Lukman Hakim, S.Pd, M.I.Kom.
Praktisi Pendidikan SMAN 6 Kab. Tangerang; Ketua PAC PERGUNU Tigaraksa
Tigaraksa, 23 April 2026 — Setiap 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia dan Hak Cipta. Di Indonesia, momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa budaya literasi adalah fondasi penting dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan tangguh.
Buku Bukan Sekadar Tumpukan Kertas
UNESCO menetapkan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia untuk menghormati wafatnya tokoh sastra dunia seperti William Shakespeare dan Miguel de Cervantes. Tanggal ini mengingatkan kita bahwa buku adalah jendela peradaban. Dari buku, lahir ide, nilai, dan perubahan sosial.
Potret Literasi Indonesia Hari Ini
Kabar baiknya, akses terhadap buku digital dan program literasi sekolah makin meluas. Namun tantangan masih nyata: distribusi buku belum merata, budaya membaca belum jadi kebiasaan di semua keluarga, dan derasnya arus konten instan di media sosial kerap menggeser minat baca mendalam.
Literasi kini tak cukup diartikan bisa membaca dan menulis. Literasi abad 21 menuntut kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan menuangkannya kembali lewat karya. Tanpa itu, kita rentan terjebak hoaks, perundungan digital, dan kekerasan berbasis informasi.
Sekolah Aman, Literasi Tumbuh
Berbagai program penguatan kapasitas dan sosialisasi anti-bullying di satuan pendidikan menunjukkan hasil: ketika siswa merasa aman, mereka lebih berani berdiskusi, bertanya, dan menulis. Pojok baca, klub literasi, mading, hingga pelatihan guru menjadi kunci. Lingkungan sekolah yang bebas kekerasan adalah lahan subur bagi tumbuhnya budaya literasi.
Pendidikan Karakter berperan besar di sini. Nilai empati, toleransi, dan tanggung jawab yang ditanamkan membuat siswa tidak hanya membaca teks, tapi juga “membaca” perasaan orang lain. Inilah literasi sosial yang mencegah kekerasan dan membangun solidaritas.
Gerakan Bersama untuk Literasi
Menguatkan budaya literasi butuh kolaborasi:
- Keluarga: Sediakan waktu 15 menit membaca bersama setiap hari. Jadikan buku sebagai hadiah, bukan hukuman.
- Sekolah: Integrasikan literasi di semua mata pelajaran, bukan hanya Bahasa Indonesia. Guru harus jadi teladan literasi.
- Pemerintah & Masyarakat: Perluas akses perpustakaan keliling, subsidi buku untuk daerah 3T, dan apresiasi penulis serta penggerak literasi lokal.
- Media: Angkat konten literasi yang menarik dan dekat dengan generasi muda.
Harapan ke Depan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca. Dari satu halaman setiap hari, lahir generasi yang mampu menulis masa depannya sendiri. Hari Buku Sedunia harus jadi titik tolak, bukan titik akhir, untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal karena miskin akses literasi.
Karena sejatinya, mencegah kekerasan di sekolah dan membangun budaya literasi adalah dua sisi mata uang yang sama: keduanya bermuara pada manusia yang memahami, menghargai, dan memanusiakan manusia lainnya.





