Oleh : Adung Abdul Haris
I. Prolog
Menjadi konten kreator sejarah yang konsisten, yaitu terus mengunggah konten-konten (nge-stitch/reupload/sharing) yang bertemakan sejarah faktanya demikian sulit. Hal itu sebagaimana yang penulis rasakan dan penulis lakukan saat ini. Konten kreator yang bertenakan sejarah realitanya memerlukan kombinasi antara riset akurat, kreativitas visual, dan manajemen waktu. Bahkan, menurut para ahli komunikasi digital, di era digital saat ini, topik sejarah bisa sangat menarik jika dikemas dengan gaya “storytelling” yang relevan dengan kehidupan masa kini. Oleh karena itu, berikut ini menurut hemat penulis (strategis atau langkah kongkrit) untuk menjadi konten kreator sejarah yang sekiranya bisa menapaki (dilirik) para audiens :
A. Temukan Niche Dan Gaya Unik.
Sejarah itu luas, maka spesifikkan fokus kita agar audiens lebih mudah mengenali kita. Misalnya, ketika kita ingin mengungkapkan sejarah lokal/urban legend, maka hal itu kita harus fokus pada situs bersejarah, rumah tua, atau mitos di kota tertentu. Demikian juga misalnya, manakala kita ingin mengungkap sejarah dunia/perang. Maka titik fokus pembahasannya, yaitu pada soal konspirasi, strategi perang, atau biografi tokoh dunia dan lain sebagainya.
Kemudian manakala kita ingin mengungkap soal sejarah populer/unik misalnya. Maka pokok bahasannya adalah pada sisi lain sejarah yang jarang diajarkan di sekolah, seperti sejarah makanan, fashion, atau teknologi masa lalu, dan bahkan beberapa hari lalu penulis juga menulis sejarah roko (meroko) sejarah alam yang kemudian penulis kaitkan dengan fenomena bencana alam yang kerapkali melanda di berbagai wilayah di negeri ini.
Oleh karena itu, penulis ketika ingin mengungkapkan soal materi sejarah, kerapkali terlebih dahulu menulis artikelnya, dan lalu diikuti oleh ungkapan atau menggunakan gaya visual menarik (vido panjang/vod). Bahkan, ada yang menyarankan kepada penulis, agar penulis menggunakan teknologi (AI) untuk menghidupkan foto lama, yakni untuk membuat video bergaya dokumenter, atau menggunakan “green screen” untuk latar belakang lokasi sejarah.
Hingga saat ini, yakni sebelum penulis mengunggah (membuat konten yang bertemakan sejarah berupa vidio) penulis juga kerapkali melakukan proses riset yang akurat (penting). Karena, konten sejarah berisiko tinggi jika kita salah data. Lebih dari itu, penulis juga kerapkali menggunakan sumber yang palid (terpercaya), yakni kerapkali baca-baca buku, baca jurnal ilmiah, baca arsip nasional, atau situs sejarah resmi. Lebih dari itu, penulis juga terus melakukan (Cek & Ricek) dan tidak hanya mengandalkan data seadanya, tapi terus memastikan fakta sejarah yang sekiranya bisa mendukung (minimal dua sumber berbeda). Yang lebih mempuni lagi memang kita harus mewawancarai para ahli (sejarawan), yakni untuk bertandang ke para sejarawan atau kepada para pemerhati sejarah untuk validasi konten kita.
Tapi, muaranya adalah terletak pada sikap dan sifat konsistensi dalam nengunggah (Konsistensi = Kunci), yakni untuk berjibaku mengunggah, dan itu lagi-lagi kita memang butuh sistem, yaitu berupa terus membuat “Content Bank”. Kemudian menyiapkan daftar topik untuk 1 atau 2 hari ke depan agar tidak pusing setiap hari. Kemudian kuta juga harus “Batch Production”, dan didedikasikan 1-2 hari dalam seminggu untuk riset, menulis naskah, dan mengedit 5-10 video sekaligus. Sedangkan manfaatkan platform, kerapkali penulis mengunggahnya di (fb-pro) dan Instagram penulis. Sementara untuk reels untuk konten pendek (hook kuat) kerapkali penulis unggunggah di menu cerita (di fb-pro), sementara untuk bahasan mendalam (documentary style) kerapkali penulis mengunggahnya di beranda (fb-pro) penulis. Sedangkan teknik “Storytelling” sejarah, saat ini penulis sedang berusaha agar konten sejarah yang penulis unggah tidak membosankan diantaranya : (1). Menggunakan Hook di 3 Detik Pertama, yakni nulai dengan pertanyaan retoris atau fakta mengejutkan (Contoh: filosofi atau asal-usul tentang kata Banten, kemudian filosofi atau asal-usul kata Indonesia dan lain sebagainya.
Penulis juga terus berusaha setiap mengunggah konten sejarah kemudian mengkaitkannya dengan masa kini atau dalam konteks kekinian, yaitu suatu hubungkan peristiwa masa lalu dengan kondisi sekarang, hal itu agar terasa relevan. Bahkan secara idealisme maupun abstraksi konseptual kesejarahan, penulis kerapkali berupaya untuk menggunakan teknik POV (Point of View), yakni bercerita seolah-olah penulis berada di tempat kejadian dan lain sebagainya. Lebih dari itu, penulis juga kerapkali berinteraksi dan komunitas tanya jawab di kolom komentar, hal itu sebagai upaya untuk mengajak audiens untuk bisa berdiskusi atau bertanya tentang topik yang penulis dibahas. Lebih dari itu, penulis juga semaksimal mungkin berupaya untuk menjaga etika sejarah, yakni berusaha menghindari sensasionalisme yang merendahkan nilai sejarah itu sendiri, dan mencoba untuk fokus pada “Passion”, yakni pada konsistensi agar terus bermunculan “embriotik” dan “inkubasi sejarak” di ranah idealisme penulis, dan terus berusaha untuk mencintai topik yang penulis bahas, bukan hanya sekedar mengejar “views”, yaitu dengan prose pendekatan yang terstruktur dan kreatif, agar konten sejarah yang penulis unggah bisa menjadi edukasi yang menarik sekaligus bisa menjadi “personal branding” yang kuat (di fb-pro) penulis.
II. Mengemas Konten Sejarah Menjadi Menarik (di Fb-Pro)
Selain menjadi sarana untuk melepas penat, berwisata ke tempat-tempat bersejarah kerapkali menjadi cara bagi wisatawan untuk mengenal sejarah dan budaya tempat yang dikunjungi. Selain museum, monumen, maupun situs bersejarah lainnya. Bahkan, Indonesia memiliki banyak hidden gems yang memiliki sejarah menarik yang belum diketahui oleh masyarakat luas. Sebagai tempat berbagi informasi dan kebahagiaan (fb-pro) juga menjadi destinasi utama bagi komunitas konten kreator (termasuk bagi penulis) untuk membagikan dan menemukan berbagai informasi menarik seputar destinasi bersejarah di seluruh Indonesia. Sementara konten-konten yang tersedia di media sosial (TikTok dan Fb-Pro misalnya) tidak hanya berhasil membagikan cerita menarik di balik suatu destinasi bersejarah, tetapi juga bisa mempromosikan pariwisata dan usaha lokal dari tempat-tempat bersejarah yang dikunjungi oleh para kreator.
Berangkat dari kecintaannya terhadap sejarah, penulis juga hingga saat ini terus giat membagikan cerita sejarah dari tempat-tempat yang pernah penulis kunjungi dan lalu membagikannya ke medsos (fb-pro). Melalui konten-konten yang penulis unggah, penulis mengajak lebih banyak orang untuk menjelajah waktu dan melihat suatu tempat dari kacamata yang berbeda. Penulis menyadari bahwa konten penulis ternyata mendorong orang untuk lebih tertarik mengunjungi museum dan tempat-tempat bersejarah, termasuk toko-toko lawas. Banyak pengunjung museum yang mengatakan mereka datang karena terinspirasi oleh unggahan (video maupun artikel) yang fokus pada sejarah. Bagi setiap kita yang punya hobi traveling dan gemar mengulik cerita sejarah yang menarik di balik tempat-tempat yang kita kunjungi, penulis punya tiga kiat mudah untuk mengemas cerita dari tempat-tempat bersejarah itu, untuk kemudian dijadikan konten yang menarik, menghibur, serta menginsfirasi pengikut kita di medsos.
- Sorot elemen cerita menarik untuk memancing penonton. Dalam proses kreatifnya, penulus selalu berusaha mencari elemen menarik dalam cerita suatu tempat yang bersejarah agar dapat memancing rasa penasaran. Penulus juga menyadari betapa pentingnya bagi audiens untuk mendapatkan informasi sejelas mungkin tentang lokasi bersejarah yang penulis unggah dan penulis kunjungi. Oleh karena itu, penulis berusaha untuk memastikan agar konten penulis bisa menarik perhatian audiens di delapan detik pertama melalui trivia, anekdot yang menarik, atau elemen kejutan lain agar penonton ingin terus mengikuti ceritanya sampai akhir. Bahkan, penulis kerapkali memulai narasinya dengan ungkapan “Apa cuma saya yang bisa…” “Tau kah anda….”, hal itu untuk menarik rasa penasaran penonton akan hidden gem menarik yang penulis temukan guna menggiring mereka ke dalam cerita sejarah yang lebih dalam. Misalnya, saat berkunjung ke museun Banten, penulus memulai narasinya dengan “Apa cuma saya yang bisa pegang meriam si amuk yang ada di halaman museum Banten…?”, hal itu demi untuk memberikan kesan keinginan, lalu menggiring penonton agar menyimak sampai akhir untuk mengetahui lokasi museum Banten tersebut. Sejarah mungkin terkesan membosankan bagi sebagian orang, tetapi jika kita menggabungkannya dengan cerita yang modern, hal itu dapat lebih mudah menarik perhatian penonton.
- Sertakan unsur humanis yang relevan dengan penonton. Selain menggunakan elemen menarik dari cerita sejarahnya, penulus juga kerapkali menyelipkan unsur cerita humanis yang relevan dengan audiens (di fb-pro) yang menyukai konten autentik. Pendekatan dari sudut pandang sebagaimana telah dikemukakan diatas, realitanya berhasil menarik banyak perhatian, menghasilkan lebih dari 200 penayangan dan lebih dari 100 interaksi di kolom komentar. Apresiasi komunitas (fb-pro) terhadap autentisitas mendorong para kreator untuk berbagi cerita tanpa ‘bumbu’ yang berlebihan, sehingga tetap menjaga esensi yang sesungguhnya dari pengalaman kreator maupun tempat historis yang penulis kunjungi. Lebih dari itu, pihak Facebook Profesional telah memberi penulis keleluasaan untuk mengekspresikan diri dengan cara yang paling autentik. Komunitas fb-pro juga sangat menghargai karya-karya orisinal dari para konten kreator. Hal itu pastinya memudahkan penulis sebagai kreator untuk terus membuat konten-konten sejarah yang unik apa adanya dan tentunya humanis, agar bisa terus menginspirasi masyarakat.
- Memanfaatkan interaksi dengan komunitas Fb-Pro sebagai inspirasi. Penulis menyadari bahwa interaksi yang terjadi di kolom komentar tidak hanya sekedar ungkapan apresiasi dari para penonton, tetapi juga dapat menjadi sumber ide dan informasi berharga untuk konten-konten mendatang. Bahkan, kolom komentar pada video pendek maupun vidio panjan (vod) seringkali membuka wawasan baru bagi penulis, di mana para penonton kerapkali memberikan rekomendasi tempat-tempat unik dan bersejarah yang belum penulis kunjungi. Misalnya, sekitar tiga bulan yang lalu penulis mendapatkan saran agar penulis melakukan destinasi wisata sejarah yang ada di wilayah Jawa Tengah. Setelah mendapatkan rekomendasi, penulus akan melakukan riset tambahan untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah lokasi tersebut. Riset itu membantu untuk memastikan agar setiap video tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga informatif dan edukatif, sehingga dapat membantu penonton untuk memahami sejarah tempat tersebut dengan lebih mendalam. Melalui narasi yang menarik, mudah-mudahan penulis tidak hanya melestarikan sejarah Indonesia, tetapi juga sedikit banyak bisa berkontribusi dalam mempromosikan pariwisata (wisata sejarah) dan usaha lokal dari tempat-tempat yang penulus kunjungi. Apa yang penulus ungkapkan diatas, hal itu membuktikan bahwa dengan informasi seputar sejarah yang dikemas dengan seru dan kreatif di fb-pro misalnya, tidak hanya mengedukasi, tetapi juga bisa berdampak terhadap proses “inkubasi sejarah” di negeri ini.
A. Karier Era Baru Untuk Pecinta Sejarah
Mempelajari sejarah memberikan keterampilan penelitian, interpretasi informasi, dan pemahaman tentang tren jangka panjang dalam masyarakat. Meskipun secara umum diyakini bahwa mempelajari sejarah hanya dapat membantu seseorang menjadi guru atau pekerja akademis, pilihan karir alternatif lainnya tetap ada. Berbagai cabang sejarah, termasuk politik, budaya, ekonomi, dan sosial, dapat membuka peluang dalam produksi konten, pembuatan kebijakan, pengelolaan warisan budaya, dan lain-lain. Peran-peran tersebut sangat beragam, yakni mulai dari pembuat konten digital hingga layanan konsultasi perusahaan tentang tren sejarah, penelitian arkeologi, dan perumusan kebijakan, bahkan semuanya terkait erat dengan sejarah.
B. Mengapa Memilih Karier di Bidang Sejarah
Sejarah membantu kita memahami perilaku manusia, budaya, dan masyarakat. Informasi tentang kesejarahan juga berguna di sebagian besar tempat kerja kontemporer. Berikut adalah beberapa alasan mengapa mempelajari sejarah itu dapat menjadi langkah karier yang bagus :
(1). Mengembangkan Keterampilan Penting. Karena, dengan mempelajari sejarah, maka kita membangun keterampilan penting, seperti penelitian, analisis, penulisan, dan pemikiran kritis. Para pemberi kerja di berbagai bidang, termasuk penerbitan, pendidikan, pemerintahan, sektor warisan budaya dan museum, serta media, mencari kemampuan tersebut.
(2). Membangun Kesadaran Budaya. Bagi para Mahasiswa jurusan sejarah yang telah mempelajari sejarah komparatif atau budaya biasanya mengembangkan kesadaran akan budaya, tradisi, dan proses sosial. Pengetahuan antarbudaya tersebut berguna dalam masyarakat global saat ini, di mana organisasi membutuhkan para profesional yang mampu bekerja secara efektif di tengah perbedaan budaya. (3). Memberikan Konteks Untuk Peristiwa Terkini. Memiliki pengetahuan tentang sejarah memberikan konteks untuk memahami perkembangan yang sedang berlangsung dan membantu menafsirkan pola atau penyebab mendasar di baliknya. Perspektif tersebut berguna dalam pembuatan kebijakan, jurnalisme, dan strategi bisnis. (4). Membuka Beragam Jalur Karier. Karena, gelar di bidang sejarah, tidak seperti kebanyakan gelar spesialisasi lainnya, menawarkan dasar yang luas yang memungkinkan kita untuk mengejar karier di berbagai bidang, beberapa di antaranya meliputi pemerintahan, media, bisnis, pendidikan, dan teknologi. (5). Karier Tradisional sebagai Sejarawan. Menjadi sejarawan seringkali menjadi pilihan karier yang paling jelas di antara semua pilihan karier bagi lulusan jurusan sejarah. Karena, sejarawan meneliti, menganalisis, dan menulis tentang peristiwa masa lalu. Mereka bekerja di universitas, museum, perpustakaan, dan lembaga penelitian. Umumnya, gelar master atau doktor di bidang sejarah diperlukan untuk menjadi sejarawan.
III. Di Era Digital Saat Ini (Content Creator) Menjadi Profesi Yang Banyak Diminati
A. Content Creator Menjadi Profesi Yang Banyak Diminati
Di era digital saat ini, profesi sebagai content creator atau disebut konten kreator, saat ini semakin populer dan menjadi pilihan karir yang diminati, khususnya di Indonesia. Kemajuan teknologi dan perkembangan media dan komunikasi membuka berbagai peluang baru bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas, membangun personal branding, dan termasuk bagaimana agar kita juga bisa membuat konten-konten yang bertemakan sejarah. Bahkan, para konten kreator saat ini kerapkali mendapatkan penghasilan yang menjanjikan. Sementara salah satu jurusan yang menjadi pintu masuk ideal ke dunia ini adalah jurusan ilmu komunikasi, yang membekali mahasiswa dengan pemahaman mendalam tentang komunikasi massa, komunikasi digital, psikologi komunikasi, dan berbagai strategi komunikasi.
B. Mengetahui Apa Itu Content Creator?
Content Creator merupakan seseorang yang memiliki keterampilan merancang sebuah konten yang diunggah di media sosialnya seperti Instagram, Facebook Pro, dan lain sebagainya. Pembuat konten adalah seseorang yang merancang kontennya agar mengandung nilai pendidikan atau hiburan. Isi konten itu nantinya disesuaikan dengan keinginan dan minat masing-masing audiens. Sebaliknya, pembuat konten membuat konten yang selaras dengan tujuan pembuatan konten perusahaan dan lain lain. Hal itu sangat penting untuk dapat menggambarkan maksud isi konten. Jika disimpulkan, content creator adalah seseorang yang bertugas membuat, mengelola, dan menyebarluaskan konten melalui berbagai platform digital. Konten itu bisa berbentuk tulisan, gambar, video, audio, maupun kombinasi dari semuanya. Sedangkan tujuan utama dari konten yang dibuat bisa bermacam-macam, seperti :
Mengedukasi, menghibur, menginspirasi, mempromosikan produk atau jasa, dan lain-lain. Banyak konten kreator memanfaatkan platform seperti YouTube, Instagram, TikTok, Facebook Pro dan blog pribadi untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
C. Content Creator Dengan Influencer, Apakah Berbeda?
Profesi influencer dan content creator mulai dikenal luas seiring perkembangan dunia digital. Keduanya sama-sama memanfaatkan media sosial dan internet untuk membangun karier. Meski terlihat mirip, tapi keduanya punya perbedaan, terutama dalam cara mereka berkomunikasi dengan audiens. Influencer biasanya dikenal karena membentuk citra dirinya sendiri dan mempromosikannya lewat media sosial hingga akhirnya punya banyak pengikut. Mereka sering mengajak audiens untuk lebih mengenal kehidupan pribadi, misalnya lewat vlog, sehingga tercipta rasa kedekatan antara influencer dan pengikutnya.
Sementara content creator lebih dikenal karena karya atau konten yang mereka hasilkan, bukan karena kepribadian atau kehidupan pribadi. Sosok mereka seringkali tidak terlalu menonjol di mata publik, dan mereka jarang membangun hubungan pribadi dengan para pengikutnya seperti yang biasa dilakukan oleh influencer. Meski sering dianggap sama, karena content creator dan influencer sebenarnya memiliki perbedaan mendasar.
Sedangkan perbedaan utamanya : Bahwa para (Content Creator), yaitu seseorang yang berfokus pembuatan konten, dengan penekanan pada kualitas dan nilai informasi dari konten tersebut. Sedangkan Influencer, yaitu seseorang yang lebih berfokus pada pengaruh personal terhadap audiens dan seringkali memanfaatkan konten untuk membangun kepercayaan serta mempengaruhi keputusan pembelian. Namun, dalam praktiknya, banyak konten kreator yang menjadi influencer, dan sebaliknya. Kombinasi tersebut memberikan nilai tambah dalam dunia pemasaran digital saat ini.
D. Tipe-Tipe Content Creator
Berikut ini adalah beberapa tipe content creator berdasarkan platform dan jenis konten : (1). Vlogger/YouTuber : Vlogger adalah pembuat konten yang membuat konten video, biasanya berupa vlog (video blog) yang menceritakan aktivitas sehari-hari, tutorial, review, atau hiburan. (2). Blogger : Blogger fokus pada pembuatan konten berbasis tulisan, baik di blog pribadi, website, maupun platform seperti Medium atau WordPress. (3). Penyiar Podcast : Podcaster menciptakan konten audio yang bisa didengarkan kapan saja oleh audiens. Podcast biasanya membahas topik tertentu secara mendalam, baik secara monolog maupun diskusi dengan narasumber. (4). Photographer/Visualisator : Fotografer atau visualisator membuat konten visual berupa foto, ilustrasi, atau desain grafis. (5). Streamer : Streamer adalah pembuat konten yang melakukan siaran langsung (live streaming) di platform seperti Twitch, YouTube Live, atau Facebook Gaming. Pilihan secara keilmuan (akademis) memang sangat cocok untuk lulusan jurusan komunikasi, karena mereka telah dibekali dengan teori komunikasi, komunikasi organisasi, dan komunikasi antar pribadi yang menjadi modal penting dalam pembuatan konten yang menarik dan efektif.
E. Gaji Seorang Content Creator
Gaji seorang pembuat konten di Indonesia sangat beragam, tergantung pada pengalaman, platform yang digunakan, jumlah pengikut, engagement rate, serta jenis pekerjaan yang dilakukan. Untuk pembuat konten yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan misalnya, konon katanya rata-rata gaji bulanan berada di kisaran Rp. 3.750.000 hingga Rp. 6.000.000. Di kota besar seperti Jakarta, angka itu bisa lebih tinggi, yakni sekitar Rp. 5.000.000 hingga Rp. 6.000.000 per bulan. Bagi pembuat konten dengan pengalaman lebih dan tanggung jawab lebih besar-misalnya, senior atau content strategist-gaji bulanan dapat mencapai posisi Rp. 10.000.000 hingga Rp. 20.000.000. Sementara itu, pembuat konten independen (freelancer atau influencer) memiliki potensi penghasilan yang jauh lebih besar dan tidak tetap, karena pendapatan mereka sangat dipengaruhi oleh jumlah pengikut, tingkat keterlibatan, niche, serta kerjasama dengan merek atau sponsor.
Sebagai gambaran, pembuat konten di TikTok, konon katanya dengan 1.000–5.000 pengikut bisa mendapatkan bayaran sekitar Rp. 30.000–Rp. 70.000 per postingan. Sementara itu, mereka yang sudah memiliki 1.000.000 pengikut dapat memperoleh penghasilan hingga Rp. 25.000.000 sampai Rp. 32.000.000 per postingan. Untuk YouTuber atau kreator dengan subscriber di atas 100.000, penghasilan bulanan bahkan bisa menembus Rp. 100.000.000 atau lebih, tergantung pada monetisasi dan kerjasama yang dijalankan.
F. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Gaji Pembuat Konten Antara Lain
Jumlah pengikut dan tingkat keterlibatan di media sosial, jenis konten yang dibuat (video, foto, tulisan, atau kombinasi). Keterampilan, kreativitas, dan pengalaman pembuat konten Niche atau industri yang digeluti, lokasi geografis (kota besar biasanya akan menawarkan gaji dengan jumlah yang lebih tinggi). Sumber penghasilan tambahan seperti endorsement, adsense, pemasaran afiliasi, dan kerjasama brand. Dengan perkembangan dunia digital yang sangat pesat saat ini, maka profesi content creator kini menjadi salah satu pekerjaan yang sangat menjanjikan. Baik sebagai karyawan di perusahaan maupun sebagai kreator mandiri, karena penghasilan yang diperoleh bisa sangat tinggi, tergantung pada kreativitas, keahlian, dan strategi monetisasi yang dijalankan.
G. Jenjang Karir Seorang Content Creator
Karir di dunia konten kreator tidak terbatas pada bekerja sendiri. Berikut jenjang karir yang bisa dicapai : (1). Freelance Content Creator : Seorang pencipta konten yang bekerja secara mandiri tanpa ikatan perusahaan. Mereka membuat konten di berbagai platform seperti YouTube, Instagram, atau TikTok, Facebook Pro, dan biasanya mendapatkan penghasilan dari endorsement, sponsorship, atau proyek-proyek freelance. (2). In-house content specialist di perusahaan : Seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan dengan tugas utama membuat, mengelola, dan mengoptimalkan konten yang mendukung strategi pemasaran dan komunikasi perusahaan secara berkelanjutan. (3). Social media manager : Seseorang yang bertanggung jawab mengelola seluruh aktivitas media sosial perusahaan atau brand, mulai dari merancang strategi, membuat konten, mengomunikasikan interaksi pengguna, hingga menganalisis kinerja untuk meningkatkan kesadaran merek dan keterlibatan audiens.
(4). Creative Director. Pemimpin tim kreatif yang mengatur visi dan konsep kreatif sebuah kampanye pemasaran atau produksi konten. Mereka mengarahkan waktu untuk menghasilkan karya yang sesuai dengan tujuan dan identitas merek. (5). Brand ambassador. Seseorang yang secara resmi ditugaskan oleh sebuah merek untuk mewakili dan mempromosikan sebuah merek. Biasanya mereka memiliki pengaruh besar di media sosial dan berperan dalam membangun citra positif serta meningkatkan popularitas merek tersebut. (6). Entrepreneur digital. Seseorang yang menjalankan bisnis berbasis digital, seperti toko online, platform konten, atau layanan digital lainnya. Mereka memanfaatkan teknologi dan media digital untuk mengembangkan usaha dan memperluas pasar.
H. Skill Yang Wajib Dimiliki Oleh Seorang Content Creator
Untuk menjadi seorang content creator yang sukses, wajib memiliki soft skill dan hard skill yang mumpuni antara lain : (1). Soft Skill :
Kreativitas tinggi: Kreativitas merupakan kemampuan utama bagi seorang pembuat konten untuk menciptakan ide-ide menarik dan unik yang membuat kontennya berbeda dan menarik perhatian. Kreativitas tidak hanya soal tampilan visual, tetapi juga bagaimana menyampaikan pesan yang relevan dan mampu menyentuh perasaan audiens. (2). Kemampuan komunikasi interpersonal. Kemampuan komunikasi interpersonal adalah keahlian dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, baik secara langsung maupun melalui media digital. (3). Problem solving. Kemampuan memecahkan masalah sangat dibutuhkan saat menghadapi berbagai tantangan dalam proses pembuatan konten, seperti keterbatasan waktu, masalah teknis, atau perubahan tren yang cepat.
(4). Time management. Manajemen waktu adalah kemampuan mengatur jadwal secara efisien agar seluruh proses pembuatan konten – mulai dari penelitian, produksi, editing, hingga publikasi dapat berjalan dengan lancar. (5). Storytelling. Storytelling adalah seni menyampaikan sebuah cerita dengan cara yang menarik dan bermakna, sehingga mampu membangun ikatan emosional dengan audiens. Dengan penceritaan yang baik, konten tidak hanya informatif, tapi juga menghibur dan menginspirasi.
Sedangkan kemampuan dibidang “Hard Skill” diantaranya : (1). Editing video dan foto. Editing video dan foto adalah proses mengolah rekaman atau gambar agar tampil lebih menarik dan profesional. Hal ini meliputi pemotongan klip, pengaturan warna, penambahan efek visual, serta penyusunan cerita agar konten mudah dipahami dan mampu menarik perhatian audiens. (2). Copywriting. Copywriting adalah seni menulis teks yang persuasif dan menarik untuk mengajak audiens melakukan tindakan tertentu, seperti membeli produk atau mengikuti akun. Kemampuan itu penting untuk membuat judul, caption, deskripsi, dan konten promosi yang efektif dan sesuai dengan karakter merek. (3). SEO (Search Engine Optimization). SEO adalah teknik mengoptimalkan konten agar mudah ditemukan di mesin pencari seperti Google. Dengan penggunaan kata kunci yang tepat, struktur konten yang baik, dan elemen pendukung lainnya, konten memiliki peluang lebih besar untuk muncul di halaman pertama hasil pencarian, sehingga meningkatkan jumlah pengunjung. (4). Manajemen media sosial. Manajemen media sosial mencakup perencanaan, pembuatan, dan penjadwalan konten di berbagai platform seperti Instagram, Facebook Pro, dan TikTok. Selain itu, juga termasuk berinteraksi dengan audiens, menyatukan performa konten, dan menyesuaikan strategi agar keterlibatan dan jangkauan terus meningkat. (5). Analisis data digital. Analisis data digital adalah proses pengumpulan dan pemancaran data dari platform digital untuk memahami perilaku audiens dan efektivitas konten. Dengan analisis ini, pembuat konten dapat mengetahui konten mana yang paling berhasil, memperbaiki strategi, dan mengambil keputusan berdasarkan data untuk meningkatkan kinerja konten sebelumnya.
I. Tugas Dan Tanggung Jawab Seorang Content Creator
Menjadi konten kreator tidak semudah yang terlihat. Ada berbagai tugas dan tanggung jawab seorang content creator yang harus dilakukan : (1). Riset tren dan kebutuhan audiens, merencanakan konten berdasarkan target market, produksi konten (menulis, merekam, menyunting), mempublikasikan konten di waktu yang tepat, memonitor performa konten melalui data engagement, berinteraksi dengan audiens melalui komentar atau pesan
J. Kualifikasi Seorang Content Creator
Meskipun tidak ada syarat formal, cara menjadi content creator profesional biasanya melibatkan beberapa kualifikasi berikut : (1). Latar belakang pendidikan di bidang jurusan komunikasi atau sejenisnya. Portofolio konten yang kuat, pengalaman menggunakan alat digital editing, pengetahuan mengenai tren media sosial, kemampuan mengelola proyek secara mandiri.
K. Kesalahan Yang Sering Terjadi pada Content Creator
Dalam perjalanannya, banyak content creator pemula melakukan kesalahan yang bisa dihindari, seperti : (1). Tidak konsisten dalam membuat konten. (2). Terlalu fokus pada kuantitas, bukan kualitas. (3). Tidak memahami audiens. (4). Tidak menjaga etika komunikasi. (5). Menyalin konten tanpa izin. (6). Mengabaikan analitik performa.
L. Tips Menjadi Content Creator Yang Sukses
Berikut beberapa tips penting cara jadi content creator yang profesional dan sukses : (1). Temukan niche, yaitu fokus pada satu topik yang dikuasai agar mudah membangun audiens setia. (2). Kenali audiens, yaitu buatlah konten dengan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan dan minat audiens. (3). Gunakan storytelling. Yaitu cerita yang menarik dapat meningkatkan engagement. (4). Belajar secara terus-menerus. Karena, dunia digital sangat dinamis, oleh karena itu teruslah ikuti perkembangan platform dan algoritma. (5). Bangun networking, yaitu berkolaborasi dengan content kreator yang lain untuk memperluas relasi antar sesama kreator dan menjangkau audiens lebih luas. (6). Jaga etika komunikasi. Karena, kredibilitas sangat penting di dunia digital
Profesi content creator bukan hanya sekadar tren sementara, melainkan sudah menjadi bagian dari ekosistem digital yang terus berkembang. Dengan latar belakang pendidikan dari jurusan ilmu komunikasi, seseorang memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan karir sebagai konten kreator profesional. Pemahaman akan strategi komunikasi, psikologi komunikasi, serta keterampilan produksi konten menjadikan lulusan jurusan ini sangat kompetitif di dunia digital. Maka tidak heran, jika semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni profesi ini sebagai jalur karir yang menjanjikan.
IV. Pengertian Viral : Sejarah Dan Cara Membuat Kontennya
A. Pengertian Viral
Perkembangan media sosial, membuat banyak content creator mulai bermunculan dan berlomba-lomba untuk membuat konten agar bisa viral, sehingga kontennya dapat menarik banyak viewers atau followers. Sedangkan kata viral kemudian disematkan dalam banyak jenis konten yang umumnya memiliki banyak viewers atau berada pada peringkat teratas sebagai konten paling banyak ditonton atau dicari orang. Kata viral tidak hanya disematkan pada konten saja, akan tetapi juga pada tren yang penyebarannya melalui media sosial. Contohnya seperti TikTok dan bahkan saat ini di terjadi juga di Facebook Profesional (fb-pro) yang menghadirkan banyak tren viral sehingga banya diikuti oleh para pengguna di kedua media sosial tersebut. Bahkan kita mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kata viral saat ini, tetapi apa sih pengertian viral yang sebenarnya? Dan bagaimana asal-usul penggunaan kata viral itu?
Ketika mendengar kata viral, apa yang langsung terpikirkan di benak kita? Apakah konten dengan penonton banyak? Atau trend yang diikuti oleh banyak orang? Sebenarnya apa pengertian viral? Secara etimologis, kata viral berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah virus. Pada zaman dulu, viral menggambarkan suatu penyakit yang mudah menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Terkadang, viral juga menyebabkan seluruh kelas menjadi sakit pada waktu bersamaan. Contohnya seperti pandemi Covid-19 di tahun 2019 yang lalu. Akan tetapi, saat ini kata viral mengalami pergeseran makna, yaitu dari yang semula virus menjadi sesuatu yang menyebar secara cepat melalui media sosial, internet ke jutaan orang secara online.
Istilah dari kata viral, mamang sebenarnya mulai muncul pada tahun 2009, hal itu untuk menggambarkan sebuah video David after Dentist. Video tersebut merupakan sebuah video yang diunggah oleh seorang ayah dari anak bernama David Devore Jr. Ia merekam reaksi sang anak terhadap anestesi usai melakukan operasi mulut. Kemudian video tersebut rupanya menarik banyak perhatian orang, sehingga menjadi bahan pembicaraan. Sejak saat itulah, istilah viral pun digunakan untuk menyebut konten yang menyebar dengan cepat dan menarik banyak minat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian viral dibagi menjadi dua yaitu viral yang artinya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan virus. Kedua, viral yang artinya adalah penyebaran video, gambar maupun informasi atau lainnya dari satu pengguna internet pada pengguna internet yang lain. Sementara itu, fenomena viral dapat diartikan sebagai objek atau sebuah pola yang dapat menggandakan diri atau mengubah objek lainnya menjadi salinan diri sendiri, ketika objek tersebut terpapar dengan objek lain yang dipredikatkan sebagai viral, akhirnya fenomena viral menjadi suatu cara umum untuk menunjukan bahwa pikiran manusia, informasi serta populasi manusia bergerak maju.
B. Ciri-Ciri Viral
Ada tiga ciri dari fenomena viral diantaranya : (1). Unik dan tidak umum. Pada umumnya suatu fenomena yang menjadi viral merupakan sebuah kejadian, berita atau gambar yang sifatnya unik serta tidak umum atau dianggap tidak biasa di tengah lingkungan masyarakat, sehingga hal itu dapat mudah menjadi viral dan menyita perhatian banyak masyarakat. Selain itu, fenomena-fenomena viral juga akan mendorong seseorang untuk terus membagikan fenomena tersebut dan membuatnya menjadi viral. (2). Memiliki sifat positif dan negatif. Tidak semua fenomena, trend atau konten viral memiliki sifat positif atau negatif. Ada beberapa fenomena viral yang memiliki sifat positif dan beberapa memiliki sifat negatif. Contohnya beberapa tren yang muncul di kalangan anak-anak remaja untuk menghadang mobil bermuatan besar, seperti truck. Hal itu tentu saja sebuah fenomena viral yang memiliki sifat negatif, karena dapat membahayakan supir, pengendara jalan lain dan pembuat tren tersebut. Akan tetapi, ada pula contoh dari fenomena positif. Seperti gerakan memberi pada orang-orang yang tidak mampu. Karena fenomena tersebut, ada banyak konten kreator baru yang mengikuti atau bahkan masyarakat umum untuk saling berlomba-lomba memberi pada orang yang lebih membutuhkan.
(3). Sedang hits. Fenomena viral memiliki ciri yaitu fenomena yang sedang hangat dibicarakan oleh banyak orang, dikarenakan fenomena tersebut menarik untuk bahas. Fenomena viral biasanya adalah konten, berita, tren yang sedang booming, hits atau kekinian. (4). Memiliki durasi pendek. Video-video viral umumnya adalah video yang memiliki durasi pendek. Hal itu karena lebih dari 19% orang cenderung akan menutup video setelah 10 detik pertama, maka artinya video yang menarik dan lucu di awal akan lebih mudah viral.(5). Konten yang membuat bahagia atau tertawa. Jonah Berger dalam Contagious : “Why Things Catch On” (2019) ia menjelaskan bahwa konten viral adalah konten yang biasanya membangkitkan emosi kuat pemirsa atau para pembacanya. (6). Memiliki momen yang tepat. Konten atau suatu video akan lebih mungkin menjadi viral, apabila konten tersebut diunggah pada momen yang tepat. Sedangkan momen yang tepat bisa jadi berkaitan dengan peristiwa terkini yang terjadi di dunia atau topik budaya pop yang mendominasi berita. (7). Terhubung dengan dunia. Apa saja yang terhubung dengan acara dunia, memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau lebih banyak orang. Hal itu karena kebanyakan orang memiliki minat pada topik yang sama.
C. Sejarah Munculnya Istilah Viral
Istilah viral pertama kali diciptakan oleh Douglas Rushkoff. Mulanya, ia menyebut virus media atau media viral dan kata tersebut digunakan untuk menjelaskan salah satu jenis kuda Troya, “orang-orang ditipu untuk meneruskan agenda tersembunyi ketika sedang meneruskan sebuah konten menarik.” Salah satu contoh dari fenomena atau informasi viral adalah meme. Istilah meme pertama kali diciptakan oleh Richard Dawkins pada tahun 1976. Bahkan, dalam bukunya berjudul “The Selfish Gene”, ia menjelaskan bahwa meme adalah satuan makna budaya, seperti sebuah gagasan atau nilai yang kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa meme adalah pasangan budaya untuk unit keturunan fisik atau gen dan menyatakan bahwa kepercayaan adalah suatu meme, dikarenakan kepercayaan diteruskan dari satu generasi ke generasi lain. Pada mulanya, sebelum budaya tulis saat itu dan kebanyakan masyarakat masih buta huruf, penyebaran meme kebanyakan dilakukan dari mulut ke mulut, contohnya seperti lagu rakyat, cerita rakyat dan pantun. Kemudian, penyebaran meme itu terus berkembang dan terjadi pengulangan yang memberikan kesempatan bagi penyebar cerita untuk merubah cerita. Setelah penyebaran dari mulut ke mulut, media cetak kemudian hadir dan menjadi media untuk menyebarkan meme tersebut.
Bahkan, ada sebuah penelitian tentang koran di Amerika Serikat pada sekitar tahun 1800-an, penelitian tersebut menemukan cerita mengenai manusia serta kabar yang dapat digunakan dan brosur yang beredar secara nasional diantara koran dengan cara saling salin dan menyalin. Setelah munculnya media cetak, lalu muncul pula surat berantai yang disebarkan melalui surat pos selama tahun 1900-an. Legenda urban juga pertama kali dimulai dari meme yang disebarkan dari mulut ke mulut. Pemberitaan palsu adalah salah satu contoh dari kabar palsu yang menjadi konsumsi masyarakat dan mendapatkan ketenaran.
Internet kemudian memungkinkan para pengguna untuk memilih serta membagikan isi konten secara elektronik dengan lebih mudah. Dengan menggunakan internet, pengguna dapat menyebarkan meme atau konten secara baru, mudah dan cepat. Surel atau email kemudian menjadi salah satu media penyebaran meme dan disebut sebagai surel viral. Setelah munculnya internet, kemudian muncul Photoshop yang membuat para editor semakin mudah untuk membuat aliran makro gambar dengan ungkapan teks humoris. Jenis meme tersebut lalu dikenal sebagai meme internet. Setelah meme, YouTube hadir dan membuat konten video menjadi viral di berbagai media sosial saat ini.
Suatu video dapat dikatakan viral apabila video tersebut mendapatkan jumlah penayangan yang cukup besar, hal itu sebagai tanda bahwa video tersebut memiliki pemirsa yang luas. Bahkan, video viral terkadang adalah video-video amatir, tetapi ada pula video viral yang dibuat secara profesional. Terkadang, cukup sulit untuk memperkirakan gambar, video atau konten seperti apa yang akan menjadi viral dan dibagi secara meluas.
Setelah itu, meme dan konten viral terus berkembang hingga memunculkan selebriti internet. Umumnya para selebriti internet itu mendapatkan banyak perhatian, meskipun konten yang diunggah dinilai tidak memiliki manfaat dan hanya mengikuti tren saja. Hal itu bisa terjadi, dikarenakan mudahnya menyebarkan konten dan hal-hal viral tidak membutuhkan nilai tertentu atau harus mengandung muatan positif.
C. Cara Membuat Konten Viral
Menjadi viral kini banyak idamkan oleh pengguna internet, karena dengan menjadi viral maka vidio kita akan lebih dikenal dan memungkinkan kita untuk menjadi selebriti internet dan menarik para investor. Selain itu, viral kini telah menjadi salah satu media marketing yang banyak digunakan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya. Akan tetapi, algoritma dari media sosial yang selalu berubah menjadikan konten viral itu sulit untuk ditebak dan dibuat. Akan tetapi menurut para pengamat ahli komunikasi, memang ada beberapa tips yang bisa kita coba agar konten yang kita buat menjadi konten viral.
Berikut ini menurut para pengamat ahli komunikasi proses penjelasannya : (1). Menggunakan intro yang jelas, singkat dan padat. Yakni, seperti yang dijelaskan diatas, bahwa kebanyakan netizen hanya melihat atau membaca isi konten di awal saja. Oleh karena itu, untuk menarik minat netizen diperlukan konten dengan intro yang jelas dan singkat. Caranya adalah dengan memaparkan fakta isi konten pada awal paragraf atau intro. Fakta tersebut kemudian dapat ditambahkan sedikit bumbu, agar dapat menarik minat para netizen. Cara lainnya, konon katanya, kita juga haruscbisa menggunakan “thumbnail” yang menarik agar netizen penasaran dan mengklik video kita. (2). Menggunakan URL ringkas. URL rupanya berpengaruh untuk menarik minat baca netizen. URL yang lebih ringkas dapat menarik minat pembaca 2,5 kali lebih baik dibandingkan konten dengan tautan URL panjang atau membingungkan. URL juga bisa dikaitkan dengan SEO, kita bisa mencatutkan keyword yang sedang viral atau keyword yang sesuai dengan konten kita. Agar dapat menarik minat netizen, kita bisa menggunakan 2 hingga 3 kata pada URL. Teknik satu ini, juga banyak digunakan oleh para blogger di Indonesia. Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh apabila mengikuti tips yang satu ini, di antaranya adalah URL pendek akan memberikan kemudahan pada pembaca untuk mengetahui isi konten dengan jelas dan cepat, URL pendek lebih “eye catching” ketika dibagikan di sosial media, URL pendek dengan keyword akan meningkatkan kemungkinan terindeks jauh lebih baik.
(3). Menggunakan angka yang ganjil. Sebuah penelitian menyebutkan sebanyak 36% artikel memiliki headline yang dilengkapi dengan angka dan headline tersebut mampu mendatangkan banyak pembaca yang lebih besar dibandingkan headline yang tidak memiliki angka. Kemudian, dari headline dengan angka tersebut kebanyakan headline dengan judul angka ganjil memiliki nilai CTR 20% lebih tinggi dibandingkan headline dengan angka genap.
Penggunaan angka-akan membuat artikel atau konten kita terlihat lebih spesifik, sehingga akan menarik di mata pembaca. Lalu, secara psikologis, angka ganjil dianggap lebih menarik dibandingkan angka genap. (4). Menggunakan tanda kurung. Tips lainnya agar konten yang kita bisa viral adalah dengan menggunakan tanda kurung. Nah apa hubungannya? Menurut penelitian lain, konten dengan judul yang memiliki tanda kurung memiliki CTR 38% lebih tinggi dibandingkan konten yang tidak memiliki tanda kurung. Penggunaan tanda kurung, pada umumnya juga diikuti dengan informasi khusus, tambahan informasi, bentuk informasi, studi kasus dan lainnya. Karena informasi khusus tersebutlah, maka pembaca menjadi lebih tertarik karena menilai konten tersebut memiliki manfaat lebih.
Selain itu, penambahan tanda kurung dengan informasi khusus akan membuat konten kita menjadi tampak lebih profesional. Alasan itu jugalah yang membuat konten kita banyak dibaca akhirnya menjadi viral. (5). Memberikan gambar. Jika kita adalah seorang blogger misanya, maka kita tidak boleh menyepelekan penambahan gambar dengan warna dan elemen menarik lainnya. Hal itu karena penambahan elemen gambar akan meningkatkan ketertarikan pembaca sebanyak 80%. Alasan itu pula yang membuat media sosial seperti Instagram, TikTok atau YouTube, dan Facebook Profesional lebih digandrungi dibandingkan portal-portal berita atau blogger saat ini.
Banyak content creator menyajikan gambar yang estetik, indah, rapi, bersih, menarik dan kontennya pun mendapatkan perhatian banyak orang. Jika kita adalah content creator di tiga platform tersebut, maka kualitas gambar dan video kita adalah hal paling penting yang perlu kita perhatikan. (6). Gambar menjadi tanda kredibilitas pembuat konten. Para Netizen atau pengguna internet akan mudah membagikan suatu konten apabila pembuat konten tersebut memiliki kredibilitas yang baik. Karena tentu saja, tidak ada yang mau dicap sebagai penyebar hoax, karena membagikan konten viral sembarangan. Cara meningkatkan kredibilitas atau menunjukan tanda bahwa kita kredibel dalam membuat konten tersebut adalah memberikan gambar atau foto menarik.
Selain itu, jangan lupa untuk menambahkan watermark atau sumber dari mana gambar tersebut didapatkan. Labih dari itu, gambar yang dibagikan juga tidak sembarang, akan tetapi harus berkualitas. Kualitas yang dimaksud adalah gambar dengan resolusi tinggi, bukan gambar dengan photo stock buruk dengan watermark, sesuai dengan isi konten atau tema. (7). Menambahkan ikon share yang menonjol. Setiap media sosial memang memiliki tombol share agar mempermudah pengguna dalam membagikan konten tersebut. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika kita menonjolkan ikon tersebut dengan cara memberikan tanda pada akhir video, foto atau konten. Kita juga bisa menulis caption untuk meminta pembaca atau para Netizen lain membagikan konten yang sudah kita unggah di media sosial. Itulah penjelasan mengenai pengertian viral dan bagaimana cara membuat konten menjadi viral. Bagi kita yang ingin belajar membuat konten di beragai platform, maka kita juga bisa memperoleh tips lain untuk membuat konten kita bisa viral dengan cara membaca buku, terutama buku sekitar proses menjadi konten kreator yang berhasil.








