Oleh:
Endang Yusro
(Kepala SMA MUHAMMADIYAH Kota Serang dan Founder Mata Pena)
“Resiko terbesar adalah tidak mengambil resiko sama sekali. Di dunia yang berubah dengan cepat, satu-satunya strategi yang dijamin gagal adalah tidak mengambil risiko.”
~ Mark Zuckerberg
Ungkapan dalam bahasa Inggris, “Risk is always better than regret” yang penulis temukan di beranda salah satu akun Facebook saat “ngaso” di salah satu tempat perbelanjaan di Kaujon Kota Serang sepulang menghadiri “Halal Bihalal” Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Banten, Ahad (19/4/2026).
Ungkapan tersebut akhirnya menginspirasi penulis membuat catatan sambil menunggu waktu Zuhur tiba dan menikmati secangkir kopi pahit berteman sebungkus nanas yang sudah dipotong-potong saat membelinya.
Sebagian cenderung menghindari resiko untuk memastikan stabilitas hidup, tidak mau mengambil resiko, mencari jalan aman.
Namun sebagian yang lain akan mengambil resiko untuk mengusir kebosanan, untuk mendapatkan perubahan hidup (misal, perubahan nasib, dsb.)
Beberapa ahli dan orang bijak mengatakan, kita harus mengambil resiko itu agar tidak menyesal di masa depan. Minimal jika kita sudah melakukan, terlepas hasilnya sesuai harapan atau tidak itu kita tidak akan penasaran. Karena perasaan tidak membela diri dan mengambil resiko itu sangat menyakitkan.
Agama mengenal yang demikian sebagai ijtihad, ketika kita melakukannya (ijtihad) minimal akan mendapatkan satu kebaikan, jika itu tidak sesuai harapan (gagal/salah).
Jika kita tidak mengambil langkah yang beresiko, lalu kemudian kesempatan diambil oleh teman atau orang lain lalu kita mendengar teman atau orang lain tersebut berhasil melakukan, maka yang akan terjadi penyesalan.
Dalam hal ini pepatah lain mengatakan, “Pada akhirnya, kita hanya menyesali kesempatan yang tidak kita ambil.”
Pepatah ini menggambarkan gagasan bahwa seringkali risiko yang tidak kita ambil itulah yang paling kita sesali.
Dalam pandangan Islam, risiko bukanlah sesuatu yang harus dihindari secara mutlak, melainkan bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai sunnatullah.
Hal ini tercantum dalam firman-Nya:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian dan ketidakpastian adalah hal yang pasti hadir, namun Islam tidak mengajarkan kita untuk menyerah tanpa usaha.
Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menghadapi risiko dengan ikhtiar yang cerdas, perhitungan yang matang, dan tawakal yang ikhlas.
Rasulullah SAW pun menegaskan keseimbangan antara usaha dan keyakinan dalam sabdanya: “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Dalam konteks usaha dan keuntungan, Islam juga memiliki kaidah yang jelas: “Tidak ada keuntungan (yang halal) kecuali setelah adanya tanggungan (risiko).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Serta kaidah lain yang berbunyi: “الغُنْمُ بِالغُرْمِ” (Keuntungan itu sebanding dengan risiko.)
Hal ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik, seseorang harus bersedia menanggung potensi kerugian atau tantangan yang ada.
Namun, Islam juga melarang kita untuk mengambil risiko yang tidak perlu atau membahayakan diri sendiri dan orang lain, sebagaimana firman Allah:
“Dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu ke lembah kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Oleh karena itu, mengambil risiko dalam Islam haruslah dilakukan dengan pertimbangan yang matang, tidak melanggar syariat, dan tetap menjaga keselamatan diri serta orang lain.
Sementara para ulama menjelaskan bahwa mengambil resiko yang terukur adalah bagian dari upaya manusia untuk mengembangkan potensi diri dan mencapai tujuan hidup. Imam Ali bin Abi Thalib ra. pernah bersabda:
“Orang yang berani mengambil risiko akan maju menuju bahaya (tantangan) demi mencapai kemenangan.”
Beliau juga mengingatkan agar kita tidak mengambil resiko melebihi kemampuan kita:
“Janganlah kamu mengambil risiko terhadap sesuatu dengan harapan mendapatkan lebih dari apa yang kamu miliki.”
Menurut para ahli dan tokoh dunia, mengambil resiko dianggap sebagai kunci kemajuan dan kesuksesan.
Mark Twain, mengatakan, “Penyesalan terbesar dalam hidup adalah bukan karena apa yang telah kita lakukan, tetapi karena apa yang tidak kita lakukan.”
Kemudian Nelson Mandela pun mengatakan, “Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemampuan untuk melangkah maju meskipun ada rasa takut.”
Terakhir, Mark Zuckerberg, programmer dan pengusaha Amerika yang mendirikan situs jejaring sosial Facebook pada tahun 2004 saat kuliah di Harvard, mengatakan:
“Resiko terbesar adalah tidak mengambil resiko sama sekali. Di dunia yang berubah dengan cepat, satu-satunya strategi yang dijamin gagal adalah tidak mengambil risiko.”
Menutup catatan siang akhir pekan ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa mengambil resiko itu memang bukan hal yang mudah, seringkali diiringi rasa takut dan keraguan.
Namun, jika kita melihat dari berbagai sudut pandang—baik agama, ilmu pengetahuan, maupun pengalaman para tokoh—ternyata berdiam diri dan melewatkan kesempatan justru membawa penyesalan yang jauh lebih berat di kemudian hari.
Risiko bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan teman yang akan membawa kita menuju pertumbuhan, pembelajaran, dan kemungkinan-kemungkinan baru.
Dan pelajaran berharga bagi penulis khususnya, yang terpenting adalah kita mengambil risiko dengan cara yang bijak: melakukan perencanaan yang matang, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. dengan hati yang tenang.
Jangan biarkan ketakutan akan kegagalan menghentikan langkahmu. Ingatlah, lebih baik mencoba dan gagal daripada selamanya bertanya-tanya: “Bagaimana jika aku pernah mencoba?”
Kita sering mendengar ucapan para ustadz, kiai, motivator, guru besar, dan tokoh agama lainnya yang mengatakan, hidup yang berarti adalah hidup yang berani melangkah, berani mengambil resiko, dan berani berjuang demi apa yang kita yakini. Demikian wallahu a’lam bish-shawab.


