Ocit Abdurrosyid Siddiq
Pengurus ICMI Orwil Banten
Tadi malam, saya baru saja selesai membaca buku berjudul “Matinya Kepakaran” atau The Death of Expertise karya Tom Nichols. Angin malam yang berembus pelan membuat saya banyak merenung tentang isi buku tersebut. Ada rasa sedih yang perlahan muncul di dalam hati saya. Buku ini bukan cuma deretan teori yang membosankan, melainkan cermin yang menunjukkan wajah masyarakat kita saat ini. Kita hidup di zaman yang serba cepat dan penuh informasi, tetapi sayangnya kita justru kehilangan makna yang dalam.
Saat ini, layar telepon genggam kita sudah berubah menjadi tempat pemujaan yang baru. Di sana, ilmu pengetahuan yang sebenarnya sering kali dikalahkan oleh hal-hal yang sedang viral. Akses internet yang sangat mudah membuat banyak orang biasa merasa sudah menjadi ahli hanya karena membaca satu atau dua artikel singkat. Ketidaktahuan kini sering kali menyamar menjadi kesombongan yang sangat membahayakan kita semua.
Sistem demokrasi memang menjamin hak setiap orang untuk bebas berbicara dan berpendapat. Namun, kebebasan ini kadang disalahartikan seolah-olah semua pendapat punya nilai kebenaran yang sama persis. Pendapat asal bunyi tanpa bukti sering kali minta dihargai setara dengan hasil penelitian para ahli selama bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit, rasa hormat terhadap ilmu pengetahuan mulai hancur dari dalam masyarakat kita sendiri.
Masalah ini terlihat makin jelas ketika kita melihat keadaan sosial dan politik di Indonesia saat ini. Ada semacam kelumpuhan pikiran sehat yang terjadi secara merata dan terencana. Kelumpuhan ini menjalar pelan-pelan dari obrolan di media sosial hingga ke panggung kekuasaan yang paling tinggi. Pikiran yang jernih dan masuk akal pelan-pelan disingkirkan, sementara hal-hal yang penuh sensasi malah dijadikan raja.
Mari kita lihat masalah ini mulai dari tingkat paling bawah, yaitu di media sosial kita sehari-hari. Ada sebuah kesalahan berpikir yang sering terjadi, di mana kebenaran cuma diukur dari seberapa banyak orang yang membicarakannya. Masyarakat sering menganggap bahwa kalau sesuatu itu disukai jutaan orang, maka hal itu pasti benar. Padahal, kebenaran sejati tidak pernah tunduk pada jumlah suka, tayangan, atau sekadar tepuk tangan yang ramai.
Mesin dan sistem di media sosial justru sering kali menjebak kita di dalam ruang yang hanya memantulkan suara kita sendiri. Sistem ini terus-menerus menyuapi kita dengan berita yang cuma membenarkan apa yang sudah kita percayai sebelumnya. Karena hal ini, kebenaran yang nyata dan apa adanya menjadi korban pertama yang dikorbankan. Orang lebih gampang percaya pada gosip yang dibicarakan banyak orang daripada fakta yang pahit.
Perasaan merasa kenal dan dekat dengan tokoh terkenal membuat masyarakat lebih mudah percaya pada omongan seorang figur publik. Mereka lebih percaya pada artis media sosial dibandingkan analisis dari seorang dosen atau peneliti yang memang ahli di bidangnya. Popularitas kini sudah merampas tempat yang seharusnya diduduki oleh ilmu pengetahuan yang mendalam. Akibatnya, orang yang punya banyak pengikut lebih didengar daripada orang yang punya banyak ilmu.
Kegelisahan saya menjadi semakin besar ketika melihat apa yang terjadi di panggung politik para pejabat tinggi di negeri ini. Lalu, sebuah pertanyaan besar muncul di kepala saya: apa salahnya Machiavelli? Niccolo Machiavelli adalah pemikir masa lalu yang mengajarkan bahwa untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, seorang pemimpin boleh menggunakan segala cara, termasuk menipu atau mengabaikan kebenaran. Lalu, kita bisa menjawab sendiri pertanyaan tersebut dengan melihat kenyataan hari ini.
Kesalahan utama dari ajaran Machiavelli adalah ketika prinsip itu dipakai untuk membodohi rakyat demi kepentingan politik semata. Di Indonesia saat ini, kita melihat dengan jelas bagaimana situasi politik dipenuhi oleh taktik yang sangat mengabaikan ilmu pengetahuan. Ada pejabat tinggi yang dengan santai menyebut para ahli sebagai orang bodoh, hanya karena para ahli tersebut memberikan kritik yang tidak sejalan dengan keinginan penguasa.
Hal ini menghubungkan kita secara langsung dengan kondisi dan situasi politik saat ini di Indonesia. Pemimpin yang mempraktikkan gaya Machiavelli tahu betul bahwa rakyat kebanyakan lebih suka bahasa yang merakyat daripada bahasa ilmiah yang rumit. Dengan mencemooh para pakar, mereka sebenarnya sedang mencari simpati dari masyarakat bawah. Mereka sengaja menciptakan jarak antara kaum terpelajar dengan rakyat biasa, agar rakyat hanya percaya pada penguasa.
Pernyataan yang merendahkan para ahli itu, walaupun mungkin cuma dianggap bercanda, memberikan contoh yang sangat buruk bagi masyarakat. Hal itu seolah memberi izin kepada warga biasa untuk ikut-ikutan meremehkan orang-orang yang berilmu. Narasi kekuasaan yang anti terhadap kritik berbasis data adalah bentuk nyata dari perlawanan terhadap kejujuran ilmu. Kritik yang membangun tidak dijawab dengan fakta, tapi malah dibalas dengan ejekan kasar.
Namun, sejarah selalu menunjukkan wajah lucu dan aneh dari sikap para politisi yang menolak ilmu pengetahuan ini. Pada waktu yang bersamaan, ketika terjadi masalah teknis besar seperti kebakaran hutan, pemerintah akhirnya tetap saja harus meminta tolong kepada para akademisi. Keahlian para pakar dihina dan dicaci maki ketika mereka memberikan kritik politik. Namun, keahlian itu langsung dipeluk erat ketika penguasa butuh jalan keluar yang cepat.
Hilangnya rasa hormat pada keahlian ini juga masuk ke dalam dunia agama dan kehidupan spiritual kita dengan sangat ganas. Mimbar agama hari ini lebih banyak diisi oleh tokoh-tokoh populer yang tiba-tiba terkenal hanya karena cerita masa lalunya. Cara belajar agama Islam yang panjang, bertahap, dan sangat teliti seakan-akan tidak lagi dianggap penting oleh sebagian besar umat. Publik saat ini lebih suka hiburan daripada ajaran agama yang mendalam.
Masyarakat kita lebih haus akan kisah-kisah penuh drama, seperti menjelek-jelekkan agama masa lalu, daripada belajar tafsir atau ilmu yang berat. Fenomena seseorang yang baru masuk agama lalu tiba-tiba diangkat menjadi rujukan utama tanpa belajar lama sungguh membuat kita kaget. Semangat yang berapi-api setelah mendapat petunjuk sering kali disalahartikan seolah orang tersebut sudah menguasai seluruh ilmu agama dengan sempurna.
Akibat dari perubahan ini sungguh membuat hati saya terasa sesak dan seneb. Para kiai dan ulama dari pesantren yang sudah belajar puluhan tahun justru mulai dilupakan dan dijauhkan dari panggung utama. Tokoh-tokoh hebat yang menghabiskan hidupnya membaca kitab kuning sekarang kalah terkenal oleh video pendek yang mengaduk-aduk emosi. Agama pelan-pelan berubah fungsi, dari tuntunan hidup menjadi sekadar tontonan untuk menghibur orang banyak.
Masalah hilangnya kemampuan berpikir ini juga sangat jelas terlihat dari ribut-ribut soal buku bacaan yang baru saja terjadi. Ada sebuah buku cerita karangan fiksi yang berjudul Memburu Muhammad, yang langsung dituduh menghina agama oleh banyak orang. Mereka marah besar tanpa pernah membaca isi bukunya sampai selesai, apalagi memahaminya secara utuh. Banyak orang mendadak berubah menjadi hakim jalanan hanya karena membaca satu baris judul buku.
Kejadian menyedihkan ini membuktikan bahwa kita sedang mengalami darurat membaca dan hilangnya kesabaran untuk memahami sesuatu secara lengkap. Hampir tidak ada lagi waktu dan kemauan untuk menelaah isi cerita, mencari tahu makna kiasannya, atau sekadar membedakan mana cerita karangan dan mana yang kenyataan. Kemarahan bersama yang meledak secara emosional selalu berhasil mengalahkan pikiran jernih yang seharusnya diutamakan sejak awal.
Penjelasan dari para ahli bahasa dan kritikus sastra tidak didengar sama sekali, tenggelam oleh suara keras dari orang-orang yang marah. Ketika orang biasa merasa lebih pintar menilai karya sastra dibandingkan pakar yang sekolah bertahun-tahun untuk ilmu itu, maka apa yang dikeluhkan Nichols benar-benar terbukti. Cara berpikir yang terlalu dangkal dan terburu-buru telah merusak kemampuan kita untuk menikmati keindahan sebuah tulisan dan karya seni.
Di tengah kebodohan yang seolah dirayakan ini, ada satu hal yang paling menyayat hati saya sebagai orang yang pernah menempuh pendidikan. Ada sebuah peringatan lama dari Julien Benda yang menyebutkan tentang pengkhianatan kaum terpelajar terhadap akal sehat dan pikiran yang jernih. Peringatan itu sekarang benar-benar terjadi, di mana banyak orang berpendidikan tinggi malah ikut-ikutan kehilangan kewarasannya dan larut dalam emosi.
Sungguh sangat mengecewakan saat kita melihat para ahli dan sarjana justru terbawa arus emosional massal ini. Mereka begitu mudahnya kabengbat (tertarik dan tergoda hingga kehilangan arah) oleh isu-isu viral di internet yang belum tentu benar. Kemampuan berpikir kritis yang seharusnya dipakai untuk menyaring kebohongan malah dibuang begitu saja demi mencari perhatian publik. Ilmu mereka tumpul ketika berhadapan dengan tren media sosial yang menggiurkan.
Bukannya meneliti berita dengan hati-hati, banyak kaum terpelajar yang justru ikut membagikan berita sepotong-sepotong tanpa bukti yang jelas. Mereka ikut menyebarkan opini singkat yang memanaskan suasana, sehingga membuat orang awam makin yakin bahwa kebohongan itu adalah sebuah kebenaran mutlak. Orang yang seharusnya menjadi penerang bagi masyarakat malah rela mengubah dirinya menjadi bagian dari keributan yang tidak jelas tujuannya.
Masalah lain yang juga menyedihkan adalah banyaknya kaum terpelajar yang merasa takut dan malu untuk berbicara kebenaran di tempat umum. Banyak dari mereka yang sebenarnya tahu mana yang benar dan membenarkannya di dalam ruang tertutup bersama teman-temannya. Namun, mereka memilih diam seribu bahasa saat harus berbicara di depan orang banyak. Ruang aman tempat mereka berlindung kini berubah menjadi penjara yang membungkam keberanian mereka.
Rasa takut diserang atau dihujat oleh banyak orang di internet membuat para cendekiawan ini membiarkan kebohongan merajalela di mana-mana. Sikap diam dari orang yang tahu kebenaran ini bukanlah sebuah kebaikan, melainkan kesalahan besar yang membuat kebodohan menang lebih cepat. Akibatnya, ruang percakapan umum kita dirampas oleh orang-orang kurang berilmu yang suaranya paling keras tapi sesungguhnya tidak memiliki isi yang bermakna.
Sebagai seseorang yang pernah belajar di Program Sarjana Prodi Aqidah dan Filsafat dan kini nyantri kembali di Program Magister Studi Islam Interdisipliner, penurunan kualitas berpikir ini bagi saya adalah sebuah ujian moral yang sangat besar. Filsafat selalu mengajarkan kita untuk teliti membongkar kebohongan, sabar menyusun alasan, dan berani membela hal yang benar meski sendirian. Ilmu pengetahuan tidak pernah diajarkan untuk mencari muka atau mencari pengikut, melainkan untuk menjadi cahaya penunjuk jalan di tengah kegelapan pikiran.
Tugas berat ini terasa makin besar karena saya juga memegang amanah di kepengurusan ICMI Orwil Banten yang menuntut kepedulian tinggi pada umat. Saya merasa punya panggilan hati untuk terus mengajak masyarakat berpikir yang benar, serta berani melawan keluguan yang sengaja disebar oleh elit politik. Orang yang berilmu harus mau menjadi penunjuk jalan pelita, betapapun kencangnya badai kebodohan terus menyerang bangsa kita tanpa henti.
Saya sangat sadar bahwa memilih untuk mempertahankan kebenaran dengan logika pada zaman sekarang berarti memilih jalan yang sangat sepi. Berada jauh dari keramaian dan tepuk tangan orang banyak bukanlah sebuah siksaan, melainkan kebanggaan bagi orang yang konsisten menjaga kewarasan. Berdiri sendiri dalam mempertahankan akal sehat jauh lebih baik dan mulia daripada ikut beramai-ramai masuk ke dalam pusaran keluguan yang merusak akal.
Selama sebuah perdebatan masih menggunakan akal sehat, bukan ancaman fisik atau cacian kasar, maka saya tidak punya alasan untuk mundur. Kejujuran menuntut kita untuk tidak pernah takut melawan pendapat yang keliru, meskipun pendapat itu didukung oleh banyak sekali orang. Rasa takut sering kali cuma bayangan semu yang sengaja dibuat oleh sekelompok kerumunan yang sebenarnya sangat minim akan alasan yang masuk akal dan terstruktur.
Menjadi orang berilmu juga berarti harus punya hati yang rendah untuk mau menerima teguran atau masukan yang objektif dari orang lain. Selama belum ada alasan logika yang bisa mematahkan pendapat saya, maka saya berhak penuh mempertahankan pendapat tersebut secara berani. Keyakinan yang sudah kita bangun dengan susah payah dan berdarah-darah tidak boleh hancur goyah hanya karena orang banyak tidak menyukainya di media sosial.
Kalau suatu hari nanti ada orang yang bisa memberikan alasan yang jauh lebih masuk akal dan terbukti benar, saya akan mengakuinya. Saya akan memperbaiki pendapat saya dengan jantan dan ikhlas tanpa merasa kalah atau gengsi sedikit pun. Inilah inti dari sikap panceg (teguh pendirian dan lurus pada kebenaran) yang sangat penting untuk kita miliki. Kita hanya bisa melawan kebodohan massal jika kita berani mempertahankan cara berpikir yang waras.
Menjaga akal sehat di zaman digital ini bukan seperti lari jarak pendek, melainkan jalan panjang peradaban yang sangat menguras tenaga dan air mata. Setiap ucapan dan pikiran yang kita bagikan harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, bukan cuma dihitung dari berapa banyak orang yang menekan tombol suka. Mari kita bersama-sama memastikan akal sehat tidak mati di negeri ini, dan cahaya kebenaran tetap bersinar berani melawan segala bentuk kegelapan. Wallahualam.*





