Oleh : Adung Haris

I. Prolog

Menulis buku sejarah menurut yang saya alami dan saya lakukan adalah langkah luar biasa untuk merawat memori kolektif. Karena setidaknya, buku karya yang kita hasilkan akan menjadi warisan intelektual yang sangat berharga bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, agar proses riset dan penulisan buku yang kita lakukan tetap mengalir, berikut ini adalah beberapa tips praktisnya :

A. Tentukan Fokus Area.
(1). Apakah kita menggarap sejarah lokal di sekitar kit (wilayah Banten), biografi tokoh, atau peristiwa nasional? Karena, fokus yang spesifik akan mempermudah pengumpulan data. (2). Gunakan Sumber Primer. Oleh karena itu, mau tidak mau, kita juga harus mengunjungi (mencari) arsip resmi atau perpustakaan nasional untuk mendapatkan data paling otentik. (3). Buat Kerangka (Outline). Susun bab perbah, yaitu berdasarkan kronologi peristiwa atau tematis agar alur cerita sejarah yang kita tulis lebih mudah diikuti pembaca.

B. Terapkan Metode Sejarah.
(1). Lakukan tahapan seperti proses heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi, interpretasi, dan historiografi dengan baik.

C. Jaga Konsistensi.
Luangkan waktu minimal 30 menit setiap hari untuk menulis agar kebiasaan tetap semangat.

II. Menulis Buku Sebagai Warisan Intelektual : Membentuk Sejarah Melalui Kata

Menulis buku (termasuk menilis buku sejarah) tidak hanya untuk memenuhi ambisi pribadi, tetapi juga merupakan cara untuk meninggalkan jejak intelektual yang bisa diakses oleh banyak generasi di masa yang akan datang. Dengan menulis buku, maka kita memiliki kesempatan untuk menyuarakan pemikiran dan ide yang mungkin belum terwakili di dunia literasi. Selain itu, kita juga berpeluang untuk menjadi sumber inspirasi dan referensi bagi banyak orang. Karena setiap gagasan yang kita tuangkan dalam tulisan, faktanya memiliki potensi untuk mengubah cara pandang orang lain.

Menulis buku juga memberikan kebebasan tanpa batas untuk mengeksplorasi ide, membangun karakter, dan menciptakan dunia baru. Karena menulis buku adalah ruang pribadi untuk berekspresi tanpa batasan.
Banyak penulis sukses menyatakan bahwa langkah pertama dalam menulis adalah memiliki komitmen untuk memulai. Jadi, untuk kita yang pemula jangan terlalu fokus pada hasil akhir, nikmati setiap prosesnya, karena setiap halaman yang ditulis adalah langkah menuju pencapaian besar, Insyaallah.

Oleh karena itu, menulislah, karena satu huruf dari tulisan kita bisa menjadi amal sholih di hadapan Allah. Menulis juga sudah menjadi tradisi para ulama terdahulu dalam sejarah peradaban Islam. Dengan menulis buku, kita bukan hanya sekadar menyusun kata, tetapi juga menciptakan karya yang bermanfaat dan dapat berdampak positif bagi dirimu sendiri dan orang lain. Mulailah menulis sekarang, dan jadikan setiap kalimat sebagai langkah menuju impian besar.

A. Merangkai Sejarah Dengan Berkarya Dan Menulis

Pada sub judul bagian ini, penulis akan mencoba menjelaskan seputar motivasi menulis, hukum bagi seorang penulis, karakteristik dasar bagi penulis, dan catatan penting saat kita menulis. Mengingat, menulis sebenarnya pekerjaan yang sangat menyenangkan, apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, ada juga orang yang menganjurkan agar “menulis dengan hati”, sehingga tulisan yang kira hasilkan juga bisa mengalir seperti air yang turun dari tebing ke bawah bukit, lancar tanpa hambatan. Bahkan, tulisan yang baik biasanya dihasilkan dari penulis yang menulis dengan ikhlas, tanpa beban dan mempunyai pengetahuan yang baik pula.

Bahkan, ada juga orang yang menganggap bahwa pekerjaan menulis itu berat dan membosankan. Pendapat itu tentu saja bukan tanpa alasan. Mereka umumnya bingung kuga, yakni harus menulis apa dan untuk apa tulisan yang akan dibuatnya. Memang, jika orang menulis tanpa tujuan, tentu saja hasilnya akan sulit dan dijamin hambar dan tidak bernilai. Oleh karena itu, menulis harus mempunyai tujuan yang jelas, ibarat kita bicara, maka jangan bicara asal bicara melainkan bicara yang ada manfaatnya. Menulis pun seperti itu, karena menulis juga harus mempunyai tujuan yang jelas dan mempunyai perencanaan yang jelas pula.

B. Motivasi Menulis

“Menulis untuk keabadian diri”. Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer tersebut lebih lengkapnya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, maka ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah”. Dengan kata lain, menulis adalah bekerja untuk keabadian diri, bahkan menyangkut berbagai hal, diantaranya :

(1). Tugas yang Tinggi Martabatnya.
Inilah kata-kata pamungkas warisan dari Imam Al-Ghazali, yang akan menguatkan tekad siapa pun para penulis yang merasa dirinya bukan turunan dari salah satu strata sosial di atas (termasuk apa yang dilakkukan oleh diri saya sendiri tentunya, walaupun karya baru hanya beberapa buah buku). “Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Tutur Imam Al-Ghazali.

(2). Pahala Yang Selalu Mengalir.
Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti.” (Ali bin Abi Thalib). Lebih dari itu menurut Ali bin Abi Thali, bahwa “Tulisan adalah senjata yang ampuh, karena satu peluru hanya menembus satu kepala, sementara satu tulisan akan menembus beribu kepala”.

(3). Mencipta Sejarah Baru.
Walaupun dengan kita menulis, suatu ketika kita tidak bisa terkenal seperti penulis yang terkemuka. Tapi, paling tidak kita sudah mencipta sejarah baru, terutama buat diri kita sendiri. Kata seorang penulis di tempat saya, ia kerapkali mengatakan, “Saya belum hebat, belum sukses dalam dunia penulisan, namun saya sudah lebih baik daripada mereka yang tak pernah menulis”. Tutur sang penulis yang tanpa henti untuk menulis dan menulis.

C. Hukum Bagi Seorang Penulis

Ibarat gizi, bacaan adalah nutrisi untuk otak sang penulis. bagaimana mau sehat, kalau membaca saja malas. bagaimana mau menulis novel yang bagus, kalau baca ketentuan pengiriman naskah saja tidak mau? Baca sebanyak mungkin. Apa pun, dan pelajari bagaimana penulis-penulis terkenal itu mereka merangkai kata, amati pemilihan diksi mereka, dan catat bagaimana mereka mengolah rasa. Akan lebih bagus lagi jika kita juga membaca berbagai genre tulisan para penulis terkenal itu, dan tak hanya satu jenis tulisan saja tentunya. Hal tersebut akan membuat otak kita semakin berisi. Ibarat perpustakaan, maka perbendaharaannya banyak. Mau apa saja, tinggal pilih untuk dikeluarkan. Di samping itu dengan banyak membaca akan terdapat beberapa manfaat bagi penulis yaitu : (1). Memperluas wawasan. (2). Memperoleh pengetahuan baru tentang hal-hal unik. (3). Memperkaya kosa kata. (4). Menjadi sumber ide dan inspirasi. (5). Sebagai tempat belajar teknik menulis. (6). Bisa mempelajari berbagai gaya menulis. (7). Belajar tata cara penulisan yang baku, dan lain sebagainya.

Kalau mau menjadi seorang penulis profesional, kebiasaan menulis setiap hari harus menjadi suatu kebiasaan utama. Hal itu harus menjadi rutinitas, keharusan, mutlak dan harus terus dilakukan, tida bisa tida. Hal itu amat sangat penting bagi seorang penulis untuk punya rutinitas menulis setiap hari. Maka, menulislah setiap hari, meski hanya berupa caption di Instagram atau status di Facebook. Tuliskan sesuatu yang membuat kira bahagia, atau sekadar untuk melepaskan beban. Syukur-syukur, tulisan kita itu bisa bikin orang terinspirasi. Maka menulis, menulis, dan terus menulis.

Bahkan, lingkungan itu sangat berpengaruh terhadap diri kita. Maka, selektiflah dalam bergaul. Tak usah pedulikan kalau ada yang bilang kita pilih-pilih teman. Hal itu semua harus kita lakukan demi kesehatan, dan kelangsungan hidup kita sebagai penulis, dan itu sudah rahasia umum. Banyak penulis merasa tulisannya udah yang paling hebat sedunia, malah saya juga begitu ikut-ikutan latah, yskni seolah-olah sudah merasa hebat sendiri, terutama kalau sudah bisa menyelesaikan tulisan saya. Oleh karena itu, jeda waktu publish itu perlu, demi membuang pikiran nggak waras itu dari pikiran kita.

Sebaiknya, ubah kebiasaan tersebut, yaitu jangan jatuh cinta pada tulisan kita sendiri. Artinya, selalulah berusaha untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Jangan pernah merasa tulisan kita adalah yang paling bagus di muka bumi. Dengan demikian, kita akan terbuka pada masukan dan saran dari orang lain. Dengan saran dan masukan tersebut, kita bisa belajar untuk memperbaiki tulisan kita agar lebih enak dibaca oleh orang lain.

D. Karakteristik Dasar Bagi Penulis

Di dalam buku berjudul “Sekolah Penulis”, lebih detailnya dijelaskan, memang ada empat karekter yang harus dimiliki oleh seorang penulis, diantaranya : (1). Menghayati (2). Mengingat. (3). Menganalisis. (4). Mempresentasikan (menulis).

E. Catatan Penting Saat Menulis

Untuk memulai menulis yang wajib kita ada ialah cerita yang ingindisampaikan/hal apa yang ingin diceritakan kepada orang lewat tulisan kita. Setelah tahu apa yang ingin diceritakan sekaligus menjadi catatan penting bagi kita adalah sumber ide. Dalam buku berjudul “Sekolah Penulis” dijelaskan, bahwa sumber data paling penting untuk menyumbang ide ada tiga hal. Pertama, pengalaman pribadi, hal yang kita mengalami sendiri. Kedua, pengalaman orang lain, hal yang dilewati orang lain namun kita mengutipnya dengan mencari, menggali, menanyakan, dan lain sebagainya. Ketiga, Imajinasi. Sementara imajinasi bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, atau pembawaan namun ia adalah berasaskan pengalaman yang kita lewati sekaligus sambil kita terus membaca atau mempelajari dari berbagai sumber. Hal itu bisa dibentuk dari lingkungan hidup. Beberapa hal tersebut diatas merupakan sumber yang paling terpercaya dan sangat tepat agar tulisan kita sampai ke hati para pembaca.

III. Lima Rahasia Membangun Semangat Menulis

Membangun semangat menulis memang tidak semudah kita membaca tulisan. Tidak mudah pula mempraktekan apa yang akan penulus akan tuangkan lewat artikel kali ini. Penulis pun yakin, mungkin artikel ini akan sekedar dibaca saja, setelah itu prakteknya tidak semua bisa melakukan. Hanya sebagian kecil saja yang akhirnya bisa mempraktekan. Lalu, apa saja sih cara membangun semangat untuk bisa menulis? Berikut ini tips semangat menulis untuk kita, terutama yang ingin memiliki buku sendiri. Semoga apa yang penulis ungkapkan di sub judul bagian ini, kuranya bisa membantu kita (yang mungkin sedang mengalami malas menulis).

  1. Menulis Karena Passion Bukan Karena Alasan Reaction

Rahasia membangun semangat menulis yang pertama adalah, menulislah karena memang dorongan dari hati. Menulislah sesuai passion bukan karena alasan biar terkenal, biar dapat uang dan faktor lain. Memang tidak ada salahnya menjadikan uang dan ketenaran sebagai alasan. Karena dua hal tersebut hanya penyemangat yang sifatnya eksternal. Ketika realitanya tidak sesuai misalnya, tulisan kita tidak laku dipasaran, royalty atau honor sangat sedikit. Maka jatuhnya akan kecewa dan tidak mau menulis lagi. Sebaliknya, ketika menulis itu dilandasi oleh karena passion dan dorongan dari hati, maka sekalipun tidak terkenal dan mendapatkan uang sedikit, api tetap akan penuh semangat menulis. Karena memang landasan tujuannya yang berbeda.

Jadi, salah satu upaya agar kita arus tetap semangat menulis adalah, membenahi tujuan dasarnya. Pastikan tujuan dasarnya itu harus kuat, agar kita tidak mudah goyah. Karena bagaimanapun juga, semangat untuk menulis modal utamanya, yaitu mewujudkan menjadi seorang penulis yang handal. Tentunya, kita tidak ingin menjadi seorang penulis yang hanya isapan jempol. Bahkan, dalam konteks saat ini menjadi penulis itu persaingan, alias jika kita tidak mampu bersaing, maka kita akan tersingkir secara alamiah.

  1. Tulis Yang Dikuasai

Ada banyak alasan kenapa semangat menulis buku bisa luntur? Alasannya sangat beragam, yakni ada yang karena terlalu over tulisan yang harus diselesaikan, bisa juga karena faktor tuntutan menyelesaikan artikel dari klien dimana artikel atau tulisan tersebut ditentukan oleh klien, meski sadar tidak sesuai dengan passion dan karakter kita. Bahkan, ada juga yang karena binggung juga, yakni ingin menuangkan dan menuliskannya.

Memang berbeda ketika menulis karena pesanan dari klien, dengan ketika menulis karena keinginan dan tema yang sesuai kesenangan kita sendiri. Setidaknya, ketika menulis sesuai yang kita sukai, maka di situ ada rasa cinta dan rasa senang yang bagian dari emosi positif. Emosi positif inilah yang yang menjadi energi baru sekaligus media memudahkan untuk menemukan ide dan gagasan baru yang muncul tiba-tiba saat menuliskannya. Pertanyaannya adalah, kenapa kita tidak menjadikan tulisan dari klien yang membosankan dan sulit itu menjadi menyenangkan? Padahal jika mau, kita pun bisa mencintai tema tulisan dari klien, agar semangat menulis terjaga dan semakin cepat pula kita menuliskannya. Nah, salah satu caranya, yaitu dengan menemukan seni mencintai tema baru dan asing.

  1. Seni Mencintai Tema Tulisan Yang Dikerjakan

Salah satu kunci agar semagnat menulis tetap konsisten, apapun alasannya adalah rasa cinta. Seni mencintai tema asing dari klien salah satunya. Memang tidak mudah mencintai sesuatu yang tidak bisa kita sukai. Bisa dibayangkan bagiamana rasanya memaksakan rasa cinta? Setiap orang memang memiliki caranya sendiri-sendiri. Jika saya, selalu mencoba untuk memahami tema yang diberikan klien. Bagi saya, salah satu alasan kenapa kita tidak bisa mencintai tema tersebut karena tidak mengenal dengan baik terhadap tema. Hal itu pulalah alasan kenapa tulisan dari klien terasa sulit.

Sebenarnya bukan karena tulisan atau temanya yang sulit, namun arena penguasaan terkait ilmu tersebut yang terbatas. Maka, solusi yang bisa kita coba adalah mempelajari terelbih dahulu. Memang memakan waktu lebih banyak. Alasan ini pulalah yang sering dijadikan alasan semangat menulis semakin turun. Lalu, bagaimana agar semangat menulis kita tidak turun dan bisa mencintai tema yang harus ditulis? Cukup ciptakan kebahagiaan. Berikan sugesti kepada diri sendiri dengan hal positif, agar terbangun emosi positif. Dan emosi positif inilah yang akan membantu dalam menemukan gagasan, ide spontan yang sangat membantu pekerjaan kita.

  1. Kurangi Ekspektasi Terlalu Tinggi

Salah satu penyebab semangat menulis terus turun karena kecewa terhadap harapan yang sudah terbangun. Karens, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memiliki hak untuk berharap. Tentu saja harapan yang selalu diinginkan adalah harapan baik. Sayangnya, banyak yang berharap baik dan terlalu tinggi, tetapi tidak menyiapkan mental untuk harapan tidak sesuai ekspektasi. Bukannya belajar dari kegagalan, justru mencari pembelaan agar ekspektasi yang dibangun menjadi sesuai harapan.

Padahal di dunia ini, ada banyak hal yang tidak sesuai kehendak kita, agar kita bisa belajar mengambil pelajaran tersebut. Alih-alih mengambil pelajaran, justru semangat menulis kuta malah semakin menurun, bahkan tanpa sadar, malah tidak tidak menulis apapun. Oleh karena itu, agar semangat menulis kita tetap stabil, salah satu caranya cukup berekspektasi sewajarnya. Jangan terlalu tinggi. Jika tidak sesuai ekspektasi, bisa mencoba lagi. Toh orang di luar sana tidak tahu apa yang kita kerjakan. Mereka juga tidak tahu jika kita gagal ataupun sukses. Jadi, cukup berjalan bersahaja, tanpa memamerkan. Jalani sepenuh hati dan ikhlas. Yang penting konsisten dan selalu menjaga semangat menulis serta menikmati proses. Biarkan hasil Tuhan yang menentukan, asal kita sudah bekerja maksimal.

  1. Jangan Merasa Puas

Tips agar semangat menulis tetap terjaga adalah, jangan merasa puas dengan apa yang sudah dicapai. Banyak yang berpongah diri. Karena sudah menerbitkan satu buku, langsung lupa diri dan sombong diri. Buku pertama yang seharusnya sebagai branding dan mendapatkan pangsa pasar, justru pasar merasa ilfill dan pergi tidak jadi melirik hanya karena pulas sombong kita. Tentu saja hal-hal tersebut tidak kita inginkan. Tidak berpuas diri membantu kita untuk bersikap lebih berhati-hati dalam bersikap, bertindak dan berpikir. Tidak berpuas diri pun juga mendorong kita secara alami untuk terus belajar lagi dan lagi, sehingga selalu ada hal yang baru yang akan mendorong kita selangkah lebih maju lagi. Sebenarnya hal-hal kecil seperti inilah yang perlu diperhatikan. Tetapi banyak calon penulis pemula yang terkesan abai dengan hal-hal tersebut. Tentu saja tidak berpuas diri akan menjadikan kita menjadi pribadi yang rendah hati, yang bersedia belajar dari orang lain.

Itulah beberapa tips membangun semangat menulis dari hal-hal yang sangat sederhana dan sering tidak diperhatikan. Semoga dengan tips di atas, kita pun bisa semakin semangat menulis dan lebih produktif lagi melahirkan karya-karya para penulus yang sudah populer. Tidak selalu dalam bentuk buku, kita pun bisa menulis opini di surat kabar atau di majalah, dan lain segainya.

IV. Berbagai Langkah Yang Menginsfiratif Untuk Kita Semakin Semangat Menulis

Menurut Hargrove dan Pottet, menulis adalah upaya menggambarkan pikiran, ide, dan perasaan dalam bentuk simbol. Proses ini membutuhkan konsentrasi dan ketekunan. Tak jarang, banyak orang yang memiliki hobi menulis dan bercita-cita menjadi penulis. Namun, sebagai penulis, kita seringkali mengalami kebosanan dan keinginan untuk berhenti menulis. Oleh karena itu, kita perlu semangat dan motivasi untuk terus berkarya. Berikut adalah 24 kutipan inspiratif untuk memacu semangat menulismu:

  1. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Pramoedya Ananta Toer).
  2. “Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”. (Ali bin Abi Thalib.
  3. “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. (Imam Al-Ghazali).
  4. “Menulis itu soal mendengarkan suara hati. Kapan pun kau merasa dunia tidak mendengarkanmu, menulislah.” (Dewi Lestari (Dee).
  5. “Menulis dengan tulus itu lebih penting ketimbang menulis dengan alasan-alasan lain.” (Tere Liye).
  6. “Ilmu itu bagaikan hasil panen/buruan di dalam karung, menulis adalah ikatannya.” (Imam Syafi’i).
  7. “Mulailah menulis, jangan pedulikan apa pun. Air tidak akan mengalir hingga keran dibukakan.” (Louis L’Amour).
  8. “Tulislah ketika pikiranmu paling segar, ketika pikiranmu paling tajam, ketika kamu merasa paling kreatif.” (Ernest Hemingway).
  9. “Jangan pernah menyerah dalam menulis dan dalam hal apa pun. Writer’s block hanya sementara tapi penyesalan akan menghantui sepanjang masa.” (A Wan Bong).
  10. “Menulis adalah cara yang baik untuk mengenali diri kita sendiri dan mengungkapkan apa yang kita rasakan di dalam hati.” (Virginia Woolf).
  11. “Tulislah apa yang kamu rasakan, apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu lihat. Biarkan kata-kata mengalir seperti sungai.” (Sapardi Djoko Damono).
  12. “Menulis adalah sebuah kekuatan. Gunakan kekuatan itu untuk mengubah dunia.” (Goenawan Mohamad).
  13. “Menulis adalah sebuah seni. Berlatihlah dengan tekun, dan kamu akan menemukan keindahannya.” (Ayu Utami).
  14. “Menulis adalah sebuah hadiah. Berikan hadiah itu kepada dunia.” (Leila S. Chudori).
  15. “Menulis adalah sebuah proses. Jangan terburu-buru, nikmati setiap langkahnya.” (Helvy Tiana Rosa).
  16. “Tulislah dengan penuh keyakinan. Percaya pada dirimu sendiri, dan kamu akan mampu menciptakan karya yang luar biasa.” (Ernest Prakasa).
  17. “Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktikkannya. Orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis, namun tidak pernah melakukannya, sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya.” (Stephen King).
  18. “Jika kamu ingin mengenal dunia, membacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia, menulislah.” (Armin Martajasa).
  19. “Kita tidak menulis untuk dipahami; tetapi untuk memahami.” (C. Day Lewis).
  20. “Satu-satunya cara belajar menulis adalah dengan memaksakan diri untuk menghasilkan sejumlah kata tertentu secara teratur.” (William Zinsser).
  21. “Penulis tidak pernah dilahirkan, tetapi dia diciptakan. Bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir, tetapi tumbuh oleh satu motivasi dan gagasan.” (Bambang Trimansyah).
  22. “Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa.” (Fiersa Besari).
  23. “Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis.” (Kuntowijoyo).
  24. “Saat menulis, jangan biarkan dirimu terjebak dalam aturan. Tulislah secara bebas dan biarkan kata-kata mengalir dengan alamiahnya.” (Ralph Waldo Emerson).

Setelah kita membaca kutipan-kutipan di atas, bagaimana? Masih ada niat untuk berhenti menulis? Jangan ya! Tetaplah menulis dan tulislah yang bermanfaat. Mana kutipan favoritmu? Atau mungkin kamu sudah punya kutipan sendiri untuk menyemangati dirimu? Spill di kolom komentar ya! Semoga kutipan-kutipan di atas dapat membangkitkan semangatmu dalam menulis, menjadikanmu lebih konsisten, dan tidak takut untuk memulai tulisanmu.

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *