Oleh: Endang Yusro
“Ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah.”
~ Jalaluddin Rumi
Kutipan Jalaluddin Rumi (Jalal ad-Din Muhammad Rumi) yang dalam Bahasa Inggris berbunyi, “There is a voice that doesn’t use words. Listen.” di atas menjadi referensi yang sangat pas untuk catatan siang menjelang sore ini (Jumat, 17/4/2026).
Kalimat sederhana namun sarat makna ini mengingatkan kita bahwa komunikasi antarmanusia tidak selalu berjalan melalui bahasa lisan atau tulisan.
Ada bahasa hati, ada nada suara, ada ekspresi wajah, dan ada getaran perasaan yang seringkali lebih jujur dan lebih dalam daripada kata-kata yang diucapkan.
Ketika seorang istri bercerita kepada suaminya tentang permasalahan mengurus anak, atau masalah dengan saudara. Atau ketika seorang suami mengungkapkan beban pekerjaan di kantor kepada istrinya.
Bisa jadi di saat itu mereka benar-benar membutuhkan solusi, masukan, atau jalan keluar. Namun, bisa juga hal itu hanya sekedar keinginan untuk mengungkapkan isi hati agar pasangan yang mendengarnya tahu, merasakan, dan memahami apa yang sedang dialami.
Begitu pula dalam hubungan kerja. Ada seorang bawahan yang mengadu kepada atasannya perihal pekerjaan atau rekan kerjanya. Di lain waktu, sang pimpinan juga berbagi cerita dengan bawahannya.
Kedua bentuk komunikasi ini bisa jadi membutuhkan tanggapan konkret sebagai sebuah solusi. Namun, bisa juga itu hanya sekadar “uneg-uneg” untuk berbagi perasaan agar tidak lama terpendam di dada, atau sekadar mengajak teman curhat untuk ikut merasakan apa yang dirasakan, membangun koneksi emosional.
Melihat fenomena yang sering terjadi, biasanya ada kecenderungan ketika seseorang mendapati curhatan dari teman, saudara, atau pasangannya, ia langsung bereaksi dengan memberikan jawaban, nasihat, atau bahkan kritik.
Padahal, belum tentu teman atau pasangan yang curhat membutuhkan jawaban atau solusi secepat itu. Respon yang diberikan bisa jadi beririsan atau sejalan dengan isi curhatan, namun bisa juga justru berlawanan dengan maksud sebenarnya dari orang yang bercerita.
Terkadang, apa yang dibutuhkan bukanlah solusi yang cepat, melainkan ruang untuk didengar, validasi bahwa perasaan itu wajar, dan kehadiran seseorang yang mau berdiri di sampingnya.
Memberikan tanggapan terlalu cepat atau tidak pada tempatnya justru bisa membuat orang yang curhat merasa tidak dipahami, atau bahkan merasa masalahnya dianggap remeh.
Tentang hal ini, bisa jadi pihak yang curhat hanya menerima tanggapan tersebut karena menghargai faktor usia, jabatan, atau kedekatan hubungan, namun di dalam hati sebenarnya mereka hanya ingin didengar, bukan dinasihati atau diberi solusi.
Dalam hal ini, Islam sangat mengajarkan kita tentang adab berkomunikasi, termasuk seni mendengarkan. Allah Swt. berfirman:
“Sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” (QS. az-Zumar: 17-18)
Ayat ini mengajarkan bahwa mendengarkan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga melibatkan hati dan pikiran untuk memahami makna di balik perkataan tersebut.
Rasulullah Saw. memberikan contoh yang sangat indah dalam hal ini. Beliau selalu memberikan perhatian penuh kepada orang yang berbicara.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ apabila seseorang menjabat tangannya, beliau tidak melepaskannyahingga orang itu sendiri yang melepaskan; dan beliau tidak memalingkan wajah dariorang itu hingga orang itu sendiri yang berpaling.” (HR. Ahmad)
Sikap Nabi ini menunjukkan bahwa kehadiran penuh dan perhatian yang tulus adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap lawan bicara.
Kemudian pada kesempatan yang lain Beliau juga bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi prinsip emas. Ketika kita belum yakin apa yang harus dikatakan, atau ketika lawan bicara hanya butuh didengar, maka diam dan mendengarkan dengan penuh empati adalah sikap yang paling bijak dan mulia.
Islam juga mengajarkan tentang empati, yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan di antara mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Mendengarkan curhatan dengan hati adalah wujud nyata dari empati ini. Kita ikut merasakan beban mereka, dan dengan mendengarkan, kita sedang meringankan beban tersebut.
Sementara dari sisi psikologi, fenomena ini juga mendapat perhatian besar. Erich Fromm, seorang psikoanalisis terkenal, dalam bukunya The Art of Listening menjelaskan bahwa menjadi pendengar yang baik adalah kemampuan yang harus dilatih.
Mendengarkan bukan berarti pasif, melainkan aktif hadir, memahami emosi, dan memberikan ruang aman bagi orang lain untuk mengekspresikan diri.
Begitupun penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa ketika kita mendengarkan dengan fokus dan hadir sepenuhnya, kita menumbuhkan empati yang sangat efektif untuk menentramkan hati orang yang sedang gelisah.
Bagi banyak orang, proses “ventilasi” atau mengeluarkan uneg-uneg itu sendiri sudah merupakan terapi yang menyembuhkan, bahkan sebelum ada solusi yang diberikan.
Ustaz Adi Hidayat juga pernah menekankan hal serupa: “Menjadi pendengar yang baik itu bukan hanya soal sabar mendengarkan, tapi juga mampu membimbing dengan hikmah dan menahan lisan dari komentar berlebihan. Tidak semua curhatan membutuhkan solusi, sebagian hanya butuh pelukan dan doa tulus dari hati.”
Sementara itu, Buya Yahya mengingatkan agar kita pandai membedakan tujuan curhat. Ada yang untuk mencari solusi, ada yang hanya untuk berbagi perasaan.
Menanggapi dengan solusi pada saat yang tidak tepat justru bisa mengubah suasana berbagi menjadi suasana yang kaku atau bahkan menyinggung.
Maka, menghadapi hal seperti ini, mendengarkan curhatan seseorang dengan hati yang terbuka, tanpa terburu-buru memberikan tanggapan, adalah hal yang sangat bijak.
Seperti kata Jalaluddin Rumi, ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah suara itu. Dengarkan getaran hatinya, rasakan emosinya, dan hadirlah sepenuhnya untuknya.
Demikian catatan siang menjelang sore yang dapat penulis bagikan, semoga bermanfaat untuk kita semua dalam membangun hubungan yang lebih hangat, pengertian, dan penuh kasih sayang.
Wallahu a’lam bish-shawab.



