Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penulis adalah Pengurus ICMI Orwil Banten
Dalam perputaran waktu yang terus bergerak maju, kita sering kali terjebak dalam pusaran peristiwa yang nampak megah namun rapuh maknanya. Sebagai seorang yang berakar pada tradisi Aqidah Filsafat, saya memandang setiap kejadian sebagai cermin bagi diri untuk senantiasa menakar realitas dengan kejernihan batin. Belakangan ini, kita disuguhi drama pergantian kekuasaan di ranah ekonomi yang sangat kontras antara dua sosok, Sri Mulyani dan Purbaya. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan ujian bagi nalar dan integritas moral kita sebagai masyarakat yang beradab.
Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan yang dikenal tangguh dalam menjaga stabilitas makro ekonomi, sejatinya adalah sosok yang telah teruji melintasi berbagai rezim kepemimpinan. Kehebatannya diakui oleh beberapa Presiden yang memberikan kepercayaan besar padanya untuk menata kebijakan fiskal negara. Namun, perjalanan pengabdiannya tidak selalu mulus, bahkan penuh dengan onak dan duri yang menguji keteguhan prinsip. Ia sempat diberhentikan, bukan karena kinerja yang buruk, melainkan akibat fitnah keji yang terstruktur dan masif.
Fitnah itu bermula dari pemelintiran pernyataan yang dicabut dari konteksnya, seolah-olah ia menyebut bahwa “guru adalah beban negara”. Reaksi publik saat itu sangat keras, memicu gelombang kemarahan yang tidak disertai dengan proses tabayun, sebuah nilai luhur yang seharusnya menjadi pegangan setiap insan intelektual. Akibat dari disinformasi tersebut, rumah kediamannya bahkan menjadi sasaran penjarahan oleh massa yang kehilangan akal sehat. Sungguh sebuah tragedi bagi nurani bangsa ketika martabat seseorang dihancurkan oleh narasi yang tak berdasar.
Tak berselang lama setelah kepergian Sri Mulyani, muncul sosok baru bernama Purbaya yang langsung disambut dengan gegap gempita oleh publik. Purbaya hadir dengan membawa terobosan populis yang khas dan gaya yang dianggap segar, sehingga memancing simpati dan puja-puji dari berbagai lapisan masyarakat. Media sosial saat itu dipenuhi dengan narasi yang mendewakan Purbaya, bahkan hingga merambah ke kehidupan pribadinya. Istrinya digambarkan piawai bernyanyi dan ia sendiri dipuji karena bisa bermusik, meski belakangan terungkap bahwa itu hanyalah hasil rekayasa kecerdasan buatan.
Di tengah euforia tersebut, posisi saya berdiri di tempat yang berbeda, mencoba untuk memilah, mencermati, dan menakar segala sesuatu dengan lebih jernih. Saya tidak ingin larut dalam arus yang latah, di mana sanjungan berhamburan tanpa dasar yang kuat bagi siapa saja yang menduduki takhta. Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya teringat akan ajaran luhur hirup mah ukur ngumbara, yang mengajarkan kita untuk tidak terlalu mudah silau oleh gemerlap duniawi. Sikap kritis ini saya jaga agar tetap setia pada fakta, bukan pada citra yang dipoles sedemikian rupa.
Setiap gerak-gerik Purbaya, mulai dari inspeksi mendadak di kantor bea cukai, kunjungan ke pelabuhan, hingga momen privat seperti berwudhu, selalu diviralkan sebagai simbol perubahan ekonomi bagi Indonesia. Pemujaan ini sampai pada tahap yang tidak wajar, di mana setiap tindakan dianggap sebagai sebuah mukjizat yang akan membawa bangsa keluar dari kesulitan. Banyak rekan cendekiawan, kiai, dan sarjana yang seharusnya menjadi penjaga nalar, justru turut terjebak dalam arus pujian yang tak terkendali. Mereka lupa pada peristiwa pahit yang menimpa pendahulu, seolah memiliki ingatan jangka pendek yang akut.
Namun, waktu adalah hakim yang paling adil bagi setiap drama politik yang diperankan oleh manusia. Perlahan namun pasti, realitas menunjukkan bahwa kondisi ekonomi nasional dan global tidak juga membaik secara signifikan di bawah kepemimpinan yang baru. Rupiah tetap berjuang melemah di hadapan dolar, sementara beban pajak kian mencekik melalui berbagai kebijakan baru yang justru dulu dinyinyiri saat dilakukan oleh Sri Mulyani. Kini, janji perubahan yang digaungkan perlahan pudar digantikan oleh kekecewaan yang nyata.
Sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana angin pujian kini berbalik arah menjadi makian yang pedas dari mereka yang dulu begitu memujanya. Ini adalah ibrah yang sangat berharga bagi kita semua tentang betapa rapuhnya loyalitas yang didasarkan pada perasaan semata. Pujian dan hujatan hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama, yaitu sikap emosional yang jauh dari kearifan. Catatan digital yang tercecer menjadi saksi bisu betapa cepatnya manusia melupakan sejarah dan memutarbalikkan fakta demi validasi sesaat.
Perilaku seseorang yang mudah menyanjung kemudian mudah menghujat mencerminkan degradasi nalar kritis dalam kehidupan bermasyarakat kita saat ini. Kita sering kali lupa bahwa sistem jauh lebih kuat daripada figur individu, sehingga mengharapkan perubahan instan dari satu sosok adalah sebuah kekeliruan besar. Tidak perlu menghujat sang pengganti, pun tidak perlu meratapi sang pendahulu secara berlebihan, sebab jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi sesuai dengan rotasi waktu yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.
Sebagai pendidik, saya menekankan pentingnya literasi nalar agar kita tidak lagi terjebak dalam siklus puja-puji yang destruktif ini ke depannya. Kita harus belajar untuk bersikap proporsional dan adil dalam memperlakukan orang lain, tanpa terpengaruh oleh arus media sosial yang sering kali menyesatkan. Janganlah kita menjadi pribadi yang seperti kacang lupa kulitnya, yang dengan mudah melupakan dedikasi masa lalu hanya karena tergiur oleh janji-janji manis masa kini. Objektivitas dan integritas berpikir adalah kunci utama dalam menjaga kohesi sosial.
Mari kita menumbuhkan budaya tabayun, memeriksa kebenaran sebelum memutuskan untuk memberi sanjungan atau melontarkan hujatan. Integritas seseorang tidak bisa diukur dari seberapa viral dirinya, melainkan dari konsistensi prinsip dan kontribusinya bagi keberlangsungan hidup orang banyak. Menjadi cerdas bukanlah berarti mengikuti tren terkini, melainkan mampu berdiri teguh di atas prinsip kebenaran meskipun harus menanggung risiko kesunyian. Inilah jalan sunyi bagi mereka yang memilih untuk tetap setia pada nurani.
Hidup adalah rentang waktu yang pendek antara fajar dan senja, di mana kita menorehkan jejak dalam diam. Biarlah sejarah mencatat siapa yang setia pada kebenaran dan siapa yang hanya menari di atas bayang-bayang. Semoga kita menjadi insan yang bijak, yang merawat ingatan dengan kejujuran, dan melangkah dengan langkah yang pasti, menyongsong hari dengan hati yang jernih, seperti embun yang hinggap di pucuk daun, memberikan kesejukan tanpa harus menuntut pengakuan dari dunia yang kian riuh dan lupa diri. Wallahualam.*





