Ocit Abdurrosyid Siddiq
Di ruang hening yang melingkupi malam, gemerlap layar ponsel sering kali menyapa tanpa kompromi, memecah kesenyapan dengan bunyi notifikasi yang memanggil kesadaran. Fenomena gerakan membaca Al-Qur’an berjamaah di jejaring digital, seperti One Day One Juz (ODOJ), hadir sebagai penanda unik dari gelombang euforia keberagamaan masyarakat modern.
Di satu sisi, ada keteraturan yang indah ketika tiga puluh jemari saling mengabarkan tanda centang sebagai bukti usainya satu juz bacaan. Keterikatan kolektif semacam ini menunjukkan betapa media sosial mampu menjadi wahana yang merawat semangat spiritualitas di tengah riuk-pikuk kehidupan era milenial.
Namun, di balik kemudahan koordinasi digital tersebut, tersimpan sebuah perenungan mendalam tentang bagaimana hakikat ibadah itu semestinya dihayati secara personal.
Merawat kadar keimanan memang memerlukan metodologi yang beragam, tergantung pada ranah serta segmentasi spiritual umat itu sendiri. Bagi para mualaf yang baru menjejakkan kaki di gerbang keislaman atau masyarakat awam yang mengenal agama secara alamiah melalui tradisi patakul ceunah, pendekatan ODOJ terasa amat relevan dan melapangkan.
Lingkaran pembiasaan ini menjadi bingkai yang menjaga jiwa mereka agar senantiasa tertaut pada aura mulia kitab suci. Kebaikan yang dipublikasikan dalam wadah tersebut setidaknya menjadi benteng moral yang positif.
Akan tetapi, dalam semesta pemikiran yang lebih luas, bentuk formalitas ritualistis semacam ini sejatinya merupakan tingkatan paling dasar dalam tangga pencarian kebenaran spiritual.
Bagi kalangan yang telah melampaui proses pembacaan kritis, seperti para sarjana, cendekiawan, serta alumni perguruan tinggi keagamaan, maqam keberagamaan dituntut untuk melangkah lebih jauh. Mereka yang pernah menempa diri dalam kawah candradimuka perkuliahan maupun ruang-ruang latihan kader telah selesai dengan perdebatan kulit luar.
Pengalaman intelektual dan doktrin substansial—seperti yang tertuang dalam materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP)—seharusnya melahirkan kesadaran bahwa Islam bukan sekadar simbol identitas atau sekadar pencapaian angka-angka ritual. Tingkat pemahaman inklusivisme serta kedalaman esensi agama mestinya diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi dampak substantif bagi peradaban, bukan lagi berkutat pada euforia centang hijau di grup percakapan.
Untuk memahami kedalaman ikhlas dalam beribadah, kita patut merenungkan sebuah kisah klasik tentang seorang sufi yang amat menjaga kesucian hatinya. Sang sufi begitu khawatir jika amalan mahdhah yang ia dirikan dengan susah payah harus hangus tergerus oleh racun risywah spiritual bernama riya.
Bagi dirinya, pujian manusia adalah angin lalu yang sangat mematikan, sebuah godaan halus yang mampu merobohkan bangunan ketulusan di hadapan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, ia memilih jalan kesenyapan; menyembunyikan setiap tahajud dan sujud malamnya dalam kerahasiaan yang amat rapat, agar tidak ada satu pun mata manusia yang menyadarinya.
Suatu ketika, di sepertiga malam yang dingin menjelang fajar, sang sufi sedang khusyuk menenggelamkan diri dalam ibadah tahajud. Saat berada di posisi tahiyat akhir, ia mendengar langkah samar dari anggota keluarganya yang terbangun dari tidur.
Seketika itu pula, sang sufi memilih mempercepat gerakan salatnya dan segera merebahkan tubuh, berpura-pura terlelap kembali. Tindakan ekstrem ini ia lakukan bukan karena takut atau malas, melainkan bentuk kewaspadaan yang amat tinggi terhadap jebakan kebanggaan diri.
Ia tak ingin ada sanjungan yang mampir ke telinganya, sebab sanjungan itu berpotensi mengikis kadar keikhlasan yang sedang ia perjuangkan secara senyap di hadapan Tuhan.
Jika kisah keteladanan sang sufi ini disandingkan dengan realitas kehidupan digital kita hari ini, terdapat jarak kesadaran yang teramat lebar. Di dalam grup WhatsApp, sering kali kita menjumpai anggota yang dengan begitu bersemangat membagikan pesan ajakan salat malam pada pukul dua dinihari.
Sungguh, tiada yang meragukan bahwa niat dasar dari pengirim pesan tersebut adalah kebaikan, sebuah ikhtiar mulia dalam bingkai watawa sau bil haq. Namun, jika ditakar dari sudut pandang ketelitian batin sang sufi, tindakan melayangkan notifikasi di saat orang-orang sedang terlelap justru melahirkan dinamika yang berbeda.
Ketukan suara pesan yang memecah kesunyian malam kerap kali menghadirkan rasa tidak nyaman bagi mereka yang membutuhkan istirahat.
Maksud baik yang dikemas tanpa pertimbangan empati sering kali bergeser menjadi tindakan yang mengganggu ketenteraman sesama. Tidak semua orang berada dalam kondisi spiritual atau fisik yang siap untuk menerima dorongan publikasi semacam itu di sepertiga malam.
Ada kalanya seseorang sedang berjuang melawan rasa lelah setelah beraktivitas seharian, atau mungkin ia sedang beribadah dalam kesunyian tanpa perlu mengabarkannya kepada dunia. Ketika ajakan kebaikan justru merampas hak istirahat orang lain atau menimbulkan beban emosional terselubung, maka di situlah kita perlu membedah ulang batas antara dakwah yang bijaksana dan pemaksaan ekspresi keagamaan.
Kecenderungan untuk menampilkan perbuatan baik ke ruang publik kerap terjebak pada aktualisasi “Islam Identitas” yang mengedepankan performa ketimbang esensi. Pembelaan bahwa publikasi kebaikan masih jauh lebih bernilai daripada memamerkan kejahatan memang memiliki pijakan argumen tersendiri.
Akan tetapi, jika kebiasaan tersebut terus diglorifikasi tanpa adanya refleksi kritis, kita berisiko kehilangan ruh terdalam dari ibadah itu sendiri, yaitu kerendahan hati dan kerahasiaan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Ibadah yang sejati tidak membutuhkan panggung konfirmasi atau pengakuan dari sesama anggota grup percakapan.
Keindahan beragama sejatinya terletak pada kematangan sikap dalam menempatkan setiap amalan sesuai dengan maqam dan porsinya. Bagi kawan-kawan yang merasa nyaman dengan metode ingat-mengingatkan secara terbuka, tentu hal itu tetap menjadi ruang kebaikan yang patut dihargai dalam batas-batas tertentu.
Namun, menghormati ruang personal orang lain yang memilih jalan kesenyapan juga merupakan bentuk kesalehan sosial yang tidak kalah tingginya. Menjaga lisan dan jemari agar tidak menghakimi tingkat keimanan orang lain adalah wujud nyata dari pemahaman agama yang substantif, inklusif, dan dewasa.
Di tengah riuh rendah notifikasi kala dinihari, kita diajak untuk kembali menatap ke dalam lorong jiwa masing-masing. Apakah setiap amalan yang kita bagikan benar-benar murni lahir dari dorongan ketulusan, ataukah ada sedikit selip kebanggaan yang ingin disaksikan oleh mata manusia?
Meneladani kesenyapan sang sufi tidak berarti kita harus bersembunyi dari kebaikan, melainkan mengajarkan kita untuk selalu menjaga kesucian niat di tempat tersembunyi. Biarlah malam tetap menjadi rahasia yang indah antara kita dan Sang Maha Pencipta, tanpa perlu diramaikan oleh riak-riak prasangka atau kepuasan semu di layar kaca. Wallahualam.*





