Oleh:

Endang Yusro

(Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang)

“Mau mencoba mengubahnya karena hasilnya Tuhan yang menentukan, atau menyerah – pasrah untuk kalah”

~EY

Hidup bagaikan bentangan dua jalan di hadapan, satu berliku namun menjanjikan pertumbuhan dan yang lain rata namun berujung pada diamnya jiwa.

Kita kadang bahkan sering berhenti karena terlalu cemas memikirkan akhir cerita, padahal tugas kita hanyalah menulis setiap barisnya dengan usaha yang tulus.

Allah S.W.T. mengingatkan: “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Mengubah diri memang tidak mudah, ada rasa takut, lelah yang menyapa, keraguan yang berbisik: “Apakah semua ini akan berarti?” Namun sesungguhnya, hasil bukanlah milik kita untuk menentukan.

Tangan kita hanya menanam benih kemudian menyiramnya dengan keringat dan doa, pertumbuhan serta panennya adalah hak prerogatif Sang Pemilik Kehidupan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Dalam hal ini, Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya ‘Ulumuddin (Jilid 4, hlm. 168) menjelaskan, “Puncak kesempurnaan iman adalah berusaha sekuat tenaga sesuai kemampuan, lalu melepaskan segala urusan kepada Allah, tanpa berharap dan takut selain kepada-Nya.”

Rasulullah Saw. juga bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” (HR. Al-Baihaqi)

Menyerah adalah jalan termudah ia tak butuh tenaga dan tak butuh keberanian, namun di sanalah kekalahan merayap pelan, melumpuhkan harapan sebelum sempat bersemi.

Sebaliknya, berusaha lalu berserah adalah kemuliaan hati, kita menghormati kuasa Tuhan sekaligus menjaga kehormatan diri untuk tidak berhenti berjuang.

Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa (Jilid 8, hlm. 232) menegaskan bahwa pasrah bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya, lalu ridha dengan ketetapan-Nya.

Jangan biarkan ketidakpastian esok melumpuhkan langkah hari ini, mencoba untuk mengubah, berjuanglah sekuat tenaga, lalu menyerahkan segalanya pada-Nya.

Lebih indah berjuang lalu menerima takdir-Nya, daripada diam menyerah dan kalah sebelum melangkah. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkanya,” (QS. At-Talaq: 2–3).

Menutup catatan akhir pekan (25/7/2026) ini sebagai introspeksi diri, penulis mengajak untuk tidak membiarkan rasa takut akan hasil yang tak pasti mematikan langkah kita hari ini.

Menanam benih kebaikan dengan segenap ikhtiar, lalu menyiramnya dengan kesabaran dan doa, kemudian menyerahkan sepenuhnya pertumbuhan serta panennya kepada Allah Yang Maha Mengatur.

Sesungguhnya, kemuliaan bukan terletak pada apa yang kita raih, melainkan pada seberapa tulus kita berjuang dan seberapa lapang dada kita menerima takdir-Nya.

Semoga kita termasuk golongan yang tidak berhenti berusaha, dan senantiasa ridha dengan ketetapan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *