Oleh: TunuL Lasniatin
Mahasiswi Program Doktoral Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Tulisan ini mengkaji peran strategis perempuan dalam mengisi dan menggerakkan literasi budaya baca di tengah disrupsi digital. Era scroll dan swipe telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat dari teks panjang yang mendalam menjadi konten singkat dan fragmentatif. Kondisi tersebut menuntut reposisi strategi literasi. Perempuan, dengan modal kultural dan sosial yang dimilikinya, memiliki posisi vital sebagai agen literasi primer dalam keluarga dan komunitas.
Perkembangan teknologi informasi menghadirkan paradoks dalam praktik literasi. Di satu sisi, akses terhadap sumber bacaan semakin terbuka; di sisi lain, kemampuan membaca kritis dan reflektif mengalami degradasi akibat dominasi budaya skimming dan scanning. Dalam konteks tersebut, diskursus tentang literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan teknis membaca-menulis, melainkan bergeser pada kemampuan memaknai, mengevaluasi, dan memproduksi pengetahuan.
Secara historis-sosiologis, perempuan menempati posisi sentral sebagai first educator dalam lingkungan keluarga. Internalisasi nilai budaya baca pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh intensitas dan kualitas interaksi literasi dengan figur ibu. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan korelasi positif antara tingkat literasi ibu dengan capaian literasi anak.
Pada era digital, fungsi tersebut mengalami perluasan makna. Perempuan tidak hanya berperan dalam ranah domestik, tetapi juga menjadi aktor kunci dalam gerakan literasi komunitas. Fenomena tumbuhnya Taman Bacaan Masyarakat, komunitas baca, dan rumah literasi di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Banten, tidak dapat dilepaskan dari inisiasi dan konsistensi perempuan sebagai penggerak. Modal sosial berupa jejaring komunitas, kemampuan komunikasi interpersonal, dan orientasi kolektif menjadi keunggulan komparatif perempuan dalam mengampanyekan budaya baca.
Tantangan era scroll dan swipe sejatinya dapat direspons melalui pendekatan digital humanities. Perempuan pegiat literasi kini mengadopsi strategi hibrid: mengafirmasi nilai kedalaman literasi konvensional sembari memanfaatkan platform digital sebagai medium diseminasi. Praktik seperti alih wahana resensi buku ke dalam format video pendek, diskusi sastra melalui live streaming, dan kampanye membaca melalui media sosial merupakan bentuk negosiasi kultural yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dengan demikian, penguatan literasi budaya baca di era disrupsi digital meniscayakan pelibatan aktif perempuan sebagai subjek utama. Intervensi kebijakan diperlukan untuk mendukung peran tersebut, antara lain melalui: 1) penguatan kapasitas literasi digital perempuan, 2) penyediaan infrastruktur perpustakaan yang inklusif dan ramah keluarga, dan 3) integrasi program literasi keluarga ke dalam kebijakan pendidikan daerah. Investasi pada literasi perempuan pada hakikatnya adalah investasi pada pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.


