukan untuk membakar perbedaan, melainkan untuk menerangi langkah kita agar tidak tersesat dalam keangkuhan.
Kita rayakan pergantian tahun dengan gembira, bersama tetangga, bersama kerabat, dan bersama mereka yang mungkin memiliki pandangan berbeda dengan kita.
Saran saya, simpanlah palu penghakiman itu di laci paling dalam. Saatnya kita fokus pada resolusi pribadi: menjadi manusia yang lebih bijak, lebih inklusif, dan tentu saja, lebih jujur pada diri sendiri. Jangan biarkan tahun baru Hijriyah ini berlalu hanya dengan ritual pawai tanpa adanya perubahan di dalam batin.
Biarkan api obor itu menjadi saksi bahwa kita sudah mulai beranjak dari masa kanak-kanak teologis menuju kedewasaan spiritual yang penuh kasih sayang.
Maka, tidak perlu kiranya kita tergopoh-gopoh menghunus pedang tuduhan, menyebut perayaan pergantian tahun Masehi yang dihiasi kembang api sebagai laku haram yang bersumber dari tradisi Majusi. Sebab, bukankah setiap percik cahaya kembang api yang melukis langit malam sejatinya adalah produk peradaban manusia yang mencari ekspresi atas rasa syukur?
Jika kita terlalu cepat menuduh dengan standar yang kaku, kita sejatinya sedang mengasah bumerang yang akan berbalik melukai wajah sendiri saat kita bersuka cita merayakan pergantian tahun Hijriyah dengan nyala obor yang membakar kegelapan.
Sebab baik kembang api yang meledak di angkasa maupun obor yang menari di genggaman, keduanya hanyalah medium budaya—sebuah bahasa visual yang lahir dari rahim ruang dan waktu. Keduanya adalah penanda bahwa manusia, dalam kefanaannya, senantiasa merindukan cahaya sebagai simbol harapan baru yang lebih benderang.
Janganlah kita membelenggu kreativitas ekspresi syukur dalam kotak-kotak sempit prasangka, karena di hadapan Sang Pemilik Waktu, yang paling hakiki bukanlah pada apa yang kita nyalakan di tangan, melainkan pada kejernihan cahaya yang kita semayamkan di dalam kedalaman kalbu.
Selamat merayakan tahun baru Hijriyah 1448 H. Semoga di tahun yang baru ini, kita tidak lagi disibukkan oleh polemik kembang api atau obor, melainkan disibukkan oleh upaya untuk saling memahami. Semoga kita bisa menanggalkan baju keangkuhan dan mengenakan pakaian kerendahhatian.
Mari kita sambut tahun baru dengan harapan agar kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih terang, dan tentu saja, lebih adem daripada tahun-tahun sebelumnya. Selamat Tahun Baru Hijriyah! Wallahualam.*





