Ocit Abdurrosyid Siddiq
Alumnus LK 1 HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin IAIN SGD Bandung Tahun 1992

Persoalannya bukan seberapa banyak kader HMI berada di berbagai posisi, melainkan dengan cara apa posisi itu diperoleh dan nilai apa yang dibawanya setelah sampai di sana. Sebab kemenangan tanpa integritas hanyalah keberhasilan strategi yang gagal menjadi perjuangan.
*

Ada kalanya sebuah kalimat tidak perlu dibalas dengan kemarahan, melainkan dengan keheningan. Bukan karena kita tidak mampu menjawab, bukan pula karena kita menganggap semua yang dikatakan orang lain sebagai kebenaran, tetapi karena mungkin saja di balik kalimat yang terasa menyakitkan itu terdapat sesuatu yang patut kita periksa. Begitulah saya memandang sentilan Cak Imin terhadap HMI yang belakangan ramai diperbincangkan. Sebagai kader HMI, saya justru merasa tidak perlu ikut-ikutan ngamuk. Saya memilih berhenti sejenak, menarik napas, lalu bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan ada benarnya?

Sentilan Cak Imin itu disampaikan dalam sebuah forum yang menurut saya perlu dibaca secara utuh. Ia hadir dalam acara di Jombang, Jumat, 28 Agustus 2026, dalam konteks pembahasan buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan. Judul buku itu sendiri sudah memberikan petunjuk mengenai tema besar forum: perjalanan kader PMII dari dunia pergerakan menuju berbagai ruang kepemimpinan. Dalam forum internal seperti itu, saya kira wajar bila seorang tokoh membangkitkan kebanggaan komunitasnya, membandingkan capaian kadernya, bahkan menyentil organisasi lain. Itu bagian dari retorika internal untuk membakar semangat.

Saya melihatnya tidak jauh berbeda dengan ketika Bahlil berbicara di hadapan kader HMI dan menyampaikan superioritas kader HMI dibandingkan PMII, IMM, GMNI, dan organisasi lainnya. Kalau kita memahami pernyataan Bahlil sebagai bagian dari upaya membangkitkan kebanggaan kader HMI, kita juga seharusnya mampu memahami pernyataan Cak Imin dalam konteks forum alumni PMII. Di ruang internal, orang memang kadang berbicara dengan bahasa yang lebih berani, lebih hiperbolik, lebih provokatif, bahkan lebih satir. Persoalannya baru menjadi lain ketika pernyataan itu keluar dari ruang asalnya, dipotong, dikutip, diberitakan, kemudian dikonsumsi oleh orang yang tidak berada di dalam konteks tersebut.

Di sinilah saya kira kita perlu belajar membedakan antara konteks dan potongan. Sebuah pernyataan yang lahir dalam forum homogen tidak selalu dapat ditafsirkan dengan cara yang sama ketika dipindahkan ke ruang publik yang heterogen. Di dalam ruangan, orang memahami siapa yang berbicara, kepada siapa ia berbicara, suasana yang melingkupinya, dan apa tujuan retorikanya. Di luar ruangan, yang tersisa sering kali hanya kalimat. Konteks hilang, nada suara hilang, suasana hilang, bahkan tujuan pembicaraan pun sering menguap. Yang kemudian beredar adalah potongan yang mudah menimbulkan kemarahan.

Karena itu, saya tidak melihat sentilan Cak Imin sebagai alasan untuk membuat perang baru antara HMI dan PMII. Kalau pernyataannya dianggap keliru secara faktual, silakan dibantah dengan argumentasi. Kalau ada sejarah yang perlu diluruskan, luruskan dengan data. Kalau ada generalisasi yang tidak tepat, tunjukkan kelemahannya. Tetapi kalau itu hanya retorika internal untuk membakar semangat kader, mengapa harus dibalas dengan kemarahan yang berlebihan? Jangan-jangan kita justru sedang terperangkap dalam permainan yang tidak perlu. Organisasi mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan bukan klub sepak bola yang setiap saat harus menentukan siapa pemenang dan siapa pecundang.

Bahkan jauh sebelum sentilan Cak Imin, kita mengenal sentilan Gus Dur terhadap HMI dan PMII yang jauh lebih jenaka sekaligus makjleb: bahwa HMI untuk mencapai tujuannya melakukan berbagai cara, sementara PMII caranya saja tidak tahu. Saya tidak hendak memperdebatkan autentisitas setiap penggalan kalimat Gus Dur tersebut, tetapi sebagai satire ia menggambarkan sesuatu yang menarik. Gus Dur seperti sedang menertawakan dua organisasi sekaligus. HMI dianggap terlalu tahu cara, PMII dianggap belum tahu cara. Yang menarik, humor itu justru membuka pertanyaan filosofis: apa gunanya mengetahui tujuan jika cara mencapainya kehilangan etika?

Pertanyaan tentang cara inilah yang menurut saya perlu kita bawa ke dalam ruang muhasabah HMI. Saya sendiri mengikuti LK 1 di HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin IAIN SGD Bandung pada 1992. Sudah lebih dari tiga dekade sejak saya pertama kali bersentuhan dengan proses perkaderan HMI. Waktu yang panjang tentu memberi kesempatan untuk melihat organisasi dari jarak yang berbeda. Dulu mungkin kita melihat HMI sebagai ruang perjuangan, ruang intelektual, ruang pembentukan diri, dan ruang pencarian identitas. Setelah puluhan tahun, kita melihat bagaimana kader-kadernya tersebar ke berbagai bidang kehidupan. Dan diaspora itulah yang menurut saya perlu direnungkan kembali.

Saya tidak menafikan bahwa diaspora HMI adalah sebuah capaian. Alumni HMI memang tersebar di berbagai lini kehidupan. Ada yang berada di politik, birokrasi, akademik, dunia usaha, media, lembaga negara, organisasi masyarakat, dan berbagai profesi lainnya. Dari satu sudut pandang, itu menunjukkan bahwa proses kaderisasi telah menghasilkan manusia-manusia yang mampu masuk ke banyak ruang strategis. Tetapi diaspora yang luas tidak otomatis berarti keberhasilan ideologis. Banyaknya alumni yang berada di berbagai posisi belum tentu identik dengan banyaknya nilai HMI yang hidup di posisi-posisi tersebut.

Justru di sinilah saya sering merasa tergelitik dengan fenomena HMI belakangan ini. Kita seperti terlalu sibuk memikirkan siapa diposisikan di mana dan dengan cara apa. Kita sibuk memetakan kekuatan, membaca konfigurasi, membicarakan jabatan, menghitung pengaruh, dan mengamati siapa yang memiliki akses ke ruang kekuasaan. Seolah-olah ukuran keberhasilan kaderisasi adalah seberapa banyak kader HMI berhasil menempati posisi strategis. Dari sinilah kemudian lahir satire yang sering saya lontarkan: “Seolah urusan negara beres hanya oleh kehadiran HMI.” Tentu itu bukan pernyataan serius secara literal. Justru ia adalah sindiran terhadap kecenderungan narsisme organisatoris.

Sebab apa artinya seorang kader HMI berada di sebuah jabatan strategis jika keberadaannya tidak menghasilkan perubahan yang lebih baik? Apa artinya seorang alumni berada di lembaga negara jika ia bekerja tanpa integritas? Apa artinya kader berada di panggung politik jika politik yang dimainkan justru menjauh dari keadaban? Apa artinya alumni berada di kampus jika ia kehilangan tradisi berpikir kritis? Apa artinya kader menjadi pengusaha jika keuntungan diperoleh dengan mengorbankan keadilan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita harus menggeser ukuran keberhasilan dari sekadar “siapa berada di mana” menjadi “nilai apa yang dibawa ketika berada di sana.”

Saya kemudian teringat pada sesuatu yang menurut saya lebih fundamental: kita mungkin telah berhasil menjadi kader pewaris organisatoris, tetapi belum tentu berhasil menjadi kader pewaris ideologis. Pewaris organisatoris adalah mereka yang memahami struktur, jaringan, posisi, mekanisme, relasi, dan dinamika kekuasaan organisasi. Mereka tahu siapa yang harus ditemui, bagaimana membangun pengaruh, bagaimana membaca momentum, bahkan bagaimana memperjuangkan posisi. Semua itu tidak selalu buruk. Organisasi memang membutuhkan kemampuan organisatoris. Tetapi ketika kemampuan tersebut berdiri tanpa fondasi nilai, ia mudah berubah menjadi sekadar kecakapan berebut ruang.

Pewaris ideologis berbeda. Ia bukan sekadar orang yang hafal sejarah HMI, mengenakan atribut hijau-hitam, atau mampu menyebut nama-nama tokoh besar. Ia adalah orang yang membawa nilai dan cara berpikir yang menjadi ruh perkaderan. Ketika saya menyebut ideologis dalam konteks ini, yang saya maksud bukan ideologi dalam pengertian sempit dan kaku. Saya merujuk pada gagasan yang antara lain dirumuskan dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan atau NDP, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Di sana kita menemukan semangat keislaman yang berdialog dengan keindonesiaan, keterbukaan intelektual, penghargaan terhadap kemanusiaan, inklusivisme, pluralisme, dan keberanian berpikir.

Maka persoalannya menjadi lebih dalam ketika kita melihat sebagian perilaku alumni HMI di ruang publik. Bukan untuk menggeneralisasi, apalagi menghakimi semua alumni, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri. Ketika kita berbicara tentang pluralisme, apakah kita masih mampu menghargai orang yang berbeda pandangan? Ketika berbicara inklusivisme, apakah kita masih membuka pintu bagi mereka yang berbeda latar belakang? Ketika berbicara independensi, apakah kita masih mampu mengatakan benar sebagai benar ketika berhadapan dengan kepentingan politik? Ketika berbicara insan akademis, apakah kita masih mau membaca dan menguji informasi sebelum mempercayainya? Pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui berapa banyak kader HMI yang menjadi pejabat.

Pluralisme, misalnya, bukan sekadar istilah yang indah dalam materi perkaderan. Pluralisme diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan, pandangan, pilihan politik, atau latar belakang organisasi. Inklusivisme juga tidak diuji ketika kita berbicara dengan orang yang sepemikiran, melainkan ketika kita memiliki kekuasaan untuk menerima atau menyingkirkan orang lain. Independensi tidak diuji ketika kita tidak memiliki kepentingan, tetapi ketika prinsip berhadapan dengan kepentingan. Demikian pula integritas tidak diuji ketika tidak ada kesempatan untuk berbuat curang, melainkan ketika kesempatan itu terbuka dan tidak seorang pun mungkin mengetahuinya.

Karena itu, saya kira kita perlu berhati-hati terhadap cara berpikir yang menjadikan diaspora sebagai ukuran superioritas. HMI memang boleh bangga dengan alumninya. PMII juga boleh bangga dengan alumninya. IMM, GMNI, dan organisasi lainnya pun demikian. Kebanggaan terhadap rumah sendiri adalah sesuatu yang wajar. Tetapi Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu organisasi. Negara ini terlalu kompleks untuk diserahkan kepada satu kelompok kader. Dan persoalan bangsa terlalu rumit untuk disederhanakan menjadi pertandingan tentang siapa yang paling banyak menempatkan kader di pusat kekuasaan. Kita semua hanyalah bagian dari mosaik besar kehidupan kebangsaan.

Karena itu pula, saya tidak merasa perlu marah kepada Cak Imin. Bahkan saya bisa menerima sentilannya sebagai kesempatan bercermin. Kalau ternyata sebagian sentilan itu tidak tepat, tidak masalah. Kita bisa menjawabnya secara argumentatif. Tetapi kalau ternyata ada sedikit saja kebenaran di dalamnya, mengapa kita harus takut mengakuinya? Bukankah salah satu ciri orang yang pernah ditempa dalam tradisi intelektual adalah kesediaannya untuk menguji dirinya sendiri? Jangan sampai kita mengaku sebagai kader organisasi yang menjunjung kebebasan berpikir, tetapi ketika organisasi kita dikritik, kebebasan berpikir itu tiba-tiba menghilang dan digantikan oleh fanatisme.

Saya kira justru inilah bentuk kecintaan yang lebih dewasa kepada HMI. Mencintai organisasi tidak berarti harus selalu mengatakan organisasi kita benar. Mencintai HMI berarti berani mengatakan bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Tidak perlu menutupi kekurangan dengan romantisme sejarah. Tidak perlu menjadikan kebesaran para senior sebagai tameng bagi kekurangan generasi sekarang. Sejarah adalah warisan, tetapi sekaligus amanah. Ia tidak boleh menjadi sertifikat kekebalan moral. Prestasi pendahulu tidak otomatis menjadi prestasi kita, sebagaimana kesalahan seorang alumni tidak otomatis menjadi kesalahan seluruh organisasi.

Maka setelah puluhan tahun berlalu sejak saya mengikuti LK 1, saya merasa pertanyaan yang paling penting bukan lagi “Apa yang sudah HMI berikan kepada saya?” Pertanyaan itu terlalu mudah. Yang jauh lebih sulit adalah: “Apa yang sudah saya berikan kepada nilai-nilai yang dahulu diajarkan HMI kepada saya?” Apakah saya masih menjadi manusia yang mau belajar? Apakah saya masih mampu berbeda tanpa membenci? Apakah saya masih dapat berdiri independen ketika kepentingan datang menggoda? Apakah saya masih melihat manusia sebagai manusia, bukan sekadar anggota kelompok yang harus dimenangkan atau dikalahkan?

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *